Dongeng Punakawan

On 28/08/2013 at 19:36 punakawan said:

Nuwun

Srêngéngé wus suwe angslup, kahanan mundak pêtêng, amung rådå katon riyêm-riyêm asulak abang déning urubing lampu téplok kang dipasang, ndungkap wayah sirêp laré. Punåkawan sowan ngêndit rontal:

SANG SAKA GULA KELAPA, SANG SAKA MERAH PUTIH
© Punåkawan 2013

(Bagian Keempat -tamat-, dari empat tulisan)

PROKLAMASI KEMERDEKAAN HARI 17 BOELAN 08 TAHOEN 05

Peristiwa bersejarah dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Sukarno dengan didampingi Drs. Mohammad Hatta dan disaksikan oleh sebagian besar rakyat Indonesia, pada hari 17 boelan 08 tahoen 05. Pukul 10.00 Waktu Jawa.

Tahoen 05 adalah tahun 2605 tahun Jepang, perhitungan kalender Jepang yang diberlakukan di wilayah Asia Timur Raya pada masa itu, bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 tahun Masehi.

Dengan alasan efektivitas operasi militer Kekaisaran Jepang pada waktu itu, maka Waktu Jawa adalah GMT +7.30, sehingga Pukul 10.00 pada saat proklamasi dibacakan adalah Pukul 10.00 Waktu Jawa.

Pada waktu itu wilayah Indonesia ditentukan mengikuti waktu Tokyo (GMT+9), sedangkan untuk Waktu Jawa dimajukan 1:30 (GMT+7:30) dari waktu tolok saat itu.

Ada perbedaan waktu 30 menit antara Waktu Jawa yang berlaku saat itu, dan zona pembagian tiga waktu yang berlaku sekarang (WIB).

Peristiwa Proklamasi tersebut berlangsung di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, kediaman Ir. Sukarno yang kemudian dikenal dengan nama Jl. Proklamasi No. 56 Jakarta.

Pada saat Jepang mendekati masa kehancuran dengan jatuhnya bom Amerika Serikat di Hirosima dan Nagasaki, perjuangan pergerakan rakyat Indonesia mencapai puncaknya.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia untuk mengumumkan kemerdekaan. Para pemimpin pergerakan nasional dan para pemuda pada masa itu sangat sibuk di kota Jakarta untuk membicarakan masalah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Dalam membicarakan masalah proklamasi itu timbul perbedaan pendapat antara golongan tua Soekarno-Hatta dan kaum pemuda yang dipimpin oleh Sukarni. Perbedaan pendapat itu menimbulkan peristiwa Rengasdengklok yang akhirnya timbul kesepakatan bahwa proklamasi harus dicetuskan di Jakarta.

Sebelum peristiwa Proklamasi Kemerdekaan tersebut telah dilakukan beberapa kali pertemuan oleh para pemuda, antara lain berlokasi di Jl. Pegangsaan 13 dan Jl. Cikini 17 Jakarta.

Pertemuan pemuda yang bertempat di Jl. Pegangsaan 13 berlangsung pukul 20.00. Pertemuan itu memutuskan untuk mengirim utusan guna mendesak Sukarno agar segera memproklamasikan kemerdekaan RI. Tugas ini dipercayakan kepada Wikana dan Darwis.

Kemudian di lokasi Jl. Cikini 17, telah disepakati oleh para pemuda untuk berkumpul lagi setelah pertemuan di Jl. Pegangsaan 13, Jakarta. Maksudnya adalah untuk mendengarkan hasil utusan pemuda. Tugas ini dipercayakan kepada Djohar Nur.

Pada tanggal 16 Agustus 1945, sekembali dari Rengasdengklok, tokoh-tokoh pergerakan nasional dan para pemuda mengadakan rapat di rumah Laksamana Maeda untuk memproses teks naskah proklamasi. Rapat baru selesai pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 03.00 pagi dini hari, ini merupakan bukti bahwa kemerdekaan Indonesia adfalah hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri.

Pada tanggal tersebut untuk pertama kalinya bendera Sang Dwiwarna Merah Putih dikibarkan, setelah proklamasi selesai dibacakan. Kemudian secara serentak dan spontan diperdengarkan lagu Indonesia Raya oleh para hadirin.
Tampil sebagai pengibar bendera adalah Latif Hendraningrat.

Detik-detik yang sangat bersejarah adalah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Hari Jemuah Legi, bertepatan dengan tanggal 8 Ramadhan 1364H atau Sukra Umanis, tanggal 8 Poso 1876J.

Pukul 05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari.

Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah Ir. Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para pemuda yang bekerja pada pers dan kantor-kantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan kepada Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan seperti mikrofon dan beberapa pengeras suara.

Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di belakang rumah. Bambu itu dibersihkan dan diberi tali. Lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah.

Bendera yang dijahit tangan oleh Ibu Fatmawati istri Bung Karno sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran bendera itu tidak standar, karena kainnya berukuran tidak sempurna. Memang, kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera.

Sementara itu, rakyat yang telah mengetahui akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang tampak gelisah, khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang.

Matahari semakin tinggi, Proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu Soekarno terserang sakit, malamnya panas dingin terus menerus dan baru bisa tidur setelah selesai merumuskan teks Proklamasi.

Para undangan telah banyak yang berdatangan, rakyat yang telah menunggu sejak pagi, mulai tidak sabar lagi. Mereka yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar Proklamasi segera dilakukan.

Para pemuda yang tidak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan teks Proklamasi. Namun, Bung Karno tidak mau membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta.

Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih dan langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian. Ia juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.

Upacara itu berlangsung sederhana saja. Tanpa protokol. Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA, segera memberi aba-aba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu sejak pagi untuk berdiri.

Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno dan Mohammad Hatta maju beberapa langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat sebelum membacakan teks proklamasi.

Saoedara-saoedara sekalian! saja telah minta saoedara hadir di sini, oentoek menjaksikan soeatoe peristiwa maha penting dalam sedjarah kita.

Berpoeloeh-poeloeh tahoen kita bangsa Indonesia telah berdjoeang oentoek kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratoes-ratoes tahoen.

Gelombangnja aksi kita oentoek mentjapai kemerdekaan kita itoe ada naiknja ada toeroennja. Tetapi djiwa kita tetap menoedjoe ke arah tjita-tjita.

Djoega di dalam djaman Djepang, oesaha kita oentoek mentjapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam djaman Djepang ini tampaknja sadja kita menjandarkan diri kepada mereka.

Tetapi pada hakekatnja, tetap kita menjoesoen tenaga kita sendiri. Tetap kita pertjaja pada kekoeatan sendiri.

Sekarang tibalah saatnja kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanja bangsa jang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan koeatnja.

Maka kami, tadi malam telah mengadakan moesjawarah dengan pemoeka-pemoeka rakjat Indonesia dari seloeroeh Indonesia, permoesjawaratan itoe seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnja oentoek menjatakan kemerdekaan kita.

Saoedara-saoedara! Dengan ini kami menjatakan keboelatan tekad itoe. Dengarkanlah Proklamasi kami:

P R O K L A M A S I

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta.

Demikianlah saoedara-saoedara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satoe ikatan lagi jang mengikat tanah air kita dan bangsa kita!

Moelai saat ini kita menjoesoen Negara kita! Negara Merdeka. Negara Repoeblik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi.

Insja Allah, Toehan memberkati kemerdekaan kita itoe”.

Acara, dilanjutkan dengan pengibaran Bendera Pusaka Sang Merah Putih. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang.

Ketika SK Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak: “lebih baik seorang pradjurit,” katanya.

Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang telah disediakan dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat.

Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Bendera dikerek dengan lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang.

Seusai pengibaran bendera, dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo dan dr. Muwardi.

Setelah upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan ada sepasukan barisan pelopor yang berjumlah kurang lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata, memasuki halaman rumah Soekarno.

Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang penuh kecewa S. Brata meminta agar Bung Karno membacakan Proklamasi sekali lagi.

Mendengar teriakan itu Bung Karno tidak sampai hati, ia keluar dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya.

Mendengar keterangan itu Brata belum merasa puas, ia meminta agar Bung Karno memberi amanat singkat. Kali ini permintaannya dipenuhi.

Selesai upacara itu rakyat masih belum mau beranjak, beberapa anggota Barisan Pelopor masih duduk-duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno.

Tidak lama setelah Bung Hatta pulang, datang tiga orang pembesar Jepang. Mereka diperintahkan menunggu di ruang belakang, tanpa diberi kursi. Sudiro sudah dapat menerka, untuk apa mereka datang. Para anggota Barisan Pelopor mulai mengepungnya. Bung Karno sudah memakai piyama ketika Sudiro masuk, sehingga terpaksa berpakaian lagi.

Kemudian terjadi dialog antara utusan Jepang dengan Bung Karno: “Kami dioetoes oleh Goenseikan Kakka, datang kemari oentoek melarang Soekarno mengoetjapkan Proklamasi.”

Proklamasi soedah saja oetjapkan,” jawab Bung Karno dengan tenang.

Soedahkah?” tanya utusan Jepang itu keheranan.

Ja, soedah!” jawab Bung Karno.

Di sekeliling utusan Jepang itu, mata para pemuda melotot dan tangan mereka sudah diletakkan di atas golok masing-masing. Melihat kondisi seperti itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit.

Sementara itu, Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena dicekam suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Untung ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah itu, dokumentasinya hanya ada tiga; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran bendera, dan sebagian foto hadirin yang menyaksikan peristiwa itu.

Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih adalah sebutan bagi bendera Indonesia yang pertama. Bendera Pusaka yang dijahit oleh Ibu Fatmawati, istri presiden Soekarno.

Sebagai istri tokoh pergerakan nasional paling populer ketika itu Ibu Fatmawati membantu menjahitkan bendera merah putih yang idenya diambil dari panji kebesaran dan bendera kerajaan Majapahit pada abad ke-13, yang terdiri dari sembilan garis berwarna merah dan putih tersusun secara bergantian.

Ibu Fatmawati tidak membuat bendera merah putih sekali jadi. Sebelum 16 Agustus 1945 ia sudah menyelesaikan sebuah bendera merah putih. Namun ketika diperlihatkan ke beberapa orang bendera tersebut dinilai terlalu kecil. Panjang bendera itu hanya sekitar 50 cm.

Bendera merah putih yang baru dan lebih besar harus segera dibuat. Malam itu juga usai sampai di rumah Ibu Fatmawati membuka lemari pakaiannya. Ia menemukan selembar kain putih bersih bahan seprei. Namun ia tak punya kain merah sama sekali.

Paling tidak terdapat dua versi tentang bendera merah putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati ini, yang kelak disebut sebagai Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih itu.

Satu versi adalah ketika seorang pemuda bernama Lukas Kastaryo (Di kemudian hari masuk militer dengan pangkat terakhir brigjen) yang berada di kediaman Bung Karno pada waktu itu.

Seperti yang ia tuturkan sendiri pada majalah Intisari edisi Agustus 1991, ia lalu berkeliling ke beberapa tempat, dan akhirnya ia menemukan kain merah yang tengah dipakai sebagai tenda sebuah warung soto.

Ditebusnya kemudian dengan harga 500 sen (uang gukden?, tetapi harga yang cukup mahal kala itu) dan menyerahkannya ke ibu Fatmawati.

Ibu Fatmawati akhirnya menyelesaikan bendera merah putih yang baru malam itu juga. Ukurannya 276 x 200 cm. Bendera baru ini akhirnya dikibarkan tepat 17 Agustus 1945 dan menjadi bendera pusaka negara di tahun-tahun sesudahnya.

Versi kedua adalah pengakuan seorang yang bernama Chaerul Basri, yang secara tak sengaja terlibat langsung dalam persiapan pembuatan bendera pusaka.

Setahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Dwi-Tunggal Soekarno-Hatta, Jepang telah menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Itu berarti, bendera Merah Putih sudah boleh dikibarkan dan lagu Indonesia Raya boleh dikumandangkan di seluruh Nusantara. Tentu saja, orang-orang yang berperan besar dalam persiapan kemerdekaan memerlukan bendera itu, tak terkecuali Ibu Fatmawati, istri Soekarno yang kelak menjadi Sang Proklamator.

Bendera itu dipersiapkannya untuk dikibarkan di halaman depan kediamannya, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Tak dapat dibayangkan, pada saat sebagian rakyat Indonesia ada yang tak punya pakaian dan menggunakan karung, Ibu Fatmawati memerlukan kain berwarna merah dan putih untuk membuat sebuah bendera.

Tidak mudah untuk mendapatkan kain, apalagi barang-barang eks impor semuanya masih berada di tangan Jepang. Kalaupun ada di luar, untuk mendapatkannya harus dengan cara diam-diam dan berbisik-bisik.

Untuk itulah, Ibu Fatmawati kemudian memanggil seorang pemuda bernama Chaerul Basri. Sang pemuda dimintanya untuk menemui seorang pembesar Jepang bernama Shimizu yang dipastikan dapat membantu mencarikan kain merah-putih itu.

Shimizu, yang masih hidup di Jepang dalam usia 92 tahun pada 2004, adalah orang yang ditunjuk pemerintah Jepang sebagai perantara dalam perundingan Jepang-Indonesia pada tahun 1943.

Kedudukan dan jabatan resminya saat itu adalah pimpinan barisan propaganda Jepang yaitu Gerakan Tiga A.

Chaerul tercatat pernah menjalani kehidupan militer dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal (Purn). Selain itu, ia pernah menjabat Sekjen Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi (Depnakertranskop) tahun 1966-1979 dan sebagai Ketua Bidang Sosial Budaya dan Kesejahteraan di Markas Besar Legiun Veteran RI.

Sementara itu, seperti juga Chaerul, Adel Sofyan masuk ke dunia militer, mulai dari BKR (Badan Keamanan rakyat), TKR (Tentara Keamanan Rakyat), sampai menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia). Karirnya di angkatan bersenjata tercatat sebagai Kepala Staf Resimen 6 Cikampek, Brigade Kiansantang, Divisi Siliwangi.

Shimizu yang politikus, tidak seperti orang Jepang lainnya yang selalu bertindak kasar atas dasar hubungan kekuasaan. Shimizu rajin mendengarkan unek-unek, pikiran dan pendirian pihak Indonesia. Karena itu, ia lebih dianggap ”teman” oleh dan mudah diterima di berbagai kalangan, apalagi dengan kemampuan bahasa Indonesianya yang lumayan, meski masih terpatah-patah.

Dari penuturan Chaerul, maka Shimizu dapat membantu mencarikan kain merah dan putih yang dibutuhkan Ibu Fatmawati yang kemudian didapatkan melalui pertolongan seorang pembesar Jepang lainnya yang mengepalai gudang di bilangan Pintu Air, di depan eks bioskop Capitol.

Shimizu meminta pada Chaerul agar kain itu diberikan kepada Ibu Fatmawati. Kain itulah yang kemudian dijahit dengan tangan menjadi sebuah bendera berukuran 2×3 meter oleh Ibu Fatmawati

Dari kedua versi di atas, sulit untuk dilacak kebenarannya, mengingat para pelaku dan saksi sejarah semuanya sudah meninggal dunia.

Namun terlepas dari keduanya, bahwa bendera Merah Putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati itulah yang disebut sebagai Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih, yang untuk pertama kalinya dikibarkan pada Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, di halaman depan rumah Ir. Soekarno di Jalan Pengangsaan Timur 56, Jakarta.

Setelah Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bendera dinaikkan pada tiang bambu oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka yang dipimpin oleh Kapten Latief Hendraningrat.

Setelah bendera berkibar penuh di atas tiang, lagu “Indonesia Raya” kemudian dinyanyikan secara bersama-sama.

Dari telusur pengibaran pertama kali Bendera Pusaka Merah Putih menimbulkan kontroversial juga. Dalam foto pengibaran bendra pusaka nampak seseorang dari Barisan Pelopor membelakangi kamera, bercelana pendek sebagai pakaian ciri khas pemuda penjuang masa itu.

Disebut-sebut bahwa seseorang itu adalah Soehoed Sastro Koesoemo, salah seorang pengibar bendera pusaka saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. pendamping Latif Hendraningrat.

Seperti tertulis pada halaman 122-123: Buku Abdul Latief Hendraningrat Sang Pengibar bendera Pusaka 17 Agustus 1945. Penulis: DR Nidjo Sandjojo M.Sc., Penerbit Sinar Harapan. Pelaku pengibar bendera pusaka tersebut adalah Abdul Latief Hendraningrat yang dibantu seorang pemuda dari barisan pelopor bernama Soehoed.

Namun tiba-tiba muncul nama Ilyas Karim di berbagai media. Di saat negeri ini telah merdeka 66 tahun, tahun 2011 yang lalu. Ilyas Karim mengklaim sebagai pengibar bendera pusaka pada 17 Agustus 1945.

Ilyas mengaku sebagai orang yang memakai celana pendek pada foto pengibaran Sang Saka Merah Putih pertama kali, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, maka atas “jasanya” itu, pada 17 Agustus 2011, Ilyas Karim mendapatkan hadiah sebuah apartemen di kawasan Kalibata City dari perusahaan pengembang apartemen di Jakarta.

Pengakuan Ilyas Karim telah dibantah oleh pelbagai pihak, termasuk keluarga Soehoed Sastro Koesoemo dan Abdul Latirf Hendraningrat, juga para sejarahwan lainnya.

Pada tahun pertama Revolusi Nasional Indonesia, Bendera Pusaka dikibarkan siang dan malam. Setelah Belanda menguasai Jakarta pada 1946, Bendera Pustaka dibawa ke Yogyakarta dalam koper Soekarno.

Ketika terjadi operatie kraai, Bendera Pustaka dipotong dua lalu diberikan kepada Husein Mutahar untuk diamankan. Mutahar menjaga bendera Merah Putih itu dengan nyawanya.

Walaupun kemudian ditangkap lalu melarikan diri dari tentara Belanda, Mutahar berhasil membawanya kembali ke Jakarta, menjahit kembali, dan memberikannya pada Soedjono. Soedjono lalu kemudian membawa benderanya ke Soekarno, yang berada dalam pengasingan di Bangka.

Setelah perang berakhir, Bendera Pusaka selalu dikibarkan di halaman depan Istana Negara pada Hari Kemerdekaan. Namun karena kerapuhannya Bendera Pusaka terakhir dikibarkan di halaman depan Istana Negara pada tahun 1969, untuk kemudian diistirahatkan di Museum Nasional, dan sejak tahun 1970, bendera yang dikibarkan di halaman depan Istana Negara adalah replika Bendera Pusaka yang dibuat dari sutra.

Ternyata apa yang diperjoangkan pada Abad ke-13 di Persada Nusantara oleh Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa dari Kerajaan Singasari yang dalam kebhinekaan untuk mempersatukan Nusantara yang dikenal denganCakrawala Mandala Nusantara, yang kemudian dijadikan inspirasi dan diperjoangkan kembali oleh Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Gajah Mada dalam Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa untuk memperkuat persatuan Nusantara di bawah kedaulatan Kerajaan Majapahit.

Sang Laksamana Laut Panglima Gabungan Angkatan Laut Tiga Kesultanan Jepara, Cirebon dan Banten, Sri Bupati Jêpårå Rêtnå Kêncånå Ratu Kalinyamat yang berusaha mengusir pasukan-pasukan Portugis di Tanah Melaka dan Laut jawa pada tahun-tahun 1550an.

Pada tahun 1630an, Sultan Agung, raja Jawa generasi berikutnya menyusul kemudian, berhasil menjadikan Mataram sebagai kerajaan besar, hampir seluruh masa pemerintahannya diwarnai dengan penaklukan-penaklukan daerah-daerah yang tidak mau tunduk kepada Mataram, Palembang, Sukadana (Kalimantan), dan seluruh Jawa tunduk pada kekuasaan Matarm kecuali Batavia yang masih diduduki militer VOC Belanda.

Tujuannya jelas, sebagaimana pendahulunya. Nusantara berada di satu kedaulatan Kesultanan Mataram.

Sultan Agung tidak hanya pandai bertempur, Beliau adalah seorang budayawan, yang menaruh perhatian besar pada kebudayaan Mataram.

Beliau memadukan sistem Kalender Hijriah yang dipakai di pesisir utara dengan kalender Çaka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram. Selain itu Sultan Agung juga dikenal sebagai penulis naskah berbau mistik, berjudul Sastra Gending.

Empat ratus tahun kemudian setelah Sultan Agung, maka pada tanggal 17 Agustus 2013, di usia yang ke-68 Tahun, Kemerdekaan Republik Indonesia wajib kita dengungkan kembali dengan ungkapan ”Kita Tingkatkan Kesadaran Hidup dalam
ke-Bhinneka-an untuk Kokohkan Persatuan NKRI”
.

Kesadaran hidup kita dalam kebhinekaan tercerai-berai, konflik horisontal antar suku, agama, ras, etnis, golongan merebak di mana-mana, hanya untuk kepentingan sesaat dan kepentingan sesat.

Rasa-rasanya terbayang bagaimana Sang Mahaprabu Kŗtanagara dengan bendera kerajaan Sang Saka Gula Kelapa Merah Putih yang dikibarkan di atas kepala pasukan-pasukan tempurnya yang berCakrawala Mandala Nusantara membendung intervensi pasukan asing di bumi Nusantara.

Sang Mahapatih Gajah Mada yang bersumpah ingsun tan ayun amuktia palapa, dengan armada lautnya menjelajah Nusantara, bahwa dia Sang Gajah Mada demi kepentingan negaranya dalam upaya mempersatukan Nusantara di bawah naungan Negara Kesatuan Kerajaan Majapahit, di bawah kibaran bendera kerajaan Majapahit Sang Saka Gula Kelapa Merah Putih.

Sri Bupati Jêpårå Rêtnå Kêncånå Ratu Kalinyamat, Sang Laksamana Laut Panglima Gabungan Angkatan Laut Tiga Kesultanan Jepara, Cirebon dan Banten, yang dipuncak tiang utama kapal-kapal perangnya berkibar Sang Saka Gula Kelapa Merah Putih, rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, “Ratu Jepara seorang wanita cantik yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani”, bertekad mengusir pasukan asing yang akan menjajah tanah airnya Nusantara.

Sultan Agung, Sinuwun di Mataram, berjuang sama. Bangsa asing harus enyah dari bumi Nusantara dan Nusantara bersatu di bawah kedaulatan Kesultanan Mataram, di bawah naungan bendera yang sama Sang Saka Gula Kelapa, Sang Saka Merah Putih.

Banyak para pembela Sang Saka Gula Kelapa Sang Saka Merah Putih, namun di antara mereka ada yang dikenal, ada yang tidak dikenal, ada yang lupa, bahkan ada pula yang sengja dilupakan, namun dengan tidak bermaksud mengkultus-individukan, atau mengistimewakan, sedikit dari sekian banyak pemersatu Nusantara, Sang Mahaprabu Kŗtanagara dari Kerajaan Singasari, Gajah Mada Sang Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit, Kanjêng Sri Bupati Jêpårå Rêtnå Kêncånå Sang Ratu Kalinyamat dan Sinuwun Sultan Agung Hanyåkråkusumå dari Kesultanan Mataram, mereka rela tidak menikmati kesenangan hidup; rela tidak menikmati kenikmatan duniawi, dan lebih mengutamakan kepentingan negaranya di atas kepentingan pribadinya, dan pertanyaannya sekarang: Siapakah pemimpin-pemimpin masa kini yang setara dengan beliau-beliau itu?

M E R D E K A

Nuwun

punåkawan

Gubug Bocah Angon, Agustus 2013

DAFTAR PUSTAKA.

Meskipun bukan merupakan karya ilmiah, skripsi, apalagi tesis, tetapi sebagai rujukan, saya sertakan Daftar Pustaka sebagai bentuk pertanggung-jawaban saya atas tulisan Sang Saka Gula Kelapa Sang Merah Putih tersebut di atas.

Referensi bagi sanak kadang, juga para pembaca lainnya, sebagai bentuk tanggung-jawab keilmuan, juga sebagai alat untuk melakukan kajian ulang atau lanjutan sehubungan dengan tema tulisan saya itu.

Rujukan dalam bentuk Daftar Pustaka ini juga sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi saya terhadap para penulis buku yang saya cantumkan dalam Daftar Pustaka atas karyanya yang sudah mempunyai peranan besar dalam karya tulis saya.

  1. ________, Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid 3). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Jakarta 1989;
  2. ________, Babad Tanah Djawi versi L. van Rijckevorsel & R.D.S. Hadiwidjana (1925);
  3. ________, Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terjemahan). Narasi. Yogyakarta 2007;
  4. ________, Sejarah dan Hari Jadi Jepara. Panitia Penyusunan Hari Jadi Jepara Pemda Kabupaten Tingkat II Jepara. Jepara 1988;
  5. _________, Babad Tanah Jawi, Balai Pustaka Betawi Centrem, 1939-1941, #1024 (Jilid 09). Kisah, Cerita dan Kronikal | Babad Tanah Jawi #1018. – Yayasan Lestari Agustus 2000;
  6. _________, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium. Jilid I. Gramedia. Jakarta 1987;
  7. Agus Sunyoto, Atlas Walisongo. IIMaN, Trans Pustaka, LTN PBNU Jakarta, 2012;
  8. Ahmad Soebardjo. Lahirnya Republik Indonesia. Kinta. Jakarta 1978;
  9. Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tome Pires: An Account of the East, Volume 1-2, translated from Portuguese, The Hakluyt Society. London, 1944;
  10. Atmodjo, M.M. S. Karto. Struktur Masyarakat Jawa Kuno pada Jaman Mataram Hindu dan Majapahit. Pusat Penelitian dan Studi Pedesaan dan Kawasan UGM Yogyakarta 1979;
  11. Bade, David W. Khubilai Khan and the Beautiful Princess of Tumapel: the Mongols Between History and Literature in Java. A. Chuluunbat Ulaanbaatar 2002;
  12. Bambang Soemadio (et.al. editor). Sejarah Nasional Indonesia II, Jaman Kuna. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta l975;
  13. Berg, CC, Prof Dr., Penulisan Sejarah Jawa, (terjemahan), Bhratara. Jakarta 1985.
  14. Boechari. Manfaat Studi Bahasa dan Sastra Jawa Kuna ditinjau dari Segi Sejarah dan Arkeologi. Majalah Arkeologi Tahun I No. 1. 1977.
  15. Brandes, J. L. A. Pararaton (Ken Arok) of het boek der Koningen van Tumapäl en van Majapahit (Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschapen, XLIX), Batavia-s’Hage 1897. Perpustakaan Nasional RI;
  16. Budya Pradipta Nagara, KRT. Dr., Sumpah Palapa Cikal Bakal Gagasan NKRI. Makalah pada “Seminar Naskah Kuno Nusantara dengan tema Naskah Kuno sebagai perekat NKRI”, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta Pusat 2004;
  17. De Graaf HJ, Pigeaud dan Theodore Gautier Thomas. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Pustaka Utama Grafiti. Jakarta 2001;
  18. Hamka, Prof., Dr. Dari Perbendaharaan Lama. Pustaka Panjimas. Jakarta 1982;
  19. Hayati dkk. Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara pada Abad XVI. Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta 2000;
  20. Ketut Riana, I, Ed., Transl. Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama, Masa Keemasan Majapahit, Kompas. Jakarta 2009;
  21. Koesnodiprodjo. Himpunan Undang-Undang, Peraturan-Peraturan, Penetapan-Penetapan Pemerintah Republik Indonesia 1945. Jakarta 1951;
  22. Lasmidjah Hardi. Samudera Merah Putih 19 September 1945. Jilid 1. Pustaka Jaya. Jakarta 1984;
  23. Man, John, Kublai Khan: The Mongol king who remade China, Bantam Books London 2007;
  24. Mangkudimedja, R.M., Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Departemen P dan K, Jakarta 1979;
  25. Marwati Djoened Poesponegoro et. al. Sejarah Nasional Indonesia . Jilid 6. Balai Pustaka. Jakarta 1984;
  26. Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia II Zaman Kuno. Edisi Pemutakhiran. Balai Pustaka. Jakarta 2008;
  27. Megandaru W. Kawuryan. Negara Kertagama, Tata Pemerintahan Kraton Majapahit. Panji Pustaka Jakarta 2006;
  28. Meinsma, J.J. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. (Terjemahan). S’Gravenhage 1903;
  29. Moedjianto. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Kanisius. Yogyakarta 1987;
  30. Mohammad Hatta. Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Tinta Mas. Jakarta 1970;
  31. Mudjadi dan Agus Salim (penerjemah), The Antiquites of Singasari. Terjemahan 1976. Blom, Yessy. 1939;
  32. Muhammad Yamin, 6000 Tahun Sang Merah Putih. Balai Pustaka. Djakarta 1958;
  33. Muhammad Yamin, Tatanegara Madjapahit. Risalah Sapta Parwa, berisi 7 Djilid atau Parwa, Hasil Penelitian Ketatanegaraan Indonesia tentang Dasar dan Bentuk Negara Nusantara Bernama Madjapahit, 1293 sd 1525. Prapantja. Djakarta 1962;
  34. Muhammad Yamin. Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara. Balai Pustaka. Jakarta 1977;
  35. Nidjo Sandjojo, DR. M.Sc., Abdul Latief Hendraningrat Sang Pengibar Bendera Pusaka 17 Agustus 1945. Penerbit Sinar Harapan. Jakarta 2011;
  36. Nugroho Notosusanto, Prof. Dr. Sejarah Nasional Indonesia, Jilid II. Balai Pustaka, Jakarta. 1984;
  37. Nugroho Notosusanto. Naskah Proklamasi yang Otentik dan Rumusan Pancasila yang Otentik. Pusat Sejarah ABRI. Jakarta 1976;
  38. Padmopuspito, Ki. J. Pararaton; Teks Bahasa Kawi, Terjemahan Bahasa Indonesia. Taman Siswa, Yogyakarta. 1966;
  39. Partokusumo, Karkono. Falsafah Kepemimpinan dan Satria Jawa dalam Perspektif Budaya. Bina Rena Pariwara. Jakarta. 1998;
  40. Pigeaud, Theodore Gautier Thomas. Java in the 14th Century. A Study in Cultural History. 5 vols., The Hague: Martinus Nijhoff 1960-1963;
  41. Pigeaud, Theodore Gautier Thomas. Java in the Fourteenth Century: A Study in Culture History: The Nagarakertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D., Volume 4, The Hague. Martinus Nijhoff 1962;
  42. Poerbatjaraka, R. M. Ng. Riwayat Indonesia I. Jajasan Pembangunan. Djakarta 1952;
  43. Pogadaev, V. A. Sultan Agung (1591 – 1645). The Ruler of the Javanese Kingdom; Kris – the sacred weapon of Java; On the Pirates Ship. Istorichesky Leksikon. XVII vek (Historical Lexicon. XVII Century).: “Znanie”, Мoscow 1998. Perpustakaan Nasional Jakarta;
  44. Purwadi. Sejarah Raja-Raja Jawa. Media Ilmu. Yogyakarta 2007;
  45. Raffles, Thomas Stamford. The History of Java, vol. 2, 2nd ed., London: John Murray, 1830; Perpustakaan Nasional Jakarta;
  46. Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta 1991;
  47. Robson, Stuart. Desawarnana (Nagarakrtagama) by Mpu Prapanca (Verhandelingen van het Koninklijk Instituut vor Taal-, Land- en Volkenkunde, 169), Leiden: KITLV 1995;
  48. Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto Sejarah Nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Islam di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1975;
  49. Sartono Kartodirdjo. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium. Jilid I. Gramedia. Jakarta 1987;
  50. Slamet Muljana, A Story of Majapahit. Singapore University Press, Singapore 1976;
  51. Slamet Muljana, Prof. Dr. Nagara Kertagama, Tafsir Sejarah. LkiS. Yogyakarta 2006;
  52. Slamet Muljana, Prof. Dr. Sriwijaya (terbitan ulang 1960). LKIS. Yogyakarta 2006.
  53. Slamet Muljana, Prof. Dr. Menuju Puncak Kemegahan., (terbitan ulang 1965) LKiS. Yogyakarta 2005;
  54. Soekarno. Sarinah; Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia. Panitia Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Soekarno. Jakarta. 1963;
  55. Tandi Skober. Namaku Nairem. Salsabila Pustaka Al Kautsar. Jakarta Timur 2012.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Telah Terbit on 23/08/2013 at 13:37  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/dongeng-punakawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulo ndherek ngangsu kawruh Ki
    kepareng nyantrik wonten ngriki
    namung wonten semangat …..
    (kadose kok kawulo teksih piyambakan)

    • Dongeng Punakawan

      On 13/03/2014 at 07:53 punakawan said:

      Nuwun

      NEGERIKU NUSANTARA INDONESIARAYA (IV)
      © Punakawan Sang Botjah Angon

      ………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………….
      …………………………………………………………………………………….

      ånå toêtoêgé

      Nuwun

      punåkawan

      Sumånggå Adimas Putut Risang ….Sumånggå Ki Punakawan……

      …kadose mpun titiwancine………menyambut hari jadi Kemerdekaan
      Negara Kesatuan Republik Indonesia…..

      ….hehehe……

  2. Sumånggå Ki

  3. Ki Haryo Paran mbotên piyambakan Ki, Ki Haryo Paran dipun réncangi 4 punåkawan Sêmar, Pétruk Garèng lan Bagong, ingkang imut-imut lan lucu lho. 🙂

  4. nggih Ki Puna, sambil menunggu babaring bagian 4, he he he …..

  5. Makin nyaman Ki Puna, dah punya gandhok sendiri.
    Matur nuwun….

  6. Lanjutannya belum ya Ki Puna?
    Gak apa2, enak di akhir pekan saja biar waktunya agak longgar untuk mencerna ceritanya.

  7. lintang kemukus…..
    klo disini dianggap simbol pageblug… klo dibarat sana dipercaya dpt mengabulkan harapan….

  8. Nyuwun Sewu.
    Kulo gadhah usul, menawi ki Punakawan kerso nglanjutaken caritho “Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan – SH Mintardja” engkang dereng paripurno.Setunggal meleh nyuwun ngapunten kalepatan kulo menawi usul kawula mboten dados ati kagem ki Punakawan lan kadang cantrik mentrik sedoyo. Matur suwun.

    • lho…..
      sampun wonten kok Ki Karijadi, silahlan kunjungi http://pelangisingosari.wordpress.com/HLHLP-119/ yang ditulis oleh Ki Kompor.

      jilid awal memang agak kaku, tetapi jilid-jilid berikutnya sudah mulai enak dibaca.

      tamat jilid 119, terus dilanjutkan dengan Sang Fajar Bersinar di Bumi Singosari, diteruskan dengan Kabut di Bumi Singosari, dan yang terakhir yang sedang berjalan, Tapak-tapak Jejak Gajah Mada, sedang jalan di jilid 5.

      coba diubek di http://pelangisingosari.wordpress.com

      • Katur Ki Karijadi,

        Matur nuwun kawigatosanipun Ki.

        Ada penulis dongeng berlatar belakang sejarah sebagai kelanjutan HLHLPnya Ki Dalang SH Mintardja, yang lebih mumpuni daripada saya Ki.
        Beliaunya sudah disebut oleh Adimas Putut Risang.

        Adapun saya cuman tukang gali tanah, yang sering tanya-tanya (sendiri :))

        Apa sih mangsudnya para orang-orang dulu bikin prasasti, candi, pyramid, umpak, patung lan sapituruté……….. mbingungi wong saiki

        Sumånggå Ki.

        Nuwun

        punåkawan

      • oh nyuwun ngapunten kawulo, ngertosepun gandok adbm kalehan gadhahipun ki punakawan. matur suwun

        • @ Ki Karyadi,

          Yang bahurêkså gandhok bukan saya Ki. Saya cuma seorang punåkawan.

  9. Alhamdulillah, dah punya gandok sendiri…
    daripada di protes terus…

    • senyum 🙂

      bukan diprotes kok jeng

      • ikutan senyum 😛 😛 😛

        • Saya sangka Adimas Putut Risang mau ikutan protes senyum lho.
          Tibaké malah ikutan senyuummmmmmm.

          Kalau senyum sudah diprotes juga. Lha gimana yaaaa
          Hiks…..

          • Kalau senyum diprotes, mendingan ketawa sekalian Ki Puna, he he he …..

  10. Nuwun

    Matur nuwun Dimas Risang, rontal-rontal sudah ditempatkan di tempatnya.

    Kepada sanak kadang, rontal-rontal tulisan saya ini bebas dicopy-paste, dan nggak usah mbayar, gratissss, asal dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sesama.

    Untuk diketahui saja, bahwa di gandhok maya sini, gratis, ngopynya juga nggak memerlukan waktu lama.

    Berbeda dengan di dunia nyata, untuk “ndongeng” satu episode memerlukan waktu lama, bisa setahun atau lebih, lagi pula nggak gratisan, sebab kalo ndongeng, punåkawan dibayar mahal (mbayarnya pake uang juga). 🙂
    Tapi di sini punåkawan nggak minta bayaran. Sungguh !!!

    Nah åpå ora kêpénak di sini.

    Sumånggå

    Nuwun

    punåkawan

    • maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  11. maturnuwun ki puna… moga keikhlasan ki puna mendapatkan pahala yg berlimpah…

  12. kula nuwun ki puna… kok sudah lama nggih ki puna tidak rawuh dhateng padepokan?
    apakah sedang sibuk ?
    mdh2an ki puna selalu dalam keadaan sehat wal afiat…

  13. matur nuwun kagem :
    Ki Punakawan
    lan
    jajaran pengasuh blog gagakseta.

    kulo nderek ijin ngangsu kawruh elmu sejarah
    ingkang adiluhung. mboten sembarangan tiyang saget ngaturaken kados ki Punakawan.
    ilmiah sanget.

  14. Hayu, Hayu, Hayu ….
    Mohon maaf saya pakai bahasa persatuan bahasa Indonesia dikarenakan perbendaharaan bahasa Jawa saya yang masih sangat kurang, meskipun saya asli tiyang Jawi, hehehe…. takutnya nanti jadi kurang sopan.
    Saya sangat mengapresiasi sekali tulisan2 di blog ini. Sejak lama sebenarnya saya sudah mengikuti blog ini (dan juga blog ADBM dan PDLS), namun sebatas sbg silent reader kemawon, terutama untuk mendownload koleksi buku2nya alm SH Mintardja (sebatas untuk koleksi bacaan pribadi). Melalui komen ini saya ingin berterima-kasih yang sebesar2nya. Ngapunten baru sekarang sempat mengucapkannya (menulis komen tepatnya).
    Sekaligus juga dengan ini saya mohon ijin untuk mengcompile tulisan2 pribadi panjenengan yang ada di sub-menu “Dongeng Punakawan”, saya jadikan satu file utuh ebook (format epub). Tentu saja masih dengan komitmen beretika untuk tidak mengkomersialkannya, hanya sebatas untuk koleksi pribadi, agar mudah bagi saya untuk membacanya lagi secara offline di kemudian hari
    Mekaten…
    Semoga berkenan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: