Dongeng Punakawan

On 31/08/2013 at 07:31 punakawan said:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
© punåkawan 2013.

Atur Pambukå

Nuwun,

Awignam astu namas sidam.
[Mugi linupútnå ing rêridhu].

Sugêng pêpanggihan sanak kadang sutrêsnå, ingkang dahat kinurmatan.

Alhamdulillah, sehabis sembahyang Subuh di Masjid Baiturrahman Kompleks Gedung Wakil Rakyat RI., pagi ini ada kesempatan lari pagi di halaman sekitarnya, yang berdampingan dengan hutan mini Gedung Manggala Wana Bhakti Kementerian Kehutanan yang jêmbar bawérå bangêt, jauh dari polusi.

Masih terdengar cit cit cuit, manuk-manuk ngocèh, suara nyanyian burung-burung yang mabur, mlêbar-mlêbêr di antara ranting-ranting pepohonan di hutan buatan manusia ini.

Ternyata masih ada tempat teduh, yang berada di tengah-tengah sumpêknya Ibu Kota yang akhir-akhir ini berhawa sumuk, panas sumêlèt karena lama tidak diguyur hujan.

Pårå sanak kadang ingkang dahat sinu darsånå ing budi.

Keseluruhan setting Api di Bukit Menoreh anggitan Ki Dalang Singgih Hadi Mintardjå, sebanyak lebih dari 300 jilid, berputar-putar di sisa kerajaan Majapahit dan garis keturunannya, pertarungan antara sisa-sisa laskar Jipang dan Pajang. Alur ceritanya sungguh sangat lamban dan bertele-tele, nyaris membosankan.

Diawali dengan pecahnya Kêsultanan Dêmak Bintårå, yang memang sebelum Trênggånå naik tahta menjadi Sultan ke-3 Dêmak, kesultanan itu sudah sering dilanda kerusuhan, pertentangan antar keluarga, hingga terbunuhnya Pangéran Bagus Suryåwiyåtå.

Meninggalnya Sultan Trênggånå di Panarukan membuat kemelut Istana Dêmak semakin memuncak, berlanjut dengan perang gerilya sisa-sisa lasykar Aryå Pênangsang melawan kekuasaan Pajang.

Pada episode inilah Djåkå Tingkir menggantikan Sultan Trênggånå dan memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang, menjauhi laut bebas, pindah ke pedalaman, beralih dari negara maritim dan perdagangan ke negara agraris, yang oleh para ahli sejarah kenegaraan dianggap sebagai tindakan yang salah, karena melemahkan kedudukan pertahanan dan perekonomian negara; hingga ke masa awal kebangkitan Mataram, ambisi Danang Sutåwijåyå, Ki Gêdé Mataram atau yang dikenal dengan Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani untuk melahirkan sebuah kerajaan baru, Mataram di Tanah Jawa dan melepaskan diri dari pengaruh dan kekuasaan Pajang.

Kentalnya nuansa sejarah terutama nampak dalam konflik politik yang secara perlahan bertumbuh semakin subur. Di sela-sela itu juga, justru konflik-konflik utama di kerajaan terjadi. Kisruh yang terjadi ternyata melibatkan para agamawan, para wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa. Para wali ikut campur tangan dalam urusan politik pemerintahan.

Episode perang berakhir antara sisa-sisa lasykar Jipang dan Pajang yang dimenangkan Pajang, hingga peperangan antara Sultan Hadiwijåyå dan Danang Sutåwijåyå. Pasukan Pajang kalah tersapu oleh bencana Merapi yang menyemburkan awan panas. Lahar dan bebatuan pijar menghantam Kali Opak dan daerah yang dilewati Pasukan Pajang. Sultan Hadiwijåyå yang adalah ayah angkat Radèn Ngabèhi Loring Pasar itu, wafat setelah kembali ke Pajang, tatkala Merapi masih melontarkan abu dan lahar panas.

Perang masih terus berlanjut. Cerita perang ke perang inilah yang menautkan sejarah sejak Dêmak Bintårå, Pajang hingga ke Mataram. Intinya adalah awal kebangkitan Mataram, baik sejak Ki Agêng Pêmanahan hingga Panêmbahan Sénåpati dan pengganti-penggantinya.

Api di Bukit Menoreh, betapapun memang menyiratkan kentalnya nuansa sejarah. Nampaknya, Pak Singgih, demikian penulis AdBM sering disapa, secara sengaja memasukkan unsur tersebut. Meskipun tidak seakurat tulisan sejarah, tetapi fiksi AdBM, justru menyajikan alur sejarah secara sangat menarik.

Pergulatan di sekitar Sultan Trênggånå, Sultan Hadiwijåyå hingga Panêmbahan Sénåpati, lengkap dengan pengikut mereka masing-masing, serta tokoh-tokoh sepuh yang mengelilingi mereka, kaitan dengan sisa Majapahit, Mataram yang berkonsolidai dengan kadipaten sekitarnya, konflik dan perebutan tahta, serta ambisi politik, dikemas dengan sangat baik.

Dan, jadilah AdBM sebagai cerita silat klasik Jawa yang sangat representatif untuk mengerti Jawa. Hal yang membuktikan betapa cerita ini memang merupakan sari atau disarikan dari kehidupan nyata masyarakat Jawa.

Ki Dalang SH Mintardja membangun cerita AdBM, lengkap dengan intrik-intrik dalam istana yang tadinya nyaris membosankan itu dibuat menjadi tidak membosankan karena dikemas dalam kaitan dengan yang juga mengalami friksi. Justru di sinilah letak “kekuatan”nya.

Pergolakan rimba olah-kanuragan (‘penjawaan’ istilah dunia persilatan). Pergolakan politik yang berpusat di Istana, terpadu secara kait mengait dengan polarisasi para pendekar dari beberapa padepokan. Ki SH Mintardjå meramu keindahan dan rahasia di balik kebertele-telean yang dikesankan oleh penulisnya.

Setiap episodenya selalu diceritakan dengan sangat rinci dan bukan dengan penceritaan terpusat pada satu tokoh pelaku, “sang aku”, tetapi pada banyak tokoh. Setting cerita bergeser dari sudut “sang aku”, ke Kiai Gringsing (Sang Guru), juga Untara (Sang Kakak), Swandaru (Sang Adik Seperguruan), demikian juga berpindah-pindah lokasi cerita, dari Sangkal Putung, Mataram, Menoreh dan juga Pajang, kembali ke Sangkal Putung demikian seterusnya.

Kita pasti dibuat menjadi orang yang tidak sabar menunggu, bagaimana seorang tokoh Agung Sedayu yang cengeng pada awalnya, dan digembleng oleh keadaan yang ia jumpai pada perjalanan ‘hidup’nya, yang dengan lambat-laun dapat mencapai kematangan baik sebagai pribadi maupun dalam “Olah Kanuragan”. Wajar, manusiawi, meskipun betele-tele.

Apa ini yang disebut dengan ungkapan: alon-alon waton kelakon?.

Menelisik secara utuh alur cerita Agung Sedayu tokoh sentral Pasukan Pajang dan kamerad-kameradnya melawan pengikut Aryå Pênangsang, sebagai rentetan sejarah dari Dêmak-Pajang dan berdirinya Mataram, betapa bertele-telenya, dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Agung Sedayu sebagai tokoh sentral, di awal-awal cerita ternyata seorang pemuda yang sangat penakut dan cengeng. Sebanyak tigapuluh jilid pertama kepenakutan Sedayu diceritakan. Kisah kepenakutannya diceritakan secara lengkap dengan persaingannya dengan Sidanti, baik dalam olah kanuragan maupun kelak dalam cinta.
  2. Proses pendewasaan Agung Sedayu untuk menemukan dirinya, mengatasi kepenakutannya diceritakan sangat detail dan lama, sehingga terkesan bertele-tele.
    Demikian juga prosesnya menempa diri, untuk ‘dadi wong lanang’, mulai dari diambil sebagai murid oleh Kiai Gringsing, tokoh utama lain cerita ini, sampai memasuki penempaan yang mendalam, membutuhkan panjang hingga 100 jilid pertama.
  3. Lebih dari 200 jilid, Kiai Gringsing mempercayakan Kitab Rahasianya untuk didalami oleh Agung Sedayu dan Swandaru adik seperguruannya. Itupun setelah Agung Sedayu memperdalam diri dengan menyempurnakan ilmu ayahnya dan mendalami Kitab Rahasia gurunya yang kedua. Baca jilid 100-200.
  4. Nyaris sebanyak 50 jilid pertama, Agung Sedayu hanya mampu memainkan ilmu gerak yang biasa, hingga kemudian mampu memainkan cambuk sebagai senjata utama, pada jilid 51-100. Sungguh sangat meletihkan dan membosankan mempelajari dan menggunakan ilmu-ilmu tersebut, banyak episode yang dilewati.
  5. Pada jilid 100, baru Kiai Gringsing mulai memberi kesempatan Agung Sedayu untuk mulai menggantikan tempatnya, dan puncaknya ketika dalam akhir jilid 200, bentrok dengan sesama tokoh sepuh yang sudah dinyatakan punah melalui benturan ilmu-ilmu ampuh yang dinyatakan lenyap, milik Eyang Windunata yang merupakan garis vertikal keturunan prabu terakhir Majapahit.
  6. Agung Sedayu dilatih untuk menghilangkan rasa takutnya, meskipun pada akhirnya secara perlahan-lahan hilang, tetapi dia tetap menjadi orang yang tidak tegas ketika menghadapi dan menghukum orang jahat tidak pernah lepas hingga akhir cerita di jilid 390-an.
  7. Sebanyak 70 jilid, Agung Sedayu dan Swandaru mengikuti gurunya Kiai Gringsing untuk memperdalam ilmu dengan mengembara hingga ke Menoreh dan bahkan singgah ke Mataram yang mulai dibuka di akhir jilih 100-an.
  8. Episode paling menarik dari kedua tokoh seperguruan ini dikisahkan dalam episode kedua “Jalan Simpang”. Swandaru selalu menilai diri terlalu tinggi karena Agung Sedayu selalu terluka melawan tokoh-tokoh sakti yang mulai rajin bermunculan di atas jilid 100.
  9. Puncak cerita dan menariknya cerita ini, ketika Swandaru yang suka meledak-ledak, emosional dan merasa dari kalangan atas, merasa sudah melampaui kehebatan kakak seperguruannya. Dalam pertarungan yang mengakhiri episode Jalan Simpang, Agung Sedayu mengajarkan bagaimana kematangan dan kedalaman mengalahkan Swandaru yang mengandalkan tenaga fisiknya. Dalam perkelahian yang disadari betul oleh adik Swandaru, Sekar Mirah dan Istri Swandaru, Pandanwangi, bahwa Swandaru kalah jauh oleh Agung Sedayu karena berkali-kali mereka menyaksikan bagaimana Agung Sedayu berkembang menjadi raksasa olah kanuragan, Swandaru dikalahkan.
  10. Episode sesudahnya adalah episode pengembaraan Glagah Putih, adik sepupu Agung Sedayu sekaligus muridnya. Sementara Agung Sedayu menempa istrinya dan juga menempa dirinya dengan kitab gurunya, Kiai Gringsing.

Ki Dalang SH Mintardja memang pintar mengolah sastra (baca: sastra Jawa) dan data sejarah. Ini sangat memukau sehingga pada suatu masa menjadi mimpi dan imajinasi begitu banyak pembacanya. Dari begitu banyak yang ia tulis, menjadi pintu masuk banyak orang untuk belajar dan mencintai sejarah Mataram.

Banyak hal yang menarik dari cerita AdBM ini. Kebersinggungannya dengan fakta sejarah, kemudian jenis-jenis olah kanuragan, jenis-jenis ilmu yang ampuh, baik yang sudah mulai punah namun sangat ampuh hingga ke penemuan-penemuan baru oleh pelaku-utama AdBM Agung Sedayu, juga diceritakannya jenis-jenis senjata-senjata ampuh, yang di masa sekarang masih banyak yang menyimpannya sebagai ‘sipat-kandêl’. Disamping penokohan yang sangat lekat dengan budaya Jawa.

Sangat wajar bila Borobudur Writers & Cultural Festival (BW&CF) Yogyakarta pada tahun 2012 menganugerahkan Sang Hyang Kamahayanikan Award bagi SH Mintardja, yang diterimakan kepada putranya.

Penghargaan ini adalah ciri khas BW&CF yang baru pertama kali digelar di Borobudur, Magelang dan Yogyakarta 29-31 Oktober 2012.

Festival bertajuk “Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat & Sejarah Nusantara” ini memilih SH Mintardja sebagai penghargaan perhatiannya pada sejarah Nusantara. Karya-karya SH Mintardja dianggap unik dan merangsang minat pembacanya pada sejarah.

Sang Hyang Kamahayanikan Award adalah nama penghargaan yang akan menjadi ciri khas penyelenggaraan BW&CF.

Penghargaan tersebut akan diberikan kepada tokoh-tokoh yang telah berjasa dan memiliki kontribusi besar dalam pengkajian budaya dan sejarah Nusantara baik sejarawan, sastrawan, arkeolog, budayawan, penulis buku berlatar sejarah, dramawan, dalang, rohaniwan, filolog dan sebagainya.

Nama Sang Hyang Kamahayanikan merupakan judul sebuah kitab Budhis yang diperkirakan ditulis pada abad ke-14 di Jawa Timur. Kitab yang berisi tata cara ibadah penganut Buddha Tantrayana itu merupakan rujukan penting untuk memahami Candi Borobudur. Borobudur sebagai Candi Mahayana Tantrayana adalah juga simbol perdaban kebudayaan Nusantara yang agung.

Piala Sang Hyang Kamahayanikan Award dirancang oleh seniman pahat Borobudur bernama Ismanto. Dia adalah pematung yang berkarya di sekitar desa-desa Borobudur.

Melalui karya seperti Nagasasra dan Sabuk Inten dan Api di Bukit Menoreh, para pembacanya dapat menghayati Dêmak, Pajang dan Mataram sebagai sejarah yang hidup.

Cerita Agung Sedayu belum rampung, Ki Dalang SH Mintadja telah berpulang pada tanggal 18 Januari 1999, karena itulah cerita AdBM ini menggantung pada bagian paling akhir, jilid ke-396, maka AdBM yang layak dibaca itu, juga layak untuk dilanjutkan.

Kepada para penulis yang berusaha “melanjutkan wedaran” warisan Ki Dalang SH Mintardja Saya ucapkan selamat berkarya, dengan pesan hendaknya grêgêt kesejarahan jangan ditinggalkan, meskipun cerita fiksi, dan jiwa budaya Jawa yang adiluhung jangan dilupakan apalagi sampai punah.

Sebagai wujud penghormatan saya kepada Ki Dalang SH Mintardja, sembari menyimak kembali secara alon-alon waton kêlakon ‘perjalanan hidup’ Agung Sedayu di AdBM, Insya Allah, Punåkawan akan bertutur tentang negeri ini, tentang kebesaran dan keagungan Nusantara di masa lalu, meskipun tidak utuh dan amat sangat sedikit yang Punåkawan ketahui dan yang dapat disajikan, itupun terbatas yang ada sangkut-paut atau sedikit ada kaitannya dengan wedaran AdBMnya Ki Dalang SH Mintardja, terutama sekali sejak runtuhnya kerajaan besar Majapahit, Sirnå Ilang Kêrtaning Bumi; Glagah Wangi; timbul dan hancurnya Kêsultanan Dêmak Bintårå; ontran-ontran Jipang dan Pajang; Djåkå Tingkir; hingga Babad Alas Mentaok, Awal Kebangkitan Mataram.

Nusantara di Abad ke-16, khususnya dua dasawarsa terakhir, sering ditelantarkan dalam sejarah Jawa. Sangat jarang sejarahwan yang mau menulis peristiwa masa-masa itu, khususnya tentang Senapati, yang kisahnya juga bercampur aduk antara fakta dan dongeng, dan dongeng yang terkenal adalah percumbuannya dengan penguasa Laut Selatan Kanjêng Ratu Kidul.

Danang Sutåwijåyå, kelak adalah Panêmbahan Sénåpati ing Ngalågå adalah simbol kebangkitan Mataram, adalah sebuah kerajaan yang kelak memainkan peranan penting di panggung sejarah Tanah Jawa, bahkan Nusantara.

Punåkawan mencoba menelisik dan mengungkapkan, dengan kemampuan yang serba terbatas, asal-usul dan proses naiknya Senapati ke singgasana kekuasaan. Yang terakhir ini dikaitkan dengan ketegangan yang timbul antara pedalaman dan pesisir Jawa, tali-temali kekerabatan elite politik masa itu, serta pengaruh para tokoh keagamaan tertentu.

Dalam penulisan ini Punåkawan tidak gegabah, dengan berbekal petunjuk dan rintisan tulisan Ki Bêgawan Sêpuh Bayuaji dalam Dongeng Arkeologi & Antropologinya, pada lakon Pelangi di Langit Singasari dan Nagasasra Sabuk Inten, Punåkawan (tentunya tidak sendiri), berburu dan cari sisik-mêlik ke lokasi-lokasi kejadian atau tempat-tempat yang diyakini sebagai lokasi kejadian, petilasan-petilasan atau maqam; prasasti; candi; Lereng Gunung Merapi; Kraton Kasunanan Suråkartå Hadiningrat; Kraton Kasultanan Ngayogyåkartå Hadiningrat; juga wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat di Prambanan, Kota Gede, Imogiri, Yogyakarta, Solo, Demak, Kadilangu, Kudus, Jepara, Giri, dan beberapa tempat lainnya, juga museum-museum, perpustakaan-perpustakaan, dan segala kegiatan yang bisa dilakukan untuk itu.

Sudah barang tentu, hasil perburuan itu ditemu-sandingkan dengan bahan-bahan dan bukti sejarah yang ada berupa rontal-rontal kunå yang sudah dikenal seperti Sêrat Pararaton, Pujasastra Nāgarakṛtāgama, dan Babad Tanah Jawi. Catatan-catatan perjalanan musafir dari Negeri Tirai Bambu: Kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho yang ditulis oleh Ma Huan dalam buku Ying-yai-seng-lan (The Overall Survey of the Ocean’s Shores) pada tahun 1433; Kronik dari Kuil Sam Po Kong (1478?) yang kontroversial; Catatan-catatan Tomé Pires, penjelajah dari Portugis ke Tanah Jawa pada awal abad ke-16, dalam konpendium (summa) berupa laporan resmi yang ia ditulis kepada Raja Emanuel tentang potensi peluang ekonomi di wilayah yang baru dikenal oleh Portugis, berjudul: Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chin (1512-1515). Fernão Mendes Pinto, yang juga penjelajah dari Portugis, dalam cacatan pengembaraannya ke Tanah Jawa, Sunda, Sumatra, Siam, Selebes, Malaka, Timur Jauh: Cina, dan Jepang, yang berjudul Peregrinação atau Pilgrimage (1546).

Banyaknya sumber sejarah yang saya jadikan rujukan penulisannya, semata-mata untuk lebih meyakinkan bahwa sumber sejarah tersebut adalah tepat, dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dan moral.

Dengan kata lain penulisan ini didasarkan pada disiplin ilmu sejarah, disamping dikandung maksud untuk melestarikan budaya bangsa dan karya sastra kuno, demi menghargai hasil karya para leluhur bangsa.

Selain itu selalu berusaha semaksimal mungkin untuk mencintai dan menggali produk-produk lokal yang sarat muatan nilai kearifan, sekaligus diharapkan akan menambah wawasan berfikir bagi para pembaca.

Punåkawan menyadari bahwa sering terjadi pemutarbalikan sejarah di masa kapanpun itu, yang dilakukan dengan berbagai cara oleh kelompok-kelompok tertentu yang bertujuan untuk kepentingan tertentu bagi kelompoknya.

Punåkawan berharap dongeng ini dapat menambah khasanah ilmu yang berfungsi menjadi bandul penyeimbang sumber sejarah lainnya yang dianggap kontroversi dengan kejadian masa lalu.

Dalam konteks ini Punåkawan berusaha tidak bersikap pro-kontra, sebaliknya adalah sebagai upaya untuk mencari kebenaran sejarah, berangkat dari dan berbasis keilmuan semata yang “bebas nilai”, menjunjung tinggi etika akademik, tanpa beban, selalu tampil dengan pikiran yang jernih, bersih, netral, kritis, dan sudah barang tentu tanpa adanya rekayasa dan pemalsuan, lebih-lebih penipuan, apalagi ditunggangi kepentingan-kepentingan kelompok, golongan, atau politik tertentu dengan cara-cara bujukan atau pemaksaan.

Sebagai penutup kata pengantar ini, bahwa kebenaran sejarah adalah kebenaran yang bersifat hipotesa, Sejarah adalah sejarah, dia tidak lebih adalah sebuah cermin yang memantulkan peristiwa-peristiwa yang telah lalu bagi orang-orang sekarang. Sejarah dapat diperbarui atau direvisi, selama kajian terhadap temuan-temuan arkeologis dan data-data akurat yang menunjang masih terus terjadi, boleh jadi apa yang dianggap benar di masa kini, akan berubah nantinya bila ditemukan data sejarah yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara disiplin keilmuan.

Sumånggå.

Wêdaran toêtoêgé:
Sirnå Ilang Kêrtaning Bumi. Sandyakalaning Majapahit.

Nuwun,

punåkawan.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: