ammc-4

Laman: 1 2

Telah Terbit on 20/06/2010 at 02:44  Comments (43)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/ammc-4/trackback/

RSS feed for comments on this post.

43 KomentarTinggalkan komentar

  1. hehhehhehe…..
    no. siji, satu…….

    suwun ki is..!!!!

  2. langsung….
    buat sarapan…..

  3. Alhamdulillah
    bisa buat menemani ngopi dipagi minggu maturnuwun ki Is

  4. koq kosong ki …???

    • wahhhh..
      ada yang jail yo ki…???

  5. Selamat pagi Ki Is
    Selamat pagi sanak kadang Gagakseta

  6. lapur ki, …

    mugi andadosna kawuningan, tadi malem saya tilik gandhok, tapi diminta id dan password. berkali-kali dicoba tidak bisa masuk.

    pagi ini sudah tidak diminta password lagi, tapi beberapa postingan lama hilang.

    nuwun.

  7. selamat pagi ki Is dan para sedulur absen hadir dan ngunduh rapelan matur nuwun ki Is…

  8. Wadouh….wadoooouuuuhhhh………..
    rontal sak grompol dibobrol…..mak brolllll

    Matur nuwun Ki Panembahan
    mugi tansah karenan ing penggalih.

  9. Ikutan ngantri keri dewe…sugeng sonten panembahan ismoyo…

    • Lho ….sampun dipun cantholaken Ki,
      panjenengan cuthik wonten koperipun kemawon.

      • Kasinggihan Ki Gembleh, kulo kok ditilap-ke yen ono wedaran rontal enggal…sampun jilid sekawan…namung amergi dhereng wonten wekdal sinau…inggih taksih kulo gembol rumiyen…

  10. Lagu untuk mendinginkan ontran2 di Padhepokan :

    Jangan berkata tidak, bila kau sudah sakaw
    berterus terang sajalah, buat apa berdusta….?
    Rontal itu anugrah, maka berbahagialah
    sebab kita sengsara bila tak mBaca rontal

    Rintangan pasti datang menghalang
    cobaan pasti datang menghujam
    namun yakinlah bahwa rontal itu kan membuatmu
    mengerti akan arti KEHIDUPAN.

    Ki Menggung YP, terusin reffraine nggih….?
    (ning aja dithuthuk nganggo pipa ledheng lho…!)

    • ngertiku CUMA :

      tak thuthuk nganggo pipa ledheng
      manthuk-manthuk tondo si mbokAYU
      gelem he-hee-heee,….!!!

  11. lha bikin hatrik tenan ayake
    wis 2-0 nih
    kurang 1 rontal lagi, hatrik

    hikss ngapunten namun gojeg lho Ki Is…

  12. kemaren 4 sapi gemuk….
    sekarang 4 sapi kurus….

    mimpi hehehe……

    suwun ki..!!

  13. Matur nuwun ki Ismoyo,
    langsung unduh.

  14. issue santer dari padepokan sebelah, ktnya gandhok ini sdh diintervensi oleh pawongan nyolowadi…..

    engkang pundi tho…saestu koq teng mriki adem ayem tentrem peuyem

    • …gemah ripah loh jinawi….

      • cantrik + Mentrik GANDOKe kumpul
        dadi SIJI,

        he-hee-heee,
        berlaku di SIANG hari malam HARI
        kagak JANJI….!!!

        • gemah ripah loh jinawi
          versi-ku DEWE….hehee

  15. sugeng enjang ki ISMOYO

    bener ya ki….kemaren ada TAMU baru ??
    kebetulan hari minggu kemaren cantriek
    ABSEN gak bisa sambang Padepokan.

    setahu cantriek sebtu SORE terlihat adem
    ayem kemawon ki,….!!!

    • kulo njih nembe nelisik setiap sudut gandhok niki,…mmmm kadosipun sepen, mboten wonten gerakan2 yg mencurigakan…malah Panembahan maringi bonus jadwal WC2010 ……………..

      ROMO ONO MALING
      Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling
      Tulungono anakmu lagi kelangan
      Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling
      Rino wengi kelap kelip ra karuan

      Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling
      Yen aku edan opo Romo ra kelangan?

      Nyekel maling mestine yo digebugi
      Tobat Romo luwih becik aku mati
      E, e, e, e, gendhuke, malinge opo nggegirisi?
      Tobat Romo, malinge niku edi peni

      Sing digowo opo?
      Niki sing ten njero niki
      Ing njero ngendi?
      Niki sing gemandul niki..
      Niki lo sing teng njero dada ???

      • tapi bener ki PA, ada TAMU malem
        minggu kayak-e.

        komen saya diGANDOK ammc-4 katut
        dibawa siTAMU…..he-heee

        si SLANK bilang “BALI-in eh2 BALI-in”
        komen cantrik yang kemaren.

        • Nek TAMUne Kenyo..mending jangan bawa komen….

          • hiksss,
            kulo njih MAU ki……!!

            mau kenalan nambah konco
            konco GOJEGan.

    • ada PERIBAHASA kuno bunyine begini :

      tak SAMBANG maka tak KENAL….
      tak KENAL maka tak SAYANG…..

      • tak SAYANG maka tak SAMBANG….

    • Pada hari minggu…kulo njihh mboten absen sebab……Kuturut ayah kekota !

      • numpak opo ki..???

        • Naik becak istimewa kududuk dimuka…..(hikss opo iso nang mburi)..

          • iso ki…
            becak saiki ono boncengane

          • Becak sing jurusan
            pundi ki….??

            kulon tengah nopo
            WETAN njih.

        • numpak-i SOPO meksude ki PA…??

          ki Menggung Karto bilang :
          numpak-i CIKARe konco kulo ki PA

          Ooooh….hiks-hiks

  16. nembe saget sowan, jebule gandhok kene rame banget.
    nderek sowan, Panembahan. Mugi ndadosaken rena ing penggalih

    • Monggo..monggo Ki Giendeng disekecaaken…lenggah jejer kulo…

  17. sowan malih, nembe mawon mlampah-2 wonten tlatah Singosari .. weh puanas lan uadooohhh…
    jarane sampek kueseellll puolll…

    • Lho..kan lebih puanas di mBlambangan tho Ki..
      jaran-e melu kuesel…nopo nitih jaran…teji Ki ?….hikss

      • Ono lagune ki,

        monggo diWEDAR

  18. Sugeng siang Ki Ismoyo. Nyuwun pangapunten ngantos dangu mboten saged sowan. Sakmeniko kulo sengojo cuti supados saged ngrampungaken maos ammc jilid 1 dumugi jilid 4 tuwin wetawis kalihwelasan jilid SUNdSS ingkang nembe kemawon kulo undhuh. Matur nuwun.

  19. absen hadir ki….

  20. SHM-AMMC
    BUKU 04

    NAMUN, ternyata ketiga orang itu adalah orang-orang yang berhati tabah. Mereka tidak cepat kehilangan akal atau menjadi putus asa. Kadang-kadang mereka memang hampir tidak berpengharapan. Tetapi karena ketekunan mereka, maka akhirnya mereka menemukan kembali jalur jalan yang harus mereka lalui.
    Tetapi dengan demikian, mereka tidak dapat memaksa diri untuk berjalan dengan cepat agar mereka segera keluar dari hutan itu. Mereka telah terlanjur ada di dalam lebatnya hutan, yang seakan-akan seperti jalan kusut dan sulit untuk dicari ujung pangkalnya.
    Karena itu, bagaimanapun juga mereka berusaha, mereka tidak dapat mencapai tepi hutan itu sebelum matahari terbenam. Bahkan sebelum matahari itu merendah, terasa keadaan di dalam hutan telah menjadi gelap, sehingga mereka tidak mungkin lagi untuk meneruskan perjalanan. Mereka tidak dapat lagi menemukan jejak yang dapat menuntun mereka menuju ke arah yang benar.
    “Kita terjebak di sini untuk semalam,” desis Laksana.
    Ki Wiradadi tersenyum. Katanya, “Ya. Satu ujian bagi kita, apakah kita memang dapat melakukannya, bermalam di lebatnya hutan.”
    “Ya,” sahut Laksana. “Jika kita gagal menempuh ujian kali ini, maka kita tidak akan pernah dapat mengulanginya lagi.”
    “Bukan satu kesulitan bagi kita,” berkata Manggada.
    Laksana tertawa. Tetapi mereka memang tidak dapat memilih. Mereka harus bermalam di hutan itu.
    Demikianlah, tapi mereka masih mampu mengamati pepohonan yang seakan-akan tumbuh berdesakan itu, dan memilih pohon yang paling baik bagi mereka. Mereka tidak perlu menemukan tiga batang pohon. Tetapi mereka akan berada pada cabang-cabang pohon dari sebatang pohon yang cukup besar.
    Akhirnya mereka menemukan juga sebatang pohon yang tidak terlalu besar, tetapi juga bukan sekedar sebatang pohon perdu.
    “Kita harus berhati-hati,” berkata Ki Wiradadi. “Memang ada kemungkinan kita terhempas jatuh.”
    Demikian mereka memanjat dan menemukan tempat yang mereka anggap baik, maka gelappun telah turun. Meskipun dari celah-celah dedaunan mereka masih melihat cahaya matahari yang lemah di bibir mega, namun cahaya itu sudah tidak mampu lagi menembus dedaunan dan menerangi perut hutan yang lebat itu.
    Namun ketiga orang itu menyadari, bahwa malam tentu akan menjadi sangat panjang.
    Sebenarnyalah bahwa di malam yang sangat panjang itu, mereka bertiga hampir tidak tidur dalam arti yang sebenarnya. Sekali-sekali terasa tubuh merasa bagaikan akan kehilangan keseimbangan.
    Namun ternyata mereka bertiga cukup terlatih, sehingga mereka tidak terjatuh dari dahan sebatang kayu yang cukup tinggi.
    Sementara itu, merekapun selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan. Di samping berjenis-jenis serangga yang beracun, merekapun harus berhati-hati menghadapi ular-ular berbisa yang merayap di pepohonan, seperti ular gadung. Meskipun bisanya tidak setajam bisa ular hitam atau ular bandotan, namun ular gadung akan dapat membunuh juga jika terlambat mendapat penawarnya.
    Di samping binatang-binatang [hal. 7, paragraf 2: ???] pun akan sangat berbahaya bagi mereka. Jenis harimau hitam yang mempunyai kebiasaan berkeliaran di cabang-cabang pepohonan.
    Lewat tengah malam, mereka bertiga memasang anak panah pada busur mereka dan siap dilepaskan ketika mereka mendengar dengus harimau di bawah pohon itu. Bahkan kemudian harimau itu tidak sekedar mendengus, tetapi mengaum keras sekali. Tetapi ketiga orang yang memanjat pohon itu tidak sempat melihat harimau itu di dalam kegelapan.
    Ternyata harimau itu tinggal beberapa lama di bawah pohon itu. Agaknya binatang itu telah mencium bau yang lain dari yang pernah diciumnya setiap hari, sehingga agaknya harimau itu ingin mengetahui, jenis makhluk apakah yang ada di atas pohon itu.
    Tetapi ternyata harimau itu tidak telaten menunggu. Karena harimau itu bukan sejenis harimau hitam yang sering memanjat pepohonan, maka akhirnya harimau itu telah melangkah pergi.
    Namun naluri ketiga orang itu meskipun tidak melihat, tetapi dapat mengetahui bahwa di bawah mereka telah berkeliaran beberapa jenis binatang buas. Bulu tengkuk mereka sempat meremang ketika mereka mendengar bagaikan angin yang menderu gemeresak di bawah pepohonan. Ternyata sekelompok anjing hutan berlari-larian sambil sekali-sekali menggonggong dengan garangnya.
    Betapapun panjangnya malam, tetapi akhirnya mereka melihat cahaya pagi yang mulai bersinar. Bayangan warna kekuningan memancar di atas pepohonan. Namun kemudian mulai menyusup di antara dedaunan dan jatuh di atas tanah yang lembab.
    Ketika Ki Wiradadi mengajak mereka turun, Laksana masih sambil memejamkan matanya berkata, “Aku baru akan mulai tidur.”
    “Tidur saja di bawah,” berkata Ki Wiradadi. Lalu katanya, “Kami berdua akan menungguimu sampai kau tidak merasa kantuk lagi.”
    Laksana menggeliat. Ia tidak berkata apapun lagi ketika Ki Wiradadi dan Manggada sudah mulai turun.
    Laksanapun kemudian menyilangkan busurnya di punggung. Iapun kemudian telah menelusur pula turun, sebagaimana kedua orang yang lain.
    Beberapa saat mereka mulai membenahi diri. Perut mereka memang mulai merasa lapar. Tetapi mereka harus bertahan untuk beberapa lama.
    Sambil menelusuri jalan keluar dari hutan itu, mereka bertiga sempat pula berburu. Ternyata mereka bertiga telah berlomba untuk mendapatkan seekor binatang buruan dari jenis apapun.
    “Kita mempunyai kesempatan beberapa lama. Jika cahaya matahari itu membuat bayangan badan kita sama sepanjang tubuh kita yang sebenarnya, maka kita harus sudah ada di sini. Mendapat atau tidak mendapat buruan,” berkata Ki Wiradadi. Lalu katanya, “Jangan tersesat. Kita masing-masing dapat bersuit dengan mulut kita.”
    Ketiganya kemudian mencoba untuk bersuit dengan mulut dan jari-jari tangan mereka. Baru kemudian, mereka telah meninggalkan tempat itu untuk berburu, agar mereka tidak menjadi kelaparan.
    Dengan hati-hati mereka menuju ke tempat yang berbeda. Laksana yang kebetulan mengarah ke sebuah mata air kecil, duduk saja di atas sebuah batu sambil mempersiapkan sebuah anak panah di busurnya.
    Pagi itu ternyata angin tidak bertiup. Dengan demikian maka Laksana mempunyai banyak harapan.
    Beberapa saat lamanya, tidak seekor binatangpun nampak minum di mata air kecil itu. Ketika ia melihat langit, rupa-rupanya hari telah menjadi semakin kering. Sekali ia sempat memandang sorot matahari yang jatuh di sebelah mata air itu. Menilik sudut jatuhnya sinar matahari, maka waktunya tinggal sedikit.
    “Biar saja,” berkata Laksana di dalam hatinya. “Tentu salah seorang dari antara Ki Wiradadi dan Manggada akan mendapatkan seekor binatang buruan. Jika tidak, maka kami bertiga akan bersama-sama kelaparan.”
    [Hal. 9, paragraf 3: ???] melihat seekor kijang yang dengan hati-hati mendekati mata air itu.
    Dengan sangat berhati-hati pula Laksana mempersiapkan dirinya. Ternyata latihan-latihan yang pernah dilakukan berarti pula saat itu. Laksana berhasil mengurangi suara sentuhan kakinya pada dedaunan kering, sehingga kijang itu tidak terkejut karenanya.
    Ternyata kijang itu memang bernasib buruk. Anak panah Laksana telah mengakhiri hidupnya di saat kijang itu sedang minum di mata air kecil di dalam hutan yang lebat itu.
    Pada saat yang telah disepakati, Laksana kembali ke tempat yang sudah ditentukan dengan seekor binatang buruan.
    Ternyata Manggada dan Ki Wiradadi tidak berhasil mendapatkan seekor binatang buruannya. Ketika Laksana menjatuhkan binatang buruannya di hadapan Ki Wiradadi dan Manggada sambil mengangkat dadanya, maka Manggada tersenyum sambil berkata, “Kau memang luar biasa.”
    “Aku kekurangan waktu. Aku menemukan seekor rusa. Tetapi aku harus mengikutinya untuk waktu yang lama jika aku ingin mendapatkannya. Karena itu, aku biarkan saja rusa itu pergi,” berkata Ki Wiradadi.
    “Aku bertemu dengan seekor harimau,” berkata Manggada. “Rasa-rasanya aku memang tidak ingin makan daging harimau yang panas itu.”
    Tetapi sambil mengangkat wajahnya, Laksana berkata, “Apapun alasan kalian, tetapi ternyata akulah yang menang kali ini.”
    “Ya,” jawab Ki Wiradadi. “Kita akan mengulitinya dan memanggangnya di luar hutan.”
    “Di luar hutan? Apakah hutan ini sudah tidak terlalu panjang lagi?” bertanya Laksana.
    “Aku kira tidak,” berkata Ki Wiradadi.
    Laksana termangu-mangu. Tetapi Manggada ternyata sependapat. Katanya, “Hutan ini terlalu lebat untuk memanggang binatang buruan. Sepercik api akan dapat mendatangkan bencana.”
    “Tetapi bantu aku membawa hasil buruan ini,” berkata Laksana.
    Manggadalah yang sambil tertawa berkata, “Marilah. Aku akan membantumu. Aku juga memerlukan daging kijang itu.”
    Ternyata hutan itu memang sudah tidak terlalu tebal lagi. Beberapa saat kemudian, mereka mulai melihat cahaya terang, bukan saja dengan menengadahkan wajah mereka dan memandang ke langit, tapi di hadapan mereka, dari celah-celah pepohonan.
    Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian mereka benar-benar telah keluar dari hutan. Demikian mereka berdiri di sebuah padang perdu di pinggir hutan itu, maka rasa-rasanya nafas merekapun menjadi lebih longgar. Pandangan mereka menjadi semakin luas.
    Namun merekapun melihat bahwa di hadapan mereka berdiri dengan garangnya Gunung Lawu.
    Ketiga orang itu menyadari, bahwa perjalanan selanjutnya adalah memanjat Gunung Lawu untuk menemukan sarang dari orang-orang yang berkepercayaan sesat itu.
    Ki Wiradadi yang memiliki pengalaman paling luas di antara mereka, dengan panggraitanya, seakan-akan telah melihat bahwa bahaya akan datang setiap saat. Karena itu, iapun kemudian memperingatkan kepada anak-anak muda itu agar lebih berhati-hati.
    “Tetapi kita akan berhenti di sini untuk memanggang hasil buruan kita,” berkata Laksana.
    Ki Wiradadi mengangguk. Mereka tidak akan mendapatkan tempat yang lebih baik untuk memanggang hasil buruan mereka.
    Karena itu, maka beberapa saat kemudian ketiga orang itu telah menyiapkan perapian. Dengan batu api mereka telah membuat api. Emput dari gelugut aren yang kemudian dihembuskan pada rerumputan kering.
    Manggada telah mencari beberapa potong kayu kering, beberapa buah dahan dan ranting yang terjatuh dari pohonnya karena ketuaannya atau karena tiupan angin yang keras, atau di saat hujan yang dibarengi dengan angin prahara.
    Beberapa saat kemudian, asappun telah mengepul tinggi. Ketiganya mulai memanasi hasil buruan mereka di atas api. Meskipun Manggada dan Laksana belum pernah benar-benar menjadi seorang pemburu, tetapi mereka pernah melakukan latihan tinggal di dalam hutan. Mereka telah berlatih untuk hidup tanpa membawa bekal apapun, menyusup ke dalam hutan yang lebat. Namun mereka tetap bertahan hidup. Dan dalam keadaan tertentu, mereka tidak kehilangan kekuatan dan kemampuan mereka jika harus menghadapi bahaya.
    Sebenarnya ketiga orang itu memang telah merasa lapar. Karena itu, demikian hasil buruan mereka masak, merekapun segera telah menikmatinya.
    Namun dalam pada itu, Ki Wiradadi tiba-tiba saja memperingatkan kedua orang anak muda yang bersamanya itu, “Rasa-rasanya ada sesuatu yang kurang wajar.”
    Manggada dan Laksana adalah anak-anak muda yang terlatih dengan baik. Meskipun mereka belum merasakan sesuatu, tetapi mereka menyadari bahwa kemungkinan yang tidak mereka kehendaki akan dapat terjadi. Asap dari perapian yang telah mereka buat agaknya memang dapat memancing perhatian orang lain.
    Ketika mereka bertiga sudah merasa cukup, maka mereka telah memadamkan api yang mereka buat. Sementara itu, sisa makan mereka masih tetap terpanggang di bekas perapian yang masih hangat itu.
    Agaknya makanan yang telah mereka makan itu mampu membuat tubuh mereka bertiga menjadi bertambah segar. Darah mereka telah mengalir dengan wajar. Kaki mereka tidak lagi terasa lemah.
    Ketika mereka kemudian merasa cukup lama beristirahat, setelah makan dengan kenyang, mereka mulai melangkah lagi ke arah bukit yang berdiri dengan garang di hadapan mereka.
    Beruntunglah mereka, ketika mereka menemukan sebuah pancuran alam yang meskipun kecil, namun mengalir air jernih sekali, sehingga mereka bertiga tidak segan untuk minum air dari pancuran di antara bebatuan di sebuah lereng yang tidak begitu tinggi.
    Gunung Lawu memang masih jauh. Tetapi sudah mulai terasa jalan mendaki. Gumuk-gumuk kecil di antara padang perdu, berserakan di mana-mana.
    Mereka bertiga menyusuri jalan setapak berbatu padas. Namun mereka yakin bahwa jalan yang mereka lalui adalah jalan yang menghubungkan Hutan Jatimalang dengan lereng Gunung Lawu dari arah barat.
    Namun sekali lagi, panggraita Ki Wiradadi telah memperingatkan mereka, bahwa sesuatu dapat terjadi di luar dugaan mereka.
    “Berhati-hatilah. Medannya sangat asing bagi kita. Banyak hal yang tidak kita ketahui disini,” berkata Ki Wiradadi.
    Manggada dan Laksana memaklumi. Karena itu, mereka mempersiapkan diri. Namun justru karena itu, mereka tidak mempersiapkan busur dan anak panah. Jika mereka terkejut karena sesuatu hal, maka akan dapat terjadi bencana, sebelum mereka pasti dengan siapa mereka berhadapan. Karena mereka yakin, bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan binatang buas.
    Beberapa saat mereka menyusuri jalan setapak. Di hadapan mereka terbentang padang perdu agak luas. Namun jauh di seberang padang perdu, masih nampak gerumbul-gerumbul hijau lainnya.
    “Apakah itu sebuah padukuhan?” bertanya Laksana.
    Manggada menggeleng. Bahkan sambil berpaling kepada Ki Wiradadi, iapun bertanya, “Apakah itu sebuah padukuhan?”
    “Memang mungkin,” jawab Ki Wiradadi, “tetapi tentu dengan penghuni yang khusus. Di padukuhan terakhir sebelum kita memasuki Hutan Jatimalang, kita sudah melihat ketidak-wajaran antara para penghuninya. Jika demikian, tentu para penghuni padukuhan itu termasuk orang-orang yang aneh pula.”
    Tetapi Manggada yang mengerutkan keningnya berkata, “Rasa-rasanya daerah ini belum dibuka, meskipun kemungkinan untuk itu ada. Di sini banyak terdapat sumber-sumber air yang dapat mengaliri tanah yang memungkinkan untuk dijadikan sawah atau setidak-tidaknya pategalan. Sementara tanah masih belum terlalu miring. Tetapi nampaknya jarak yang panjang antara Hutan Jatimalang dan Gunung Lawu itu belum banyak menarik perhatian. Karena itu, nampaknya yang kita lihat bukan sebuah padukuhan. Tetapi sebuah hutan kecil yang memanjang. Tetapi di belakang hutan kecil itu, aku yakin, masih terbentang hutan liar yang lebat. Tetapi berbeda dengan Hutan Jatimalang, hutan di lereng itu adalah hutan pegunungan, dengan jenis-jenis binatang pegunungan pula.”
    “Apa bedanya?” bertanya Laksana.
    “Jenis binatangnya agaknya tidak banyak berbeda,” jawab Manggada.
    Laksana mengangguk-angguk. Sementara perasaan Ki Wiradadi menjadi semakin terganggu oleh kegelisahan yang mendebarkan.
    Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan kelompok pepohonan hijau yang mereka perbincangkan, Ki Wiradadi tiba-tiba saja memberi isyarat kepada kedua orang anak muda itu. Dengan serta-merta mereka bertigapun berhenti.
    “Hati-hati. Aku melihat seseorang di balik bebatuan,” berkata Ki Wiradadi.
    Manggada dan Laksanapun telah bersiap. Mereka bertiga berdiri pada jarak yang tidak terlalu dekat.
    Demikian ketiga orang itu berhenti, beberapa orang telah muncul dari balik bebatuan. Dalam waktu dekat, ketiga orang itu segera mengetahui, bahwa lima orang telah mengepung mereka. Menilik sikap dan ujudnya, mereka tentu orang-orang yang sangat garang.
    Ketiga orang itu berdiri termangu-mangu. Namun mereka memang harus menyesuaikan diri dengan kelima orang itu, sehingga mereka menghadapi ke tiga arah.
    Orang yang nampaknya memimpin kelima orang itu melangkah lebih dekat di hadapan Ki Wiradadi sambil bertanya, “Siapakah kalian bertiga, Ki Sanak?”
    Ki Wiradadi, orang tertua di antara ketiga orang itu menjawab, “Kami sedang berburu, Ki Sanak.”
    “Berburu kemana? Hutan yang lebat telah kalian lampaui?” berkata orang itu.
    “Ya,” sahut Ki Wiradadi. “Tiba-tiba saja kami terdorong oleh satu keinginan untuk melihat apa yang terdapat di antara Hutan Jatimalang dan Gunung Lawu. Ternyata terbentang tanah, yang menurut pengamatan kami, cukup subur, tetapi tidak mendapat perhatian dari orang-orang di seberang Hutan Jatimalang, sehingga tanah ini belum digarap. Di sini masih terbentang hutan perdu yang luas. Sementara itu, kita melihat banyak aliran air yang nampaknya mengalir di sepanjang tahun.”
    “Ki Sanak,” berkata orang itu, “aku minta Ki Sanak tidak meneruskan perjalanan. Kami masih mempunyai kemauan baik atas Ki Sanak. Karena itu, kami peringatkan agar Ki Sanak kembali saja dan berburu di Hutan Jatimalang.”
    “Kenapa?” bertanya Ki Wiradadi. “Lihat, lereng Gunung Lawu itu sangat menarik. Tentu masih banyak binatang buas terdapat di hutan itu. Selain hutan itu sendiri, lereng yang panjang ini juga menarik perhatian. Lereng yang panjang ini akan dapat menjadi daerah pertanian yang subur dan memberikan banyak kemungkinan di hari depan.”
    “Sudahlah,” berkata orang itu, “jangan berpikir tentang hal-hal yang tidak berarti. Jangan dikira daerah ini belum disentuh tangan. Karena itu, kami harap kalian meninggalkan tempat ini dan tidak kembali untuk seterusnya.”
    “Kenapa?” bertanya Ki Wiradadi.
    “Ki Sanak,” berkata orang itu, “tidak ada orang yang dapat keluar dari daerah ini dengan selamat. Tetapi aku masih memberi kesempatan kepadamu untuk hidup.”
    “Aku tidak mengerti,” sahut Ki Wiradadi. “Apakah ada orang yang berhak berbuat sebagaimana kau lakukan?”
    “Aku dan kawan-kawanku telah berada di tempat ini sejak waktu yang lama,” berkata orang itu.
    “Tetapi tidak untuk berbuat seperti itu,” berkata Ki Wiradadi.
    “Cukup,” orang itu telah membentak. “Aku tidak mempunyai banyak waktu. Selagi aku berada di tempat ini, aku minta kau meninggalkan tempat ini. Kau harus merasa beruntung bahwa asap perapianmu telah memanggil kami, sehingga kami datang menemui kalian sebelum kalian sampai ke tempat itu.”
    “Ke tempat yang mana yang kau maksud?” bertanya Ki Wiradadi.
    “Persetan,” geram orang itu. “Jika kau benar-benar melewati batas, maka hanya gema namamu saja yang akan keluar dari lingkungan ini.”
    “Ki Sanak,” berkata Ki Wiradadi, “sebaiknya kau tidak usah mencampuri persoalan kami. Kami ingin naik ke hutan di lereng Gunung Lawu. Kami tidak akan mengganggu kalian. Dan sebaiknya kalian juga jangan mengganggu kami.”
    “Jangan banyak bicara lagi,” potong orang itu. “Turun kembali, atau kalian akan menjadi mayat di sini.”
    Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Berkatalah terus terang, Ki Sanak. Jika nalarku dapat menangkap maksudmu, maka aku tentu akan melakukannya. Tetapi jika kau hanya sekedar membentak-bentak, maka kami tidak akan bersedia melakukannya. Kami adalah pemburu-pemburu yang terbiasa masuk keluar hutan, menghadang bahaya dan menempuh lingkungan yang paling rumit, sekalipun menantang maut.”
    Orang itu justru menjadi semakin marah. Dengan wajah garang ia berkata, “Apalagi yang harus aku katakan? Pergi dari tempat ini, atau kalian akan mati disini.”
    Ki Wiradadi mengangguk-angguk sambil berkata, “Tentu ada sesuatu yang kalian rahasiakan. Tidak boleh ada orang lain mengetahuinya. Justru karena kau menyebut batas, maka kami menjadi ingin tahu tentang batas itu. Karena itu, jangan halangi kami pergi kemanapun, bahkan ke batas yang kau sebutkan itu.”
    “Persetan,” geram orang itu. “Agaknya kalian bertiga benar-benar ingin mati. Kalian ternyata telah melakukan satu kesalahan yang berbahaya. Kalian mengira bahwa seorang pemburu yang terbiasa masuk keluar hutan, yang terbiasa menghadang bahaya serta menantang maut, tentu orang-orang yang memiliki kemampuan tidak ada duanya. Kau telah salah menilai kemampuan seseorang sebagaimana liar dan garangnya seekor binatang.”
    “Setidak-tidaknya, wadagku telah terlatih,” jawab Ki Wiradadi. “Karena itu dengan dukungan ilmu sekedarnya saja, maka kemampuanku tentu sudah sangat berarti untuk mempertahankan hidupku.”
    “Bagus,” geram orang itu. “Jika demikian, kalian memang harus dibunuh. Tidak ada cara lain yang dapat kami lakukan untuk mencegah niat kalian naik lebih tinggi lagi di kaki Gunung Lawu ini.”
    “Kami telah siap mempertahankan hidup kami. Tetapi jika untuk mempertahankan hidup kami harus membunuh orang lain, apa boleh buat,” geram Ki Wiradadi.
    Kelima orang itupun bergerak serentak ketika mereka melihat isyarat tangan pemimpin mereka. Mereka mendekati ketiga orang itu dari lima arah yang berbeda. Pemimpin mereka berhadapan dengan Ki Wiradadi, sementara keempat orang yang lain berhadapan dengan dua orang anak muda yang sedang menanjak dewasa.
    Ki Wiradadipun segera bersiap. Tetapi ia tidak mau terganggu oleh busur dan anak panah di dalam endong yang berat. Demikian pula Manggada dan Laksana. Mereka berdua meletakkan busur dan anak panah yang memberati gerak mereka.
    “Tidak ada pilihan lain bagi kita,” berkata pemimpin kelima orang itu kepada kawan-kawannya. “Mereka harus dimusnahkan. Jika mereka tetap hidup, mereka tentu masih saja berniat melihat daerah ini, dan barangkali mereka akan menjadi bahaya terbesar bagi kita untuk selanjutnya.”
    Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi mereka mulai bergerak dan siap untuk bertempur.
    Manggada dan Laksana mengambil jarak. Masing-masing harus menghadapi dua orang lawan. Karena anak-anak muda itu belum tahu tataran kemampuan lawan, mereka benar-benar harus mempersiapkan diri menghadapinya.
    Ki Wiradadi justru menjadi cemas. Nampaknya kelima orang itu ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu. Mereka mengira bahwa kedua anak muda itu akan dapat lebih cepat diselesaikan. Kemudian mereka berlima akan dengan mudah membunuh Ki Wiradadi.
    Tetapi Ki Wiradadi tidak mendapat kesempatan untuk banyak berpikir. Pemimpin dari kelima orang yang mengepungnya itu tiba-tiba saja meloncat menyerangnya.
    Ki Wiradadi dengan cepat mengelakkan serangan itu. Namun dengan demikian, Ki Wiradadi dapat menangkap kesan tingkat kemampuan lawannya. Sambaran angin serangannya itu terasa bagaikan menampar kulitnya.
    Dengan demikian, Ki Wiradadi mempersiapkan segenap kemampuannya. Ia tidak dapat meningkatkan ilmunya selapis demi selapis. Jika demikian, ia tentu akan terlambat. Apalagi Ki Wiradadi masih harus menjajagi kemampuan lawannya yang sebenarnya.
    Karena itulah Ki Wiradadipun telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghadapi pemimpin dari sekelompok orang yang tidak dikenalnya itu.
    Manggada dan Laksanapun telah bersiap sepenuhnya. Kemudian mereka telah memanasi darah yang mengalir di dalam tubuh mereka. Keduanya sama sekali tidak gentar meskipun mereka masing-masing harus berhadapan dengan dua orang.
    Bahkan Laksana yang tidak sabar, telah meloncat mendahului lawannya. Serangannya datang bagaikan arus banjir bandang. Beruntun terhadap salah seorang lawannya.
    Ternyata serangan Laksana itu mengejutkan. Dengan jantung yang berdebaran, lawannya yang mendapat serangan beruntun itu harus berloncatan menghindar. Bahkan nampaknya Laksana tidak ingin melepaskannya. Dengan cepat pula ia memburunya dengan serangan-serangan yang seakan-akan tidak terbendung. Pada serangan pertamanya yang mengejutkan itu, ternyata Laksana dapat langsung mengenai tubuh lawannya beberapa kali, sehingga terdengar keluhan tertahan.
    Lawannya yang seorang benar-benar menjadi kesakitan tanpa kesempatan untuk membalas.
    Namun kawannya dengan segenap kemampuannya berusaha menyusul dan membantunya. Dengan garang, bahkan sambil berteriak keras, lawannya yang seorang telah menyerangnya pula.
    Laksana menyadari bahaya yang datang. Karena itu ia terpaksa melepaskan lawannya untuk menghadapi lawan yang baru datang. Tanpa ragu-ragu, Laksana membentur serangan lawannya itu dengan mengerahkan sepenuh kekuatan.
    Ternyata lawannya benar-benar telah terkejut. Ia sama sekali tidak mengira bahwa anak muda itu dengan serta-merta telah membentur kekuatannya. Apalagi ternyata anak muda itu memiliki kekuatan yang sangat besar.
    Laksana memang terdorong surut selangkah. Tetapi lawannya yang menyerang dengan sepenuh tenaganya itu, seakan-akan telah membentur batu padas di lereng bukit.
    Karena itu ia terlempar beberapa langkah surut. Dan bahkan untuk memperbaiki keseimbangannya, orang itu justru telah menjatuhkan diri, berguling sekali dan kemudian melenting berdiri.
    Jantungnya memang agak terasa bergetar semakin cepat. Namun ia harus menenangkan dirinya menghadapi lawannya yang masih sangat muda itu. Sementara kawannya yang seorang lagi, telah berusaha memperbaiki keadaannya.
    Tetapi Laksana memang tidak memberinya kesempatan. Demikian lawannya yang seorang sedang berusaha memperbaiki keseimbangannya, Laksana telah menyerang lawannya yang seorang lagi dengan cepatnya.
    Ternyata kecepatan gerak dan keputusan yang diambil dengan tiba-tiba oleh Laksana sempat membingungkan kedua lawannya. Ternyata Laksana seakan-akan tidak memberi kesempatan kepada mereka berdua, untuk pada satu saat, bekerja bersama melawannya.
    Sementara itu, Manggada telah mempergunakan cara yang lain untuk melawan kedua orang lawannya. Ia bergerak lebih tenang dari Laksana. Manggada tidak meloncat-loncat menyerang kedua lawannya berganti-ganti, tetapi Manggada lebih banyak menunggu. Ia berdiri tegak dengan kaki renggang, Kemudian lututnya mulai ditekuk sehingga Manggada telah berdiri merendah. Kedua tangannya bersilang di dadanya.
    Dengan hati-hati Manggada menghadapi kedua lawannya dengan ketajaman penglihatan serta kemampuannya. Meskipun ia memilih bertempur melawan kedua lawannya bersama-sama, tetapi ternyata bahwa anak muda itu cukup tangkas untuk melakukannya. Dengan cepat ia meloncat menghindar dan sekaligus menyerang. Menggeliat dan kemudian merendah. Namun ketika tubuhnya berputar, maka kakinya terayun mendatar menyambar ke arah salah seorang lawannya.
    Ternyata kedua lawannya tidak dengan mudah dapat menundukkannya. Bahkan semakin lama anak muda itu rasa-rasanya menjadi semakin cepat bergerak, dan tenaganyapun menjadi besar.
    Karena itu, kedua lawannya menjadi semakin sulit untuk menghadapinya. Anak muda itu bagaikan tidak berjejak di atas tanah. Sekali ia meloncat kesana, kemudian melenting kemari. Menghindari serangan-serangan yang kadang-kadang datang bersamaan, namun kemudian justru Manggadalah yang telah menyerang dengan garangnya.
    Selagi kedua anak muda itu bertempur dengan sengitnya, maka Ki Wiradadipun harus mengerahkan kemampuannya pula. Ternyata pemimpin kelompok orang-orang yang mencegatnya itu memiliki kemampuan yang tinggi. Dengan garangnya orang itu menyerangnya dengan tangan dan kakinya berganti-ganti.
    Namun Ki Wiradadi tidak kalah garangnya. Ia telah mengerahkan kemampuannya pula, sehingga dengan mantap ia telah mampu mengimbangi ilmu lawannya.
    Kedua orang itu bertempur lebih lamban dari anak-anak muda yang harus melawan masing-masing dua orang itu. Ki Wiradadi dan lawannya ternyata lebih banyak berusaha menahan diri untuk tidak dengan serta-merta menghabiskan tenaga mereka, meskipun mereka telah sampai pada tataran kemampuan tertinggi mereka.
    Namun mereka ternyata bertempur lebih mantap. Keduanya berusaha untuk memperhitungkan segala langkah mereka, karena keduanya memiliki pengalaman yang cukup luas.
    Yang bertempur dengan keras adalah justru Laksana. Ia benar-benar tidak memberi kesempatan kepada lawan-lawannya. Setiap kesempatan dipergunakannya sebaik-baiknya. Laksana lebih senang bertempur melawan kedua lawannya seorang demi seorang. Meskipun pada saat-saat yang gawat, ketika kedua lawannya mendapat kesempatan bersama-sama menyerangnya, Laksana masih juga mampu mengatasinya.
    Bahkan Laksana masih sempat berkata kepada diri sendiri, “Untunglah aku telah makan daging cukup banyak. Jika belum, maka aku akan cepat menjadi lemah menghadapi kedua orang gila ini.”
    Dalam pada itu, Ki Wiradadi yang semula mencemaskan anak-anak muda yang harus melawan masing-masing dua orang itu, ternyata setiap kali sempat mengamati apa yang telah terjadi. Ki Wiradadi tidak lagi merasa terlalu cemas. Ia melihat apa yang dapat dilakukan oleh kedua orang anak muda itu, sehingga dengan demikian, ia sempat memusatkan perhatiannya kepada lawannya.
    Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Semua orang yang terlibat dalam pertempuran itupun telah menggenggam senjata. Nampaknya kelima orang itu benar-benar ingin membunuh Ki Wiradadi dan kedua orang anak muda itu.
    Dengan teriakan-teriakan nyaring lawan Ki Wiradadi itu telah mengacu-acukan senjatanya. Memutar dan menebas mendatar. Namun Ki Wiradadi telah mempergunakan senjata pula untuk mengatasi kegarangan lawannya.
    Laksana dan Manggadapun telah mengerahkan kemampuannya pula. Dengan senjata di tangan, maka lawan mereka menjadi semakin garang pula. Dua orang bagi setiap anak muda itu memang merupakan lawan yang berat. Tetapi Laksana dan Manggada tidak menjadi gentar. Bahkan keduanya seakan-akan telah didorong untuk mengerahkan segenap kemampuannya menghadapi pendadaran yang berat. Pendadaran yang mempertaruhkan bukan saja kemungkinan untuk diakui tataran kemampuannya, tetapi juga mempertaruhkan nyawanya.
    Seperti lawan Ki Wiradadi, maka keempat lawan Manggada dan Laksanapun sama sekali tidak mengekang diri. Merekapun benar-benar ingin membunuh kedua anak muda itu. Sehingga karena itu, maka senjata-senjata merekapun telah langsung mengarah ke tempat-tempat yang paling berbahaya di tubuh anak-anak muda itu.
    Ternyata bahwa senjata kedua lawannya telah sempat membuat Laksana mengalami kesulitan. Ketika kedua orang lawannya menjadi semakin kasar dan semakin garang, maka Laksana memang merasa terdesak.
    Kedua lawannya tidak saja bertempur dengan kakinya, dengan tangannya dan senjata di genggamannya, tetapi kedua lawannya juga bertempur dengan mulutnya. Mereka berteriak-teriak kasar dan mengumpat-umpat dengan kata-kata kotor, sehingga telinga Laksana rasa-rasanya bagaikan dipanggang di atas api.
    Dalam kekalutan pemusatan nalar budinya karena teriakan-teriakan yang kotor itu, maka tiba-tiba saja terasa sentuhan di lengan Laksana. Ternyata ia kurang cepat mengelakkan serangan lawannya di saat ia menangkis ujung senjata lawannya yang seorang lagi.
    Laksana yang menyadari lengannya terluka, telah meloncat mengambil jarak dari kedua lawannya. Ketika ia meraba lengannya yang menjadi pedih itu, maka iapun telah menggeram. Terasa di telapak tangannya, darahnya yang hangat memang sudah menitik dari lukanya itu.
    Anak muda itu menjadi sangat marah. Luka di lengannya membuatnya bagaikan banteng yang terluka.
    Sejenak kemudian, maka iapun telah meloncat menyerang. Senjatanya berputaran dengan garangnya melibat lawannya berganti-ganti.
    Tetapi kedua lawannyapun yang telah melihat Laksana terluka berusaha untuk semakin menekannya. Keduanya telah bergerak semakin cepat. Dengan mengerahkan sisa tenaga yang ada pada mereka, maka mereka ingin mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
    Laksana yang masih belum banyak berpengalaman itu ternyata memang telah terpancing oleh tatagerak lawannya. Anak muda itu melayani kedua lawannya yang bergerak dengan langkah-langkah panjang. Sementara lengannya masih saja menitikkan darah, bahkan semakin banyak ia bergerak, darah itu seakan-akan bagaikan ditekan dari urat nadinya.
    Laksana yang marah itu ternyata hampir melupakan pesan gurunya. Dalam kemarahan yang tidak terkendali, maka Laksana seakan-akan tidak mempergunakan perhitungan lagi. Ia sama sekali tidak berusaha menghemat tenaganya.
    Kedua lawannya meskipun mengakui kemampuan anak muda itu, tetapi ternyata mereka memiliki pengalaman yang lebih luas. Selebihnya mereka sama sekali tidak lagi memperhitungkan harga diri sehingga mereka telah bertempur dengan licik.
    Kemarahan dan kemarahan yang tertimbun di dalam dada Laksana telah membuat nalarnya menjadi kabur. Bahkan ia benar-benar tidak lagi mampu menilai unsur-unsur geraknya sendiri.
    Manggada yang melihat keadaan Laksana menjadi cemas. Tetapi ia tidak sempat berbuat sesuatu, karena ia sendiri harus memusatkan segenap kemampuannya untuk melawan dua orang lawannya yang tidak kalah garang dan kasarnya dari kedua lawan Laksana.
    Manggada sendiri telah terloncat surut beberapa langkah untuk mengambil jarak, ketika sekali lagi ia melihat ujung senjata lawannya mengenai pundak Laksana.
    Laksana memang berteriak untuk melontarkan ungkapan kemarahannya. Tetapi teriakannya itu sama sekali tidak menolongnya. Apalagi kedua lawannya juga berteriak-teriak lebih keras dan bahkan lebih kasar dan dengan kata-kata kotor.
    Ki Wiradadi yang baru saja mapan, telah merasa terganggu pula perhatiannya oleh keadaan Laksana. Iapun melihat bahwa Laksana telah terluka di lengan dan di pundaknya.
    Apalagi lawannya nampaknya dengan sengaja memberinya kesempatan untuk melihat luka Laksana. Bahkan katanya, “Sebentar lagi kawanmu yang muda itu akan mati. Sejenak kemudian yang seorang lagi akan mati juga. Kau memang agaknya akan mati terakhir. Namun justru setelah kau melihat kedua orang kawanmu terbaring menjadi mayat disini.”
    Ki Wiradadi menggeram. Iapun telah meningkatkan kemampuannya. Tetapi Ki Wiradadi yang juga cukup berpengalaman itu tidak mau membiarkan dirinya hanyut dalam arus perasaannya.
    Karena itu, meskipun Ki Wiradadi juga mengerahkan kemampuannya dan berusaha menekan lawannya, namun Ki Wiradadi tidak terlepas dari nalar budinya.
    Tetapi memang sulit bagi Ki Wiradadi untuk dapat dengan cepat menghabisi lawannya, meskipun ia sudah menghentakkan kemampuannya. Seakan-akan lawannya memang dipersiapkan untuk melawannya dalam tataran ilmu yang seimbang.
    Laksana nampaknya memang menjadi semakin garang oleh kemarahan yang menghentak-hentak di dalam dadanya. Tetapi kemarahannya itu justru telah menimbulkan kecemasan bagi Manggada dan Ki Wiradadi.
    Dalam keadaan yang terdesak, Manggada yang tidak kehilangan akal telah mengambil keputusan yang berat. Bahkan ia memerlukan waktu untuk menentukan, apakah ia akan melakukannya atau tidak. Namun jika ia tidak melakukannya, maka keadaan Laksana akan menjadi semakin parah. Darahnya akan semakin banyak mengalir sehingga tubuhnya akan menjadi semakin lemah, sehingga mungkin ia akan terlambat.
    Karena itu, maka Manggada harus segera menjatuhkan pilihan. Agaknya nalarnya masih jauh lebih bening dari Laksana yang terluka itu.
    “Apa boleh buat. Agaknya Laksana justru telah lupa mempergunakannya,” berkata Manggada.
    Dalam keadaan yang terpaksa, karena tidak ada pilihan lain yang dapat dipergunakannya untuk menolong Laksana, maka Manggada telah menarik dua buah pisau kecilnya. Dengan tangkasnya Manggada telah melemparkan kedua pisaunya itu berurutan demikian cepatnya ke arah kedua lawannya yang berdiri di tempat yang berbeda.
    Ketika Manggada memindahkan senjata ke tangan kirinya, kedua lawannya memang sudah menjadi curiga. Namun mereka tidak mempunyai kesempatan. Begitu cepatnya Manggada menarik sebilah pisau dan melemparkannya ke dada seorang lawannya, kemudian berbalik sambil merendahkan diri, pisau kedua telah terlempar pula ke dada lawannya yang lain.
    Terdengar kedua orang itu berteriak berurutan. Seorang di antaranya sempat berteriak dengan umpatan kotor. Namun pisau kecil itu telah dilemparkan dengan sekuat tenaga didorong pula dengan kekuatan cadangan di dalam diri Manggada. Karena itu maka pisau-pisau kecil itu telah menghunjam seakan-akan sampai ke tangkainya.
    Tidak ada kesempatan untuk mengelak, apalagi kedua orang itu tidak menduga sama sekali. Merekapun tidak sempat menyadari bahwa ujung pisau-pisau kecil itu ternyata telah menggapai jantung mereka dan membunuh mereka.
    Manggada tidak sempat mengamati kedua orang lawannya itu. Iapun segera meloncat mendekati arena pertempuran antara Laksana dan kedua orang lawannya.
    Ternyata Laksana yang terpancing oleh lawannya dengan gerak-gerak yang panjang dan cepat, serta darah yang mengalir dari kedua lukanya, kekuatannya mulai menjadi susut.
    Namun kehadiran Manggada telah merubah sama sekali keseimbangan dalam arena pertempuran itu. Dengan cepat Manggada berhasil mengikat seorang di antara lawan Laksana dalam pertempuran melawannya, sehingga dengan demikian maka Laksana tinggal menghadapi seorang lawan saja.
    Meskipun kekuatan dan kemampuan Laksana mulai susut, namun menghadapi seorang saja dari kedua lawannya, kekuatan dan kemampuannya masih jauh memadai. Apalagi ketika Manggada sempat memperingatkan, “Pergunakan otakmu.”
    Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi senjatanyapun kemudian telah bergetar menghadapi seorang saja dari kedua lawannya.
    “Kau telah terluka,” geram lawannya yang menjadi bimbang karena ia harus menghadapinya sendiri.
    “Lukaku tidak berarti apa-apa,” jawab Laksana. “Tetapi aku tidak ingin membunuhmu dengan cepat dengan melontarkan pisau-pisau kecilku. Oleh kemarahan yang menghentak di dadaku aku justru terlupa mempergunakannya, karena aku tidak terbiasa membawanya. Sekarang aku ingin membunuhmu dengan senjataku ini.”
    Orang itu memang menjadi cemas. Tetapi ia masih berusaha untuk membesarkan hatinya. Bahkan ia tertawa sambil berkata, “Tenagamu sebentar lagi akan habis terhisap sejalan dengan darahmu yang menjadi kering.”
    Laksana tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang dengan garangnya. Senjatanya berputaran dengan cepat sekali. Namun ia sudah mulai mencoba mempergunakan penalarannya kembali. Sehingga dengan demikian, maka ia tidak lagi menjadi kehilangan langkah.
    Meskipun demikian, darah yang mengalir dari lukanya memang telah mengganggu perasaannya. Namun ia tidak mau mati di ujung senjata lawannya.
    Manggada tidak lagi ingin membunuh lawannya yang diambilnya dari Laksana. Namun demikian, ternyata lawannya itupun telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk berusaha membunuhnya.
    Laksana yang sudah terluka itu masih mampu menggerakkan senjatanya dengan garang, sehingga lawannya benar-benar tidak mendapat tempat di arena. Tetapi justru karena itu, maka dengan putus asa lawannya telah bertempur membabi buta. Dengan teriakan-teriakan dan umpatan-umpatan kotor, ia menyerang Laksana seperti badai.
    Namun dengan demikian geraknya menjadi kacau.
    Perhitungannya kabur dan kegelisahannya menjadikannya bingung menghadapi kecepatan gerak Laksana. Dan pada suatu saat, senjata Laksana yang marah itu telah menyambar dadanya. Sebuah goresan panjang menyilang di dadanya, sehingga lawan Laksana terlempar beberapa langkah surut. Ketika ia berusaha berdiri tegak, tubuhnya nampak gemetar. Betapapun ia berusaha untuk tetap menggenggam senjatanya, namun akhirnya senjata itu jatuh. Bahkan perlahan-lahan orang itupun terjatuh pada lututnya.
    Bagaimanapun juga ia bertahan, namun akhirnya tubuhnya terkulai di tanah. Darah mengalir tanpa terbendung dari lukanya yang dalam.
    Laksana berdiri termangu-mangu. Sejenak ia mengawasi lawannya yang terbaring diam. Nampaknya lawan itu memang tidak akan mungkin bangkit lagi untuk melawannya.
    Bersamaan dengan itu, ia mendengar teriakan Manggada, “Obati lukamu, cepat. Sebelum darahmu semakin banyak mengalir dan mempengaruhi tenagamu.”
    Laksana bagaikan terbangun dari sebuah mimpi. Iapun segera mengambil tempat untuk melihat lukanya. Namun karena letak lukanya, maka ia memang agak mengalami kesulitan.
    Sementara Manggada tidak memerlukan waktu terlalu lama. Dengan cepat Manggada dapat segera mendesak, dan bahkan menguasai ruang gerak lawannya.
    Tetapi ketika senjatanya telah menggores kulit lawannya, justru lawannya menjadi kian liar. Seperti seekor harimau terluka, ia berusaha menerkam dengan tanpa memperhitungkan kemungkinan yang dapat dilakukan lawannya.
    Semula Manggada masih sempat menghindar dan berusaha menahan lawannya dengan putaran senjatanya. Tetapi lawannya itu seakan-akan benar-benar telah kehilangan nalar budinya. Dengan garangnya ia meloncat menerkam Manggada dengan ujung senjatanya.
    Manggada ternyata terpengaruh juga oleh sikap lawannya. Bahkan terasa seolah-olah bulu kuduknya meremang.
    Tetapi di luar sadarnya, ketika lawannya menerkam, Manggada sempat mengelak. Tetapi lawannya telah memburunya. Satu ayunan mendatar yang cepat dan kuat sekali telah menyambar ke arah leher Manggada. Namun Manggada sempat merendah, sekaligus menjulurkan senjatanya menembus langsung ke lambung.
    Terdengar orang itu berteriak nyaring. Selangkah ia bergeser mundur. Manggada masih menggenggam tangkai senjatanya yang telah terlepas dari tubuh lawannya.
    Tidak ada lagi yang dapat dilakukan lawan Manggada. Rasa-rasanya semuanya menjadi gelap. Bahkan iapun kemudian jatuh tertelungkup.
    Pada saat yang bersamaan, lawan Ki Wiradadi pun menjadi putus asa. Tetapi ia tidak membunuh dirinya sebagaimana kawan-kawannya. Ia masih sempat berpikir, bahwa ia harus lolos dari maut untuk menyampaikan kepada pemimpinnya, bahwa ada tiga pemburu yang naik ke lereng gunung, setelah menyeberangi Hutan Jatimalang.
    Karena itu, selagi perhatian Manggada tertuju kepada lawannya yang jatuh terbaring di tanah, sementara Laksana sedang memperhatikannya pula, lawan Ki Wiradadi berusaha melenting jauh dan dengan serta-merta berusaha melarikan diri dari arena.
    Ki Wiradadi tidak mempunyai kesempatan untuk mengejarnya. Orang itu telah mendahuluinya beberapa langkah. Dengan cepat Ki Wiradadi menyadari, bahwa jika salah seorang di antara orang-orang itu terlepas dari pengawasan mereka, maka orang itu tentu akan menjadi sangat berbahaya.
    Karena itu, Ki Wiradadi tidak sempat membuat perhitungan yang rumit. Ketika ia menyadari bahwa ia tidak akan dapat mengejar lawannya itu, maka tiba-tiba saja ia telah mencabut sebuah dari pisau-pisau kecilnya dan dengan sepenuh kekuatan dilemparkannya kepada lawannya yang melarikan diri itu.
    Terdengar orang itu mengaduh. Dengan langkahnya dan terhuyung-huyung sambil berputar. Dengan suara bergetar ia berkata sambil menunjuk ke arah Ki Wiradadi, “Kau licik. Kau tusuk punggungku selagi aku membelakangimu.”
    Ki Wiradadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, “Kau akan melarikan diri.”
    Orang itu memandang Ki Wiradadi dengan mata yang menyala. Tubuhnya yang tidak dapat mempertahankan keseimbangan mulai berguncang-guncang. Namun ia masih berkata, “Panembahan akan menghukummu dengan hukuman yang paling getir.”
    “Panembahan siapa?” bertanya Ki Wiradadi.
    “Panembahan Lebdagati. Seorang panembahan yang tuntas ing kawruh. Menguasai segala macam ilmu lahir dan batin.” Suaranya semakin bergetar dan tubuhnya tidak lagi mampu bertahan. Bahkan sejenak kemudian orang itupun telah jatuh tertelungkup dengan sebilah pisau terhunjam di punggungnya.
    Ki Wiradadi melangkah perlahan-lahan mendekatinya. Diamatinya orang yang telah tidak bernyawa lagi itu. Tetapi ia sadar, bahwa langkah yang diambilnya itu telah diperhitungkannya sejak semula, bahwa mungkin sekali akan terjadi. Jika ia menyeberangi Hutan Jatimalang untuk melacak anak gadisnya yang hilang, maka ia akan terpaksa memasuki dunia kekerasan. Membunuh atau dibunuh. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia tidak berbuat apa-apa, maka pembunuhan-pembunuhan masih akan berlangsung terus. Bahkan gadis-gadis yang dikorbankan untuk sebuah kepercayaan yang sesat akan terus berlanjut.
    Manggada yang telah kehilangan lawannya, telah membantu Laksana mengobati luka-lukanya, sehingga darahnya menjadi pampat.
    Ketika Ki Wiradadi kemudian mendekatinya, Manggada berdesis, “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
    Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Diamatinya luka Laksana di pundak dan lengannya.
    “Untunglah luka itu tidak terlalu dalam dan tidak beracun,” desis Ki Wiradadi.
    “Ya,” sahut Laksana. “Nampaknya memang tidak begitu berpengaruh.”
    “Tetapi kau tidak boleh terlalu banyak bergerak,” berkata Ki Wiradadi kemudian. “Darahmu akan terlalu banyak mengalir. Sementara itu kita masih akan menempuh perjalanan yang lebih berbahaya. Kau dengar, orang itu telah menyebut nama Panembahan Lebdagati, yang katanya seorang panembahan yang berilmu tinggi lahir dan batin?”
    Laksana mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa lukanya tentu akan mengganggunya jika luka itu tidak dapat diatasi dengan obat yang dibawanya.
    Karena itulah, maka Laksana tidak mempunyai pilihan lain kecuali beristirahat untuk beberapa saat.
    “Kita masih mempunyai tugas,” berkata Manggada. “Kita harus mengubur mayat-mayat itu agar tidak menjadi makanan burung-burung buas atau binatang liar dari hutan itu.”
    Ki Wiradadi kemudian berdesis, “Biarlah Laksana beristirahat lebih dahulu.”
    Bertiga mereka kemudian duduk bersandar batu padas di bawah sebatang pohon yang rimbun, setelah mereka memungut kembali busur-busur mereka. Sementara itu Ki Wiradadi berkata, “Kita tidak dapat membayangkan, siapa dan seberapa tinggi kemampuan orang yang disebut Panembahan Lebdagati itu.”
    Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tentu tidak seperti orang-orang yang telah mereka kalahkan itu. Bahkan mungkin panembahan itu akan dapat menghancurkan mereka bertiga sekaligus.
    Sambil memandangi dedaunan yang bergerak-gerak digoyang angin, Manggada berkata hampir kepada diri sendiri, “Satu tantangan yang harus diatasi. Tetapi kita tidak dapat membiarkan upacara sesat itu dibiarkan saja.”
    “Tetapi bukannya tanpa perhitungan,” berkata Ki Wiradadi. “Aku memang merasa wajib untuk mengambil anakku. Dan jika mungkin, gadis-gadis yang masih ada. Tetapi aku harus memikirkan cara yang terbaik untuk melakukannya. Kalian masih terlalu muda untuk melakukan tugas yang sangat berat ini. Kemungkinan yang paling pahit dapat terjadi.”
    “Mati?” desis Laksana.
    “Kalian masih terlalu muda untuk mengalaminya. Masih panjang kemungkinan yang dapat terjadi atas kalian. Karena itu aku harus memikirkannya apakah sudah sepantasnya aku membawa kalian menempuh bahaya yang demikian besarnya. Pada langkah pertama ini, aku telah menyesal bahwa kalian terlibat ke dalamnya. Untunglah bahwa kalian memiliki bekal yang cukup tinggi, sehingga kalian dapat lolos dari maut. Bahkan tanpa kalian, akupun tidak akan dapat meninggalkan tempat ini, karena aku tentu sudah terbaring mati. Merekalah yang akan berdiri sambil mengamati mayatku,” berkata Ki Wiradadi.
    “Jangan berkata begitu, Ki Wiradadi,” berkata Manggada. “Bukan salah Ki Wiradadi bahwa kami berada di sini. Kami sudah menyatakan kesediaan kami untuk membantu Ki Wiradadi menyelamatkan anak gadis Ki Wiradadi. Tetapi yang lebih penting lagi, menghancurkan kepercayaan yang sesat itu.”
    “Seperti yang sudah aku katakan, kita bukannya tidak berperhitungan,” sahut Ki Wiradadi. Namun kemudian dengan serta-merta ia berkata selanjutnya, “Bukan maksudku menolak uluran tangan kalian. Aku merasa sangat berterima kasih. Bahkan seandainya hanya sampai sekian pun, aku sudah merasa berhutang budi kepada kalian. Tetapi yang justru aku pikirkan adalah keselamatan kalian untuk selanjutnya. Jika terjadi sesuatu atas kalian berdua, atau salah seorang di antara kalian, aku akan merasa bersalah.”
    Tetapi Manggada menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ini adalah pilihan kami sendiri, Ki Wiradadi. Jangan menyalahkan diri jika terjadi sesuatu atas kami. Hanya dengan mengabdikan diri pada kemanusiaan, maka ilmu yang selama ini kami pelajari akan berarti.”
    Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah berusaha memberikan peringatan kepada anak-anak muda itu.
    Tetapi kedua orang anak muda itu nampaknya sudah bertekad bulat untuk meneruskan perjalanan, apapun yang akan terjadi kemudian.
    Namun bagaimanapun juga, kehadiran kedua orang anak muda itu telah menjadi beban bagi Ki Wiradadi, meskipun ia sangat memerlukannya.
    Setelah menyeberangi Hutan Jatimalang, bersama kedua anak muda itu, Ki Wiradadi baru melihat ancaman yang sebenarnya.
    Meskipun mereka dapat mengalahkan hambatan pertama, tapi menurut perhitungan Ki Wiradadi, hambatan demi hambatan akan mereka hadapi lagi. Bahkan akhirnya mereka akan sampai pada orang yang bernama Lebdagati.
    Karena itu, bagaimanapun juga ia wajib mengatakannya. “Anak-anak muda, puncak dari perjalanan ini tentu akan membawa kita kepada orang yang bernama Panembahan Lebdagati. Tentu orang yang mumpuni segala macam kawruh lahir dan batin, meskipun agaknya ia berpijak pada ilmu sesat.”
    “Ya. Tetapi apa boleh buat,” desis Manggada.
    “Aku tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atas kalian,” desis Ki Wiradadi.
    Namun sebelum anak-anak muda itu menjawab, tiba-tiba terdengar suara, “Kau benar, Ki Sanak. Ilmunya sangat tinggi, seakan-akan menjangkau langit.”
    Ketiganya terkejut. Ketika mereka berpaling ke arah suara itu, dilihatnya seorang tua berjanggut putih melangkah terbungkuk-bungkuk dari balik sebongkah batu besar. Kemudian dengan tenangnya duduk di atas batu di hadapan batu besar itu.
    Ketiga orang itu menjadi berdebar-debar. Apakah orang tua itu yang disebut Panembahan Lebdagati?
    Sejenak ketiga orang itu termangu-mangu. Namun rasa-rasanya jantung mereka berdenyut semakin cepat.
    Baru sejenak kemudian Ki Wiradadi melangkah maju sambil bertanya, “Siapakah kau, Ki Sanak? Apakah kau orang yang disebut Panembahan Lebdagati?”
    Orang itu seakan-akan tidak mendengar pertanyaan Ki Wiradadi. Bahkan iapun berkata, “Aku melihat bagaimana kalian bertiga membunuh orang-orang dari Padepokan Lebdagati.”
    “Kami membunuh bukannya tanpa sebab,” jawab Ki Wiradadi.
    “Aku mengerti. Kalian membunuh karena kalian tidak mau diusir begitu saja dari lingkungan yang menurut Panembahan Lebdagati adalah lingkungan kekuasaannya. Hutan Jatimalang, lereng Gunung Lawu adalah daerah yang dikuasai panembahan itu.”
    “Daerah yang begitu luas?” bertanya Ki Wiradadi. “Jarak antara Jatimalang dan puncak Gunung Lawu adalah terlalu luas untuk satu padepokan.”
    “Tetapi daerah yang sudah digarap belum terlalu banyak. Daerah seluas ini terdiri dari padang rumput, hutan perdu dan hutan pegunungan yang lebat. Daerah berbatu-batu dan padang ilalang. Hanya beberapa bagian dari daerah seluas ini dapat dijadikan tanah persawahan dan pategalan,” jawab orang tua itu.
    Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Tetapi iapun bertanya, “Ki Sanak belum memberikan jawaban, siapakah Ki Sanak sebenarnya.”
    Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia kemudian berkata, “Kalian, apalagi anak-anak muda itu, telah memasuki daerah yang sangat berbahaya. Yang terjadi barulah sebuah perkenalan. Kalian akan segera menjumpai kesulitan yang lebih besar.”
    “Katakan, apakah kau yang disebut Panembahan Lebdagati?” desak Manggada.
    Orang itu masih belum langsung menjawab. Tetapi ia berkata, “Jalan ini adalah jalan induk menuju ke padepokan itu. Padepokan itu sendiri masih jauh. Tetapi di beberapa tempat, cantrik mereka menggarap sawah yang tersebar. Beternak dan membuat kolam ikan. Jarang sekali orang-orang padepokan ini keluar lingkungan mereka. Maksudku, jarang sekali orang-orang dari daerah ini melintasi Hutan Jatimalang dan berhubungan dengan orang luar.”
    “Kecuali saat mereka mengambil gadis-gadis,” potong Laksana.
    Orang tua itu mengerutkan keningnya. Sementara Laksana berkata selanjutnya, “Ki Wiradadi telah kehilangan anak gadisnya. Ia datang kemari bersama kami berdua untuk mengambil gadisnya itu kembali. Menurut pendengaran kami, gadis-gadis itu akan dikorbankan di saat bulan purnama penuh. Nah, sebelum purnama penuh itu datang beberapa hari lagi, kembalikan gadis itu.”
    Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jadi kalian datang untuk mengambil seorang gadis?”
    “Ya. Anak Ki Wiradadi ini. Sebagai seorang ayah, maka ia akan menempuh bahaya yang bagaimanapun besarnya. Sedangkan kami berdua, yang, mengetahui persoalannya, tidak dapat tinggal diam. Kami berdua sudah bertekad untuk membantunya.”
    Tetapi orang tua itu menggeleng. Katanya, “Sulit bagi kalian untuk dapat membebaskan gadis yang sudah ada di tangan Panembahan Lebdagati, sebab Panembahan Lebdagati mempunyai banyak pengikut. Meskipun beberapa orang di antara mereka tidak lebih dari orang-orang yang telah terbunuh, tetapi jumlahnya terlalu banyak, dan beberapa orang mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Apalagi Panembahan Lebdagati itu sendiri.”
    “Ada yang kau lupa, Ki Sanak,” berkata Manggada. “Betapapun tinggi ilmu seseorang, namun ia masih tetap di bawah kuasa Yang Maha Agung. Jika orang berilmu tinggi itu telah menempuh jalan sesat, maka akan datang murka Yang Maha Agung itu atasnya. Karena itu, kami tidak gentar. Jika kami terbunuh di tempat orang-orang berilmu sesat, maka kematian kami bukannya sia-sia. Kami telah menunjukkan kepada orang-orang itu bahwa kepercayaannya mendapat tantangan, sehingga akhirnya pada suatu saat orang itu akan langsung berhadapan dengan lantaran kuasa Yang Maha Agung sendiri.”
    Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya kau mempunyai lambaran kepercayaan yang kokoh.”
    “Aku yakin akan sumber hidupku. Aku percaya akan tanganNya yang adil dan kuasa tanpa batas,” sahut Manggada. “Meskipun kami bukan orang-orang berilmu, tetapi kuasaNya akan mungkin mempergunakan ujung panahku untuk menyelesaikan kegiatannya yang sesat.” Manggada berhenti sejenak, namun tiba-tiba ia bertanya menghentak, “Kaukah Panembahan Lebdagati yang sesat itu?”
    Akhirnya orang itu menggeleng. Katanya, “Bukan. Bukan akulah orang yang kau cari.”
    “Jadi siapakah kau?” bertanya Manggada mendesak.
    Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya puncak Gunung Lawu yang kebiruan. Masih jauh, meskipun mereka sudah berada di lereng.
    “Sebut namamu atau gelarmu, Ki Sanak,” Ki Wiradadipun telah mendesaknya pula.
    Orang itu akhirnya berkata, “Orang memanggilku Ki Ajar Pangukan.”
    “Pangukan?” ulang Laksana.
    Orang itu mengangguk. Namun tiba-tiba Laksana berkata, “Jadi kau adalah orang Panembahan Lebdagati yang mendapat tugas untuk mengamati jalan menuju ke padepokannya?”
    “Kenapa kau menganggap begitu?” bertanya orang tua itu.
    “Namamu Pangukan. Orang yang sering mengamati sesuatu,” jawab Laksana.
    Orang itu tersenyum. Katanya, “Ketika aku menggantikan kedudukan guruku, aku disebut Ajar Pangukan. Aku tidak berpikir begitu jauh mengenai arti namaku itu dengan baik.” Orang itu berhenti sejenak, namun tiba-tiba iapun berkata, “Tetapi mungkin kau benar, anak muda. Tugasku memang mengamati, melihat-lihat sebagaimana aku lakukan sekarang.”
    “Jadi kau mengakui bahwa kau salah seorang murid Panembahan Lebdagati?” bertanya Laksana.
    Orang itu tersenyum. Katanya, “Kau masih terlalu muda. Hati-hatilah. Kau harus mencoba mengendalikan diri menghadapi persoalan-persoalan yang berat.”
    “Kau belum menjawab,” desak Laksana.
    “Sudah berkali-kali aku katakan. Aku bukan Panembahan Lebdagati, juga bukan muridnya, atau orangnya, atau orang yang pernah berhubungan dengan panembahan itu,” jawab Ki Ajar Pangukan. “Aku justru sedang mengamati tingkah laku orang-orang dari daerah ini. Sudah beberapa bulan aku berada di sini.”
    “O,” Ki Wiradadilah yang bergeser. Nada suaranya berubah. “Apakah kau berkata sebenarnya?”
    “Ya. Aku berkata sebenarnya,” jawab orang itu. “Jika aku pengikut Panembahan Lebdagati, atau bahkan Lebdagati itu sendiri, maka aku tentu akan dengan serta-merta membunuh kalian.”
    Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Laksana yang tersinggung berkata, “Kau kira kami adalah kelinci-kelinci yang tidak berarti apa-apa? Kau lihat, kami telah membunuh orang-orang Panembahan Lebdagati.”
    “Sudahlah, anak muda,” berkata orang itu. “Kita jangan terlalu lama di sini. Kita tidak boleh ketahuan orang-orang Panembahan Lebdagati. Setelah beberapa bulan aku disini, aku menjadi semakin mengenali lingkungan ini. Termasuk Panembahan Lebdagati itu sendiri. Namun aku tidak boleh diketahui oleh mereka. Jika demikian, maka usahaku akan sia-sia.”
    “Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya Ki Wiradadi.
    “Ikuti aku setelah kalian mengubur orang-orang yang terbunuh itu,” berkata Ki Ajar Pangukan.
    “Kau ingin menjebak kami?” berkata Laksana.
    Ki Ajar itu tertawa. Katanya, “Kau terlalu curiga, anak muda. Tetapi baiklah, aku mengerti. Karena itu, biarlah aku tunjukkan kepadamu, bahwa aku tidak akan mencelakakanmu. Jika aku ingin melakukannya, aku dapat melakukannya dengan mudah.”
    Laksana termangu-mangu. Namun iapun kemudian melihat orang tua itu bangkit berdiri, dan seperti terbang, ia meloncat mundur ke atas sebuah batu yang besar.
    “Perhatikanlah. Aku akan membantu kalian mengubur orang-orang yang telah kau bunuh itu,” berkata orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Pangukan itu.
    Ketiga orang itupun termangu-mangu. Namun mereka memang bergeser surut ketika mereka melihat orang tua yang berdiri di atas batu itu bersikap.
    Beberapa saat kemudian, orang tua itu menggerakkan tangannya. Dengan satu hentakan, dari telapak tangannya terlontar kekuatan yang sangat besar.
    Tanah beberapa langkah di depannya tiba-tiba saja bagaikan meledak. Demikian terjadi setiap orang itu menggerakkan tangannya sampai lima kali. Baru kemudian orang itu berhenti setelah di hadapannya berjajar lima buah lubang yang cukup lebar dan dalam.
    “Nah,” berkata orang itu kemudian, “kau dapat menguburkan kelima sosok mayat itu tanpa mengalami kesulitan menggali lubang. Cepat lakukan sebelum orang-orang dari Padepokan Lebdagati melihat kita.”
    Ki Wiradadi dan kedua orang anak muda itu bagaikan dicengkam oleh pesona yang tidak disadari. Merekapun dengan cepat telah mengangkat sosok-sosok mayat yang berserakan, dan memasukannya ke dalam lubang.
    “Tetapi kalianlah yang harus menimbuninya,” berkata orang tua itu. “Aku sudah menggalinya.”
    Keringat membasahi seluruh tubuh mereka. Sementara itu Laksana bukan saja menitikkan keringat, tetapi menitikkan darah pula.
    Namun orang tua itu kemudian berkata, “Nanti aku akan mengobati lukamu.”
    “Tetapi di manakah rumah Ki Sanak?” bertanya Ki Wiradadi.
    “Mari. Ikut sajalah. Kau akan tahu,” berkata orang itu.
    Ketiga orang itu tidak membantah lagi. Mereka menyadari, seandainya orang itu ingin membunuh mereka bertiga, maka orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Pangukan itu memang tidak akan banyak mengalami kesulitan.
    Beberapa saat kemudian mereka telah meninggalkan jalur jalan menuju ke padepokan yang dihuni orang-orang yang berilmu sesat. Mereka meniti jalan-jalan setapak. Bahkan kadang-kadang mereka berloncatan di antara batu-batu padas. Menyusup batang-batang perdu dan melingkari lereng-lereng rendah.
    Ketika mereka sampai ke sebuah sungai, mereka mengikuti arusnya beberapa ratus tonggak. Baru kemudian mereka menyeberang dan naik di lereng sebelah.
    “Kita kemana?” bertanya Manggada.
    “Aku mempersilahkan kalian singgah di padepokanku,” berkata orang itu.

    (bersambung)

  21. Sambungan… “Padepokanmu juga di kaki Gunung ini?” bertanya Laksana. “Ya. Tetapi letaknya memang agak jauh,” jawab orang itu. Lalu iapun bertanya kepada Laksana, “Nampaknya kau sudah terlalu letih. Aku mengerti, luka-lukamu masih saja berdarah.” “Tidak,” jawab Laksana. “Tetapi lukaku memang berdarah lagi.” “Kita dapat beristirahat sebentar. Kita sudah berada di tempat yang agak jauh dari daerah pengawasan Panembahan Lebdagati,” berkata Ki Ajar Pangukan itu. “Aku tidak ingin beristirahat,” berkata Laksana. “Aku hanya ingin memampatkan darahmu saja,” jawab Ki Ajar. “Baiklah,” akhirnya Ki Wiradadi yang menyahut. “Agaknya lukamu memang perlu diobati lagi.” “Bukankah aku masih mempunyai obat yang cukup?” berkata Laksana. “Karena itu, sebaiknya obat itu dipergunakan,” sahut Ki Ajar. Laksana tidak membantah legi. Mereka kemudian beristirahat di bawah rimbunnya sebatang pohon. Sementara itu di hadapan mereka terbentang lereng pegunungan yang tidak pernah digarap tangan. Padang perdu yang liar. Beberapa buah batu besar yang berserakan. Namun agak jauh di hadapan mereka, terdapat hutan pegunungan yang hijau. “Tanah ini belum sempat disentuh,” berkata Ki Ajar Pangukan. “Berbeda dengan daerah di sekitar padepokan dan anak-anak padepokan Panembahan Lebdagati. Di sana air sudah dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga di beberapa bagian nampak sawah yang subur.” Namun tiba-tiba Manggada teringat akan kepentingan mereka datang ke tempat itu. Karena itu ia berkata, “Ki Ajar, kedatangan kami ke tempat ini bukannya sekedar bertamasya di lereng pegunungan. Kami telah bertekad untuk mengambil anak perempuan Ki Wiradadi yang telah diserahkan kepada orang-orang berilmu sesat itu.” “Aku mengerti,” jawab Ki Ajar. “Jadi bagaimana? Kau sengaja membelokkan arah perjalanan kami?” bertanya Laksana. “Ya. Aku memang sengaja membawa kalian keluar dari jalan kematian. Jika kalian aku biarkan menempuh perjalanan yang kalian rencanakan, maka sebelum kalian tahu apakah anak perempuan itu benar-benar ada di sini, kalian sudah akan mati lebih dahulu,” berkata Ki Ajar. “Tetapi bagaimana dengan anak itu?” bertanya Ki Wiradadi. “Kita memang harus berbuat sesuatu sebelum bulan purnama beberapa hari lagi. Tetapi tidak dengan membunuh diri,” berkata Ki Ajar Pangukan. “Tetapi dengan cara apa?” desak Laksana. Ki Ajar tertawa. Katanya, “Kau mengingatkan aku kepada seorang pahlawan yang gugur beberapa bulan lalu di lereng gunung ini pula. Ia datang untuk mencari anaknya. Bahkan ia sendiri saja dengan membawa segerobag senjata. Seperti kalian. Pedang, busur dan anak panah, pisau-pisau belati dan tombak, bindi, trisula, nanggala dan barangkali bajra.” Orang itu berhenti sejenak. Lalu katanya, “Tetapi semua itu tidak akan berarti apa-apa. Jumlah pengikut Panembahan Lebdagati cukup banyak.” Manggada, Laksana dan Ki Wiradadi menundukkan kepalanya. Mereka melihat bagaimana orang tua itu mengangkat tangannya dan kemudian melontarkan ilmunya membuat lima buah lubang yang cukup untuk mengubur lima sosok mayat. Dengan demikian mereka dapat membayangkan betapa besar kemampuan ilmu orang itu dibandingkan dengan mereka bertiga. Dibandingkan dengan anak panah dan busur mereka. Dibandingkan dengan pedang dan pisau-pisau kecil mereka. Karena ketiga orang itu tidak menyahut, Ki Ajar pun berkata, “Lihat lagi luka itu. Obati lagi jika perlu.” Manggadalah yang kemudian melihat lagi luka saudara sepupunya. Ia memang merasa perlu untuk menaburkan lagi obat pada luka Laksana. Dalam pada itu, Ki Ajar berkata lagi, “Padepokanku tidak berisi apa-apa. Berbeda dengan padepokan Ki Lebdagati yang dihuni banyak pengikutnya. Aku tinggal di padepokanku sendiri.” “Sendiri?” bertanya Ki Wiradadi. Ki Ajar Pangukan tertawa. Katanya dengan nada rendah, “Ya, sendiri saja. Jika aku tinggal bersama beberapa orang, maka kehadiranku di sini akan segera diketahui oleh Sang Panembahan.” Ketiganya tidak menyahut. Mereka kemudian meneruskan perjalanan. Padang perdu itu semakin lama memang menjadi semakin banyak ditumbuhi pepohonan yang cukup besar. Pohon mindi, pakis hutan dan beberapa jenis pohon berduri. Ilalangpun tumbuh semakin tinggi. Beberapa saat kemudian mereka melintasi sebuah parit yang berair bening. Namun mereka mendengar tidak jauh dari tempat itu terdapat sebuah gerojogan. Agaknya air parit itu sampai ke lereng yang agak terjal. Ki Ajar agaknya mengetahui bahwa ketiga orang itu sedang memperhatikan suara gerojogan. Katanya, “Kita memang akan pergi ke gerojogan itu.” Ki Wiradadi termangu-mangu. Namun Ki Ajar berkata, “Marilah. Kita teruskan perjalanan kita. Sebelum senja kita harus sudah sampai.” Ketiga orang itu menengadahkan wajahnya hampir berbareng. Matahari memang sudah menjadi semakin rendah. Beberapa saat mereka berjalan. Mereka memanjat tebing, tak lama kemudian meniti jalan-jalan sempit yang menurun. Meloncati bebatuan, dan sekali-sekali meluncur berpegangan rumput-rumput liar, sehingga mereka tiba di sebuah lembah yang diapit oleh lereng yang ditumbuhi berbagai macam pepohonan besar dan kecil. Seakan-akan mereka memasuki lembah hijau subur, jauh berbeda dengan tanah-tanah gersang yang baru saja mereka lewati. Suara gerojogan itu semakin dekat. Akhirnya mereka sampai ke lingkungan yang basah, seperti rawa dangkal. “Itulah gerojogan itu,” berkata Ki Ajar Pangukan. Gerojogan itu cukup tinggi. Air dari parit yang tadi mereka seberangi, meluncur dari atas tebing dan jatuh ke lembah. Kemudian mengalir menelusuri lembah itu dan hilang ke dalam rimbunnya pepohonan di lembah itu. “Marilah,” berkata Ki Ajar Pangukan. “Aku persilahkan kalian singgah di padepokanku.” Ketiga orang itu mengerutkan keningnya. Namun sambil tertawa Ki Ajar berkata, “Padepokan menurut pengertianku. Memang agak lain dari padepokan menurut pengertian orang lain.” Keempat orang itu kemudian memanjat kembali lereng lembah itu. Kemudian berbelok di belakang pepohonan. Ternyata terdapat sebuah dataran yang tidak terlalu luas. Di atas dataran yang nampaknya sengaja dibuat itu, terdapat sebuah rumah kecil, beratap ilalang. “Inilah padepokanku,” berkata Ki Ajar sambil tertawa. Ketiga orang yang mengikutinya mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya, Ki Wiradadi bertanya, “Ki Ajar tinggal seorang diri di sini?” “Ya. Seorang diri,” jawab Ki Ajar. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku dikawani oleh seorang pembantuku. Seorang yang bertubuh cacat. Agak bongkok dengan kaki yang sedikit timpang. Ia adalah orang yang setia dan baik. Setiap pagi ia mengambil air dari gerojogan itu, dan kemudian menyediakan minum dan makanku. Mencari kayu bakar dan menyapu halaman.” Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Namun sementara itu, Ki Ajarpun telah mempersilahkan ketiga tamunya memasuki halaman yang memang nampak bersih. “Duduklah.” Ki Ajar telah membawa tamunya duduk di serambi, di sebuah amben bambu yang panjang. Sementara Ki Ajar sendiri langsung masuk ke dalam rumahnya. Untuk beberapa saat lamanya, ketiga orang itu duduk sambil mengamati keadaan di sekelilingnya. Suara gerojogan masih terdengar. Hanya kadang-kadang angin berubah arah, sehingga suaranya menjadi lemah. Tetapi sering terdengar gerojogan itu menjadi begitu dekat. Halaman rumah Ki Ajar nampak bersih, meski tanpa tanaman hias. Agak jauh dari rumah, terdapat kebun pisang yang agak luas. Di belakang kebun itu, terdapat rumpun bambu lebat. Agaknya kebun di belakang rumah Ki Ajar itu berhubungan langsung dengan hutan yang tumbuh memanjang di sekitar gerojogan. Hutan yang tidak terlalu luas, namun agaknya cukup lebat. Bahkan masih ada beberapa batang pohon raksasa bertebaran. Ketiga orang itu tertarik pada beberapa jenis burung yang ada di sekitar rumah itu. Burung yang kicaunya seakan-akan mendekatkan ketiga orang itu pada alam. Suara angin, gerojogan, burung berkicau, dan suara kera, pelengkap suasana tenang padepokan itu. Namun ketiganya terkejut ketika tiba-tiba saja sepasang harimau memasuki halaman itu. Keduanya berjalan begitu tenang, seakan-akan mereka sudah terbiasa berada di tempat itu. Namun sepasang harimau itu terkejut ketika melihat tiga orang berada di serambi rumah itu. Dengan cepat, ketiga orang itu meraih busurnya dan memasang anak panah. Tetapi sesaat kemudian terdengar suara Ki Ajar, “Keduanya adalah harimau yang jinak. Keduanya tidak pernah mengganggu aku. Karena itu, akupun tidak mengganggu mereka. Si Bongkok telah memelihara harimau itu sejak masih muda.” Ketiga orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ki Ajar yang keluar dari dalam rumahnya langsung turun ke halaman. Kedua ekor harimau itu memandanginya. Mereka menundukkan kepala ketika Ki Ajar kemudian membelai tengkuk keduanya. “Pergi saja ke kebun. Kau mengejutkan tamu-tamuku,” berkata Ki Ajar. Tetapi Manggada berkata, “Jika kedua harimau itu tidak berbahaya, biar saja keduanya berada di halaman, Ki Ajar.” Ki Ajar tersenyum. Ditepuknya harimau itu. Seakan-akan mengetahui maksud orang tua itu, keduanyapun kemudian berjalan perlahan-lahan ke luar halaman dan hilang di dalam semak-semak. Ketika Ki Ajar kemudian duduk bersama mereka, ia berkata, “Maaf, aku sedang menghidupkan api di perapian. Aku sedang merebus air. Si Bongkok nampaknya baru keluar.” “Ki Ajar tidak usah terlalu repot,” berkata Ki Wiradadi. “Aku mempersilahkan kalian singgah. Karena itu, aku harus menyediakan suguhan bagi kalian, meski hanya air,” jawab Ki Ajar yang kemudian berdiri dan masuk lagi ke dalam rumahnya untuk melihat apakah api di perapian tidak padam. Ketika Ki Ajar duduk kembali di serambi, ia berkata, “Tempat ini cukup tersembunyi. Panembahan Lebdagati tidak akan dapat mengetahui kehadiran orang lain di sebelah Hutan Jatimalang, di lereng gunung ini. Dari tempat ini aku sudah cukup lama mengamati apa yang dilakukan oleh Sang Panembahan.” “Apakah Ki Ajar sudah mendapatkan kesimpulan?” bertanya Ki Wiradadi. “Belum kesimpulan akhir,” berkata Ki Ajar. “Tetapi yang terang, Panembahan Lebdagati menganut aliran kepercayaan sesat. Bahkan kadang-kadang tidak dapat disebut sebagai orang yang waras. Ia memang mengorbankan gadis-gadis untuk menemukan inti kekuatan bumi. Nampaknya Lebdagati percaya, bahwa dengan lakunya yang sesat itu ia akan menemukan kekuatan menjadi orang tak terkalahkan. Bukan saja kemampuan ilmunya, tetapi juga pusakanya. Panembahan itu memiliki sebilah keris besar, yang pada tiap bulan purnama harus dicuci dengan darah seorang gadis. Dengan demikian, kepercayaannya yang sesat itu telah membuatnya setiap kali mengorbankan nyawa gadis-gadis yang diambilnya dari balik Hutan Jatimalang.” “Dan Ki Ajar tidak berusaha mencegahnya?” bertanya Laksana. “Bagaimana aku dapat mencegahnya?” sahut Ki Ajar. “Jika aku mendekati induk padepokannya, itu berarti aku akan membunuh diri.” “Jika hal itu telah Ki Ajar yakini, kenapa Ki Ajar tidak melaporkannya ke Pajang? Jika Pajang mengirimkan pasukan segelar sepapan, maka betapapun kuatnya pertahanan Panembahan Lebdagati, padepokannya tentu akan dapat dihancurkan,” berkata Laksana. Ki Ajar tersenyum. Katanya, “Tidak mudah untuk meyakinkan Pajang, bahwa hal seperti ini terjadi balik Hutan Jatimalang.” “Tetapi pada peristiwa terakhir, hilangnya anak perempuan Ki Wiradadi, persoalannya telah dilaporkan kepada prajurit Pajang. Beberapa orang petugas sandi sedang berusaha memecahkan persoalannya. Bagaimana jika Ki Ajar memberikan keterangan kepada mereka, sehingga mempermudah langkah-langkah yang akan diambil oleh para prajurit Pajang itu?” “Soalnya tidak begitu sederhana, anak muda,” berkata Ki Ajar. “Jika prajurit itu datang dan tidak menemukan bukti apapun, bagaimana mereka dapat mengambil tindakan? Jika sepasukan prajurit datang, maka yang akan mereka temui adalah padukuhan-padukuhan sebagaimana padukuhan kebanyakan. Mereka tidak akan menemukan sebuah padepokan dengan sanggar khusus untuk menyerahkan persembahan bagi ilmu sesat mereka. Tidak akan ada alas persembahan, di mana gadis-gadis itu dibaringkan kemudian ditusuk dengan keris itu tepat pada jantungnya. Para prajurit itu tidak akan menemukan apa-apa.” “Tetapi sikap bermusuhan seperti yang dilakukan oleh kelima orang itu, akan dapat dipergunakan sebagai alasan penyelidikan selanjutnya di lingkungan ini,” berkata Laksana pula. Ki Ajar itu tersenyum. Katanya, “Jika yang datang pasukan Pajang, mereka tidak akan menjumpai orang-orang seperti itu.” “Jadi?” desak Laksana. “Yang dijumpai oleh para prajurit Pajang adalah para petani yang bekerja tekun di sawah mereka masing-masing. Mencangkul dan menyiangi tanaman, memperbaiki tanggul dan pematang, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Para prajurit Pajang tidak akan bertemu dengan orang yang bernama Panembahan Lebdagati, meskipun orang yang disebut panembahan itu telah berbincang-bincang dengan para prajurit sebagai seorang petani yang menunggui air di tepi parit,” berkata Ki Ajar. “Licik sekali,” geram Laksana. “Licik dan memang mengerikan,” berkata Ki Ajar. Lalu katanya, “Bagi kalian, anak-anak muda, apa yang terjadi di balik Hutan Jatimalang itu akan dapat memperluas cakrawala penglihatan kalian atas isi dunia ini. Hal yang tidak pernah kalian bayangkan telah terjadi di balik cakrawala penglihatan kalian.” Laksana mengangguk-angguk. Namun yang kemudian berbicara adalah Ki Wiradadi, “Jangankan anak-anak muda itu. Apa yang aku ketahui agaknya masih terlalu sempit. Rasa-rasanya kedatangan kami kemari bagaikan sedang menjenguk peristiwa yang terjadi di balik cakrawala penglihatan kami yang sempit.” “Sudahlah,” berkata Ki Ajar. “Adalah kebetulan bahwa aku berada di sini, sehingga aku dapat menceriterakan kemungkinan-kemungkinan itu.” “Bukan satu kebetulan,” desis Manggada. Ki Ajar mengerutkan keningnya. Anak muda yang seorang ini agaknya memang mampu berpikir lebih tenang dari yang lain. Namun demikian Ki Ajar menjawab, “Agaknya memang gabungan antara kebetulan dan kesengajaan.” Manggada tersenyum. Katanya, “Apapun yang Ki Ajar lakukan, namun Ki Ajar tentu akan dapat mendekatkan kami kepada persoalan yang ingin kami pecahkan.” Ki Ajar mengangguk-angguk. Sementara Ki Wiradadi berkata, “Waktu kita tinggal sedikit. Jika saatnya purnama naik, maka akan ada lagi satu jiwa melayang. Mungkin yang akan mendapat giliran kali ini adalah anak perempuanku.” Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Perbuatan itu memang harus dihentikan. Menurut pendengaranku, keris itu menuntut seratus nyawa untuk menjadikannya pusaka tidak ada duanya di dunia. Jika keris itu ditusukkan untuk keseratus kalinya pada jantung seorang gadis, maka keris itu akan mempunyai tuah yang tidak ada bandingnya. Keris itu akan sanggup melawan semua pusaka yang ada di tanah ini. Termasuk Kangjeng Kiai Pleret.” Terasa bulu tengkuk mereka meremang mendengarkan penjelasan itu. Seratus orang gadis? Benar-benar satu kepercayaan yang bukan saja sesat, tapi gila. Dalam pada itu, Ki Ajar berkata, “Dengan demikian kita tidak boleh tergesa-gesa. Jika selama ini aku sendiri, maka sekarang aku mendapat tiga orang kawan. Tentu satu dukungan yang sangat besar, sehingga pada saatnya aku tidak akan bekerja sendiri.” “Tetapi di hadapan Ki Ajar, ternyata kami masih terlampau kecil untuk dapat ikut membantu. Apa yang dapat kami lakukan di daerah ini, jika Ki Ajar saja merasa banyak mengalami kesulitan?” berkata Manggada. Ki Ajar tertawa. Katanya, “Kau terlalu merendahkan diri. Tetapi kita masih mempunyai kesempatan beberapa hari. Kita dapat membuat perhitungan yang paling baik untuk bertindak.” Namun Ki Wiradadi nampaknya menjadi sangat gelisah. Bagaimanapun juga, anak perempuannyalah yang berada di tangan orang-orang berkepercayaan sesat itu. Ia tidak dapat berpikir begitu tenang seperti Ki Ajar. Tetapi Ki Wiradadi tidak dapat berbuat lebih banyak. Nampaknya medan yang dihadapinya benar-benar sangat berat. Ia tidak akan dapat berbuat dengan tergesa-gesa. Tetapi Ki Wiradadi juga tidak mau berdiam diri hingga ada berita anaknya telah menjadi korban dari ilmu sesat itu. Selagi mereka berbincang di serambi, mereka melihat pembantu Ki Ajar, seorang bongkok dan timpang, memasuki halaman. Dua ekor harimau mengikutinya. Orang bongkok itu berhenti di pintu pagar dan mengusir kedua ekor harimau itu. Nampaknya kedua ekor harimau itu agak malas pergi, sehingga orang bongkok itu harus melemparinya dengan batu. “Kedua ekor harimau itu sangat manja kepadanya,” berkata Ki Ajar. “Apakah orang itu pawang harimau yang dapat menguasai semua harimau, atau hanya kedua ekor harimau itu?” bertanya Laksana. “Hanya kedua ekor harimau itu. Kedua ekor harimau itu bersahabat dengan orang itu sejak bayi, sejak kedua ekor harimau itu ditinggalkan induknya,” berkata Ki Ajar. Ketiga orang tamu Ki Ajar itu mengangguk-angguk. Ki Wiradadi kemudian bertanya, “Siapakah nama pembantu Ki Ajar?” “Aku memanggilnya Si Bongkok. Begitu saja,” jawab Ki Ajar. “Tetapi jika kami menyebutnya demikian, tentu kami telah berbuat tidak sopan. Bagaimanapun juga, ia tentu mempunyai nama atau sebutan,” berkata Ki Wiradadi. Ki Ajar tidak segera menjawab. Dipanggilnya orang bongkok itu, “Bongkok, kemarilah.” Orang bongkok itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun ke serambi. “Aku mempunyai tiga orang tamu,” berkata Ki Ajar. Orang bongkok itu memandangi ketiga orang itu dengan curiga. Ketika matanya singgah pada busur dan anak panah, ia berdesis, “Kalian pemburu-pemburu yang tidak berjantung.” “Bongkok,” potong Ki Ajar, “mereka adalah tamu-tamuku.” “Aku melihat busur dan anak panah ada pada mereka. Mereka tentu pemburu-pemburu yang membunuh binatang tanpa perhitungan. Mereka adalah pemburu-pemburu yang asal saja mendapat banyak kulit berbagai jenis binatang yang dapat dijualnya dengan harga mahal,” geram orang bongkok itu. “Diamlah,” berkata Ki Ajar kemudian. “Bertanyalah kepadaku, siapakah mereka.” Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun Ki Ajar membentak, “Cepat. Bertanyalah kepadaku.” “Siapakah mereka, Ki Ajar?” orang bongkok itu kemudian bertanya. Ki Ajar tertawa. Kemudian menjawab, “Mereka adalah tamu-tamuku. Akulah yang mempersilahkan mereka singgah di gubuk kita ini. Karena itu, kau harus bersikap baik kepada mereka.” “Dimana Ki Ajar bertemu dengan mereka?” bertanya orang bongkok itu. “Di jalan yang menuju ke Padepokan Lebdagati,” jawab Ki Ajar. “Nah, bukankah mereka pemburu yang telah memasuki Hutan Jatimalang dan yang barangkali tersesat sehingga tidak dapat keluar lagi ke arah yang benar?” berkata orang bongkok itu. “Kau jangan memperbodoh orang lain,” berkata Ki Ajar. “Mereka memang pengembara. Mereka tidak begitu mudah tersesat. Apalagi mereka mendapat petunjuk dari kemiringan tanah dan arah puncak gunung itu.” “Jadi, apa yang terjadi atas mereka? Apakah mereka ingin berburu di hutan pegunungan yang mempunyai beberapa jenis binatang berkaki belah, yang tidak dimiliki oleh Hutan Jatimalang?” bertanya orang bongkok itu. “Kemarilah,” suara Ki Ajar menjadi lunak. “Perkenalkan dirimu. Selama ini aku memanggilmu dengan Si Bongkok saja. Tetapi ketika aku sebut nama itu, ketiga tamuku menolak. Mereka merasa diri mereka tidak sopan dengan menyebut cacatmu itu. Karena itu. duduklah, dan sebut namamu. Kemudian kita berbicara tentang tamu-tamu kita serta niat mereka.” Orang bongkok itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia duduk bersama mereka di serambi itu. “Kau dapat mengukur betapa mereka mematuhi unggah-ungguh, meskipun mereka pengembara. Jika bukan mereka, maka aku kira tidak akan berkeberatan untuk memanggilmu dengan cacat punggungmu itu. Karena itu, kaupun harus menempatkan dirimu. Meskipun kau sudah lama tinggal di hutan dan di tempat terpencil seperti ini, kau dahulu juga pernah mengenal unggah-ungguh,” berkata Ki Ajar. Orang bongkok itu mengangguk dalam-dalam. Katanya, “Aku minta maaf, Ki Sanak. Aku sudah terlalu lama tinggal di tempat ini, berkawan binatang, sehingga aku banyak melupakan unggah-ungguh.” “Tidak apa, Ki Sanak,” jawab Ki Wiradadi yang kemudian telah memperkenalkan namanya dan menyebut nama kedua anak muda yang bersamanya itu. Namun akhirnya iapun bertanya, “Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, aku pun ingin tahu, siapakah nama Ki Sanak.” Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun rasa-rasanya memang aneh baginya untuk menyebut namanya yang sudah lama sekali tidak diucapkan. Namun Ki Ajar berkata, “Kau tentu pernah punya nama.” Orang bongkok itu mengangguk. Katanya, “Namaku di masa kecil Pandi, Ki Sanak. Karena aku ompong sejak kecil, aku disebut Pandi Ompong. Bahkan bukan saja aku ompong, tapi cacat tubuhku itu juga terjadi ketika aku terjatuh ke dalam jurang ketika aku berumur sekitar duabelas tahun.” “Kenapa?” bertanya Ki Wiradadi. “Kenakalan anak-anak. Sudah berpuluh kali orang tuaku melarang aku mencari siwalan yang tumbuh di lereng jurang. Tetapi aku dan beberapa orang kawan rasa-rasanya tidak pernah menghiraukannya, sehingga pada suatu hari aku telah terjatuh, langsung masuk ke dalam jurang. Untunglah Yang Maha Agung masih membiarkan aku hidup, meskipun cacat. Namun cacat di tubuhku itulah agaknya yang telah membuat aku mengasingkan diri,” jawab orang bongkok itu. “Baiklah, Ki Pandi,” berkata Ki Wiradadi. “Dengan demikian aku mempunyai sebutan untuk memanggilmu.” Ki Ajar kemudian memberitahukan kepada orang bongkok itu, kenapa orang-orang itu telah melintasi Hutan Jatimalang dan mendaki lereng gunung. Si Bongkok mengangguk-angguk. Katanya, “Untunglah kalian bertemu dengan Ki Ajar. Jika tidak, aku yakin kalian tidak akan dapat menolong gadis itu, dan bahkan kalianpun akan menjadi korban pula.” “Aku mengucapkan terima kasih sekali lagi,” berkata Ki Wiradadi. “Sudahlah,” berkata Ki Ajar. “Yang penting bagi kita, bagaimana kita dapat menembus lingkungan Panembahan Lebdagati itu.” Ki Wiradadi hanya mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Ajar minta Ki Pandi untuk menyelesaikan minuman. “Aku sudah menjerang air,” berkata Ki Ajar. Ketika Ki Pandi masuk ke ruang dalam, Ki Ajar mengajak ketiga orang tamunya untuk berjalan-jalan di halaman rumahnya, melihat-lihat kebun di belakang sambil berbicara tentang kemungkinan yang paling baik yang dapat mereka lakukan. Ternyata di belakang rumah Ki Ajar banyak terdapat tanaman yang dapat menjadi bahan makanan mereka. Ketela pohon dan ketela rambat. Bahkan di lereng gumuk kecil telah ditanami dengan jagung. “Kami juga menanam padi,” berkata Ki Ajar. “Kenapa Ki Ajar tinggal di sini?” bertanya Laksana tiba-tiba. Ki Ajar tersenyum. Katanya, “Di sini aku mendapat ketenangan.” “Tetapi tenaga yang tersimpan di dalam diri Ki Ajar yang seharusnya sangat berarti bagi banyak orang, bagaikan hilang ditelan sepinya lingkungan ini,” berkata Ki Wiradadi. Ki Ajar memandang Ki Wiradadi beberapa saat. Namun kemudian sambil merentangkan tangannya ia berkata, “Hidupku memang sudah tidak banyak berarti lagi.” “Bukannya tidak berarti,” jawab Ki Wiradadi, “tetapi Ki Ajar sendiri tidak memberikan arti, meskipun sebenarnya hidup Ki Ajar akan dapat sangat berarti.” “Sudahlah,” berkata Ki Ajar. “Kita mempunyai masalah yang harus kita pecahkan. Orang-orang yang berkepercayaan sesat itu.” Jantung Ki Wiradadi bergetar. Katanya, “Maaf, Ki Ajar. Aku hampir melupakannya. Nampaknya justru di sini hidup Ki Ajar akan sangat berarti.” “Sudahlah,” ulang Ki Ajar. “Bukan saatnya untuk memuji. Kita memang harus menemukan satu cara yang terbaik. Tetapi kita harus mengakui kenyataan tentang keadaan lawan.” “Ya, Ki Ajar,” desis Ki Wiradadi. Ketiganya kemudian sempat duduk di sebuah batu padas yang besar di kebun belakang rumah Ki Ajar. Dengan nada rendah Ki Ajar berkata, “Kehadiran kalian memang memberikan harapan. Jika semula aku sendiri, sekarang setidak-tidaknya aku menjadi berempat.” “Tetapi kami tidak berarti apa-apa, Ki Ajar,” berkata Ki Wiradadi. “Jangan berkata begitu,” sahut Ki Ajar. “Aku sudah melihat bagaimana kalian menghadapi kelima orang itu. Namun bukankah kalian menyadari, apa yang akan terjadi? Padepokan Ki Lebdagati akan kehilangan lima orangnya. Mustahil bahwa orang dari padepokan Lebdagati meninggalkan lingkungannya dan tidak kembali.” Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Ki Wiradadi berkata, “Kami menyadari, Ki Ajar.” “Nah, bukankah genderang perang sudah dipalu?” bertanya Ki Ajar. Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Wiradadi berkata, “Mungkinkah Panembahan Lebdagati akan menyebar orang-orangnya untuk mencari kelima orang yang hilang itu?” “Ya. Mereka agaknya akan menemukan kuburan itu,” jawab Ki Ajar “Tetapi kuburan itu sama sekali tidak diberi tanda apa-apa. Bagaimana mungkin mereka dapat menemukan di daerah seluas ini?” bertanya Ki Wiradadi. “Mungkin juga tidak,” jawab Ki Ajar. Namun kemudian katanya, “Tetapi mereka akan menemukan tanda-tanda tempat yang dihuni orang, seperti tempat kita ini.” Ki Wiradadi menundukkan kepalanya. Hampir di luar sadarnya ia berkata, “Aku minta maaf, Ki Ajar. Rasa-rasanya kami telah membangunkan Ki Ajar yang sedang nyenyak. Bahkan menghadapkan Ki Ajar pada kesulitan yang dapat berakibat gawat.” “Jangan terlalu sering menyalahkan diri sendiri,” berkata Ki Ajar. “Justru kita harus bersyukur karena kita dapat bertemu dan memiliki tujuan sama, menghancurkan aliran yang sesat itu.” Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Namun ia kemudian berdesis, “Tetapi apakah kita akan dapat ingkar pada kenyataan tentang kemampuan diri sendiri?” Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita masih mempunyai beberapa hari menjelang malam purnama. Kita masih melihat bulan sabit yang tidak lebih dari setebal lidi. Karena itu kita akan mempergunakan waktu sebaik-baiknya.” “Apa yang harus kita kerjakan, Ki Ajar?” bertanya Ki Wiradadi. “Menunggu sampai orang-orang mereka datang kemari. Bahkan kita mengharap akhirnya panembahan itu sendiri datang pula kemari,” jawab Ki Ajar. Ki Wiradadi jadi agak bingung. Karena itu ia bertanya, “Apakah kita menggantungkan penggunaan waktu itu pada mereka? Bagaimana jika mereka baru mencari kita setelah purnama?” Ki Ajar menggeleng. Katanya, “Tidak. Tidak sampai sepuluh hari semuanya akan selesai. Tetapi kita tidak dapat meramalkan akhir dari persoalan ini. Apakah kita berhasil menghancurkan kepercayaan sesat itu atau justru kita yang akan mereka binasakan. Tetapi bukankah itu akibat yang wajar?” “Ya, Ki Ajar,” jawab Ki Wiradadi. “Nah, bagaimanapun juga, ada baiknya kita berusaha. Sebenarnya aku segan untuk mengatakannya. Tetapi apa boleh buat.” Ki Ajar berhenti sejenak, lalu, “Aku ingin menawarkan kepada kalian bertiga untuk sama-sama berlatih. Mungkin akan sangat berarti jika pada suatu saat kita bertemu dengan pengikut Panembahan Lebdagati. Melihat apa yang kalian lakukan menghadapi kelima orang itu, aku berpengharapan kalian dapat melakukan tugas dengan baik jika kalian menyempatkan diri berlatih bersama aku.” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Dari wajah dan sorot mata mereka memancar kegembiraan. Karena dengan demikian, ilmu mereka akan bertambah. Namun yang menjawab adalah Ki Wiradadi, “Kemurahan hati Ki Ajar sangat kami hargai.” “Jika demikian, setelah beristirahat, nanti akan segera kita mulai. Waktu kita tidak cukup banyak,” berkata Ki Ajar. Demikianlah, sejenak kemudian, mereka telah berada di serambi gubuk itu lagi. Ternyata yang dihidangkan oleh orang bongkok, yang bernama Ki Pandi Ompong, bukan hanya minuman, tapi juga jagung bakar yang masih hangat. “Marilah,” Ki Ajar mempersilahkan. Hidangan itu menyenangkan hati Manggada dan Laksana. Sebenarnyalah mereka sudah merasa lapar. Seperti yang dikatakan Ki Ajar setelah beristirahat secukupnya, mereka lantas pergi ke lereng bukit kecil. Ternyata Ki Ajar telah membuat sanggar terbuka yang cukup luas, meskipun di atas lantai yang agak sulit karena sebagian miring, berpuntuk-puntuk kecil, berlubang-lubang dan berbatu-batu padas runcing. “Aku tidak dapat membuat sanggar yang memenuhi syarat,” berkata Ki Ajar. “Tapi ini justru sanggar terbuka yang bagus sekali,” desis Manggada. “Di sini kita dapat berlatih dengan cara yang jauh lebih baik dari sebuah sanggar tertutup yang sempit dan miskin dari kemungkinan-kemungkinan yang menguntungkan seperti ini. Biasanya lantai sanggar dibuat rata, halus dan bahkan diatur sebaik-baiknya. Tempat lompatan yang bagus dan sudah dihaluskan agar kaki kita tidak tergores, tali-tali yang telah ditata serta kotak-kotak pasir yang terawat, justru kurang memberi keleluasaan.” Ki Ajar hanya tersenyum sambil menjawab, “Jika aku mampu, akupun akan membuat sanggar yang terawat agar kita lebih mampu mensiasati ruangan sempit. Namun nampaknya yang ada inipun cukup memadai.” “Justru lebih menguntungkan,” sahut Manggada. Ki Ajar hanya tersenyum. Kemudian ia mulai bersiap-siap melakukan latihan. Tetapi sebelumnya, Ki Ajar berkata, “Aku mohon maaf. Sebelum latihan dimulai, aku ingin tahu seberapa jauh puncak kemampuan kalian. Aku sudah melihat kalian bertempur, sehingga aku sudah mempunyai ancar-ancar. Namun aku masih ingin meyakinkannya.” Demikianlah, Manggada dan Laksana kemudian melakukannya lebih dahulu. Berdua mereka bersama-sama melakukan latihan olah kanuragan. Mereka saling menyerang dan menghindar, desak-mendesak dan saling menekan. Dalam latihan yang nampaknya seperti sungguh-sungguh itu, Ki Ajar memang melihat bahwa ilmu Manggada nampak lebih dewasa dari Laksana. Namun demikian, Manggada yang umurnya lebih tua sedikit agak menahan diri, sehingga mereka berdua nampaknya berada pada lapisan yang sama. “Terima kasih,” berkata Ki Ajar setelah ia merasa cukup. Kemudian katanya, “Aku mohon maaf, Ki Wiradadi. Mudah-mudahan Ki Wiradadi tidak tersinggung karenanya.” “Tentu tidak,” berkata Ki Wiradadi. Seperti terhadap kedua anak muda tadi, Ki Ajar memperhatikan unsur-unsur gerak ilmu Ki Wiradadi. Pada Ki Wiradadi, Ki Ajar melihat pengalaman yang jauh lebih luas dari kedua anak muda itu. Namun yang pada dasarnya, alas ilmu kedua anak muda itu lebih tinggi dari Ki Wiradadi. Meskipun demikian, selisih itu tidak terlalu banyak. Sementara pengalaman Ki Wiradadi dapat menutup kekurangannya. “Terima kasih,” berkata Ki Ajar. “Dengan demikian, kita tahu dari mana akan memulai latihan. Yang penting, kita harus meningkatkan ilmu yang memang sudah ada pada diri kita. Jika kita menyadap jenis ilmu yang lain, memerlukan waktu untuk melihat apakah ilmu yang baru dan ilmu yang telah ada di dalam diri kita tidak saling berbenturan.” “Kita menyerahkan segalanya pada kebijaksanaan Ki Ajar,” berkata Ki Wiradadi sambil mengusap peluhnya. Ternyata Ki Ajar adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Setelah memperhatikan kemampuan ketiga orang itu, ia mampu menentukan satu patokan untuk memulai latihan. Ia sama sekali tidak memberikan pengetahuan, apalagi ilmu baru. Ia hanya memacu orang itu untuk dapat melepaskan kekuatan dan kemampuan mereka berdasarkan ilmu yang telah mereka miliki. Ternyata latihan-latihan itu sangat menarik bagi Manggada dan Laksana. Sementara Ki Wiradadi yang umurnya telah melambat tua, tidak dapat maju sepesat Manggada dan Laksana. Namun demikian, Ki Wiradadi tetap mendapatkan kemajuan yang berarti. Seakan-akan tenaganya jadi semakin kuat, dan daya tahan tubuhnya seakan bertambah. Sementara itu, Manggada dan Laksana yang dinyatakan telah mewarisi segenap ilmu guru mereka dengan tuntas, namun sulit mengembangkannya, seolah-olah mendapatkan jalan. Pengalaman mereka memang mampu mengembangkan ilmu mereka, meski hanya sekedarnya. Apalagi pengalaman mereka yang masih terlalu sedikit. Namun atas petunjuk dan tuntunan Ki Ajar, ilmu mereka berkembang dengan cepat. Unsur-unsur gerak yang lebih mereka kuasai menemukan bentuk perkembangannya, sehingga mereka menguasai ilmu yang semakin luas. Mereka pun telah mendapat petunjuk dari Ki Ajar, apa yang sebaiknya mereka lakukan dalam keadaan yang sangat mendesak dengan ilmu yang ada pada mereka. Sejak saat itu ketiganya menetap di pondok Ki Ajar. Mereka mulai bergaul lebih akrab dengan Ki Pandi Ompong yang cacat. Mereka bertiga pun mulai berkenalan dengan sepasang harimau yang menjadi piaraan Ki Ajar. Sesekali ketiga orang itu dikejutkan auman dahsyat pasangan harimau itu. Seakan-akan keduanya sedang bertempur dengan garangnya. Ketika mereka menghampiri, ternyata Ki Pandi sedang bermain-main dengan kedua ekor harimau itu. Ia seolah tengah melatih kedua ekor harimau itu untuk berkelahi lebih baik daripada sekedar menggantungkan naluri. Dan ternyata pasangan harimau itu mampu, sebagaimana Manggada dan Laksana mampu mengembangkan kemampuan dasar yang telah mereka miliki. Demikianlah, dari hari ke hari mereka tenggelam dalam latihan-latihan, sehingga kemampuan mereka benar-benar berkembang. Suatu hari, selagi Ki Ajar, Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana duduk beristirahat di serambi setelah melakukan latihan yang melelahkan, Ki Pandi datang dengan tergesa-gesa. Nafasnya terengah-engah dan keringat mengembun di keningnya. “Ada apa, Bongkok?” bertanya Ki Ajar. “Aku melihat lima orang berkeliaran di seberang gumuk kecil itu,” jawab Ki Pandi bergetar. “Biar saja. Kenapa? Bukankah gumuk itu masih agak jauh?” bertanya Ki Ajar. Ki Pandi Ompong yang bongkok itu, termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Bagaimana jika mereka sampai ke tempat ini?” “Kita akan mempersilahkan mereka duduk,” berkata Ki Ajar. “Tetapi sudah tentu mereka tidak akan kami persilahkan meninggalkan tempat ini.” Orang Bongkok itu nampaknya masih belum puas dengan jawaban Ki Ajar. Namun Ki Ajar berkata, “Baiklah. Awasi mereka. Bawa kentongan. Jika kau perlukan kami, pukul kentongan itu” Orang bongkok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan mengamati mereka.” Demikian orang bongkok itu bergerak, di semak-semak di luar pagar, nampak dua ekor harimau berlari-lari menjauh. “Bongkok,” berkata Ki Ajar, “hati-hati dengan harimau itu. Kendalikan mereka agar mereka tidak mendahului kita.” “Baiklah, Ki Ajar,” jawab Ki Pandi. Sejenak kemudian Ki Pandi telah meninggalkan serambi gubuk itu sambil menggapai kentongan kecil yang tergantung di sudut. Beberapa saat kemudian orang bongkok itu hilang di balik pohon-pohon perdu, menyusul kedua ekor harimaunya. Sepeninggal Ki Pandi, Ki Ajar berdesis, “Nampaknya mereka sudah mulai. Sementara itu saat bulan purnama menjadi semakin dekat. Kalian telah memanfaatkan waktu yang pendek ini dengan meningkatkan ilmu kalian. Sebaliknya aku berterus-terang tentang ilmu kalian. Aku sangat mengagumi Manggada dan Laksana. Dalam waktu singkat, kalian berdua telah mampu meningkatkan ilmu kalian pada tataran yang jauh lebih tinggi. Bahkan di luar dugaanku sendiri. Bekal yang kalian bawa adalah bekal yang telah mapan, sehingga dengan sedikit pengembangan, kalian jadi perkasa. Kalian telah mencapai tataran puncak dalam pengerahan tenaga cadangan, yang ada dalam diri kalian. Kalian telah menguasai segala unsur olah kanuragan. Meskipun pada dasarnya unsur-unsur itu adalah hasil yang dilahirkan oleh perguruanmu. Namun dengan pengembangannya, maka segala persoalan dalam olah kanuragan akan dapat diatasi. Sedangkan Ki Wiradadi, yang telah mencapai masa-masa pertengahannya, memang tidak dapat maju sejauh kedua anak muda itu. Tetapi kemampuan Ki Wiradadipun telah memadai. Pisau-pisau kecil yang kalian bawa akan memberikan perlindungan kepada kalian bertiga. Pedang kalian akan dapat melindungi kalian pula dari senjata lawan, sekaligus akan mampu menghancurkannya. Akupun tidak berkeberatan kalian membawa busur dan anak panah serta keris. Mungkin semuanya akan memberi arti tersendiri, karena kalian akan menghadapi lawan yang jauh lebih banyak jumlahnya.” Ki Wiradadi dan kedua orang anak muda itu mengangguk hormat. Ki Wiradadi memang sudah merasa, bahwa keterbatasannya, serta umurnya yang sudah menjadi semakin tua, telah menjadi hambatan yang sulit untuk diatasinya dalam meningkatkan ilmu. Namun demikian, setelah beberapa hari itu, terasa beberapa kemajuan pada ilmunya. Rasa-rasanya tangannya menjadi semakin terampil untuk menggerakkan senjatanya. Kekuatan atas dukungan tenaga cadangannyapun menjadi semakin besar. Namun ia menyadari sepenuhnya, bahwa laju perkembangan ilmunya tidak akan dapat menyamai kedua anak muda yang memang sedang tumbuh itu. Apalagi ia memang merasa bahwa alas kemampuannyapun ada di bawah kemampuan kedua anak muda itu. Dalam pada itu, Ki Ajar berkata, “Mulai saat ini, kita harus mulai melakukan persiapan seperlunya. Nampaknya Panembahan Lebdagati sudah mulai dengan perburuannya. Ia mulai menyadari, bahwa beberapa orang pengikutnya telah hilang. Sementara itu, ia harus segera mulai melakukan persiapan menjelang malam purnama itu.” Ketiga orang yang diajaknya berbincang itu mengangguk-angguk. Bahkan Ki Wiradadipun nampak menjadi semakin gelisah. Ia sadar, bahwa semakin dekat malam purnama, berarti semakin dekat saat-saat yang menentukan bagi anak gadisnya, apabila anak itu masih hidup. Ki Ajar agaknya melihat kegelisahan itu. Lalu katanya, “Kita akan berusaha sejauh dapat kita lakukan, Ki Wiradadi. Karena itu, jangan cemas. Kita percaya bahwa Yang Maha Agung akan menuntun kita dalam pekerjaan yang berat ini.” Ki Wiradadi mengangguk-angguk kecil. “Nah, nanti malam kita akan mulai,” berkata Ki Ajar. Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana tiba-tiba memandang wajah Ki Ajar dengan kerut di dahi. Sementara Ki Ajar mengulanginya, “Ya. Nanti malam kita harus mulai. Kita akan melihat-lihat medan yang akan kita hadapi.” Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Katanya dalam nada rendah, “Terima kasih, Ki Ajar. Ternyata bahwa Ki Ajar telah memberikan pertolongan yang sangat berharga bagi kami. Terutama bagiku, karena kedua anak muda inipun pada dasarnya telah menolongku pula.” “Sudahlah. Kita mempunyai kepentingan yang sama. Kita tidak akan membiarkan kepercayaan yang sesat itu semakin berkembang dan mencengkam lingkungan ini. Bahkan seluruh tanah yang kita cintai ini.” Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Katanya, “Bagaimanapun juga aku merasa bahwa aku telah berhutang budi.” Ki Ajar tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil bangkit dari tempat duduknya dan berkata, “Aku akan melihat, barangkali air telah mendidih. Kita akan minum wedang sere hangat dengan gula kelapa.” Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam, sementara Ki Ajar masuk ke dalam, menuju dapur. Hampir di luar sadarnya Ki Wiradadi berkata pada diri sendiri, “Malam nanti kita akan mulai. Kita tinggal mempunyai beberapa malam lagi.” Manggada menyahut, “Kita sudah melakukan persiapan yang lebih baik, Ki Wiradadi. Dalam waktu yang pendek ini, ternyata bekal kita telah bertambah hampir dua kali lipat.” “Ya. Mudah-mudahan Yang Maha Agung memberikan jalan kepada kita,” berkata Ki Wiradadi. Beberapa saat kemudian, mereka masih sempat minum minuman panas. Namun kemudian, orang bongkok itu telah datang lagi. Tidak tergesa-gesa seperti sebelumnya. “Bagaimana dengan orang-orang itu?” bertanya Ki Ajar setelah orang bongkok itu ikut duduk di serambi. “Mereka telah naik, Ki Ajar,” jawab orang bongkok itu. “Naik kemana?” bertanya Laksana. Ki Ajar tersenyum. Katanya, “Orang-orang yang menuju ke arah puncak gunung itu, kita sebut naik.” Laksana mengangguk-angguk. Sementara Ki Ajar berkata selanjutnya, “Malam nanti, kita pun akan naik.” “Bagus,” sahut Laksana. “Aku ingin melihat apa yang ada di atas. Bukankah kita naik ke atas?” Ki Ajar tertawa. Katanya, “Ya. Kita akan naik semakin ke atas dari kaki gunung ini. Kita akan menjumpai beberapa padukuhan yang terasing dari pergaulan hidup sewajarnya. Orang-orang yang menganggap bahwa Panembahan Lebdagati adalah pemimpin mereka yang tertinggi. Mereka tidak mengenal Kangjeng Sultan serta para pemimpin yang lain. Bahkan mereka menganggap bahwa dunia ini dibatasi oleh Hutan Jatimalang, kecuali beberapa orang tertentu yang sudah mendapat kepercayaan untuk menyeberangi hutan. Selain untuk mengambil gadis-gadis, mereka juga mencari garam dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat mereka hasilkan sendiri. Mereka tidak memerlukan bahan pakaian dari luar. Beberapa orang telah dapat menenun sendiri. Padi telah mereka tanam, gulapun telah mereka sadap sendiri dari batang-batang kelapa yang terhitung banyak disini.” Yang mendengarkan keterangan Ki Ajar mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan, justru karena orang-orang di belakang Hutan Jatimalang ini dapat memenuhi sebagian besar dari kebutuhan mereka sendiri, maka mereka dapat membatasi hubungan mereka dengan orang-orang di luar lingkungan mereka. Justru itulah yang menjadi sangat menarik bagi Manggada dan Laksana, di samping usaha mereka untuk membebaskan anak gadis Ki Wiradadi. Dengan demikian, maka mereka menggunakan sisa hari itu untuk beristirahat. Menjelang senja, mereka bersiap-siap untuk melakukan pengamatan. Sementara Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana sibuk mempersiapkan diri, Ki Pandi menyiapkan makan malam sebelum mereka berangkat. Demikianlah, setelah makan malam, mereka berlima meninggalkan gubuk kecil itu. Ki Pandi ternyata telah diminta oleh Ki Ajar untuk ikut serta. Melalui jalan yang rumit, perjalanan mereka mulai. Agak tersendat. Terutama Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana yang belum terbiasa melalui jalan-jalan lereng terjal, di tanggul yang licin dan di antara semak-semak, meskipun di langit nampak bulan bersinar tetapi belum bulat. Mereka masih juga terkejut ketika tiba-tiba saja muncul seekor harimau dari semak-semak di sebelah mereka lewat, disusul oleh seekor yang lain. Namun mereka segera menyadari, bahwa kedua ekor harimau itu tentu harimau jinak yang dipelihara oleh Ki Pandi. Kendati keduanya adalah harimau jinak, Ki Pandi telah berhasil menggelitik naluri keduanya, sehingga seakan-akan harimau itu menjadi lebih cerdik dari harimau-harimau yang lain. Keduanya mampu bergerak secara naluriah, lebih cepat dan lebih mapan. Merekapun mampu memanfaatkan senjata yang ada pada diri mereka, lebih baik dari seekor harimau liar. Oleh Ki Pandi, kedua ekor harimau itu telah dilatih bergerak lebih cepat, lebih lama dan lebih kuat. Meskipun kelima orang itu harus melalui jalan yang sulit, tetapi akhirnya mereka dapat mencapai tempat yang lebih baik. Meskipun tanahnya juga miring, tetapi mereka dapat berjalan dengan mudah dan tidak berbahaya. Meskipun demikian, kelima orang itu tidak berjalan melalui jalan yang memanjat naik. Mereka telah berjalan di antara pohon-pohon perdu. Di langit bulan sudah terang, meski belum bulat. Justru karena itu Ki Wiradadi menjadi semakin gelisah. Beberapa saat kemudian, mereka telah melampaui beberapa padukuhan kecil, yang nampak sepi di ujung malam. Tidak ada gardu bagi para peronda. Tidak ada obor di regol, dan tidak ada orang berjaga di waktu malam. “Mereka tidak memerlukannya,” berkata Ki Ajar. “Di daerah ini memang tidak ada kejahatan dalam arti pencurian, perampokan dan sebagainya. Yang ada kesesatan, karena pemimpin mereka adalah penganut kepercayaan sesat.” “Dan pembunuhan,” Ki Wiradadi melanjutkan. “Itu adalah akibat dari kepercayaan mereka,” sahut Ki Ajar. Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Akibat kepercayaan sesat itu. Tapi itu justru lebih berbahaya dari sekedar pencurian dan perampokan.” “Tentu,” jawab Ki Ajar. Lalu katanya, “Pada saatnya, para pemimpin padepokan melakukan sebagaimana dilakukan pimpinan tertinggi mereka. Satu-satu mereka jadi bertuah. Mereka akan membunuh gadis-gadis di saat purnama penuh, sampai jumlah yang ditentukan. Memang lebih sedikit dari yang dilakukan panembahan gila itu, tapi mungkin dua tiga orang melakukan bersama-sama. Itu berarti kematian menjadi semakin banyak di padepokan ini.” “Daerah ini memang harus dibebaskan dari kepercayaan sesat itu,” berkata Ki Wiradadi. Mereka kemudian terdiam karena harus menuruni lereng rendah yang curam. Kemudian mereka menelusuri lekuk berkelok-kelok. Si Bongkok yang berjalan di depan agaknya sudah mengenali tempat itu dengan baik. Karena itu, ia berjalan tanpa ragu-ragu. Ketika mereka kemudian memanjat naik, mereka tiba di tepi padang rumput yang tidak terlalu luas. “Berhati-hatilah,” desis Ki Pandi. Merekapun menjadi sangat berhati-hati. Mereka masih belum sepenuhnya berada di atas tanggul. Kepala-kepala mereka sajalah yang tersembul, dibayangi rerumputan yang tumbuh liar di pinggir padang itu. “Apa itu?” bertanya Laksana ketika melihat bangunan kecil di tengah padang rumput itu. Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Pandi berdesis, “Jangan terlalu keras.” “Tidak ada orang,” sahut Laksana. Tetapi Manggada menggamitnya sambil berkata perlahan, “Kita memang harus berhati-hati. Jika Ki Pandi yang sudah terbiasa di tempat ini meminta kita untuk berhati-hati, tentu bukan sekedar untuk menakut-nakuti kita.” Laksana tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil. “Bangunan itulah tempat untuk menyerahkan korban,” berkata Ki Ajar kemudian. Ki Wiradadi menjadi tegang. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita harus menghancurkan bangunan itu.” “Jangan sekarang,” berkata Ki Ajar. “Jangan tergesa-gesa. Jika mereka menyadari bahwa akan terjadi gangguan berarti saat mereka akan menyerahkan korban, mereka akan mengambil langkah-langkah pengamanan. Mungkin mereka akan memindahkan tempat menyerahkan korban. Mungkin mereka akan mengerahkan semua orang untuk menjaga pelaksanaan korban agar tidak terganggu. Tetapi mungkin juga, menjelang korban itu diserahkan, daerah ini akan dijelajahi sampai sudut-sudut yang belum pernah mereka jamah. Sementara itu, nasib gadis yang akan dikorbankan akan terancam.” “Jadi bagaimana?” bertanya Ki Wiradadi. “Jika saja kita berhasil mengetahui dimana gadis itu disimpan,” berkata Ki Ajar hampir kepada diri sendiri. “Tidak mungkin untuk dilakukan,” berkata Ki Pandi. “Kenapa?” bertanya Ki Wiradadi. “Gadis itu disimpan di padukuhan induk dan dijaga serta diawasi dengan ketat. Tidak ada orang yang dapat masuk ke dalamnya selain orang-orang tertentu. Di padukuhan induk itu terdapat tempat-tempat pemujaan. Setelah melalui beberapa upacara di tempat pemujaan itu, mereka membawa korban ke tempat penyerahan korban untuk dibunuh. Tepat di saat bulan bulat dan berada di puncak langit,” jawab Ki Ajar. Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha menekan kegelisahannya sampai ke dasar jantung. Namun bagaimanapun juga, Ki Wiradadi nampak sangat gelisah. “Bongkok,” berkata Ki Ajar perlahan-lahan, “lihat, apakah tidak seorang pun di sekitar padang ini. Kau jangan sendiri. Biarlah anak-anakmu itu melakukannya.” Ki Pandi mengangguk kecil. Ia kemudian memberi isyarat pada kedua ekor harimaunya. Dengan bahasa khusus yang hanya dimengerti oleh orang bongkok dan kedua ekor harimau itu, Ki Pandi telah melepaskan kedua ekor harimaunya untuk memasuki padang. Ketika kedua ekor harimau itu berlari-lari kecil di bawah cahaya bulan yang semakin terang di padang, Ki Pandi berdesis, “Hati-hatilah.” Kedua ekor harimau itu kemudian menelusuri padang rumput itu. Mereka menuju ke bangunan yang tidak lebih dari setumpuk batu yang dibuat sebagai satu pembaringan besar dan lebih tinggi dari pembaringan biasa. Tangga batu yang mengelilinginya, agaknya menjadi tempat pemimpin upacara berdiri, kemudian mengangkat pusakanya tinggi-tinggi sebelum diayunkan ke arah jantung korbannya. Dua kali harimau itu mengelilingi bangunan batu itu yang nampaknya tidak terjaga. Kemudian keduanya mendekati padukuhan yang ada di seberang padang rumput itu. Nampaknya padukuhan itu dipergunakan untuk membuat perlengkapan upacara mereka, menyimpan berbagai macam peralatan dan tempat menyelenggarakan persiapan-persiapan. Namun dalam pada itu Ki Pandi berkata, “Menjelang dikorbankan, gadis-gadis ditempatkan di padukuhan itu. Di tempat itu mereka dirias sebagaimana merias pengantin. Pakaian yang dipergunakannyapun adalah pakaian pengantin pula.” Ki Wiradadi mengangguk-angguk kecil. Betapa dadanya bagaikan terguncang-guncang. Sementara itu Ki Ajar pun berkata, “Kita harus tahu pasti, dimana gadis itu dirias. Di rumah yang mana dan sejak kapan.” “Aku sudah pernah menyaksikan,” berkata Ki Pandi. “Tetapi waktu itu kita belum kuasa mencegahnya. Kita masih terlalu lemah. Kita hanya berdua. Sementara kedua ekor harimau itu belum mapan seperti sekarang. Jika saat itu kita bertindak, maka kitapun akan menjadi korban pula, sehingga kita tidak akan berhasil menghentikan tindakan mereka untuk seterusnya.” Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Saat itu kita hanya dapat mengusap dada. Tetapi aku tidak berani menyaksikannya. Si Bongkok itulah yang sempat melihat apa yang terjadi.” “Sebulan yang lalu?” bertanya Ki Wiradadi. “Jangan sebutkan itu lagi,” minta Ki Ajar. “Kau tentu berkata dalam hati, bahwa kami membiarkan hal itu berulang kali terjadi. Tetapi sebenarnyalah kami mempergunakan waktu-waktu kami untuk mencari jalan bagaimana kami dapat mencegah hal itu terjadi. Kedatangan kalian telah memberikan harapan kepada kami untuk melakukannya, meskipun kemungkinan lain dapat terjadi. Justru kemungkinan yang sangat pahit bagi kita.” Ki Wiradadi tidak bertanya lagi. Ia menyadari bahwa Ki Ajar sudah cukup tersiksa oleh keadaan. Ia melihat sesuatu yang harus dicegahnya, tapi nalarnya mengatakan bahwa berdua saja ia tidak akan dapat melakukannya. Sementara itu, Ki Wiradadi tidak tahu apakah orang bongkok itu juga mampu membantu Ki Ajar dalam benturan ilmu dengan para pemimpin padepokan itu. Ki Ajar kembali berkata, “Sekarang kita tengadahkan wajah kita. Kita akan mencegah hal seperti itu terjadi selanjutnya.” Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Namun terasa jantungnya bagaikan ditusuk duri jika ia membayangkan, berapa orang tua yang kehilangan anak gadisnya yang dibaringkan di atas pembaringan batu itu, kemudian ditusuk di arah jantungnya sampai mati. Tetapi Ki Wiradadi tidak bertanya sesuatu. Sementara itu, nampak di cahaya bulan dua ekor harimau Ki Pandi telah datang kembali. Keduanya langsung menemui Ki Pandi. Nampak keduanya memberikan isyarat kepada Ki Pandi yang bongkok itu, bahwa keduanya tidak menjumpai seseorang pun. Baik di sekitar bangunan batu itu, maupun di padukuhan. “Kita dapat mendekat,” berkata Ki Pandi kemudian, setelah menjelaskan isyarat yang diberikan oleh kedua ekor harimaunya. Dengan demikian, kelima orang itu telah berjalan melintasi padang rumput dalam siraman cahaya bulan, menuju ke padukuhan di seberang. Namun mereka sempat melihat bangunan batu yang ada di tengah-tengah padang rumput itu, yang ternyata dibuat oleh tangan-tangan yang memiliki ketrampilan memahat batu. “Sebuah candi kecil,” desis Laksana. “Ya. Di atasnya korban diletakkan, kemudian ditusuk sampai mati. Darah dari dada korban itu akan mengalir membasahi permukaan bangunan kecil itu,” desis Ki Ajar. Lalu katanya, “Memang mengerikan.” Ki Wiradadi memalingkan wajahnya. Ia selalu membayangkan hal itu terjadi atas anak gadisnya. Karena itu, Ki Ajar yang mengetahui isi hati Ki Wiradadi telah melanjutkan langkahnya menuju ke padukuhan. Namun tiba-tiba langkah mereka tertegun. Ternyata padukuhan itu diputari dinding yang cukup tinggi. Sedangkan regol padukuhan itu tertutup rapat. “Bongkok,” desis Ki Ajar, “regol itu tertutup. Bagaimana kedua ekor harimaumu dapat mengatakan bahwa di padukuhan ini tidak ada orang?” Orang bongkok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Harimau dungu. Yang dimaksud tentu di luar padukuhan itu. Tetapi kita tidak dapat memastikan, apakah di dalam padukuhan itu ada orang atau tidak.” Ki Ajar termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia justru memberikan isyarat agar mereka lebih melekat dinding dan berhenti di bawah bayangan yang gelap. Terlindung dari cahaya bulan yang hampir bulat di langit. “Apa yang harus kita lakukan?” bertanya Si Bongkok. “Kita akan memasuki padukuhan itu,” berkata Ki Ajar. “Meloncat dinding?” bertanya Si Bongkok pula. “Ya. Tetapi kita harus berusaha melindungi diri kita dari kemungkinan yang paling buruk. Setidak-tidaknya, mengurangi kemungkinan itu,” berkata Ki Ajar. “Aku tidak tahu maksud Ki Ajar,” jawab orang bongkok itu. “Aku akan mempergunakan ilmu sirep. Jika ada orang di padukuhan itu, maka ia akan tertidur. Asal bukan para pemimpin dari padepokan raksasa ini,” berkata Ki Ajar. “Aku kira, seandainya di padukuhan itu ada orang, mereka tentu sekedar orang yang berjaga-jaga menjelang saat jatuhnya waktu untuk menyerahkan korban,” sahut orang bongkok itu. “Tetapi bukan para pemimpinnya.” Ki Ajar mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya kepada Ki Wiradadi, dan kedua anak muda yang menyertainya, “Aku minta bantuan kalian, agar ilmu sirepku dapat menguasai seluruh padukuhan ini. Tetapi kalian harus berusaha untuk membebaskan diri dari pengaruh sirep itu, dengan kekuatan jiwani, agar kalian tidak malah tertidur di sini.” Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana mengangguk. Mereka mengerti bahwa mereka terutama harus menjaga diri mereka sendiri, agar pengaruh sirep itu tidak mencengkam mereka sebagaimana orang-orang padukuhan itu. Dengan nada rendah Ki Wiradadi berkata, “Aku mengerti, Ki Ajar.” Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Ajar telah memusatkan nalar budinya untuk melepaskan ilmu sirepnya. Udara tiba-tiba bergetar, memancarkan ilmu Ki Ajar yang menyebar ke seluruh padukuhan. Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana berusaha untuk mengatasi kekuatan ilmu sirep itu, sehingga mereka tidak kehilangan kesadaran mereka. Baru beberapa saat kemudian, Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata, “Mudah-mudahan ilmuku mencapai sasarannya. Tetapi jika ada seorang pemimpin yang berilmu tinggi di padukuhan ini, maka ia akan segera tahu, bahwa di atas padukuhan ini telah ditaburkan kekuatan ilmu sirep.” “Ki Ajar memiliki tingkat ilmu yang tinggi. Hanya dengan mengerahkan segenap daya tahan, aku dapat mengatasi pengaruh sirep ini,” berkata Ki Wiradadi. “Sudahlah,” berkata Ki Ajar. “Kita akan memasuki padukuhan ini.” “Bagaimana dengan aku?” bertanya si bongkok itu. “Kau ikut kami. Biarlah kedua ekor harimau itu menunggu di luar,” berkata Ki Ajar. Dengan sangat berhati-hati, orang-orang itu meloncati dinding dan memasuki lingkungan padukuhan yang suram. Tidak banyak terdapat obor di luar rumah. Hanya beberapa nampak menerangi jalan induk dan regol-regol terpenting. Bangunan-bangunan yang terdapat di padukuhan itu bukan bangunan-bangunan biasa. Bukan rumah-rumah yang dihuni oleh keluarga-keluarga, sebagaimana padukuhan-padukuhan di seberang Hutan Jatimalang. Yang terdapat adalah sedikit bangunan untuk kepentingan khusus. Kelima orang yang memasuki padukuhan itu kemudian berjalan mengelilingi padukuhan. Ternyata bahwa padukuhan itu memang tidak kosong. Tetapi yang mereka ketemukan adalah orang-orang yang telah tertidur nyenyak di serambi-serambi bangunan yang ada di padukuhan itu. Seperti yang mereka duga, di padukuhan itu terdapat sebuah bangunan induk yang lebih besar dari bangunan-bangunan yang lain. “Marilah kita melihat apa isinya,” berkata Ki Ajar. “Baik, Ki Ajar,” jawab Ki Wiradadi. Dengan melangkahi beberapa sosok tubuh dari para penjaga yang tertidur nyenyak, mereka berhasil mendekati pintu bangunan induk itu. Dengan hati-hati pula Ki Ajar mendorong pintu sehingga terbuka. Ternyata di ruang dalam bangunan itu terdapat berbagai macam alat yang akan dipergunakan pada upacara korban, di saat bulan bulat. Di belakang ruang itu terdapat sebuah sentong yang nampaknya dipergunakan untuk merias korban. “Di sinilah korban itu disiapkan,” desis Ki Ajar. Ki Wiradadi menggeram. Tetapi hatinya menjadi semakin gelisah. Ia semakin membayangkan kehadiran anak perempuannya di rumah itu menjelang kematiannya. Beberapa lama mereka mengamati tempat itu. Ditelitinya setiap pintu dan lorong-lorong yang ada di rumah itu dan sekitarnya. Longkangan yang agak luas, seketheng yang berpintu, dan dinding-dinding yang rendah. “Kita telah melihat tempat ini,” berkata Ki Ajar. “Kita akan dapat membuat perhitungan-perhitungan yang mapan. Jangan meninggalkan bekas di sini, sehingga tidak terjadi perubahan adat dan upacara. Jika mereka mengetahui bahwa rencana mereka telah diketahui orang lain, atau semacam kecurigaan seperti itu, maka tentu akan terjadi perubahan-perubahan yang mungkin akan menyulitkan kita.” Ki Wiradadi mengangguk. Katanya, “Agaknya tidak terdapat jejak kita di sini, selain saksi dari orang-orang yang telah tertidur itu.” Ki Ajar mengangguk. Katanya dengan nada rendah, “Mudah-mudahan mereka masing-masing merahasiakan kelemahan mereka. Jika diketahui mereka telah tertidur ketika bertugas, maka mereka akan dihukum.” Ki Wiradadi masih saja mengangguk-angguk. Kemudian terdengar ia berdesis, “Kita berdoa, mudah-mudahan kita tidak akan gagal.” “Marilah,” berkata Ki Ajar kemudian. “Kita tinggalkan tempat ini. Kita akan dapat menyusun rencana. Jika datang saatnya, kita harus sudah dapat menyusun rencana terperinci, sehingga kita tinggal melaksanakan saja, meskipun dengan taruhan nyawa kita.” Ki Wiradadi tidak menjawab. Tetapi ia mengikuti Ki Ajar keluar dari rumah itu. Pintunya telah ditutup kembali dengan tertib, sebagaimana sebelum mereka buka. Dengan pengenalan yang cermat atas padukuhan itu, maka kelima orang itu telah meninggalkan padukuhan. Dua ekor harimau si bongkok masih tetap berada di tempatnya. Merekapun kemudian mengikuti si bongkok, melintasi padang yang tidak terlalu luas itu, dan kembali hilang di balik pohon-pohon perdu. Ternyata kedatangan mereka berlima itu memang tidak berbekas. Ketika kekuatan sirep itu perlahan-lahan semakin longgar dan beberapa orang mulai terbangun, maka kelima orang itu telah berada di tempat yang jauh. Dalam pada itu, melalui jalan berbelit sebagaimana saat mereka berangkat, mereka telah sampai ke gubuk kecil Ki Ajar. Namun di sisa malam itu, mereka tidak sempat beristirahat. Mereka telah berbicara panjang tentang langkah-langkah yang akan mereka ambil. Sebelum mereka kehilangan gambaran tentang padukuhan itu, mereka telah mencocokkan kesan mereka satu dengan yang lain, sehingga dengan demikian mereka akan dapat menyusun rencana sebaik-baiknya. Ki Ajar setiap kali telah menekankan, bahwa rencana mereka akan dilaksanakan dengan taruhan nyawa mereka. “Kita berhadapan dengan satu kekuatan yang besar,” berkata Ki Ajar. Ki Wiradadi menunduk dalam-dalam. Setiap kali ia memang dihadapkan pada simpang jalan yang sulit untuk dipilihnya. Di satu jalan ia merasa berkepentingan sekali untuk membebaskan anaknya, apapun yang terjadi, namun di jalan lain ia tidak sampai hati mengorbankan anak-anak muda itu, jika mereka gagal. “Apakah aku harus mengorbankan dua orang anak muda yang memiliki masa depan cerah itu bagi anak perempuanku?” pertanyaan itu selalu bergejolak di dalam dadanya. Namun setiap kali ia digoncang keragu-raguan itu, seakan-akan Ki Ajar mengetahuinya. Demikian juga Manggada dan Laksana, sehingga mereka telah menyatakan sikap mereka masing-masing. “Jika Ki Wiradadi masih saja ragu-ragu sampai saat terakhir, maka rencana kita akan kabur,” berkata Manggada. Lalu katanya pula, “Kita harus melaksanakan rencana kita dengan mantap dan tanpa ragu-ragu. Setiap keragu-raguan akan dapat menghambat langkah-langkah kita, yang justru akan dapat berakibat sangat buruk.” “Kau benar, anak muda,” sahut Ki Ajar. “Kita harus melakukannya dengan mantap.” Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Kemudian dengan suara berat ia berkata, “Baiklah. Kita memang tidak boleh ragu-ragu.” “Bagus,” desis Ki Ajar. “Kita sudah menentukan pola langkah kita. Sebelum berangkat, kita akan dapat mengulanginya sambil mengisi bagian-bagian yang lebih kecil dari rencana itu.” “Mudah-mudahan kita berhasil. Mudah-mudahan rencana kita sesuai dengan kenyataan yang kita hadapi di medan,” sahut Manggada. “Kita memang harus menyiapkan rencana cadangan,” desis Ki Ajar. Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Ajar melanjutkan, “Jika rencana kita gagal, maka yang harus kita lakukan kemudian adalah meninggalkan upacara itu, dan kemudian menghilang. Kita harus mengulanginya lagi jika penyerahan korban itu tetap akan dilakukan kemudian. Kita tidak tahu, apakah jika malam purnama mereka gagal menyerahkan korban, akan dapat dilakukan malam berikutnya. Namun penundaan waktu itu memberi kesempatan kepada kita untuk berpikir.” Memang tidak ada cara lain yang dapat mereka tempuh. Karena itu, mereka menetapkan bahwa langkah itulah yang dapat mereka ambil untuk mengatasi rencana mereka jika gagal. Dengan demikian, yang dapat mereka lakukan kemudian adalah menunggu. Menunggu bulan bulat di langit. Untuk menghilangkan kejemuan menunggu, Manggada dan Laksana mengasah kemampuan mereka. Meskipun tidak mungkin meningkatkan ilmu mereka hanya dalam dua hari, namun seakan-akan mereka mampu mempertajam ujung kemampuan mereka menghadapi keadaan yang khusus itu. Ketika malam kemudian datang, maka bulan rasa-rasanya sudah bulat. Ki Wiradadi bahkan menjadi gelisah. Jika mereka salah menghitung hari, dan malam itu adalah malam purnama, maka anaknya malam itu tentu sudah dibaringkan di atas tempat upacara, di tengah-tengah padang rumput itu. Untuk menenangkan perasaan Ki Wiradadi, maka mereka telah menelusuri lagi jalan yang rumit untuk sampai ke tepi padang rumput itu. Mula-mula mereka memang terkejut. Di padang rumput itu ternyata telah banyak orang. Obor telah terpasang, meskipun baru beberapa. [=AkhirBuku04=]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: