Deb-03

balik ke Deb-02>>|lanjut ke Deb-04>>

Laman: 1 2

Telah Terbit on 25/08/2011 at 18:37  Comments (29)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/deb-03/trackback/

RSS feed for comments on this post.

29 KomentarTinggalkan komentar

  1. Selamat Malam Ki Sanak,

    Sepuluh hari pertama yang disebut rahmah adalah ibarat sebuah turnamen, baru masuk masa seleksi. Maka tak heran pada sepuluh hari pertama, banyak sekali orang berpuasa dan bertarawih. Masjid penuh dengan jama’ah salat tarawih. Maklum tahap seleksi.

    Sepuluh hari kedua seperti semifinal, pesertanya berkurang. Jama’ah salat tarawih sudah tidak luber sampai ke halaman.

    Sepuluh hari ketiga ibarat final. Final apapun pesertanya sedikit. Tidak heran jika sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, jama’ah masjid sudah berkurang jauh.

    Tarawih sudah pindah ke mal menghadapi lebaran. Orang-orang berbondong-bondong ke mal berbelanja baju, makanan, dan lainnya untuk berlebaran.

    • Sugêng dalu,

      Ki Is,
      Ternyata ‘tarawih’ tidak hanya pindah ke mal dan pasar Ki..
      Di jalan tol dalam kota mBetawi menuju luar kota arah timur (Cikampek – Cipularang dst) ternyata sudah rapi, mobil bershaf rapat dan lurus berderet memacetkan jalanan. Sungguh !!!!

      Acara rutin tahunan berulang. Mudik,

      Mulih sêkå sånjå, Bakal bali mulih. Mulih mulå mulanyå

      • asiikk………
        sudah ada gandok anyar

      • Sugeng dalu Ki Puna,

        inggih…..dilema wong ngaurip….he he he.

        • Leres Ki Ismoyo..
          Soale saking kampung, lha kalau lebaran di kampung..Kadang-kadang kalau mikir, enak juga kerja di kampung sendiri..

          Kalau mudik (pas tidak lebaran) naik bis, bis tsb memulai perjalanan ke ibukota berangkat sore hari. Nah, seringkali aku iri melihat sanak-kadang di sepanjang perjalanan, sore-sore sudah di rumah, bercengkerama dengan keluarga, menyiapkan diri untuk maghrib, dan makan malam..

          Di ibukota, waktu magrib seringkali habis di perjalanan…

          Ah, enaknya hidup di kampung… padahal yg di kampung, kadang-kadang2 berpikir, betapa enaknya hidup di ibukota…

          (tapi kalau dipikir-pikir, urip itu mung wang-sinawang, ya..)…

  2. ku udah mudik ni gi buat2 kueh tuk open house, krn misua mutusin open house di rumah induk, so semua isteri gabung, semua anak2 kumpul
    asikkkk engkak ketan, kueh 12 jam, kueh 8 jam, maksubah

    • Isterinya misua Nyi Dewi berapa ya? Kalau semua kumpul di rumah induk apa bisa akur? Ruar biaas ….

      • Pak De iri ya, he he he ……

        • he he he ……Pak De iri ya,

          • Iri tanda tak mampu….

          • mampu….tanda tak iri

            HIKSS,

          • Mung nggumun, era komputer kok ono sing nganggo klambi rangkep wolu …..

          • YEn ing LA hawane atis, iso rangkep klambi…

          • Sekarang harus OTE-OTE …… Ki!

  3. Ngliyep disini sebentar … sambil nuggu jatah …

  4. Nuwun
    Sugêng énjang

    Pårå kadang ingkang dahat kinurmatan: pårå ubhwan, pårå ajar, pårå putut manguyu, jêjanggan, pårå tåpå, pårå tapi, pårå èndhang, pårå kadang cantrik, lan sêdåyå pårå kaki bêbahu padépokan. pårå kadang sutrêsnå sinu darsånå padépokanGS”.

    Wulan Ramadhan 1432H mbotên kraos badé nilar kita sâdåyå. Atêgês mbotên sawêtawis dangu kitâ bakal pêpisahan kaliyan wulan agung punikâ. Kita nênuwun dumatêng ngarsâ Gusti Kang Maha Asih, mugi tansah pikantuk barokah Ramadhan, ugi ampunanipun saking Gusti Ingkang Murbèng Dumadi.

    Sumånggå samyâ dêdongå:
    Duh Gusti, Allah Kang Måhå Asih mugi Panjênêngan kêrså paring berkah dumatêng kulå ing wulan Ramadhan punika; mugi ndumugéknå dumatêng umur kulå ing wulan Ramadhan taun ngajeng.
    Mugi Panjênêngan Allah kêrså paring pitêdah lan pitulung dumatêng kitå, sagêd anindakakên dawuh lan parintah Panjênêngan Gusti Allah, nambahi ta’at lan ibadah kitå ing wulan mulyå punikå, ugi tansah kaparingan rahmat lan maghfirah saking ngarså dalêm Gusti Allah SWT.
    Mugi Panjenengan Gusti Allah tansah paring rahmat ugi nampi sedåyå amal ibadah kitå sêkaliyan sami. Nyuwun agunging samudrå pangaksami.

    Ya Allah… bulan RamadhanMu beberapa saat lagi akan berlalu. Engkau bawakan BerkahMu di bulan itu kepada kami, dan sampaikanlah umur kami di bulan Ramadhan tahun depan. Aamin.

    ALLAHUMMA SALLIM NIY LIRAMADHANA, WA SALLIM RAMADHANA LIY, WA TASALLAM HU MINNIY MUTAQABBALAN.

    Ya Allah hantarkanlah kami kepada bulan Ramadhan dan hantarkanlah bulan Ramadhan kepada kami dan terimalah amalan-amalan pada bulan Ramadhan dari kami

    Pårå kadang ingkang dahat kinurmatan:
    Ramadhan 1432H hampir berlalu, kini kita berada di sepersepuluh akhir bulan Ramadhan, dan tidak berapa lama lagi Ramadhan akan meninggalkan kita. Pernahkah tefikirkan oleh pårå kadang, bagaimana:

    JIKA SEANDAINYA RAMADHAN TAK PERNAH ADA

    Masih terngiang lamat-lamat takbir dikumandangkan di malam 1 Syawal tahun lalu, pada detik-detik akhir Ramadhan yang penuh berkah, ketika bulan yang begitu dirindukan itu tanpa bisa ditolak, pergi meninggalkan kita.

    Terasa sekali jiwa ketaqwaan yang masih rapuh, saat Ramadhan pergi.
    Sadar ternyata banyak sekali kesempatan terlewatkan tanpa pencerahan.
    Sadar masih terlalu sedikit amalan kebajikan yang sempat kita tunaikan.
    Sadar bahwa selama Ramadhan kita belum banyak berbuat kemaslahatan.
    Ada keinginan dan kerinduan agar Ramadhan tetap menjadi hari-hari yang panjang
    .

    Syawal, Idul fitri, memang menggembirakan, hari kemenangan. Meski ada keraguan adakah ketaqwaan telah merasuk dalam jiwa. Yang diinginkan adalah nuansa Ramadhan yang teduh dan menyimpan energi penyemangat yang unik dan akan tetap dirasakan di bulan-bulan mendatang. Agar bekal yang telah dihimpun selama Ramadhan bisa tetap terjaga tak ternoda hingga kelak bertemu kembali dengan hari-hari mulia itu, atau terlebih dahulu kembali menghadap Sang Pemilik bulan barokah itu sebelum hilal Ramadhan menggaris kembali di kaki langit dunia, di tahun mendatang.

    Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan olehNya memandang hilal Ramadhan tahun ini kembali mengias langit. Kita masih diberi waktu, tak lain hanyalah saat yang sangat singkat dan setelah itu usai. Dan, ketika perpisahan menjelma, ketika Ramadhan pergi, kerinduan pun merasuk ke setiap celah jiwa. Tak henti mengingat saat-saat bahagia dalam kebersamaan, sesaat sebelum waktu memisahkan. Dan kerinduan itu memberi kekuatan yang khas, harapan kuat untuk bisa berjumpa dengan Ramadhan kembali, sebelum terlalu jauh waktu memisahkan jiwa dari Ramadhan, nuansa ruhiyah masih betah dalam lingkaran pengaruhnya.

    Shalat berjamaah, shaum, tadarus, i’tikaf, dan amalan yang lainnya masih mudah dijaga dan terpelihara. Sampai ketika waktu semakin jauh menyeret jiwa yang belum utuh dalam taqwa, direcoki oleh berbagai hiruk-pikuk kesibukan dunia, kerinduan akan nuansa teduh Ramadhan mulai menguap. Lupa. Meski tetap ada tetapi tak nampak di pelataran jiwa, namun tersembunyi di pojok jiwa yang malah sering terlupakan.

    Sejak awal Ramadhan masjid-masjid penuh, di malam hari saat shalat isya kemudian shalat tarawih, bahkan di waktu subuh. Di waktu-waktu shalat lainnya, seperti dzuhur dan ashar, masjid pun dipenuhi orang yang singgah untuk shalat kemudian melepaskan penat dan lelah usai bekerja. Sebagian tampak serius mendengarkan ceramah atau tausiyah selepas zhuhur, sesudah itu di hampir tempat di ruangan masjid terdengar orang-orang bertadarus dan beri’tikaf. Apalagi maghrib.

    Adakah suasana seperti itu bisa kita temui di bulan lain selain bulan Ramadhan?
    Jika Allah tak menciptakan bulan Ramadhan untuk kehidupan kita, mungkinkah masjid masih dipenuhi jamaah setiap hari, setiap siang, setiap sore, di setiap malam dan di waktu subuh?
    Mungkinkah kita masih ingin beri’tikaf di dalamnya meskipun bukan di bulan Ramadhan?

    Di banyak tempat, hampir setiap saat bisa kita saksikan orang-orang, muda dan tua, khusyuk memegang mushaf Al Qur’an. Seolah menjadi bacaan wajib yang tak boleh tertinggal untuk menghiasi hari dengan lantunan ayat suci, tak peduli di mana mereka berada. Di dalam bis, gerbong kereta, dalam kelas, kampus, di kantor, bahkan dalam kendaraan pribadi pun diperdengarkan suara yang semakin mendekatkan kita kepada Allah.

    Andaikata hari-hari itu bukan hari-hari di bulan Ramadhan, adakah orang-orang menjadikan Al Qur’an sebagai bacaan wajibnya di setiap hari, bahkan setiap usai shalat lima waktu sebanyak dilakukannya di bulan Ramadhan?

    Orang-orang berlomba memperbanyak zakat, infaq dan sedekah seolah-olah esok hari mereka akan mati, sehingga merasa perlu mengumpulkan bekal amal kebajikan untuk menghadap Allah.

    Jika Allah tak menjanjikan ganjaran berlipat ganda untuk setiap amal shaleh, zakat, infaq dan sedekah yang dilakukan di bulan Ramadhan, mungkinkah masih ada semangat kita untuk beramal shaleh, sebesar sedekah yang kita beri di saat Ramadhan?

    Di waktu menjelang maghrib, para tetangga saling hantar penganan berbuka. Masjid-masjid membuka pintu lebar-lebar, kemudian mengundang fakir miskin dan orang-orang dalam perjalanan, para musafir, untuk berbuka puasa bersama, ifthor, menikmati penganan yang lezat-lezat. Ta’jil. Begitu adzan berkumandang, keceriaan begitu jelas terlihat meski hanya secangkir teh hangat manis dan sebutir, dua, atau tiga butir buah kurma di tangan mereka.

    Jika tak pernah ada yang menjelaskan bahwasanya pahala memberi makanan berbuka bagi orang berpuasa sama dengan pahala berpuasa itu sendiri, akankah tetap tersedia makanan berbuka di berbagai masjid, terutama bagi kaum musafir atau fakir miskin? Adakah saling hantar makanan oleh orang-orang bertetangga?

    Sejuk, nyaman, aman dan indah. Inilah suasana yang tercipta dan kita rasakan selama Ramadhan. Semua orang tak terkecuali, di hadapan kita begitu mempesona, dan yang kita jumpai pun tampak baik, sabar, santun, ramah, penuh senyum, serta menahan amarah mereka. “Jangan marah, kan sedang berpuasa”, begitu nasihat yang sering kita dengar saat amarah memuncak, lalu redalah hati ini. Senyum persaudaraan senantiasa kita dapatkan di mana pun kita berada.

    Akankah hari-hari penuh kesejukan seperti itu yang tetap bisa kita rasakan meskipun bukan bulan Ramadhan?

    Kepedulian terhadap sesama begitu tinggi di bulan Ramadhan, mungkin pengaruh perut lapar kita yang ikut merasakan betapa banyak orang-orang yang tetap “berpuasa” meski bukan di bulan Ramadhan. Saling berbagi, memberi dan empati amat ringan tercipta dari hati, dan tangan kita.

    Tetapi masih adakah kepedulian kita di bulan lain, selain bulan Ramadhan?
    Masih adakah yang akan terus kita bagi kepada kaum tak punya, meski tak lagi di bulan Ramadhan?
    Jika bulan-bulan itu bukan bulan Ramadhan, masihkah kita jumpai kebaikan, kepedulian, dan kesejukan dalam kehidupan sehari-hari?

    Akankah semua kenikmatan itu laksana buah kurma, bléwah atau timun suri, yang muncul secara khusus hanya di bulan Ramadhan saja. Kemudian hilang entah ke mana sehari setelah hari raya, sehari setelah kita saling bermaafan, sehari setelah kita merayakan hari kemenangan. Seperti itukah perilaku kita? Amal kebajikan lenyap seiring perginya Ramadhan?

    Jika Ramadhan tak pernah ada. Jika Allah tak menjanjikan balasan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan, apakah kita masih mau memperbanyak amal shaleh, shalat, puasa sunah, tadarus, i’tikaf, qiyamul lail, zakat, infaq, atau sedekah.

    Dalam skala besar, senada dengan kalimat-kalimat tanya tersebut. Saya pernah menemukan suatu kalimat yang membuat saya terpuruk dan menangis:

    Jika surga dan neraka tak pernah ada
    Masihkah kita menyebut namaNya.
    Jika Allah tidak menjanjikan pahala surga dan dan siksa neraka
    Masihkah kita bersujud kepadaNya.

    Kita masih beruntung, ternyata Allah sangat sayang kepada kita. Kehadiran Ramadhan menunjukkan kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya. Akan tetapi akan lebih sangat beruntunglah kita, jika kita mampu menghadirkan nuansa Ramadhan itu di lain bulan selain bulan Ramadhan.

    Kalaulah umatku tahu akan keutamaan dan keagungan bulan Ramadhan tentulah mereka akan berharap agar satu tahun penuh dijadikan bulan Ramadhan, karena semua kebaikan-kebaikan berada didalamnya, semua amal kebaikan diterima, semua doa dikabulkan, serta semua dosa-dosa akan diampuni dan mereka disediakan surga“.

    Demikan sabda Rasulullah Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.

    Para kadang, Ki Sanak padêpokan GS, sêdulur-sêdulurku seiman:
    Mari kita beri’tikaf,
    mari kita bertadarus,
    mari kita berdzikir,
    mari kita dirikan qiyamul lail, shalat di duapertiga malam,
    mari kita perbanyak amalan puasa sunnah,
    mari kita bersedekah.
    Mari kita ajak kaum tak punya untuk bergembira.
    Mari kita sayangi makhluk-makhluk penghuni bumi ini, agar Penghuni Langit menyayangi kita.

    Ya Allah, hambaMu yang hina ini bersujud dan menangis di hadapanMu.
    jika Ramadhan sebagai waktu yang paling mulia untuk berdoa,
    hamba mohon kepadaMu Ya Allah.
    Jadikanlah seluruh waktu adalah ramadhan bagi kami.
    Ya Allah. Ijinkanlah kami, di setiap waktu itu doa kami Engkau kabulkan.

    Ya Allah, jika ibadah shaum sebagai bagian kesempurnaan seluruh ibadah kami, maka ijinkanlah kami mendapatkan kesempurnaan ibadah shaum di waktu kapanpun kami melaksanakannya.

    Ya Allah. Mohon tambahkan umur kami, berilah kesempatan bagi kami untuk menjumpai RamadhanMu di tahun depan.

    Aamin.

    Ketika ramadhan di ujung pandangan.
    kudekati lalu kusapa dia, hendak kemana?
    dengan lembut ia berkata: Aku harus pergi, jauh sekali dan sangat lama………….
    Sampaikan pesanku untuk para mukmin, Syawal segera tiba,
    ajaklah sabar dan syukur temani hari-harimu,
    peluklah istiqomah saat kelelahan perjalananmu menggapai taqwa,
    bersandarlah pada tawadhu saat kesombongan menyerang,
    mintalah nasihat pada Al Qur’an dan Al Hadits di setiap masalah yang engkau dihadapi.
    Sampaikan juga salam dan terimakasihku kepada siapa saja telah menyambutku dengan suka cita-cita.
    Katakan padanya, kelak aku akan menyambutnya di surga melalui pintu Ar Rayyan.
    Selamat tinggal, mohonlah pada Rabbmu, agar Dia pertemukan dirimu denganku di tahun depan
    . Aamin.

    Selamat menyongsong Hari Kemenangan Idul Fitri

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

  5. Semangat pagi………

  6. Selamat berbuka puasa… maknyussss… segarnya..

    • selamat malam…..maknyussss…..sepanjang malam,

      selamat MOdik kadang GS yang MOdik, semoga
      lancar di perjalanan.

  7. Matur Suwun Ki Is kue buatan Nyi Dewi KZ, mak nyusssssssss apalagi sing nomer_03.
    Nyilem malih ….

    • Iso nggo buka…nuwun, rodo elek durung diedit ora popo…

      • Sing penting bisa dinikmati sambil malam mingguan

        • iki pada ngomong apa to?

          • kadit itreng aku

          • gnubag aew ar has ugar ugar…..

  8. Sambil ngabuburit menjelang buka,

    Si Budi, kelas 2 SD, tiba-tiba bertanya pada ibunya

    Budi: Bu, darimana aku berasal?

    Ibu: (Kaget… dan setelah berpikir keras, si ibu menerangkan dengan bahasa sederhana..bagaimana pertama kali ketemu si bapak.. sampai kemudian akhirnya lahirlah si Budi…)

    Memangnya kenapa, Bud?, tanya ibunya penasaran.

    Budi: soalnya si Toni, teman baruku berkata dia berasal dari Kalimantan….

    Ibu: #@$1…

  9. Terima kasih, sudah buka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: