ammc-1

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 14/06/2010 at 19:57  Comments (49)  

The URI to TrackBack this entry is: https://cersilindonesia.wordpress.com/ammc-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

49 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nomer SIDJI !!!

    • Sugeng Sonten Ki Ismoyo, Kisanak sedoyo !!

      • Sugeng ndalu..
        Nomor pinten..

        Sanajan gambare rodo kabur tetap nunggu kelanjutane…hikss…

        • nomer NOL-NOL sidji

          diGODA-tergoda unduhan ARYA
          MANGGADA…..he-he-heee !!!!

        • Bahan kuno Ki, hampir setengahnya dari 29 jilid photo copy-an, ada yang kulitnya photo copy tapi isinya asli, dan sebaliknya….yang penting bacaannya….he he he.

          • Maturnuwun, Ki Ismoyo
            Dalemannya masih asli dan belum ada tato nya..

            hiks..

          • ki ISMOYO mesem :

            “EMBUH-ah” belom
            sempat nginceng,

            sek, nunggu wektu Loang….!!!

          • gambare kupu-kupu apa tatto manuk pe****ut…hiks.

  2. Terlihat potongan wawancara penyiar TV dengan Ariel Manggada dan Lu** Ma**, di TV Wan kemudian terdengar suara penyiarnya:

    Saksikan rekaman selengkapnya hanya di TV ini..

    Hiks… rekaman yang mana ya?

    • rekaman KAMERA-wan deket blumbang TiPi-wan

      isi-nya :
      Selamat Malam Indonesia (TTalisa) ha-haaaa

    • iki judule aril luna ya ki xixixi….

      • Hi hi hi..sugeng ndalu Ki Is, Ki Mukidi, Ki Yudha, Ki Menggung Karta, Ki Bejo…

        • Lho Ki Anatram, di NZI siaran langsungnya bukan lebih banyak ?

          • lebih banyak,lebih terang
            lebih…hihiii !!!

            Bu Polwan NZ bilang,
            cari yang terang ae yang
            KABUR gak usah disuimpan.

            siap nDan…!!!

          • Bahkan malah bisa diteliti….pake helm apa belum !

          • Ssst,….helm-nya
            dipake ni NN ning
            sebelah…he-heee

          • He..??…helm-e njenengan ??….

          • bukan ki,

            niNN pinjem
            helm kiATdJ
            xixixi…!!

  3. matur nuwun ki….

  4. matur nuwun ki…

  5. hadir …….

  6. Matur nuwun Ki Ismoyo.

  7. asyiiiik…….

  8. isi daftar hadir….
    pagi yang cerah di ibukota…!!!
    semoga membawa berkah buat semua..!!!!!!!

    esem’mu….ta’ ente’ni…..

  9. ki ISMOYO bilang :
    “Bahan kuno Ki, hampir setengahnya dari
    29 jilid photo copy-an, ada yang kulitnya
    photo copy tapi isinya asli,….!!”

    cantrik manthuk-manthuk :
    tambah KUNO tambah TEROSO ki, semaken
    langka semaken INDAH….ha-ha-haaa !!

    • cantrik HADIR ki….antri wedaran awal
      “ammc-01”

    • Semangkin kenthal santennya….

      • santen punopo MADU ki,

        jadi-ne gini :
        semangken AseLi MADUne
        semangken angel peresane

        hikss,….”embuh-ah”

  10. gabung…

  11. “teka-teki cantrik padepokan” nambah
    komen diGenDHak anyar….!!!

    1.Ikan apa yang kepalanya gede badannya
    kuuuecil….??

    2.Kenapa turun dari kendaraan harus kaki
    kiri dulu….??

    monggo,

    • hikss,
      matur nuwun ki ISMOYO,…cantolan
      rontal diGembol ki Menggung KartO

    • 1. Welut..lele..kuthuk..cebong..
      2. Karena kalo kanan dulu itu..baris

      • Matur nuwun Ki Ismoyo…digemboli welut..eh…rontal !

    • yen sirah disik, kejungkel ki…

      • he-he-heee…..bener ki,

        yen sirah disik, kejungkel ki…!!
        yen irung disik, nyungsep ki….!!

        yen ki Karto disik, kanca-kanca
        ne ra bakal kebagian….xixixiii

        • hikss…padahal kulo nomer SIDJI..

        • sirah disik = kejungkel
          irung disik = nyungsep
          sikil disik = kepleset
          tangan disik = kesleo
          helm disik = “kecelakaan”

  12. matur nuwun ki Ismoyo
    sampun ngudhuh ammc-1..

    nglajengaken lampah dateng gandhok ammc-2

  13. ditunggu yg selanjutnya….

  14. Sugeng sonten….

    nderek sowan Ki Is… langsung unduh. matur nuwun sanget.

  15. matur nuwun ki absen langsung unduh

  16. ndherek ngunduh ki.
    matur nuwun.

  17. nderek nggih

  18. SHM-AMMC
    BUKU 01

    LANGIT bersih ketika matahari mulai turun ke balik cakrawala. Satu-satu bintang mulai nampak memancar. Namun senja menjadi semakin gelap.
    Dua orang anak muda justru berjalan menyusup memasuki sebuah hutan yang lebat. Keduanya tanpa ragu-ragu menerobos kegelapan, di antara pohon-pohon raksasa yang tumbuh di antara semak-semak yang pepat.
    Sudah menjadi kebiasaan mereka berdua, dalam saat-saat tertentu mereka memasuki hutan yang lebat untuk berburu. Tidak seperti yang dilakukan oleh kebanyakan pemburu. Keduanya tidak terlalu tegang menghadapi binatang-binatang hutan yang mungkin justru menyerang lebih dahulu sebelum diburu. Bahkan binatang yang paling buas sekalipun.
    Seperti biasanya, keduanya berada di dalam hutan hampir semalam suntuk. Mereka sama sekali tidak merasa terganggu oleh gelapnya malam. Penglihatan mereka yang terlatih menjadi seakan-akan lebih tajam dari penglihatan orang kebanyakan. Seolah-olah penglihatan mereka dapat menembus kegelapan yang betapapun pekatnya. Dibantu oleh ketajaman penglihatan batin mereka, maka mereka seakan-akan tidak ubahnya berjalan di siang hari.
    Lewat tengah malam keduanya telah berhasil menangkap seekor harimau loreng yang besar. Kedua anak muda itu telah berhasil membunuh binatang itu dengan pisau di tangan masing-masing, sebagaimana sering mereka lakukan. Meskipun kedua anak muda itu terluka pula di tubuh mereka, namun mereka seakan-akan tidak merasakan betapa pedihnya.
    Menjelang dini hari kedua anak muda itu telah memasuki regol halaman rumah mereka. Rumah yang sederhana, meskipun nampak lengkap. Sebuah pendapa yang tidak begitu besar, pringgitan dan rumah yang sebenarnya. Di belakang terdapat sebuah longkangan kecil. Kemudian sebuah bangunan lagi yang dipergunakan sebagai dapur. Di sebelah dapur terdapat kandang sepasang lembu yang biasa dipergunakan untuk bekerja di sawah dan pategalan.
    Ketika mereka memasuki longkangan lewat pintu butulan yang diselarak dari dalam, namun sedemikian sehingga kedua anak muda itu dapat membuka dari luar, maka merekapun mendapati dapur itu masih sepi. Perapian masih belum menyala dan belum ada orang yang menjerang air.
    “Kita datang lebih pagi dari pekan yang lalu,” berkata seorang di antara kedua orang anak muda itu.
    “Ya. Nampaknya kita memang lebih cepat berhasil hari ini,” sahut yang lain.
    “Kita sempat beristirahat sebentar,” gumam yang pertama.
    Yang lain tidak menjawab. Namun setelah meletakkan tubuh harimau hasil buruan mereka di longkangan, maka merekapun telah membaringkan diri di sebuah amben bambu yang agak besar di dapur.
    Ternyata kedua anak muda yang letih itu telah tertidur.
    Ketika mereka terbangun, mereka melihat perapian telah menyala dan airpun telah dijerang. Namun mereka tidak melihat seorangpun yang berada di dapur. Sementara itu, langitpun mulai menjadi terang oleh cahaya pagi yang mulai memancar dari ujung timur.
    Meskipun mereka tidak melihat siapapun di dapur, tetapi kedua anak muda yang sebaya itu tahu benar, siapakah yang telah menyalakan api di perapian dan siapakah yang telah menjerang air.
    Karena itu, maka kedua anak muda itupun telah pergi ke pakiwan untuk membersihkan diri dan untuk selanjutnya melakukan kewajiban mereka masing-masing.
    Baru ketika matahari mulai memanjat semakin tinggi, anak-anak muda itu mulai menguliti hasil buruan mereka. Yang terpenting dari hasil buruan itu adalah justru kulitnya. Setiap kali ada pedagang yang lewat melalui padukuhan itu untuk mencari bermacam-macam barang yang dapat dibelinya dan dijualnya kembali di kota-kota yang ramai. Antara lain adalah kulit harimau. Pedagang itu biasanya tidak memilih. Harimau loreng, harimau tutul atau harimau hitam lekam yang sering terdapat di dahan-dahan pepohonan. Satu jenis harimau yang disebut harimau kumbang yang dapat memanjat pepohonan, sehingga harimau kumbang termasuk harimau yang berbahaya.
    Agaknya tidak seperti biasanya, menjelang tengah hari, maka kedua anak muda itu telah dipanggil menghadap oleh Ki Citrabawa, ayah dari salah seorang anak muda yang berburu harimau itu.
    “Kemarilah, Laksana,” panggil Ki Citrabawa.
    Laksana, anaknya, termangu-mangu sejenak. Sementara itu ayahnya berkata, “Ajak Manggada bersamamu.”
    Laksana mengangguk. Iapun kemudian memanggil Manggada untuk bersamanya menghadap Ki Citrabawa.
    “Kita selesaikan dulu kulit harimau ini,” sahut Manggada.
    “Ayah memanggil kita sekarang,” berkata Laksana.
    Manggada mengerutkan keningnya. Ia merasakan sesuatu yang lain. Namun dengan demikian, maka Manggadapun merasa bahwa pamannya itu tentu mempunyai kepentingan yang mendesak.
    Karena itu, maka Manggadapun kemudian telah meletakkan pekerjaannya, membersihkan diri dan kemudian menghadap pamannya bersama adik sepupunya, Laksana.
    “Marilah, duduklah,” berkata Ki Citrabawa.
    Kedua anak muda itu pun telah duduk menghadap di sebuah amben yang besar. Keduanya menundukkan kepala ketika mereka melihat wajah Ki Citrabawa nampak bersungguh-sungguh.
    “Anak-anakku,” berkata Ki Citrabawa, “aku berbangga bahwa kalian mempunyai ketrampilan yang tinggi setelah kalian menempa diri dengan ilmu kanuragan. Kalian berhasil berburu harimau dengan cara yang khusus, sehingga kalian mempunyai kemampuan berburu melampaui pemburu yang manapun juga.”
    Kedua anak muda itu masih menundukkan kepalanya. Namun mereka merasa bahwa tekanan kata-kata Ki Citrabawa itu agak berbeda dari kebiasaannya.
    Sementara itu Ki Citrabawa melanjutkan, “Bahkan kalian berdua mampu menangkap dan membunuh seekor harimau tanpa senjata apapun. Kalian jarang sekali mempergunakan pisau yang kalian bawa. Hanya dalam keadaan yang terpaksa dan gawat sajalah kalian mempergunakan pisau kalian.” Ki Citrabawa berhenti sejenak. Karena kedua anak muda itu masih saja menundukkan kepalanya, maka Ki Citrabawa-pun berkata selanjutnya, “Aku tahu, bahwa kulit harimau yang utuh, tidak ada bekas tusukan senjata yang dapat melubangi kulit, harganya lebih mahal daripada kulit harimau yang telah cacat.”
    Kedua anak muda itu masih saja berdiam diri sambil menunduk.
    “Meskipun demikian,” berkata Ki Citrabawa selanjutnya, “ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kalian. Jika kalian meneruskan pekerjaan kalian berburu harimau, maka pada suatu saat apa yang kau lakukan itu akan dapat mengganggu keseimbangan alam.”
    Hampir berbareng kedua anak muda itu mengangkat wajahnya. Sementara itu Ki Citrabawa berkata selanjutnya, “Dari hari ke hari jumlah harimau akan semakin susut jauh lebih cepat dari putaran alam itu sendiri. Sehingga pada suatu saat, maka jumlah harimau menjadi jauh dari mencukupi untuk berlangsungnya keseimbangan alam di dalam hutan itu.”
    Kedua anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun Laksanalah yang bertanya kepada ayahnya, “Jadi, apakah kita harus membiarkan saja jumlah harimau bertambah tanpa hitungan, sehingga membahayakan para petani? Bukan saja ternak yang hilang, tetapi pernah terjadi, petanilah yang telah diterkam oleh harimau.”
    “Tentu tidak,” berkata Ki Citrabawa. “Tetapi juga tidak dibenarkan membunuh harimau tanpa hitungan seperti yang kalian lakukan. Kalian memang mendapat uang cukup untuk memenuhi bukan saja kebutuhan kalian, tetapi juga membantu meringankan kebutuhan kami sekeluarga. Tetapi aku minta kalian menghentikan pembunuhan-pembunuhan itu. Aku kira apa yang kalian lakukan telah cukup.”
    Kedua anak muda itu tidak yakin akan pendengarannya. Namun Ki Citrabawa mengulanginya, “Harimau itu adalah harimau terakhir yang kau bunuh.”
    Kedua anak muda itu termangu-mangu. Namun Ki Citrabawa telah mengatakannya. Mereka tidak lagi diperkenankan berburu harimau. Namun Ki Citrabawapun berkata, “Tetapi bukan berarti bahwa kalian harus membiarkan saja jika kalian melihat seorang petani diterkam oleh seekor harimau. Bagaimanapun juga dalam keadaan yang demikian, nyawa petani itu memang harus diselamatkan. Jika perlu, dengan terpaksa sekali, kalian memang harus membunuh harimau itu.”
    Anak-anak muda itu sama sekali tidak menyahut. Mereka tidak berani membantah perintah itu. Bagi kedua anak muda itu, Ki Citrabawa bukan saja ayah dan paman mereka. Tetapi Ki Citrabawa adalah guru mereka.
    Untuk beberapa saat kedua anak muda itu tertunduk diam. Terbayang masa-masa yang panjang tanpa kesibukan. Mereka hanya melakukan pekerjaan mereka sehari-hari sebagaimana orang lain melakukannya. Bangun pagi-pagi, menyapu halaman, mengisi jambangan di pakiwan, pergi ke sawah dan mencari kayu bakar.
    Agaknya Ki Citrabawa dapat membaca perasaan kedua anak muda itu. Katanya, “Anak-anak muda, aku mengerti, bahwa kalian menginginkan sesuatu yang dapat memberikan kesibukan kepada kalian. Tetapi berburu harimau tidak ada bedanya dengan pergi ke sawah. Apa yang kalian lakukan hari ini, tidak ubahnya dengan apa yang kalian lakukan pekan yang lalu, pekan sebelumnya, dan hari-hari sebelum itu.”
    Kedua anak muda itu tiba-tiba saja telah tersentuh hatinya. Ketika keduanya mengangkat wajahnya, maka Ki Citrabawa berkata, “Agaknya memang sudah datang waktunya bagi kalian untuk memandang dunia ini dari jarak yang lebih dekat.”
    “Maksud Paman?” tiba-tiba saja Manggada bertanya.
    “Anak-anak,” suara Ki Citrabawa merendah, “kalian sudah cukup lama berada di padukuhan ini.”
    “Aku memang anak padukuhan ini, Ayah,” sahut Laksana.
    Ki Citrabawa tersenyum. Katanya, “Baiklah. Menurut pendapatku, kalian telah cukup menimba pengetahuan di padukuhan ini. Kalian telah mempelajari berbagai macam tatanan kehidupan. Kalian telah mempelajari berbagai macam pengetahuan termasuk kesusastraan sejauh jangkauanku, karena aku sendiri adalah seorang yang berpendidikan rendah. Dan kalian juga mempelajari ilmu kanuragan. Jika kalian tetap berada disini, maka ilmu kalian tidak akan berkembang. Aku telah memberikan dasar pengetahuanku dengan tuntas. Kalian harus mengembangkannya sendiri, sehingga justru pada suatu saat, ilmu kalian akan melampaui ilmuku. Tentu saja dengan perkembangannya yang kalian padukan dengan pengalaman kalian sendiri.”
    Kedua anak muda itu saling berpandangan sejenak. Secercah cahaya membayang di wajah anak-anak muda itu. Mereka mengerti maksud Ki Citrabawa, bahwa yang dikatakan itu adalah isyarat bahwa mereka diperkenankan untuk menempuh perjalanan, meninggalkan padukuhan itu untuk mengenal lingkungan baru.
    Sementara itu Ki Citrabawa berkata selanjutnya, “Namun segala sesuatunya terserah kepada kalian. Apakah kalian memiliki keinginan untuk melihat suasana di luar padukuhan ini atau tidak. Jika kalian sudah merasa puas melihat ujung ke ujung padukuhan ini, sawah dan ladang serta pategalan dan hutan di seberang padang perdu, maka akupun tidak akan memaksa kalian keluar dari padukuhan ini.”
    Kedua anak muda itu menjadi berdebar-debar. Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri. Namun kemudian Manggada memberanikan diri untuk berkata, “Paman, jika benar Paman mengijinkan kami menempuh satu perjalanan, karena kewajiban kami disini sudah selesai, maka sebenarnyalah aku ingin melihat kampung halamanku. Aku memang sudah rindu kepada ayah dan ibu.”
    Ki Citrabawa tersenyum. Katanya, “Tentu saja kau boleh mengunjungi ayah dan ibumu. Bahkan seandainya kalau belum menyelesaikan kewajibanmu disini untuk mempelajari berbagai macam ilmu sekalipun, jika kau ingin, kau boleh pulang untuk waktu tertentu. Apalagi sekarang, kau sudah menyelesaikannya, meskipun hanya sejumput kecil karena memang hanya itu yang dapat aku berikan kepada kalian. Semisal air di dalam mangkuk, semuanya sudah aku tuang sampai kering.”
    “Terima kasih, Paman,” desis Manggada. “Dengan demikian, maka aku ingin mohon ijin untuk pulang. Sebenarnyalah aku sudah ingin sekali bertemu dengan ayah dan ibu serta melihat kampung halamanku.”
    Ki Citrabawa belum sempat menjawab ketika Laksana memotong, “Ayah, aku boleh ikut Kakang Manggada bukan?”
    Ki Citrabawa memandang anaknya dengan kerut di kening. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam.
    “Bukankah Ayah mengatakan bahwa aku sudah terlalu tua untuk tetap berada di padepokan ini? Ketika aku masih anak-anak, bahkan menjelang remaja, aku pernah mengunjungi rumah paman. Tetapi itu sudah lama. Bahkan sejak Kakang Manggada berada disini, aku belum pernah mengunjunginya lagi,” berkata Laksana.
    Ki Citrabawa tidak melarang anaknya untuk pergi. Tetapi iapun masih berkata, “Kau harus minta ijin dahulu kepada ibumu.”
    “Ayah sajalah yang mengatakannya,” jawab Laksana. “Jika aku sendiri yang minta ijin itu kepada ibu, maka ibu akan melarangnya.”
    Ayahnya tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan mengatakannya kepada ibumu.”
    Demikianlah, betapapun beratnya, namun akhirnya Nyi Citrabawa terpaksa melepaskan anaknya pergi meninggalkan padukuhan bersama dengan Manggada. Sebagaimana seekor anak burung yang telah ditumbuhi bulu-bulu pada sayapnya, terbang meninggalkan sarangnya untuk terbang berputar menjenguk batas cakrawala.
    Sebagaimana anak-anak muda yang untuk pertama kalinya akan menempuh perjalanan tanpa orang tuanya atau orang lain yang lebih tua, maka mereka harus mempersiapkan diri mereka sebaik-baiknya.
    Di malam hari menjelang keberangkatan kedua anak muda itu, Ki Citrabawa suami isteri telah memberikan banyak sekali pesan kepada mereka. Meskipun setiap kesempatan keduanya selalu memberikan petunjuk-petunjuk bagi hari-hari yang bakal mereka lalui.
    “Menurut perhitungan lahiriah, maka masa depan kalian masih panjang. Jangan kau sandarkan masa depan kalian kepada orang lain. Tetapi kalian mempunyai kebebasan untuk menentukannya. Namun kebebasan kalian bukan kebebasan yang mutlak.”
    Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari, bahwa ada kekuasaan yang berada di luar kemampuan penalaran manusia.
    Akhirnya saat itupun tiba. Kedua anak muda itu telah bersiap untuk berangkat meninggalkan rumah Ki Citrabawa. Kedua orang suami isteri itu melepaskan anak dan kemanakannya di regol halaman, sementara beberapa orang pembantu rumah itupun ikut pula melepas mereka.
    Sanggar di halaman samping rumah itu akan menjadi sepi.
    Nyi Citrabawa berusaha untuk bertahan agar matanya tidak menjadi basah. Ia harus melepas anak dan kemanakannya itu dengan wajah yang cerah, agar anak dan kemanakannya yang akan menempuh perjalanan itu, tidak terpengaruh karenanya.
    “Kapan kalian pulang?” bertanya Nyi Citrabawa dengan suara yang agak bergetar.
    “Setelah kami membuktikan kepada Ayah dan Ibu, apa yang telah aku dapatkan di rumah Paman ini,” jawab Manggada.
    Pamannya tersenyum. Dengan nada lembut ia berkata, “Itulah yang aku cemaskan. Kalian tidak perlu menunjukkan kepada siapapun tentang apa yang telah kalian dapatkan disini. Kalian tidak perlu mencari sasaran pembuktian itu, karena ilmu yang kalian pelajari bukan ilmu yang harus kalian pamerkan kepada siapapun juga. Bukankah kau ingat pesan itu?”
    “Ya, ya, Paman,” suara Manggada menjadi gagap.
    “Nah, mumpung masih pagi, berangkatlah,” berkata Ki Citrabawa.
    Setelah mencium tangan Nyi Citrabawa, anak dan kemanakannya itupun telah melangkah meninggalkan rumah yang selama itu menjadi tempat mereka berteduh di panasnya matahari dan di basahnya hujan yang tertumpah dari langit.
    Meskipun sudah lama mereka lakukan, tetapi kedua anak muda itu pernah menempuh perjalanan dari rumah Ki Citrabawa sampai ke rumah kakak Ki Citrabawa itu, ayah Manggada yang tinggal tidak terlalu jauh dari batas kota Pajang. Perjalanan yang akan mereka tempuh selama dua hari dua malam.
    Kedua anak muda itupun menyadari, bahwa mereka harus bermalam dua malam di perjalanan. Memang mereka dapat memperpendek perjalanan mereka jika mereka berjalan cepat dan tidak terlalu sering berhenti. Tetapi kedua anak muda itu memang memutuskan untuk berjalan seenaknya saja dan tidak akan memaksa diri jika mereka merasa letih.
    Beberapa saat kemudian, maka kedua anak muda itu telah keluar dari padukuhan. Mereka mulai memandang ke seberang bulak panjang di hadapan mereka. Hampir setiap hari mereka berjalan melewati jalan itu jika mereka pergi ke sawah. Namun rasa-rasanya jalan itu masih belum banyak mereka kenal justru pada saat mereka akan menempuh perjalanan jauh.
    Beberapa orang kawan-kawan mereka yang mereka temui di sepanjang jalan selalu bertanya, mereka akan pergi kemana?
    “Aku akan menengok ayah dan ibu,” jawab Manggada. Jawaban yang diucapkan sebanyak pertanyaan yang diterimanya.
    Namun ketika mereka mulai melintasi padukuhan demi padukuhan, maka merekapun telah memasuki lingkungan yang benar-benar hampir tidak pernah mereka lalui. Jika mereka pernah melewati jalan itu, maka itu sudah lama sekali mereka lakukan.
    Sementara itu, mataharipun telah melintasi puncaknya dan perlahan-lahan turun di sebelah barat.
    “Apakah kita akan berjalan terus?” bertanya Laksana.
    “Maksudmu?” bertanya Manggada.
    “Aku mulai merasa lapar,” jawab Laksana.
    Manggada tersenyum. Katanya, “Maksudmu kita akan berhenti di sebuah kedai?”
    Laksana justru tertawa. Katanya, “Apakah kau tidak lapar? Lihat, matahari mulai turun.”
    “Baiklah. Kita singgah sebentar.”
    Keduanyapun kemudian mulai memperhatikan bangunan-bangunan yang ada di pinggir jalan. Mungkin mereka akan menjumpai sebuah kedai yang memadai untuk melepaskan haus dan lapar.
    Di sebuah padukuhan yang agak besar, mereka memang mendapatkan sebuah kedai yang besar di simpang empat di jalan induk padukuhan itu.
    “Kita singgah sebentar di kedai itu,” desis Laksana.
    Manggada mengangguk. Desisnya, “Mudah-mudahan masakannya cukup sesuai dengan seleraku.”
    Laksana tertawa. Tetapi ia tidak menjawab lagi.
    Keduanyapun kemudian telah memasuki kedai itu. Beberapa orang telah ada di dalamnya pula. Mereka nampaknya sedang sibuk dengan makanan dan minuman masing-masing, sehingga mereka tidak menghiraukan Manggada dan Laksana, yang kemudian duduk di sudut.
    Beberapa saat kemudian keduanyapun telah menghadapi masing-masing semangkuk minuman panas dan semangkuk nasi serta kelengkapannya.
    “Nampaknya pemilik kedai ini seleranya cukup baik,” berkata Laksana.
    Manggada tertawa. Katanya, “Ya. Aku sependapat.”
    Namun sebelum mereka sempat makan sampai separonya, tiba-tiba suasana yang tenang di dalam kedai itu berubah. Beberapa orang telah bangkit. Tergesa-gesa membayar dan meninggalkan kedai itu.
    Manggada dan Laksana masih saja termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi. Karena itu, maka mereka masih tetap berada di tempatnya.
    Dalam pada itu, seorang yang sudah melampaui pertengahan abad dengan tergesa-gesa lewat di dekat keduanya sambil berbisik, “Anak-anak muda, tinggalkan kedai ini. Yang datang itu adalah orang yang berbahaya.”
    “Kenapa?” bertanya Laksana.
    “Ia adalah orang yang merasa dirinya berkuasa disini,” jawab orang itu sambil meninggalkan kedai itu dengan tergesa-gesa lewat pintu samping. Namun di luar dinding masih terdengar orang itu berkata, “Bukankah kau orang asing disini?”
    Manggada menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini.”
    Tetapi Laksana justru telah berbisik, “He, kebetulan sekali. Bukankah kita belum pernah mencoba kemampuan kita? Selama ini kita telah berlatih dengan sungguh-sungguh mempergunakan kemampuan kita untuk, menangkap harimau dan binatang buruan yang lain. Tetapi kita belum pernah membenturkan kekuatan dan kemampuan ilmu kita dengan kekuatan yang sebenarnya dari ilmu yang lain.”
    “Bukankah paman mengatakan bahwa hal itu tidak perlu?” berkata Manggada.
    “Tetapi apa gunanya kita berlatih bertahun-tahun jika kita sekali-kali tidak mencoba mempergunakannya?” bertanya Laksana.
    “Kita harus menurut perintah guru,” jawab Manggada. “Kita tidak perlu menyombongkan diri.”
    “Kita tidak menyombongkan diri. Kita berlaku wajar saja. Tetapi jika orang itu memperlakukan kita justru tidak wajar, maka kita tidak akan lari,” jawab Laksana.
    “Tetapi kita sudah berniat berbuat sesuatu untuk menunjukkan kemampuan kita,” desis Manggada.
    Tetapi nampaknya Laksana tidak sependapat dengan Manggada. Sehingga katanya, “Duduk sajalah. Kita tidak berbuat apa-apa. Jika mereka juga tidak berbuat apa-apa atas kita, maka tidak akan terjadi apa-apa.”
    Manggada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi seperti adik sepupunya, maka Manggadapun tidak beranjak dari tempatnya.
    Orang yang telah memberikan peringatan kepada kedua anak muda itu memang menunggu dari agak jauh. Namun ia menjadi berdebar-debar, karena ia tidak melihat kedua anak muda itu keluar pada saat empat orang bertubuh tinggi tegap dan berwajah garang telah berdiri di pintu kedai itu.
    “Anak-anak yang keras kepala,” desis orang yang telah berumur lebih dari setengah abad itu.
    “Ada apa?” bertanya seorang kawannya yang juga telah meninggalkan kedai itu.
    “Dua orang anak muda itu masih berada di dalam kedai. Keduanya tidak tahu, bahwa keempat orang itu tidak senang jika masih ada orang lain di dalam kedai yang mereka masuki,” jawab orang yang sudah separo baya itu.
    “Anak-anak itu tidak tahu,” jawab kawannya. “Tetapi dilihatnya kurang baik bagi keduanya.”
    “Aku sudah membisikkan kepada mereka. Tetapi karena aku sendiri tergesa-gesa, maka aku kira keduanya tidak mendengar jelas, sehingga keduanya tidak meninggalkan tempatnya,” berkata orang yang sudah separo baya itu.
    Kawannya mengangguk-angguk, namun keduanya nampak menjadi semakin cemas ketika keempat orang itu memasuki kedai yang baru saja mereka tinggalkan.
    Pemilik kedai itupun menjadi berdebar-debar. Ia memang tidak sempat memberitahukan kepada kedua orang anak muda yang masih ada di dalam kedai itu. Sehingga karena itu, maka kedainya masih belum kosong sepenuhnya.
    Keempat orang itupun kemudian duduk di dua amben bambu yang berhadapan. Sedangkan di antara dua amben bambu itu terdapat sebuah geledeg bambu yang rendah untuk meletakkan berbagai macam makanan yang tersedia di dalam warung itu.
    Namun demikian mereka mulai duduk, maka perhatian mereka mulai tertuju kepada Manggada dan Laksana yang nampaknya memang tidak menghiraukan mereka berempat. Mereka masih saja makan dan sekali-sekali meneguk minuman mereka.
    Keempat orang itu berpandangan sejenak. Seorang di antara mereka kemudian telah memberi isyarat kepada pemilik kedai itu untuk mendekat.
    Dengan ragu-ragu pemilik kedai itu melangkah mendekati keempat orang yang berwajah garang itu. Jantungnya memang terasa berdegupan semakin cepat. Pemilik kedai itu telah mengenal sifat dan watak keempat orang yang memasuki kedainya itu.
    Demikian pemilik kedai itu mendekat, maka iapun ditarik oleh salah seorang di antara keempat orang itu dan dipaksanya duduk di dekatnya.
    Rasa-rasanya jantungnya memang akan terlepas. Dengan tegang ia duduk sambil menundukkan kepalanya.
    “Kau mengenal kami?” bertanya orang yang menariknya duduk.
    “Ya, ya, Kiai,” jawab orang itu gagap.
    “Jika demikian, kenapa tidak kau lakukan kebiasaan yang telah berlaku untuk waktu yang lama di kedaimu ini? Kami tidak mau terganggu oleh orang lain di kedai ini. Kami tidak mau melihat wajah-wajah jelek dan kotor dari siapapun juga,” geram orang itu.
    “Ya, ya, Kiai,” jawab pemilik kedai itu semakin ketakutan.
    “Nah. Kali ini aku berbaik hati dengan memberi kesempatan kepada kedua tikus-tikus kecil itu untuk pergi. Aku dan kawan-kawanku hari ini justru sedang menunggu tamu-tamu kami yang terhormat. Kaupun harus merasa mendapat kehormatan, bahwa kedaimu telah kami pilih untuk menerima tamu kami itu,” berkata orang itu. “Tetapi kaupun harus menyesuaikan diri dengan mempersiapkan diri kedai ini sebaik-baiknya.”
    “Baik, baik, Kiai,” jawab pemilik kedai itu.
    Orang yang dipanggil Kiai itupun mengangguk-angguk. Katanya, “Cepat, lakukan sebelum tamu-tamuku itu datang.”
    Pemilik kedai itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan jantung yang berdebaran iapun telah bangkit dan melangkah mendekati Manggada dan Laksana yang tidak menghiraukan apa yang telah terjadi itu.
    Sebenarnyalah bahwa keempat orang yang memasuki kedai itupun merasa heran melihat sikap kedua anak muda yang sama sekali tidak menghiraukan kehadiran mereka. Mungkin kedua orang itu memang bukan orang yang pernah singgah di kedai itu, dan tidak mengetahui apa yang biasa mereka lakukan. Tetapi bahwa keduanya nampak acuh tidak acuh saja itulah yang telah menumbuhkan pertanyaan di hati mereka.
    “Anak-anak muda,” berkata pemilik kedai itu, “aku minta maaf bahwa aku terpaksa minta agar kalian meninggalkan kedai ini. Mungkin kalian telah mendengar, bahwa di kedai ini akan hadir beberapa orang tamu terhormat dari keempat orang itu.”
    Laksanalah yang dengar serta-merta menjawab, “Bukankah masih banyak tempat disini? Jangan paksa kami makan dan minum dengan tergesa-gesa.”
    “Sudahlah,” berkata Manggada, “kita sudah cukup kenyang.”
    “Aku belum,” jawab Laksana yang justru telah memesan lagi. “Beri aku semangkuk nasi megana.”
    Pemilik kedai itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kedai ini akan aku tutup, anak muda. Kami akan menerima tamu. Sayang sekali, kami tidak dapat melayani anak muda berdua sebaik-baiknya. Mudah-mudahan lain kali kami dapat berbuat lebih baik.”
    “Siapa yang kau maksud dengan kami?” bertanya Laksana.
    Pemilik kedai itu memang menjadi berdebar-debar. Tetapi iapun menjawab, “Kami yang mengurus kedai ini. Termasuk aku dan beberapa orang pelayanku.”
    Laksana tidak menjawab. Tetapi ia justru berkata hampir berteriak, “Nasi megana satu mangkuk lagi. Wedang jahe dengan gula kelapa semangkuk dan he, kenapa tidak kalian sediakan jenang alot disini?”
    “Anak muda,” potong pemilik kedai itu.
    “Tuak. Aku minta tuak sebumbung besar,” Laksana semakin berteriak.
    Manggada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah mengenal sifat dan watak adik sepupunya. Jika demikian maka setiap usaha untuk mencegahnya justru akan mendorongnya untuk melakukan lebih keras lagi.
    Ternyata kemudian keempat orang yang datang itu menjadi marah juga mendengar jawaban-jawaban Laksana. Seorang di antara merekapun kemudian berdiri dan melangkah mendekati kedua anak muda itu.
    “Aku tidak dapat berkata dengan baik seperti pemilik kedai ini,” berkata orang itu. “Aku memberimu waktu untuk membayar segala macam makanan dan minuman yang telah kau pesan. Sesudah itu pergi dari sini.”
    “Aku berhak menentukan, kapan aku akan keluar dari kedai ini. Karena itu kau tidak berhak mengusirku seperti itu. Ini bukan kedaimu dan bukan pula barang daganganmu.”
    “Anak muda,” desis pemilik kedai itu, “sudahlah. Silahkan meninggalkan kedai ini. Aku tidak akan minta kau membayar makanan dan minuman yang sudah kau pesan.”
    Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa pemilik kedai itupun menjadi ketakutan. Namun Laksanalah yang telah menjawab, “Kau juga mau menghina aku, he? Kau kira aku tidak mempunyai uang untuk membayar makanan dan minumanku? Nah, sebutkan, berapa harga kedaimu dengan segala isinya. Aku akan membelinya sekarang. Dan aku akan mengusir semua orang untuk meninggalkan kedaiku ini.”
    “Laksana,” Manggada menggamit adik sepupunya.
    Tetapi Laksana masih berkata selanjutnya, “Jangan ganggu aku makan dan minum.”
    “Anak iblis,” laki-laki garang yang mendekatinya itu menjadi tidak sabar lagi. “Jika kalian tidak pergi, aku lempar kalian keluar.”
    Laksana memandang orang itu dengan tajamnya. Namun iapun kemudian berdiri. Sambil menunjuk ke pintu Laksana itupun berteriak, “Keluar.”
    Namun sikap Laksana itu justru membuat orang yang garang itu terheran-heran. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa anak muda itu akan berani mengusirnya keluar dari kedai itu.
    Justru karena itu, maka laki-laki itu berdiri bagaikan membeku di tempatnya.
    Namun orang itu terkejut ketika sekali lagi ia mendengar Laksana membentaknya sekali lagi, “Keluar, kau dengar? Bawa kawan-kawanmu keluar. Cegah tamumu datang kemari, karena aku sendiri akan menerima tamuku pula disini.”
    Pemilik kedai itu hampir menjadi pingsan karenanya. Sikap Laksana benar-benar tidak diduganya.
    Namun laki-laki yang garang itu benar-benar tidak sabar lagi. Ia justru maju selangkah. Dengan garang pula ia telah memukul gledeg bambu rendah di depan lincak bambu tempat duduk Laksana dan Manggada.
    “Aku peringatkan sekali lagi, jangan berbuat gila seperti ini. Atau lehermu akan aku putar sampai patah,” geram laki-laki itu.
    Tetapi sebelum kata-katanya terlontar seluruhnya dan bibirnya terkatub, Laksana telah mendahuluinya, disiramnya wajah orang itu dengan minuman hangatnya. Justru wedang jahe.
    “Gila,” orang laki-laki yang garang itu mengumpat sejadi-jadinya. Selangkah ia surut. Namun giginyalah yang kemudian gemeretak oleh kemarahan yang bagaikan memecahkan dadanya.
    Namun sekali lagi anak muda itu mendahuluinya. Dengan tangkas Laksana telah meloncati gledeg rendah tempat makanan dan mangkuk minumannya. Dengan lantang ia berkata, “Kau kira kau ini siapa, he?”
    Laki-laki yang garang itu benar-benar telah kehilangan kendali oleh kemarahan yang menghentak. Tiba-tiba saja tangannya terayun deras mengarah ke wajah Laksana. Tetapi Laksana sempat mengelak. Bahkan kemudian katanya, “Kita berkelahi di luar, agar kita tidak merusakkan isi kedai ini.”
    Ketika Laksana melangkah keluar, maka orang yang garang itu mengikutinya. Bahkan dengan tidak sabar, ia telah mendahului menyerang begitu Laksana sampai di luar pintu.
    Dengan tangkas Laksana mengelak. Bahkan tubuhnyapun telah berputar. Kakinya terayun deras mengarah ke dada orang yang garang itu.
    Serangan yang benar-benar tidak terduga oleh lawannya. Karena itu, maka kaki itu benar-benar telah dikenainya meskipun tidak terlalu keras.
    Orang yang garang itu justru surut selangkah. Bukan karena dorongan kaki Laksana. Tetapi karena orang itu terkejut bahwa kaki anak muda itu telah menyentuh dadanya.
    Namun dengan demikian maka orang yang garang itu menyadari bahwa anak muda itu tentu memiliki bekal yang cukup dalam olah kanuragan, sehingga dengan demikian maka iapun menjadi lebih berhati-hati.
    Namun sejenak kemudian orang itu telah menyerang kembali. Bukan lagi tanpa perhitungan seperti yang sudah dilakukannya. Tetapi ia mulai menganggap bahwa banyak kemungkinan dapat terjadi.
    Laksana adalah seorang anak muda yang telah ditempa oleh ayahnya di bidang olah kanuragan. Bahkan rasa-rasanya ia telah mempelajari ilmu yang dimiliki ayahnya sampai tuntas. Tetapi ia belum berpengalaman untuk turun ke dunia olah kanuragan yang keras dan yang mempunyai seribu wajah. Sehingga dengan demikian maka mula-mula Laksana memang menjadi gugup. Yang dilakukan oleh orang yang garang itu kadang-kadang sama sekali bertentangan dengan perhitungannya. Unsur-unsur geraknyapun sebagian besar belum pernah dilihatnya.
    Namun seperti yang selalu dikatakan oleh ayahnya, bahwa ia harus mampu mengambil sikap menghadapi persoalan-persoalan baru dalam kehidupan, termasuk dalam olah kanuragan.
    Dalam latihan-latihan yang berat, ayahnya memang telah menunjukkan berbagai macam warna dari beberapa jenis unsur gerak yang terdapat dalam beberapa jenis ilmu yang lain. Namun hanya sekilas dan tidak mendalam.
    Karena itu, ketika ia benar-benar bertemu dengan ilmu dari perguruan yang lain, maka Laksana harus dengan susah payah menyesuaikan diri.
    Tetapi karena latihan-latihan yang berat yang pernah dilakukannya, serta pesan-pesan yang lengkap dari ayahnya serta berbagai macam contoh yang pernah dilihatnya, maka lambat laun Laksana mampu menempatkan dirinya. Yang semula nampak aneh dan tidak dimengertinya, maka lambat laun mulai dapat dibacanya.
    Namun dalam pada itu, untuk mendapatkan pengalaman itu, lawannya justru telah berhasil mengenainya beberapa kali. Laksana memang harus membayar mahal bagi pengalamannya itu. Ketika ia menyerang lawannya tetapi tidak mengenainya, Laksana menduga bahwa lawannya akan menyerangnya kembali. Tetapi lawannya tidak melakukannya. Ia justru mengambil jarak selangkah. Baru ketika Laksana siap untuk menyerangnya, orang itu telah meloncat maju. Tidak langsung menyerangnya, tetapi ia seakan-akan telah menjatuhkan diri beberapa jengkal di sebelahnya, berguling sambil menggerakkan kakinya menjepit kedua kakinya dan berputar dengan cepatnya.
    Laksana memang terkejut. Kakinya bagaikan digulung oleh kekuatan lawannya, sehingga iapun telah terjatuh. Tetapi anak muda itu tidak segera meloncat bangkit. Ia memperhitungkan, bahwa jika ia melakukannya, maka lawannya akan dengan serta-merta menyerangnya.
    Karena itu, maka Laksana itu justru telah berguling beberapa kali mengambil jarak. Baru dengan menggeliat, Laksana meloncat bangkit dan berdiri tegak.
    Lawannya memang ketinggalan selangkah. Ketika ia berhasil membanting Laksana, maka iapun segera meloncat berdiri dan siap untuk bertempur. Tetapi ternyata lawannya telah berguling menjauh dan melenting beberapa langkah daripadanya.
    Orang yang garang itupun segera memburunya. Tetapi sekali lagi ia terkejut. Tiba-tiba saja Laksana itu telah menyongsongnya dengan sebuah serangan. Anak itu telah meloncat sambil mengayunkan kedua kakinya, sehingga tubuhnya bagaikan mendatar.
    Serangan yang cepat dan tidak terduga itu memang tidak dapat dihindarinya. Untuk mengurangi tekanan pada dadanya, agar tulang tulang iganya tidak berpatahan, maka orang berwajah garang itu telah menyilangkan tangannya di dadanya.
    Tetapi dorongan serangan Laksana itu memang demikian derasnya sehingga orang berwajah garang itu telah terdorong beberapa langkah surut dan bahkan kemudian kehilangan keseimbangannya.
    Orang itu jatuh berguling sampai ke depan pintu kedai itu. Ternyata beberapa orang kawannya telah berdiri di pintu menyaksikan pertempuran itu.
    Di sekitar arena itu memang berkerumun beberapa orang. Tetapi mereka sama sekali tidak berani mendekat. Mereka mengerti, bahwa orang-orang yang datang ke kedai itu adalah orang-orang yang berilmu dan berwatak keras. Mereka merasa diri mereka memiliki kelebihan dari orang lain, sehingga mereka dapat berbuat apa saja.
    Orang yang terjatuh itu telah berusaha untuk bangkit. Namun rasa-rasanya dadanya bagaikan tertimpa oleh sebongkah batu hitam. Untunglah bahwa dengan cepat ia berhasil melindungi dadanya itu dengan tangannya yang menyilang. Namun demikian, serangan yang demikian kerasnya itu benar-benar telah menyakitinya.
    Ketika ia tegak berdiri, maka wajahnya nampak pucat. Tubuhnya bergetar oleh sakit dan marah yang tidak tertahankan.
    “Aku akan bunuh anak itu,” geramnya.
    Tetapi seorang kawannya berkata, “Kelihatannya kau sudah terlalu letih. Anak itu memiliki sesuatu yang tidak kita perhitungkan semula. Karena itu, maka kau menjadi lengah.”
    “Ya. Sekarang aku sadari itu. Karena itu, aku akan berhati-hati,” jawab orang yang kesakitan itu.
    Tetapi seorang kawannya menjawab, “Terlambat.”
    “Tidak. Aku belum apa-apa,” jawab orang itu.
    Kawannya menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku akan menyelesaikan anak itu.”
    “Jangan,” orang yang dadanya bagaikan pepat itu masih membantah.
    Tetapi orang yang paling garang di antara mereka berempat, berkumis di atas bibirnya meskipun tidak begitu lebat dan di keningnya nampak segores cacat yang membuat wajahnya menjadi semakin seram menggeram, “Biarlah orang lain melakukannya. Jika kau sekali lagi menghadapinya, kau akan mati.”
    “Tidak. Akulah yang akan membunuhnya,” berkata orang itu.
    Adalah di luar dugaan bahwa orang berwajah cacat itu telah mendorong kawannya yang baru saja bertempur melawan Laksana. Demikian keras tenaga dorongnya itu, maka orang yang masih berdiri dengan gemetar itu telah kehilangan keseimbangannya dan sekali lagi jatuh terlentang.
    “Bangun,” teriak orang yang berwajah cacat yang agaknya pemimpinnya itu.
    Tertatih-tatih orang itu bangkit. Sementara itu dengan wajah yang berkerut, pemimpinnya itu berkata, “Nah, kau percaya bahwa kau sudah tidak dapat berkelahi lagi?”
    Orang itu tidak menjawab. Sementara orang berwajah cacat itu berkata kepada kawannya yang lain, “Kau hukum anak itu, agar harga diri kita tidak runtuh di lingkungan ini. Kau tunjukkan kepada orang-orang yang melihat pertempuran ini meskipun dari kejauhan, bahwa anak itu tidak berarti apa-apa bagi kami. Jika terjadi kekalahan atas salah seorang kawan kita, karena ia terlalu bodoh dan sombong.”
    Ketiga orang itu berpaling ketika mereka mendengar seseorang berkata di belakang mereka, “Apakah memang begitu menurut dugaanmu?”
    “Anak setan,” geram orang yang cacat itu. Ternyata anak muda yang seorang lagi masih duduk di amben di dalam kedai sambil memegangi mangkuk wedang jahenya.
    Tetapi ketika ketiga orang itu memandanginya dengan tegang, maka anak muda itu telah bangkit dan berjalan keluar melalui pintu samping. Tanpa menghiraukan orang-orang yang berdiri di pintu itu, maka Manggada telah melangkah mendekati Laksana.
    “Berhati-hatilah,” berkata Manggada. “Mereka agaknya akan bersungguh-sungguh.”
    “Aku akan menghancurkannya,” jawab Laksana.
    “Jangan salah menilai. Orang yang pertama itu tidak menyangka bahwa ia akan berhadapan dengan orang yang telah serba sedikit mempelajari ilmu kanuragan. Tetapi orang kedua tidak akan membuat kesalahan yang serupa.”
    Laksana tersenyum. Katanya, “Ternyata kemampuannya tidak menggetarkan jantungku.”
    “Aku peringatkan kau, Laksana. Jangan terlalu sombong,” berkata Manggada.
    Laksana mengerutkan keningnya. Ia mulai menjadi bersungguh-sungguh. Peringatan Manggada itu seakan-akan adalah gema suara ayahnya yang sering diucapkannya, “Jangan sombong.”
    Karena itu maka Laksanapun mengangguk kecil sambil menjawab, “Baiklah, aku akan berhati-hati.”
    Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ia berharap bahwa dengan demikian, Laksana tidak akan kehilangan kewaspadaan. Jika ia menganggap dirinya terlalu baik, maka ia justru akan terjerat ke dalam kesulitan.
    Dalam pada itu, seorang di antara orang-orang garang yang berdiri di depan kedai itu telah bersiap-siap. Orang yang telah dikalahkan oleh Laksana itu berdiri di belakang pemimpinnya dengan wajah yang pucat.
    Sejenak kemudian, maka orang yang telah ditunjuk oleh orang cacat pada wajahnya itu telah melangkah mendekati Laksana. Dengan nada berat ia berkata, “Nah, apakah kalian akan maju berdua?”
    Laksanalah yang menyongsongnya. Katanya, “Aku masih cukup kuat untuk mengalahkanmu, Ki Sanak. Marilah, kita akan melihat, siapakah yang lebih berhak mengusir orang lain dari kedai itu. Kau atau aku.”
    Orang yang garang itu memang sudah marah. Kekalahan kawannya merupakan satu penghinaan bagi kelompoknya. Karena itu, maka ia harus menebusnya. Ia harus memberikan kesan bahwa kekalahan kawannya itu karena kelengahan semata-mata sebagaimana dikehendaki oleh pemimpinnya.
    “Aku harus mengalahkannya dengan cepat,” berkata orang itu di dalam hatinya.
    Sejenak kedua orang itu telah berhadapan. Manggada masih tetap berdiri di luar arena tanpa berbuat sesuatu. Ia berdiri saja sambil menyilangkan tangannya di dada. Bahkan Manggada sempat bergeser berlindung dari panasnya matahari menjelang sore hari. Tidak ada kesan kegelisahan dan kecemasan di wajahnya.
    Kedua orang yang akan berkelahi itupun telah berdiri berhadapan. Beberapa langkah mereka bergeser untuk menyesuaikan diri dengan arena. Orang yang garang itu dengan cerdik telah bergeser ke arah barat, sehingga Laksana menjadi silau karenanya.
    “Jangan memandang matahari,” terdengar suara Manggada yang berdiri di tempat yang terlindung.
    Laksana baru menyadari, bahwa pandangan matanya memang terganggu oleh silaunya sinar matahari yang turun di sisi langit sebelah barat. Karena itu, maka Laksanapun telah bergeser pula. Ia telah menentukan arah menghadapi lawannya, sehingga keduanya kemudian telah berdiri berhadapan ke arah utara dan selatan.
    Kemenangan Laksana atas lawannya yang pertama telah menumbuhkan kepercayaan pada dirinya, bahwa ilmunya memang mampu mengatasi ilmu yang dipergunakan oleh lawannya itu. Laksana merasa bahwa unsur-unsur yang ada pada ilmunya cukup lengkap untuk melawan dan bahkan mengatasi unsur-unsur yang ada di dalam ilmu lawannya itu.
    Persoalannya adalah ada pada kemampuannya mengembangkan unsur-unsur itu. Mengetrapkan sesuai dengan keadaan yang dihadapinya. Karena itu, maka ia harus cepat mengambil sikap terhadap perkembangan keadaan. Ia tidak dapat berpegang pada bentuk yang pernah dipelajarinya begitu saja. Tetapi ia harus mampu mengetrapkan sesuai dengan kemungkinan dan unsur-unsur gerak yang dipergunakan oleh lawannya.
    Dengan bekal pengalamannya yang pendek itu, maka Laksana telah menghadapi lawannya yang kedua.
    Beberapa saat mereka masih saling memperhatikan. Tetapi lawan Laksana tidak sempat lagi bergeser untuk mengambil keuntungan dari cahaya matahari yang menjadi semakin rendah.
    Tetapi lawannya itu memang tidak ingin berlama-lama. Selangkah demi selangkah ia mendekati Laksana. Kemudian dengan tiba-tiba ia telah meloncat menyerang dengan garangnya. Kedua tangannya telah terjulur lurus ke arah dada.
    Laksana yang melihat serangan itu, dengan cepat telah bergeser. Bahkan dengan cepat Laksana telah memutar tubuhnya. Kakinya terayun mendatar ke arah kening lawannya. Namun lawannyapun dengan cepat telah merendahkan dirinya, sehingga kaki Laksana terayun tanpa menyentuhnya. Bahkan lawannya itu dengan cepat pula menyapu kaki Laksana yang satu lagi, tempat tubuhnya bertumpu. Tetapi dengan tangkasnya, dengan kekuatan satu kakinya, Laksana telah melenting tinggi dan kemudian jatuh beberapa langkah ke samping. Namun demikian kakinya menginjak tanah, maka iapun telah meloncat maju dengan loncatan panjang. Tangannyalah yang telah menyerang kening.
    Tetapi lawannya sempat menangkis serangan itu. Dengan tangannya pula lawannya telah menangkis serangan Laksana itu dan menebaskannya keluar. Sementara tangannya yang lain justru telah memukul dada.
    Adalah giliran Laksana yang harus menangkis serangan lawannya itu. Tetapi Laksana tidak bergeser mundur. Ia justru telah menyusup maju sambil mengibaskan serangan lawannya ke samping. Dengan sekuat tenaganya, Laksana telah menghantam bagian bawah perut lawannya dengan lututnya.
    Satu serangan yang datang demikian cepatnya. Yang terdengar adalah keluhan tertahan. Perut lawannya rasa-rasanya telah diremas dan diputar sekuat tenaga. Perasaan mual, sakit, dan sesak telah mencengkam seisi perut dan dada lawannya itu.
    Ketika Laksana kemudian bergeser mundur setapak, maka lawannya terbungkuk menahan sakit. Kedua tangannya memegangi perutnya yang seolah-olah seluruh isinya, termasuk usus-ususnya akan meloncat keluar.
    Ternyata Laksana tidak melepaskan kesempatan itu. Dengan sekuat tenaganya, maka tangannya telah terayun menyambar kening lawannya yang kesakitan itu.
    Terdengar lawannya itu mengaduh. Pukulan Laksana demikian kerasnya sehingga lawannya itu seakan-akan telah terangkat dan terlempar beberapa langkah surut. Bahkan orang itupun telah terbanting jatuh di tanah.
    Ia tidak segera dapat meloncat bangkit. Tetapi beberapa saat lamanya ia bergulung-gulung sambil memegangi perutnya, namun sekali-sekali sempat mengusap keningnya. Rasa-rasanya keningnya menjadi bengkak, sehingga sebelah matanya menjadi kabur karenanya.
    Laksana tidak memburu lawannya. Ia tidak menyerang lawannya yang dalam keadaan tidak lagi mampu mempertahankan dirinya. Karena itu, maka iapun telah berdiri tegak sambil bertolak pinggang.
    Manggada berdiri sambil mengangguk-angguk. Ternyata Laksana mampu mengetrapkan ilmunya dengan sangat mapan.
    Meskipun Manggada sendiri tidak berkelahi, tetapi ia telah memanfaatkan perkelahian itu untuk mengamatinya dengan seksama. Ternyata Laksana dengan demikian telah mendapatkan pengalaman dengan ilmunya. Tetapi meskipun Manggada sendiri tidak melakukannya, namun iapun telah mendapatkan pengalaman yang hampir sama nilainya dengan pengalaman Laksana. Apalagi dalam tataran perguruannya, Manggada adalah murid yang tertua dibandingkan dengan Laksana, meskipun guru mereka berdua adalah ayah Laksana.
    Dalam pada itu, orang-orang yang berdiri di depan kedai itupun menjadi semakin marah. Orang yang telah dikalahkan pertama kali oleh Laksana itupun menggeram, “Aku akan bertempur dengan senjata. Aku akan membunuhnya.”
    “Tolong saudaramu yang cengeng itu,” berkata orang yang wajahnya cacat sambil memandang kawannya yang berguling-guling kesakitan. “Biarlah aku sendiri menyelesaikannya. Jika aku terpaksa, maka akupun mempergunakan senjata.”
    “Aku masih ada,” berkata kawannya yang satu lagi, yang belum mendapat kesempatan untuk berkelahi.
    Tetapi orang yang cacat wajahnya itu menggeram, “Awasi anak muda yang satu lagi. Jika ia turun ke arena, maka adalah tugasmu untuk menyelesaikan. Aku tidak telaten. Sebentar lagi tamu kita benar-benar akan datang menjelang senja. Sementara matahari telah menjadi semakin rendah. Jika mereka datang dan kedua anak itu belum dapat kita selesaikan, maka rasa-rasanya wajah kita akan tercoreng arang. Anak-anak ingusan itu saja telah berhasil mempermainkan kita.”
    Orang yang wajahnya cacat itu tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera melangkah mendekati Laksana yang berdiri tegak dengan tangan di pinggang. Sementara seorang lainnya, yang telah dikalahkan oleh Laksana, telah mendekati kawannya yang masih saja kesakitan berguling-guling di tanah.
    Namun perhatian Laksanapun kemudian telah tertuju kepada orang yang berwajah cacat itu. Dibiarkannya seseorang mendekati dan kemudian berjongkok di sebelah orang yang kesakitan itu.
    Sementara itu, seorang lagi telah berdiri tegak sambil mengawasi Manggada yang masih saja berada di tempatnya.
    “Anak muda,” berkata orang berwajah cacat itu, “ternyata kau telah membuat kami menjadi benar-benar marah. Kau sudah menyakiti dua orang kawanku yang lengah. Mereka memang terlalu bodoh karena mereka menganggap kau terlalu lemah. Namun ternyata mereka telah terjebak oleh kelengahan mereka sendiri, sehingga mereka mengalami kesulitan.”
    “Sekarang kau mau apa?” bertanya Laksana.
    Wajah orang yang cacat itu menjadi semburat merah. Kemarahan yang menghentak-hentak di dadanya seakan-akan telah meluap sampai ke wajahnya itu.
    “Anak muda,” berkata orang itu, “aku masih berusaha untuk menyabarkan diri. Meskipun kau telah menyakiti dua orang kawanku, tetapi aku beri kesempatan kau pergi.”
    “Pergi atau tidak pergi, tergantung kepada kehendakku sendiri,” jawab Laksana. “Kau sama sekali tidak berwenang untuk mengatur aku. Aku bukan anakmu, bukan adikmu dan bukan pula budakmu.”
    “Anak setan,” geram orang itu. “Kau benar-benar keras kepala.”
    “Kau yang keras kepala. Kau merasa berkuasa disini, sehingga jika kau memasuki kedai itu, semua orang berlari-larian pergi meskipun mereka sebenarnya belum selesai. Apakah kau sebenarnya mempunyai wewenang berbuat demikian?” bertanya Laksana
    “Bukan salahku,” geram orang itu. “Mereka telah pergi dengan sendirinya.”
    “Tidak. Kau telah mengusir mereka sebagaimana kau lakukan atas kami. Kau tidak dapat ingkar, karena aku sendiri mengalami,” jawab Laksana
    “Jika demikian, apaboleh buat. Aku harus benar-benar menghukummu dan kawanmu itu,” geram orang yang cacat itu.
    Tetapi Laksana tidak mau kalah garang dari lawannya yang berwajah cacat itu. Karena itu, maka iapun menyahut, “Akulah yang wajib menghukummu. Bukan kau menghukum kami.”
    Orang berwajah cacat itu benar-benar kehabisan kesabaran. Tetapi ia sudah melihat apa yang dapat dilakukan oleh anak muda itu, sehingga karena itu, maka iapun harus berhati-hati. Ia tidak dapat dengan serta-merta bertindak sebagaimana sering dilakukannya atas orang-orang yang membuatnya marah karena kesalahan-kesalahan kecil. Seorang yang terlambat keluar dari kedai di saat ia masuk, agaknya sudah cukup alasan baginya untuk memukuli orang itu sampai pingsan.
    Tetapi terhadap anak-anak muda itu ia harus berhati-hati.
    Ketika orang itu bersiap, maka Laksanapun telah bersiap pula. Matahari yang menjadi semakin rendah membuat langit menjadi semakin merah. Sekelompok burung bangau nampak terbang dari selatan menuju ke utara.
    Orang itu sama sekali tidak lagi menghiraukan cahaya matahari yang silau. Ia tahu bahwa anak muda itu tidak akan membiarkan cahaya matahari yang merah itu membuat matanya menjadi merah pula.
    Laksanapun menyadari, bahwa lawannya itu menjadi sangat berhati-hati. Kecuali sikapnya, maka pandangan matanya menunjukkan kepadanya, bahwa orang itu memiliki kelebihan dari kawan-kawannya.
    Laksana memang menjadi berdebar-debar. Ada kecemasan di hatinya. Tetapi ia juga menjadi gembira, bahwa ia akan dapat mencoba ilmunya dengan orang yang memiliki ilmu setingkat lebih tinggi dari orang-orang yang sebelumnya telah dikalahkannya.
    Beberapa saat Laksana menunggu. Tetapi karena orang itu tidak juga segera menyerangnya, maka Laksanalah vang tidak sabar lagi. Ialah yang kemudian mulai menyerang.
    Namun demikian, Laksana tidak melupakan pesan ayahnya, bahwa ia tidak boleh kehilangan akal. Ia harus menanggapi semua persoalan dengan tenang. Setiap mengambil keputusan otaknya tidak boleh dalam keadaan keruh, karena dengan demikian maka keputusan yang diambilnya itupun akan dapat merupakan keputusan yang keruh.
    Serangan Laksana memang bukan serangan vang menentukan. Karena itu, maka dengan bergeser selangkah, orang yang cacat di wajahnya itu dengan mudah mengelakkannya. Namun adalah di luar dugaan, bahwa tiba-tiba saja Laksana telah melenting menyambar kening.
    Orang itu terkejut. Dengan cepat pula ia harus memiringkan kepalanya untuk menghindari serangan anak muda itu. Tetapi ternyata bahwa serangan yang sebenarnya adalah menyusul kemudian. Kaki Laksanalah yang berputar menyambar dengan derasnya.
    Tidak ada kesempatan bagi orang berwajah cacat itu untuk menghindar. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain daripada menangkis serangan itu.
    Karena itu, maka segera terjadi benturan demikian pertempuran itu dimulai.
    Ternyata kedua orang itu telah terkejut. Laksana merasa seakan-akan kakinya telah membentur batu. Karena itu, dengan serta-merta ia telah menarik kakinya yang meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak. Beberapa saat ia harus berusaha mengatasi rasa sakit pada kakinya itu.
    Namun dalam pada itu, orang berwajah cacat itupun telah terdorong surut. Kaki Laksana rasa-rasanya telah menghentakkan kekuatan yang luar biasa, sehingga orang berwajah cacat itu tidak mampu tetap tegak di tempatnya. Bahkan iapun harus berusaha untuk mengatasi keseimbangannya yang goyah.
    Ketika orang itu berhasil berdiri dengan mantap, maka Laksanapun telah berdiri tegak pula. Keduanya ternyata telah dapat mengatasi kesulitan di dalam diri mereka masing-masing.
    Beberapa saat kemudian merekapun telah bersikap pula. Beberapa langkah mereka bergeser. Namun nampak pada keduanya, bahwa mereka masih tetap berhati-hati. Orang yang berwajah cacat dan memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak itu, terpaksa harus menahan diri. Anak muda itu adalah orang yang sangat berbahaya baginya.
    Sejenak kemudian, maka hampir berbareng keduanya telah melangkah mendekat. Bahkan keduanya telah mulai mengayunkan serangan-serangan meskipun belum terlalu berbahaya. Namun kemudian menjadi semakin cepat dan semakin keras. Serangan-serangan yang dilontarkan oleh kedua pihak tidak saja menjadi semakin kuat, tetapi mulai mengarah ke sasaran-sasaran yang berbahaya. Keduanya mulai membuat perhitungan-perhitungan yang cermat serta mulai menuangkan kemampuannya dengan lembaran ilmu yang semakin meningkat.
    Di luar arena Manggada memperhatikan pertempuran itu dengan seksama. Ia tidak saja melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, tetapi ia telah menekuni pertempuran itu untuk memanfaatkannya sebagai satu pengalaman. Meskipun ia sendiri tidak bertempur sebagaimana Laksana, namun ia melihat bagaimana Laksana menentukan langkah-langkahnya pada saat-saat yang gawat. Manggada mampu menilai keputusan-keputusan yang telah diambil oleh Laksana dalam waktu yang singkat di saat-saat ia menghadapi serangan-serangan lawannya, yang tidak dapat dilawan dengan unsur-unsur yang telah dikuasainya. Namun dengan serta-merta Laksana telah mengembangkan unsur-unsur gerak yang telah dikuasainya itu, hampir tanpa jarak waktu untuk merenung.
    Ternyata latihan-latihan yang berat, serta pengenalan mereka atas beberapa jenis ilmu di luar rangkuman ilmu dari perguruan mereka, telah membuat Laksana dengan cepat menanggapi keadaan dan sekaligus mengatasinya. Penguasaan tubuh yang mapan hampir mutlak, telah mampu dengan cepat menentukan apa yang harus dilakukannya.
    Manggada menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Laksana mulai mampu menempatkan diri di antara serunya badai ilmu lawan yang melandanya.
    Sebenarnyalah orang berwajah cacat itu mulai menjadi gelisah. Ia sudah meningkatkan ilmunya hampir sampai ke puncak. Namun anak muda itu masih saja mampu mengimbanginya. Bahkan karena kemudaannya, nampaknya ia masih terlalu bergejolak jiwanya sehingga tercermin dalam ungkapan-ungkapan geraknya.
    Demikianlah pertempuran antara kedua orang itu menjadi semakin sengit. Keduanya bergerak semakin cepat dan semakin keras. Ternyata bahwa Laksana tidak mengecewakan. Meskipun ia belum berpengalaman, namun karena bekal yang dimilikinya cukup lengkap, ditambah dengan kemampuannya mengurai dan kemudian mengambil sikap serta mengembangkan ilmunya, maka perlawanan Laksana benar-benar telah membuat lawannya menjadi semakin gelisah dan tegang.
    Apalagi langit memang menjadi semakin buram. Sejenak kemudian saatnya senja akan turun. Sesuai dengan rencana, maka tamu orang yang berwajah cacat itu akan datang menjelang senja.

    (bersambung)

  19. Sambungan… Karena itu, maka orang berwajah cacat itupun telah memutuskan untuk meningkatkan ilmunya benar-benar sampai ke puncak, agar ia dapat menyelesaikan lawannya yang masih muda itu sebelum tamunya benar-benar datang. Tetapi orang berwajah cacat itu tidak dapat merencanakan akhir dari pertempuran itu menurut kehendaknya sendiri. Laksanapun ternyata memiliki kekuatan untuk ikut menentukan. Ia bukannya sudah dikuasai oleh orang berwajah cacat itu, bahkan setiap kali justru Laksanalah yang telah menekan lawannya sehingga orang berwajah cacat itu beberapa kali harus berloncatan surut. Kegelisahan semakin mencengkam jantung orang berwajah cacat itu. Semakin rendah matahari, maka iapun menjadi semakin gelisah. Ternyata orang berwajah cacat itu tidak mampu melakukan rencananya. Sampai saatnya senja turun, ia masih belum mampu menguasai lawannya yang masih muda itu. Bahkan dalam pertempuran yang menjadi semakin cepat, maka sekali-sekali tangan Laksana telah mampu mengenai tubuh orang berwajah cacat itu. Mula-mula tangan itu hanya menyentuhnya. Namun kemudian menjadi semakin keras dan ternyata sentuhan-sentuhan itu akhirnya telah menyakitinya. Sementara itu, meskipun orang berwajah cacat itu sekali-sekali mampu juga mengenai tubuh lawannya, tetapi dalam perbandingan yang lebih kecil. Apalagi ketika kemudian ternyata daya tahan anak muda itu ternyata jauh melampaui dugaannya. Ketika orang berwajah cacat itu sempat menghantam kening anak muda itu dengan seluruh kekuatannya, anak muda itu hanya terdorong dua langkah surut. Namun kemudian ia telah kembali dan seakan-akan tubuhnya tidak pernah dikenai oleh lawannya itu. Ketika orang berwajah cacat itu menjadi semakin gelisah dan bahkan hampir saja berputus asa, maka tamu yang ditunggu-tunggunya itu telah datang. Dua orang kawannya dengan tergesa-gesa telah menyongsong tamu yang mereka tunggu-tunggu itu. Seorang yang bertubuh tinggi, tegap, berjambang dan berjanggut lebat, diiringi oleh dua orang kawannya yang nampaknya sangat patuh kepadanya. “Apa yang terjadi?” bertanya orang berjambang lebat itu. “Dua orang anak muda telah mengacaukan persiapan kami untuk menerima kalian di tempat ini,” jawab orang yang dikalahkan oleh Laksana pertama kali. Sementara kawannya yang ikut menyongsong tamu-tamu itu adalah orang yang perutnya bagaikan diremas dengan batu penggilingan. “O,” orang bertubuh tinggi tegap itu mengangguk-angguk. “Kenapa kalian tidak menyelesaikannya saja?” “Ki Lurah sedang menghajar mereka,” jawab orang yang menyongsongnya. Tetapi orang berkumis lebat itu tidak dapat dikelabuhinya. Meskipun langit menjadi semakin suram, namun orang itupun melihat apa yang telah terjadi di sebelah kedai itu. Karena itulah, maka iapun telah melangkah mendekati arena pertempuran. Sejenak orang itu berdiri termangu-mangu. Namun kemudian tiba-tiba saja ia tertawa sambil berkata, “Jadi kalian sedang bermain kelinci?” Orang berwajah cacat itu terkejut. Ia tidak melihat tamu yang ditunggunya sudah datang karena ia sibuk bertempur tanpa sempat berpaling sama sekali. Namun karena ia mendengar suaranya, maka iapun telah meloncat mengambil jarak. Laksana tidak memburunya. Agaknya ia memang memberi kesempatan kepada lawannya untuk sesaat berpaling ke arah orang yang menyapanya. Orang berwajah cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Terasa di beberapa bagian tubuhnya, tulang-tulangnya bagaikan retak. Serangan-serangan anak muda itu yang mengenai bagian-bagian tubuhnya ternyata telah membuatnya benar-benar kesakitan. “Apakah kau sedang mengisi waktumu sambil menunggu aku datang?” bertanya orang berjambang lebat itu. Orang berwajah cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Anak-anak ini memang pantas dihukum. Maafkan, aku terlambat menyambutmu.” Orang itu tersenyum. Katanya, “Teruskan. Aku senang melihat permainan ini. Jarang sekali di saat terakhir ini, aku melihat permainan tikus dan kucing. Tetapi agaknya kucingnya agak sakit-sakitan kali ini, sehingga tikusnya mendapat kesempatan lebih banyak.” Wajah orang yang masih saja merasa kesakitan itu menjadi merah. Cacat di wajah itu seakan-akan telah menyala. Namun orang yang baru datang itu tertawa. Katanya, “Jangan menyesali keadaan. Nah, teruskan.” Tetapi orang-orang terkejut ketika mereka tiba-tiba saja mendengar Laksana juga tertawa. Katanya, “Ki Sanak, jika kau tertarik pada permainan ini, apakah kau akan ikut pula?” Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku senang melihat sikapmu. Kau adalah seorang anak muda yang bukan saja berani, tetapi kau memang mempunyai bekal yang cukup.” “Nah,” berkata Laksana, “jadi kau mau ikut?” Orang itu tertawa. Katanya, “Teruskan permainan kalian. Aku akan menjadi penonton yang baik. Aku juga tidak mempunyai keperluan yang sangat mendesak.” “Baiklah,” berkata Laksana, “kami akan meneruskan permainan ini. Juga kawanku bermain agaknya masih belum menjadi jemu.” “Tentu tidak. Ia sudah terbiasa bermain menjadi kucing. Tetapi biasanya ia mendapatkan kawan bermain yang pantas menjadi tikus. Tetapi agaknya kau terlalu tangkas sehingga kucingnya berkesan sakit-sakitan,” sahut orang itu sambil tertawa. Jantung orang yang wajahnya cacat itu bagaikan meledak. Singgungan pada perasaannya itu telah membuatnya semakin marah. Karena itu, maka untuk sesaat ia dapat melupakan perasaan sakit di beberapa bagian dari tubuhnya. “Lihat,” geram orang berwajah cacat itu, “kau akan mendapatkan sebuah hadiah yang pantas hari ini.” “Apa?” bertanya tamunya. “Kepala seekor tikus,” jawab orang berwajah cacat itu. “Bagus. Aku akan sangat berterima kasih,” berkata tamunya sambil mengangguk-angguk. Orang berwajah cacat itupun kemudian telah melangkah mendekati Laksana. Tetapi ternyata ia tidak akan bertempur dengan tangannya. Tiba-tiba saja orang berwajah cacat itu telah mengambil senjatanya. Semacam keling bulat panjang yang dikenakan pada kedua belah genggaman tangannya. Keling besi baja dengan gigi-gigi pendek yang tajam. “Aku akan memecahkan kepalamu,” geram orang berwajah cacat itu. Laksana mengerutkan keningnya. Senjata semacam itu memang berbahaya, tetapi sudah terlalu banyak dikenal orang, sehingga bukan senjata asing. Dalam latihan-latihan berat, Laksana juga sudah berlatih, bagaimana harus melawan senjata seperti itu. Sejenak kemudian, maka lawannya itu telah meloncat. Ia menjadi bertambah garang. Tangannya terayun-ayun dengan derasnya mengarah terutama ke kepala Laksana. Laksana memang harus bekerja lebih keras. Ia tidak berani membentur serangan lawan begitu saja. Sentuhan keling di genggaman tangan orang berwajah cacat itu akan dapat mengoyakkan kulit dagingnya. Karena itu, maka Laksana harus lebih banyak menghindari serangan-serangan lawan atau berusaha untuk menangkis pada pergelangan tangannya. Namun di samping itu Laksana justru menjadi semakin sering menyerang. Kakinyalah yang lebih banyak dipergunakan. Beberapa orang yang menyaksikan pertempuran memang menjadi bertambah tegang. Kawan-kawan orang yang berwajah cacat sudah melihat betapa tangkasnya anak muda itu. Tamunyalah yang kemudian mengangguk-angguk. Namun jantungnya berdegub semakin cepat. Kemampuan anak muda itu benar-benar di luar dugaannya. Ternyata Laksana mampu bertahan terhadap lawannya yang bersenjata keling di genggaman kedua tangannya itu. Dengan kecepatan geraknya serta ketrampilannya menerapkan unsur-unsur gerak yang sudah dipelajarinya, maka lawannya yang berwajah cacat itu tidak dapat serta-merta mengalahkannya, meskipun ia sudah mempergunakan senjata. Dalam pertempuran yang keras dan panjang di saat-saat berikutnya, maka justru Laksanalah yang berhasil mendesak orang berwajah cacat itu. Namun demikian, maka kemungkinan yang berbahaya masih saja dapat terjadi atas anak muda itu, karena keling yang bergigi pendek selalu menyambar tubuhnya. Ketika matahari turun ke balik cakrawala, maka langit pun menjadi semakin suram. Beberapa orang yang menghuni kedai di sekitar arena telah menutup pintunya. Namun cahaya lampu nampak menembus celah-celah dinding yang berlubang. Sebenarnyalah para penghuni di sekitar arena pertempuran itu hatinya kecut. Pertempuran nampaknya masih berlangsung panjang. Apalagi setelah tamu yang ditunggu orang berwajah cacat itu datang. Agaknya kemungkinan yang lebih buruk dapat terjadi. Ternyata tamu yang datang kemudian memang tersinggung oleh peristiwa itu. Jika orang berwajah cacat dapat dikalahkan oleh anak muda itu, maka sikap orang-orang di sekitar tempat akan berubah. Orang berwajah cacat itu tidak akan ditakuti lagi, karena ada orang lain yang menjadi lebih ditakuti. Jika demikian halnya, maka kedudukannya pun akan berubah pula. Karenanya, maka orang itu pun merasa perlu mencampuri perkelahian, meskipun sebenarnya ia merasa sangat kecewa kepada orang berwajah cacat yang tidak dapat segera mengalahkan anak muda itu. Dalam malam yang semakin gelap, orang itupun telah berdiri di pinggir arena pertempuran. Meskipun malam seakan-akan membuat semuanya semakin hitam, tetapi ketajaman matanya masih melihat, betapa orang berwajah cacat itu justru semakin terdesak. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Kau jangan terlalu berhati-hati terhadap anak-anak muda yang deksura itu. Jika kau memang tidak sampai hati menyelesaikannya, maka biarlah aku yang menyelesaikan anak itu. Hatimu memang terlalu lemah menghadapi keadaan seperti itu. Tetapi jika kau tetap dengan sifat-sifatmu, maka akhirnya kau akan tersisih dari pembicaraan orang banyak di tempat ini. Perkelahian yang kau lakukan sudah terlalu lama.” “Anak itu akan segera kehabisan nafas,” geram orang berwajah cacat. “Karena itu, aku akan segera menyelesaikannya.” “Sudahlah,” berkata tamunya, “jangan terlalu baik hati.” Orang berwajah cacat itu tidak sempat mencegah ketika tamunya tiba-tiba saja sudah turun ke arena. Dengan nada geram ia berkata, “Kau sudah terlalu jauh tenggelam ke dalam sifat-sifatmu yang cengeng. Jangan gemetar melihat darah. Hancurkan saja lawanmu yang memang tidak pantas dibelaskasihani.” Orang berwajah cacat itu ingin menjawab. Tetapi tamunya telah mendahului, “Supaya pekerjaan ini cepat selesai, kita akan menyelesaikan bersama-sama. Aku tidak mau membuang banyak waktu yang tidak berarti disini.” Sejenak orang berwajah cacat itu justru menjadi tegang. Namun sejenak kemudian tamunya telah meloncat dengan loncatan panjang, menyerang Laksana. Laksana melihat serangan yang ganas. Karena itu, iapun serta-merta telah meloncat menghindarinya. Ia sadar bahwa serangan itu bukan sekadar untuk menjajaginya. Tetapi jika ia tersentuh oleh serangan itu, maka akibatnya akan sangat berbahaya baginya. Sementara itu, orang berwajah cacat itu masih saja termangu-mangu. Tetapi ketika tamunya sudah bertempur dengan sengitnya, maka iapun melibatkan dirinya pula. Orang-orang yang masih sempat menyaksikan pertempuran dari kejauhan jadi bertambah tegang, tidak lagi dapat mengikuti setiap gerak mereka yang bertempur. Mereka tidak dapat lagi menilai apa yang terjadi, namun tahu bahwa anak muda itu harus bertempur melawan dua orang yang ditakuti di lingkungan itu. Orang berwajah cacat dianggap tidak akan pernah terkalahkan. Apalagi bersama kawan-kawannya. Mereka mengira tamunya pun tentu orang yang memiliki kelebihan sebagaimana orang berwajah cacat itu sendiri. Sehingga dengan demikian, nasib anak muda itu tentu dalam keadaan gawat. Sebenarnyalah, untuk melawan kedua orang itu, Laksana memang mengalami kesulitan. Apalagi orang yang berwajah cacat itu telah mengenakan keling di genggaman tangannya. Sejenak kemudian, Laksanapun benar-benar mulai terdesak. Sebenarnya Laksana tidak terlalu terpengaruh oleh gelapnya malam, karena bersama ayahnya ia telah melatih diri untuk bertempur di dalam gelap. Jika tidak di dalam sanggar yang hanya disinari sebuah lampu kecil di sudut yang jauh, maka mereka berlatih di gelapnya malam. Bahkan ayahnya telah memberikan beberapa petunjuk tentang gelap itu sendiri dalam hubungannya dengan penglihatan matanya. Sehingga dengan demikian, maka Laksana tidak kehilangan pegangan ketika malam menjadi semakin gelap. Bersama ayahnya bahkan Laksana telah berlatih menembus gelapnya malam dengan pandangan matanya, bukan saja di tempat terbuka, tetapi di dalam hutan lebat. Namun ternyata bahwa kedua lawannya itupun memiliki pengalaman luas pula untuk mengatasi kegelapan, sehingga dengan demikian keduanya tidak terlalu banyak terganggu oleh gelapnya malam. Yang terjadi kemudian adalah, Laksana benar-benar terdesak karena kemampuan lawan-lawannya. Tamu orang berwajah cacat itu memiliki kecepatan gerak luar biasa. Sementara si berwajah cacat itu adalah orang yang sangat kuat. Gerigi kelingnya telah menyentuh lengan Laksana sehingga menggoreskan luka meski tidak begitu dalam, meskipun ia telah berusaha menangkisnya dengan membentur pergelangan tangan itu. Laksana serta-merta meloncat menjauhi lawan-lawannya untuk mengambil jarak. Ia merasakan pedih yang menyengat. Tetapi kedua lawannya agaknya tidak mau melepaskannya. Mereka bersiap untuk memburunya, ketika tiba-tiba saja mereka tertegun karena tawa di luar arena. “Bagus,” Manggadalah yang ternyata telah tertawa, “ternyata kalian berdua merupakan kekuatan yang sangat dahsyat. Meskipun alasan yang diberikan tamu yang terhormat itu tidak masuk akal, namun terjadilah pengeroyokan oleh dua orang yang ditakuti orang-orang di lingkungan ini. Jika dua raksasa telah maju bersama-sama, maka dapat dibayangkan, betapa besarnya kemampuan dan kekuatan mereka.” “Setan. Siapa kau?” geram tamu orang berwajah cacat itu. Manggada melangkah pula memasuki arena. Sebenarnya ia cenderung untuk menghindari perkelahian. Tetapi Laksana agaknya bersikap lain, sementara Manggada tidak akan dapat membiarkan Laksana mengalami kesulitan. Bagaimanapun juga, maka Manggada terpaksa melibatkan diri pula. “Ki Sanak,” berkata Manggada, “nampaknya pertempuran menjadi tidak adil karena saudaraku harus bertempur melawan dua orang. Karena itu, maka akupun ingin ikut pula bermain kucing dan tikus yang ternyata sangat menarik ini. Meskipun demikian, segala sesuatunya terserah kepada Ki Sanak. Jika Ki Sanak merasa perlu melibatkan kawan-kawan, kami tidak berkeberatan. Karena kami sudah mengetahui bahwa harga diri Ki Sanak ternyata tidak begitu tinggi. Ki Sanak berusaha menghapus kenyataan dengan alasan yang dibuat-buat, seolah-olah kawanmu yang tidak dapat menerima kedatanganmu dengan baik itu terlalu cengeng, lemah hati dan sangat berbelas kasihan. Padahal, kau tentu tahu bahwa ia memang tidak punya kemampuan untuk melawan saudaraku itu.” “Tutup mulutmu,” bentak tamu orang berwajah cacat itu. “Apakah aku harus membungkam mulutmu lebih dahulu?” “Terserah kepadamu dan kepada kawan-kawanmu. Pokoknya aku akan berkelahi di samping saudaraku. Siapa pun yang ingin melawan kami silahkan memasuki arena. Harga diri agaknya memang tidak begitu penting bagi kalian,” berkata Manggada yang kemudian melangkah mendekati adik sepupunya. Kedua lawan yang garang itu termangu-mangu sejenak. Dua anak muda itu nampaknya memang meyakinkan. Tetapi ketika Manggada menyebut-nyebut harga diri, maka harga diri mereka sebenarnyalah telah tersentuh. Karena itu, kedua orang itu tidak serta-merta memanggil kawan-kawannya untuk ikut memasuki arena. “Marilah,” berkata Manggada kemudian, “kami sudah siap.” “Jika kalian ingin ikut bermain semuanya, kami tidak berkeberatan,” berkata Laksana. Lalu, “Dengan demikian kami dan orang-orang di lingkungan ini akan dapat menilai seberapa besar nama kalian dibandingkan dengan harga diri kalian.” “Cukup,” bentak orang berwajah cacat itu. “Aku akan membunuhmu.” Manggada dan Laksanapun telah bersiap sepenuhnya. Sementara itu Manggada sempat berbisik, “Kau telah menyeret kita dalam persoalan yang tidak ada artinya seperti ini.” Laksana mengerutkan dahinya. Iapun kemudian menjawab dengan suara yang lambat hampir berdesis, “Siapa bilang tidak ada artinya? Aku merasa mendapatkan petunjuk yang sangat berharga tentang pengembangan ilmuku.” “O,” Manggada mengangguk-angguk, “jika itu yang kau maksud, aku sependapat. Tetapi apakah cukup berharga dibandingkan dengan kemungkinan yang bakal terjadi?” Laksana termangu-mangu. Namun akhirnya ia bergumam, “Sudah terlanjur.” Manggada tidak bertanya lagi. Ia pun harus bersiap sepenuhnya menghadapi lawannya itu. Ternyata bahwa Manggada harus berhadapan dengan orang yang disebut tamu oleh orang yang cacat wajahnya itu, sementara orang yang cacat itu tetap akan berhadapan dengan Laksana. Meskipun orang cacat itu harus mengakui di dalam hati, bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan anak muda itu. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia hanya berharap agar tamunya akan dengan cepat mengalahkan anak muda yang seorang lagi, yang sejak semula hanya melihat-lihat saja. Orang yang berwajah cacat itu berharap bahwa anak muda itu tidak memiliki kemampuan sebagaimana anak muda yang bertempur melawannya. Jika tamunya itu sudah berhasil, maka ia tentu akan dapat membantunya mengalahkan lawannya itu. Karena itu, maka yang harus dilakukan kemudian adalah justru lebih banyak bertahan saja daripada menyerang. Demikianlah, sejenak kemudian kedua orang itu telah terlibat dalam pertempuran. Tetapi mereka berdua harus melawan dua orang anak muda. Orang berwajah cacat itu telah kembali lagi dalam keadaannya semula sebelum tamunya itu melibatkan diri. Lawannya, anak muda itu, telah dengan serta-merta mulai mendesaknya lagi, meskipun ia tetap mempergunakan keling bergerigi di tangannya. Namun ia masih tetap berharap bahwa tamunya akan segera membantunya setelah ia menyelesaikan lawannya. Orang berwajah cacat itu yakin bahwa tamunya tidak akan mengalami kesulitan, karena menurut pengenalannya, tamunya itu adalah orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi daripadanya. Sementara itu ia menduga bahwa anak muda yang melawan tamunya tidak memiliki kemampuan seperti lawannya itu. Sesaat Manggada memang agak canggung. Karena itu, beberapa kali ia justru berloncatan mengambil jarak. Orang berwajah cacat itu menjadi semakin yakin, bahwa dalam waktu dekat tamunya itu akan segera menyelesaikan lawannya, justru karena orang itu sekilas sempat melihat bagaimana lawannya berloncatan surut. Lawan Manggada itu memang memiliki ilmu yang lebih tinggi dari orang berwajah cacat itu. Karena itu, maka pada benturan-benturan pertama, Manggada masih belum dapat mengetrapkan ilmunya dengan mapan sebagaimana Laksana. Tetapi lawan yang pertama bagi Laksana adalah lawan yang tidak memiliki ilmu setinggi tamu orang yang berwajah cacat itu. Sehingga dengan demikian Laksana dapat menyesuaikan ilmunya dengan tataran selapis demi selapis. Namun keuntungan Manggada adalah bahwa ia telah menyaksikan Laksana bertempur. Dari pengamatan itu, maka Manggada telah mendapat pengalaman pula yang dapat membantunya melawan tamu dari orang berwajah cacat itu. Perlahan-lahan Manggada mulai menyesuaikan dirinya. Ia mulai mantap mengetrapkan unsur-unsur gerak yang sudah dipelajarinya dan bahkan iapun mulai mampu mengambil sikap menghadapi unsur-unsur gerak yang baru ditemuinya saat itu, yang dipergunakan oleh lawannya yang jauh lebih berpengalaman. Untunglah bahwa Manggadapun telah menempa diri dengan latihan-latihan yang berat dan keras. Bahkan sebagai saudara yang lebih tua dalam perguruannya, Manggada memang memiliki kelebihan dari Laksana. Meskipun umur keduanya hanya terpaut setahun, tetapi cara berpikir Manggada memang lebih dewasa dari adik sepupunya. Apalagi Manggada yang berguru pada pamannya itu telah terpisah dari kedua orang tuanya, sementara Laksana meskipun berguru pada guru yang sama dengan Manggada, tetapi ia berada di rumah sendiri. Gurunya itu adalah juga ayahnya, sehingga ia menjadi lebih manja dari sepupunya. Meskipun gurunya tidak membedakan antara kedua muridnya, namun perkembangan yang wajar telah terjadi. Manggada yang harus lebih prihatin dari adik sepupunya itu tumbuh menjadi lebih dewasa dari Laksana. Demikian pula penguasaan ilmu mereka. Meskipun pada dasarnya mereka memiliki ilmu yang sama, karena dasar ilmu gurunya telah tertuang seluruhnya, namun Manggada agak lebih dewasa mengendapkan ilmu itu di dalam dirinya. Karena itu, maka menghadapi lawan yang lebih baik dari orang yang berwajah cacat itu, Manggada segera berhasil mengimbanginya. Karena itu, maka pertempuran di antara merekapun segera meningkat menjadi semakin sengit. Keduanya berusaha untuk meningkatkan kemampuan mereka dan mengatasi lawannya. Berbekal pengalaman yang panjang, maka tamu orang berwajah cacat itu segera mengetahui bahwa lawannya, anak muda itu adalah seorang yang baru saja keluar dari sebuah perguruan dengan ilmunya yang masih utuh dan lugu. Namun dalam beberapa saat kemudian segera terasa, bahwa anak muda itu dengan cepat berusaha untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh ilmunya. Unsur-unsur geraknya justru mulai berkembang bahkan rasa-rasanya anak muda itu telah diberi beberapa umpan untuk dapat dipecahkannya dengan bekal ilmu yang ada padanya. Tamu dari orang berwajah cacat itu memang menjadi heran. Anak itu tentu anak yang sangat cerdas. Namun karena itu pula maka orang itupun menjadi semakin berhati-hati. Anak muda yang dijumpainya itu benar-benar anak muda yang luar biasa. Dalam pada itu, Manggada semakin lama menjadi semakin mapan. Ia justru mulai menilai arti dari latihan-latihan yang dilakukan dengan keras di dalam maupun di luar sanggar. Ia mulai mendapat kesempatan untuk mengetrapkan pesan-pesan gurunya yang sebelumnya hanya dilakukan dengan tidak bersungguh-sungguh betapapun beratnya latihan. Tetapi dalam perkelahian yang sebenarnya, maka Manggada tidak perlu terlalu banyak mengekang diri. Ia tidak perlu memperhitungkan apakah serangannya akan menyakiti lawannya atau tidak. Karena itulah, maka semakin lama terasa oleh lawannya, bahwa kemampuan Manggada justru menjadi semakin berat. Semakin lama semakin terasa menekan. Orang yang berwajah cacat itu ternyata telah menjadi semakin sulit. Betapapun ia mempergunakan senjatanya dengan segenap kemampuannya, tetapi anak muda itu benar-benar mampu berloncatan secepat burung sikatan menyambar bilalang. Namun sekali-sekali serangannya datang dengan dahsyatnya seolah-olah seekor burung garuda menyambar mangsanya. Orang yang berwajah cacat itu benar-benar sudah kehilangan kesempatan untuk melawan. Beberapa kali tangan Laksana telah mengenai tubuhnya. Bahkan dua kali mengenai keningnya dan sekali menyambar tengkuknya. Rasa-rasanya tulang-tulangnya sudah berpatahan sehingga tubuhnya menjadi semakin lama semakin lemah. Tetapi yang ditunggu tidak juga segera datang. Tamunya tidak segera dapat mengalahkan anak muda yang ikut turun ke arena itu, yang semula disangkanya tidak mempunyai kemampuan seperti anak muda yang lain yang bertempur melawannya. Namun dalam kesempatan-kesempatan kecil, orang yang berwajah cacat itu melihat bahwa tamunya itu justru mulai terdesak. “Anak-anak gila,” geram orang berwajah cacat itu. Dengan demikian, maka ia tidak lagi mempunyai harapan untuk mendapat pertolongan dari tamunya. Beberapa saat ia masih mencoba bertahan. Namun sementara itu tamunyapun telah mulai disentuh oleh tangan Manggada yang terasa seberat timah hitam. Karena itu, maka kedua orang yang sedang bertempur itu sama sekali tidak melihat kemungkinan untuk dapat memenangkan pertempuran itu. Tetapi mereka tidak mau dihinakan karena kekalahan mereka, sehingga orang-orang di sekitar tempat itu akan memberikan penilaian yang sangat merugikan kepada mereka. Karena itu, maka tamu orang berwajah cacat itu, tiba-tiba saja telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya. Kedua orang pengikutnya menjadi ragu-ragu. Hal seperti itu jarang sekali dilakukan. Hanya apabila orang bertubuh tinggi tegap, berjambang dan berjanggut lebat itu membentur lawan yang tidak terkalahkan, barulah ia mengisyaratkan kedua orang itu untuk ikut membantu. Namun ternyata bahwa isyarat yang hanya mereka berdua sajalah yang mengerti itu telah diberikan. Karena kedua orang itu ragu-ragu, maka tamu orang cacat itu tiba-tiba saja telah berteriak, “He, jangan biarkan anak itu lari. Cepat, kepung anak itu.” Barulah kedua orang pengikutnya yakin, bahwa orang bertubuh tinggi tegap itu memang memerlukan mereka. Karena itu, maka kedua orang pengikutnya itupun telah turun pula ke arena. Dengan serta-merta mereka telah menyergap dengan garangnya. Manggada memang terkejut melihat kedua orang itu turun. Karena itu, maka iapun harus semakin berhati-hati menghadapi tiga orang lawan. Sebenarnyalah bahwa bertiga lawan Manggada itu menjadi terlalu berat. Manggada yang belum berpengalaman itu telah terlibat dalam pertempuran yang demikian sengitnya. Di lingkaran pertempuran yang lain, orang berwajah cacat itupun telah memanggil kawan-kawannya pula. Ia sadar, bahwa dua di antara kawannya telah dikalahkan oleh lawannya yang muda itu, sehingga tenaganya tentu sudah susut. Tetapi seorang yang lain masih segar dan belum kehilangan tenaga sama sekali. Demikianlah, maka Laksanapun harus bertempur menghadapi empat orang lawan. Meskipun dua di antara mereka masih belum pulih, tetapi berempat mereka merupakan kekuatan yang luar biasa. Beberapa saat lamanya mereka bertempur. Manggada melawan tiga orang, sementara Laksana melawan empat orang. Sedangkan orang berwajah cacat itu masih juga mempergunakan keling di tangannya. Kedua anak muda itu harus mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi lawan-lawannya. Namun bagaimanapun juga ternyata mereka merasa bahwa betapa beratnya bertempur melawan tiga dan empat orang. Untuk beberapa saat Manggada dan Laksana masih bertahan. Namun akhirnya Manggada tidak dapat ingkar, bahwa ilmunya yang diterimanya selama ia berguru, masih jauh dari mencukupi. Demikian pula Laksana. Ia harus menyadari, bahwa demikian ia lepas dari perguruannya, bukan berarti bahwa ia adalah orang yang terkuat di bawah lengkung langit. Ketika ia bertempur seorang melawan seorang, maka ia memang merasa bahwa ilmunya seakan-akan mampu mrantasi. Namun kemudian ternyata bahwa ia telah keliru menilai diri, sehingga tidak ada kemungkinan yang paling baik daripada menghindar. Karena itu, maka pada kesempatan berikutnya, Manggada dan Laksana itupun telah bergeser saling menjauh. Namun dengan isyarat tertentu, maka keduanya telah meloncat meninggalkan arena pertempuran, tanpa mencabut senjata mereka lebih dahulu. Kedua anak muda itu telah berlari menghindari lawan-lawan mereka. Keduanya ternyata telah memilih arah yang berbeda. Meskipun lawan-lawannya berusaha untuk mengejarnya, tetapi mereka terpaksa berhenti sebelum sempat menangkap. Lawan-lawannya yang tahu kemampuan kedua anak muda itu tidak mau berpencar. Mereka mengejar kedua anak muda yang berlari ke arah yang berbeda itu dalam kelompok masing-masing. Mereka menyadari, jika mereka berpencar, maka mereka akan dapat menempuh bahaya, karena mereka masing-masing bahkan dua orang di antara mereka bersama-sama tidak akan dapat melawan seorang di antara anak-anak muda itu. Karena itu, demikian kedua anak muda itu masuk ke gelapnya malam, merekapun telah berhenti mengejar. Beberapa orang di antara mereka terdengar mengumpat. Orang yang berwajah cacat itupun mengumpat pula. Namun orang yang disebut tamunya itu berkata, “Mereka memang pantas dihukum. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku kagum terhadap mereka. Dengan jujur aku katakan, bahwa aku belum pernah bertemu dengan anak-anak muda seperti itu. Baik sikapnya maupun kemampuannya. Nah, siapakah di antara kita, seorang-seorang, merasa bahwa kemampuannya dapat mengimbangi anak muda itu?” Semua orang terdiam, karena setiap orang memang mengakui di dalam hati, bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang mampu mengimbangi kemampuan anak-anak muda itu. “Sudahlah,” berkata tamu orang berwajah cacat itu, “kita lupakan saja mereka. Jika mereka kembali, kita jangan menghiraukannya. Karena jika timbul lagi perselisihan, kitalah yang akan menderita malu. Kita harus mengakui, bahwa kita tidak akan dapat mengalahkannya. Apalagi jika anak-anak itu kembali dengan orang yang paling dihormatinya. Gurunya. Karena aku yakin, menilik unsur-unsur geraknya, kedua anak muda itu adalah murid-murid seperguruan. Mereka agaknya baru saja keluar dari perguruannya untuk melihat cakrawala yang lebih luas dari dunia olah kanuragan. Kita adalah orang yang pertama atau setidak-tidaknya termasuk orang-orang di permulaan usaha mereka untuk menjajagi kemampuan mereka sendiri sebagaimana anak-anak muda yang baru mendapatkan ilmu. Menurut penglihatanku yang sekilas, nampaknya mereka bukan orang-orang jahat yang pantas untuk dihukum atau pemeras-pemeras seperti kita.” Orang berwajah cacat itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia membenarkan di dalam hati, bahwa dua orang anak muda itu sulit untuk dikalahkan. Apalagi jika kemudian datang gurunya atau saudara tua seperguruan. “Sekarang kita akan membicarakan urusan kita sendiri,” berkata orang yang disebut tamu orang cacat di wajahnya itu. Orang berwajah cacat itu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata, “Tetapi kedai-kedai itu sudah tutup.” “Bukankah kau dapat memaksa salah seorang di antara mereka membuka kedainya?” bertanya tamunya itu. Orang berwajah cacat itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah. Aku akan memaksa mereka membuka pintu kedainya.” Sebenarnyalah orang berwajah cacat itu telah memaksa pemilik kedai yang telah menutup pintunya itu untuk membuka kembali. Pemilik kedai itu memang tidak akan dapat menyatakan keberatannya, karena jika demikian maka akibatnya akan sangat buruk baginya. Sementara itu, Manggada dan Laksana masih berlari-lari kecil menjauhi padukuhan itu. Mereka memang terpisah. Namun beberapa saat kemudian, keduanya telah berusaha menemukan jalan induk. Keduanya memang saling mencari untuk beberapa saat. Namun akhirnya merekapun dapat saling menemukan. Ketika Manggada berjalan menyusuri jalan induk di malam yang gelap, maka diketemukannya adik sepupunya itu duduk di bawah sebatang pohon di pinggir jalan yang sepi, meskipun di siang hari jalan itu cukup ramai. Manggadapun kemudian telah duduk pula di sampingnya. Ternyata keduanya memang terengah-engah. Untuk beberapa saat keduanya berdiam diri. Sementara itu Laksana malahan bersandar pada batang pohon itu. Baru sejenak kemudian Manggada berkata, “Rasa-rasanya kita sudah puas sempat berlari-lari dalam kegelapan. Hampir saja aku terperosok ke dalam sumur sebelum aku keluar dari padukuan itu.” Laksana menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia tertawa. Katanya, “Bukankah kita telah mendapat satu pengalaman yang menarik? Dengan demikian kita dapat menilai diri kita sendiri.” “Bagaimana kita dapat menilai diri kita?” bertanya Manggada. “Kita tidak mempunyai takaran, apakah orang-orang itu dianggap memiliki kemampuan tinggi, sedang, atau justru berkemampuan sangat rendah. Jika ternyata menurut ukuran dunia olah kanuragan, orang-orang itu berkemampuan sangat rendah, maka alangkah bodohnya kita.” “Kita harus mengambil takaran yang lain,” berkata Laksana. “Maksudmu?” bertanya Manggada. “Kita akan berkelahi lagi,” jawab Laksana pula. Manggada mengerutkan keningnya. Dengan nada heran ia bertanya, “Dengan siapa?” “Kita harus menguji ilmu kita dengan siapa pun kita berkelahi,” jawab Laksana. “Itulah yang dicemaskan oleh paman,” jawab Manggada. “Kita tidak perlu berbuat demikian.” “Tetapi bukankah terasa manfaatnya bahwa kita telah bertempur dengan orang-orang itu?” bertanya Laksana. Lalu katanya, “Dengan demikian kita dapat menjajagi kemampuan kita serta kesempatan untuk mengembangkan unsur-unsur gerak yang pernah kita pelajari. Ternyata kadang-kadang kita berhadapan dengan unsur gerak yang tidak terduga sebelumnya dan tidak dapat diatasi dengan unsur gerak yang manapun yang pernah kita kuasai. Namun bukan berarti bahwa kita harus gagal. Pada saat demikian itulah maka unsur gerak yang kita kuasai itu berkembang. Jika tidak, maka tubuh kita akan disakiti. Tanpa memaksa diri dengan cara itu, maka perkembangan ilmu kita akan lambat.” Tetapi Manggada menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tetapi aku tidak sependapat dengan caramu. Mungkin kita dapat melakukannya dengan orang-orang lain yang memiliki ilmu dari keturunan perguruan yang lain yang dapat berlatih bersama kita. Dengan demikian kita tidak perlu berkelahi tanpa sebab.” “Kenapa harus menunggu sampai ada orang lain menolong kita? Baiklah. Kita memang tidak perlu memancing persoalan. Tetapi jika persoalan itu datang kepada kita, maka kita tidak akan menghindar,” berkata Laksana. Manggada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Untuk beberapa saat lamanya keduanya duduk berdiam diri di bawah pohon di pinggir jalan itu. Laksana yang bersandar pada batangnya yang cukup besar justru mulai terkantuk-kantuk. Angin malam yang sejuk mengusap wajahnya dengan lembut. Namun sambil memejamkan matanya Laksana itu sempat berkata, “Mudah-mudahan ada penyamun lewat dan ingin menyamun kita.” “Ah, kau ini ada-ada saja,” desis Manggada. Laksana tertawa. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Marilah. Kita berjalan terus. Bulak di hadapan kita adalah bulak yang panjang. Mungkin kita mempunyai kesempatan untuk dirampok orang.” “Jangan mengigau begitu,” potong Manggada. Laksana masih saja tertawa. Katanya, “Apakah salahnya mencari pengalaman? Bukankah pengalaman akan dapat menjadi guru yang sangat baik?” “Ah, kau,” geram Manggada. Tetapi Laksana masih saja tertawa. Bahkan kemudian iapun telah menarik tangan Manggada sambil berkata, “Marilah. Kita berjalan terus.” Manggada tidak dapat menolak. Iapun kemudian bangkit dan melangkah meneruskan perjalanan. Dalam gelapnya malam mereka menyusuri jalan yang agaknya menuju ke tempat-tempat terpenting di sekitar tempat itu. Meskipun keduanya belum mengetahui dengan pasti, namun keduanya mengerti bahwa jalan yang mereka lalui adalah jalan yang paling banyak dilewati orang di siang hari. “Mungkin jalan ini menuju ke padukuhan induk sebuah kademangan yang besar,” berkata Laksana. “Kita baru dapat menentukan arah besok pagi,” berkata Manggada. “Bahkan mungkin kita menempuh jalan yang salah.” “Tidak banyak berarti,” jawab Laksana. “Jika kita salah jalan, kita akan mencari jalan kembali ke garis lurus yang harus kita lewati. Kita akan tetap mempunyai ancar-ancar. Sementara itu seharusnya kau dapat mengenali jalan menuju ke rumahmu itu.” “Tetapi jika kita berjalan di malam hari, memang agak sulit untuk mengenalinya. Apalagi sudah lama aku tidak lewat jalan itu lagi,” jawab Manggada. “Tidak apa-apa,” berkata Laksana. “Kita mempunyai waktu tidak terbatas.” “Tetapi bekal kitalah yang terbatas,” berkata Manggada. “Jika kita tidak sampai ke tujuan pada waktunya, sementara itu bekal itu habis di jalan, apa yang kita lakukan? Minta-minta? Atau sekaligus menjajagi ilmu kita, kita akan merampok?” Laksana termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kita akan berusaha untuk menyelesaikan perjalanan kita sebelum bekal kita habis.” Manggada tidak menjawab. Tetapi ternyata mereka masih saja berjalan terus. Namun Laksanapun ternyata tidak mau memasuki padukuhan-padukuhan yang ada di hadapan mereka. Ia lebih senang menghindari gardu-gardu yang biasanya terdapat di belakang regol padukuhan. “Kenapa kita menghindari mereka?” justru Manggadalah yang bertanya kemudian. “Buat apa bersusah-susah melayani mereka? Mereka tentu akan bertanya tentang seribu macam soal sehingga mungkin dapat membuatku marah,” sahut Laksana. “Bukankah kau memang ingin berkelahi?” bertanya Manggada. “Tetapi tidak dengan anak-anak padukuhan. Tidak ada gunanya sama sekali. Mereka bukan orang-orang yang memiliki kemampuan yang dapat memberikan pengalaman bagi kita,” jawab Laksana. Manggada tidak menjawab. Tetapi sebenarnya ia bingung. Apakah Laksana memang segan bertengkar dengan mereka atap justru karena kesombongannya sehingga ia menganggap anak-anak muda itu tidak berarti bagi pengalamannya. Untuk beberapa saat keduanya berjalan sambil berdiam diri. Manggada dan Laksana sempat menilai peristiwa yang baru saja terjadi. Laksana menganggap bahwa pengalaman yang diperoleh itu telah memberikan manfaat baginya. Sementara itu, Manggadapun mengakui bahwa pertempuran itu telah membuka pintu pengalaman yang berharga bagi perjalanan ilmu mereka. Tetapi Manggada tidak sependapat bahwa cara seperti itu akan selalu ditempuh oleh Laksana. Selain akan dapat menumbuhkan permusuhan dan dendam, suatu ketika mungkin mereka akan membentur kekuatan yang tidak teratasi. Bukan berarti bahwa mereka harus ketakutan menghadapi ilmu yang lebih tinggi, tetapi sebab dari benturan ilmu itu sendiri harus berarti. Bukan justru dicari-cari. Untuk beberapa saat lamanya keduanya masih saja berdiam diri. Sementara malam menjadi semakin dalam. Jika mereka berjalan melalui jalan yang dekat dengan mulut-mulut lorong di padukuhan, maka merekapun melihat obor yang menyala di pintu gerbang atau di gardu-gardu. Tetapi keduanya tidak berniat untuk berjalan melalui gerbang-gerbang padukuhan yang pada umumnya terdapat gardu-gardu perondan di dekatnya. Namun beberapa saat kemudian Laksanapun berkata, “Apakah kita akan berjalan terus semalam suntuk?” “Bukankah kau yang ingin berjalan terus untuk mendapatkan kemungkinan bertemu dengan penyamun di malam hari atau perampok yang berpapasan di jalan ini?” jawab Manggada. Laksana terrpangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Jika demikian aku mempunyai usul baru.” “Apa?” bertanya Manggada. “Kita beristirahat,” jawab Laksana. “Agaknya aku mulai kantuk dan letih.” Manggada mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata, “Dimana menurut pendapatmu tempat yang terbaik untuk beristirahat?” “Biasanya kedai-kedai yang besar memberikan tempat untuk menginap. Biasanya bagi para pedagang yang kemalaman atau tempat yang memang diperuntukkan bagi pertemuan para pedagang dari berbagai tempat yang jauh akan dapat diberikan tempat meskipun mungkin kurang baik,” berkata Laksana. “Bukankah ayah pernah mengatakannya tentang hal itu?” “Tetapi kita bukan pedagang,” sahut Manggada. “Tentu bukan soal, asal kita juga membayar seperti seorang pedagang. Atau kita dapat mengaku pedagang. Atau kita dapat mengaku sebagai seorang pedagang yang kemalaman,” berkata Laksana. Manggada mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian berkata, “Malam telah larut. Apakah tidak sebaiknya kita mencari pengalaman lain. Kita dapat bermalam dimana saja. Kita akan mencari sebuah pategalan yang agaknya tidak terlalu sering didatangi orang atau padang perdu atau tempat-tempat lain yang barangkali baik untuk bermalam.” Tetapi Laksana mengerutkan keningnya. Katanya, “Setiap saat hujan dapat turun. Lihat, beberapa lembar awan lewat di depan wajah langit.” “Apa salahnya hujan turun? Tentu para petani yang sawahnya tidak terjangkau oleh parit-parit dan sungai-sungai buatan yang sengaja digali untuk menyalurkan air ke bulak-bulak akan sangat berterima kasih jika hujan turun. Apalagi bagi mereka yang sudah mulai menanam padi seperti sawah sebelah,” sahut Manggada. “Tetapi sawah sebelah mendapat air dari parit itu,” berkata Laksana. “Ya sawah di sebelah-menyebelah jalan itu. Tetapi di tempat lain parit itu tidak akan menjangkaunya,” jawab Manggada. Laksana tidak segera menjawab. Namun kemudian katanya seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri, “Tetapi lebih baik kita mencari penginapan. Di penginapan kita akan dapat memesan minuman dan makanan. Setidak-tidaknya untuk makan pagi besok.” “Bukankah pengalaman akan dapat menjadi guru yang baik?” bertanya Manggada. “Lebih baik mencari pengalaman tentang olah kanuragan daripada sekedar tidur di pategalan dikerumuni nyamuk dan barangkali anjing-anjing liar,” jawab Laksana. Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat memaksa adik sepupunya. Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Tetapi kaulah yang mencari penginapan.” “Tentu kita berdua,” sahut Laksana. Manggada terdiam. Mereka berdua berjalan menyusuri jalan di tengah-tengah bulak. Namun ketika jalan itu menuju ke sebuah padukuhan yang besar, maka Laksana berkata, “Kita memasuki padukuhan itu. Mungkin di padukuhan itu terdapat sebuah kedai yang besar yang memberikan tempat untuk menginap.” “Jadi kita akan memasuki gerbang padukuhan itu?” bertanya Manggada. “Ya. Tentu saja kita akan mengaku pedagang yang kemalaman di perjalanan,” jawab Laksana. “Pedagang apa? Kita tidak membawa apapun dan barangkali tampang dan pakaian kita tidak menunjukkan bahwa kita adalah pedagang,” desis Manggada. Laksanapun mengangguk-angguk. Katanya, “Kita memang harus menyiapkan jawaban atas pertanyaan orang-orang yang tentu ada di gardu di belakang gerbang itu.” “Nah, kaulah yang harus menyediakan jawaban itu,” berkata Manggada. Laksana mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Baiklah. Kita akan mengatakan kepada mereka, bahwa kita adalah dua orang yang sedang menempuh perjalanan karena satu kepentingan keluarga. Tentu tidak ada orang yang berhak bertanya kepentingan itu, karena itu sifatnya sangat pribadi.” Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya, “Jadi kita tidak mengaku sebagai pedagang?” “Tidak. Daripada kita akan mengalami kesulitan jika mereka bertanya lebih jauh,” jawab Laksana. Manggada mengangguk-angguk. Ia harus menyesuaikan diri dengan rencana Laksana itu, agar jawaban mereka tidak bersimpang siur. Demikianlah, maka mereka berdua telah menuju ke padukuhan besar di hadapan mereka. Tidak seperti yang telah mereka lakukan, menyimpang melalui jalan-jalan yang lebih kecil. Seperti yang mereka duga, mereka harus berhenti di gerbang itu yang memang terdapat sebuah gardu ronda. Beberapa anak muda yang bertugas malam itu telah menghentikan mereka. “Siapakah kalian?” bertanya anak muda yang bertanggung jawab di gardu malam itu. “Kami adalah pejalan yang kemalaman,” jawab Laksana. “Pengembara?” bertanya anak muda itu lagi. “Bukan. Tetapi kami dalam perjalanan menuju ke rumah saudara kami karena satu keperluan keluarga,” jawab Laksana. “Keperluan apa?” bertanya anak muda itu lagi. “Maaf, Ki Sanak,” jawab Laksana, “keperluan kami adalah sangat pribadi, sehingga kami tidak dapat menyebutkan di hadapan Ki Sanak.” Anak muda itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya lagi, “Sekarang kalian berdua akan pergi kemana?” “Kami akan bermalam di padukuhan ini,” jawab Laksana yang kemudian justru bertanya, “Ki Sanak, apakah di padukuhan ini ada penginapan?” Anak muda itu termangu-mangu. Iapun kemudian berpaling kepada kawan-kawannya sambil berkata, “Apakah kita dapat membiarkan mereka pergi ke penginapan? Sementara orang-orang di penginapan itu sedang bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk itu?” Beberapa anak muda yang berdiri di depan gardunya itupun saling berpandangan sejenak. Namun seorang di antara mereka melangkah maju sambil bertanya, “Apakah bukan justru keduanya itu yang harus dicurigai?” Tetapi anak muda yang bertanggung jawab di gardu itu menggeleng. “Aku tidak mencurigai mereka menilik ujud dan sikap mereka. Apalagi mereka masih terlalu muda, lebih muda dari kita.” Manggada dan Laksana yang mendengar jawaban anak muda yang bertanggung jawab di gardu itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka berharap bahwa mereka mendapat kesempatan untuk bermalam di penginapan tanpa harus menjawab pertanyaan yang terlalu menjemukan. Bahkan anak muda itu justru berkata, “Bahkan sebaiknya kita memberitahukan kepada mereka, bahwa penginapan itu justru baru bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk.” Anak-anak muda yang lain mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Terserah saja kepadamu.” Pemimpin dari para peronda malam itupun kemudian berkata kepada Manggada dan Laksana, “Anak-anak muda, di padukuhan ini memang terdapat sebuah penginapan. Tetapi pada saat ini, keresahan baru tertuju pada penginapan itu.” “Apa yang terjadi di penginapan itu?” bertanya Manggada. “Dua orang yang sedang menginap di penginapan itu merasa terancam jiwanya. Kedua orang itu merasa bahwa sekelompok orang akan datang kepada mereka dan berusaha membunuh mereka,” jawab anak muda itu. “Kenapa? Siapakah yang bersalah di antara mereka? Apakah kedua orang itu telah melakukan kesalahan sehingga sekelompok orang akan mengejar mereka, atau sekelompok orang itu yang akan berbuat kejahatan?” bertanya Laksana. Anak muda yang memimpin sekelompok peronda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “Aku tidak tahu. Tetapi nampaknya Ki Bekel dan Ki Jagabaya yang mendapat laporan tentang kemungkinan itu telah berpihak kepada kedua orang yang ada di penginapan. Selain dari itu, jika penginapan itu memberikan kesan yang buruk, maka penginapan itu akan menjadi tidak laku. Dengan demikian, maka penghasilan dari padukuhan ini dari pajak yang diberikan oleh penginapan itu akan menjadi susut.” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu anak muda yang bertanggung jawab di gardu itu bertanya, “Nah, terserah kepada kalian. Jika kalian tidak ingin terlibat ke dalam kesulitan yang mungkin terjadi di penginapan itu, maka kalian dapat tinggal disini bersama kami. Kalian dapat tidur di gardu itu. Sementara besok kalian dapat mandi di rumahku.” “Terima kasih,” jawab Manggada. Namun Laksana menjawab, “Ki Sanak, kami sangat berterima kasih atas tawaran itu. Tetapi kami tidak ingin merepotkan kalian. Apalagi kesulitan di penginapan itu, bukankah belum pasti akan terjadi?” “Terserah kepada kalian,” jawab anak muda itu. “Tetapi aku telah memberi peringatan kepadamu. Jika terjadi sesuatu, kalian tidak akan terkejut lagi karenanya.” Manggada dan Laksana termangu-mangu. Justru niat baik itu telah menyentuh hati mereka. Karena itu, maka bukan sepantasnya keduanya menolak niat baik itu. Juga untuk melepaskan diri dari tuduhan bahwa keduanya terlibat dalam persoalan yang tidak mereka ketahui itu, maka Manggadapun kemudian berkata, “Jika demikian, maka biarlah kami bermalam di gardu ini saja.” “Jika itu keputusan kalian, silahkan. Dengan demikian, maka kalianpun telah menempatkan diri kalian pada tempat yang tidak akan terkait dengan persoalan yang dapat terjadi di penginapan itu. Kalian pun tidak akan dapat dicurigai menjadi ujung paruh sekelompok orang yang akan menyerang penginapan itu, meskipun aku sendiri tidak mencurigai kalian,” berkata anak muda yang memimpin kawan-kawannya di gardu perondan itu. “Terima kasih,” sahut Manggada dan Laksana hampir berbarengan. Demikianlah, maka kedua orang anak muda itu telah dipersilahkan naik ke gardu. Keduanya telah dipersilahkan untuk tidur di gardu yang sengaja dibuat agak gelap, setelah mereka meletakkan obor agak jauh dari gardu itu. Manggada dan Laksanapun tidak lagi memikirkan penginapan yang telah diancam oleh sekelompok penjahat. Ketika anak-anak muda yang meronda itu agaknya tidak lagi menghiraukan mereka, maka keduanyapun telah terbaring dalam bayangan gelap di gardu itu. Tetapi keduanya cukup berhati-hati. Meskipun keduanya telah terbaring, namun keduanya telah bersepakat untuk tidur bergantian. Yang mula-mula tidur adalah Laksana. Manggada akan membangunkannya bila malam menjelang dini hari. Dan sebelum terang tanah keduanya harus sudah bangun dan meninggalkan gardu itu. Mereka memang tidak perlu singgah untuk mandi di rumah anak muda yang memimpin kawan-kawannya malam itu di gardu vang ternyata baik hati kepada mereka berdua. Sejenak kemudian Laksana yang mempercayakan pengamatan suasana kepada Manggada ternyata telah tertidur. Tarikan nafasnya yang teratur memang menunjukkan bahwa ia benar-benar tidur nyenyak karena badannya yang agak penat. Meskipun keduanya tidak sempat mandi dan membenahi diri, tetapi mereka tidak merasa terganggu. Lebih-lebih Laksana, yang sebentar kemudian telah bermimpi. Beberapa saat lamanya tidak terjadi sesuatu yang dapat mengganggu anak-anak muda padukuhan itu. Dua orang telah duduk di bibir gardu tanpa mengganggu Laksana yang tertidur. Dua orang yang lain duduk di dekat perapian, sementara dua yang lain bermain macanan di bawah obor yang ditancapkan tidak terlalu dekat dengan gardu itu, sedangkan beberapa orang berjaga-jaga di luar regol padukuhan. Nampaknya kabar tentang akan datangnya sekelompok orang yang akan membunuh dua orang di penginapan itu telah mencengkam setiap orang, sehingga anak-anak muda itu semakin malam menjadi semakin gelisah. Manggada yang masih belum tertidur merasakan kegelisahan itu. Bahkan anak-anak yang mencoba melupakan kegelisahan itu dengan bermain macananpun tidak dapat memusatkan nalar dan perhatian mereka kepada permainan itu, sehingga akhirnya merekapun menjadi jemu. Seorang yang agaknya tidak mempunyai keberanian cukup, justru telah menjadi terlalu banyak minum. Setiap jantungnya berdegup keras, maka diteguknya air dingin di gendi yang terletak di sisi gardu. Beberapa kali ia meneguk air gendi itu sehingga rasa-rasanya perutnya menjadi gembung. Manggada yang berbaring diam itu kemudian mendengar seorang di antara para peronda itu berkata, “Jika mereka masuk melalui gerbang ini, maka kita adalah orang-orang yang pertama mengalami bencana.” “Kita tidak seorang diri,” jawab kawannya. “Jika perlu kita pukul kentongan, maka Ki Bekel dan Ki Jagabaya akan segera datang kemari.” Anak muda yang pertama mengangguk-angguk. Tetapi ia masih menjawab, “Yang harus kita perhitungkan adalah jarak waktu antara kesulitan yang datang itu dengan kedatangan Ki Bekel dan Ki Jagabaya.” “Tetapi Ki Bekel dan Ki Jagabaya tidak dapat berada di salah satu pintu gerbang padukuhan ini. Mungkin mereka akan memasuki padukuhan ini melalui pintu gerbang yang lain. Atau bahkan sama sekali tidak melalui pintu gerbang yang manapun, karena mereka datang dengan meloncati dinding,” jawab kawannya. Keduanya ternyata telah terdiam beberapa saat. Namun bagi Manggada, maka pembicaraan itu dapat diartikannya sebagai satu kenyataan betapa gelisahnya anak-anak muda di padukuhan itu. Sementara itu, mereka masih belum tahu pasti, apakah dua orang yang berada di penginapan itu bukannya justru yang bersalah, sehingga karena perasaan bersalah itu demikian mencengkam mereka, maka mereka merasa sekelompok orang telah mengejar mereka, bahkan untuk membunuh mereka. Tetapi Manggada masih tetap berdiam diri saja. Bahkan ia sempat merasakan betapa segarnya udara di malam hari. Sambil berbaring maka rasa-rasanya ia benar-benar dapat mengendorkan urat-uratnya yang tegang selama dalam perjalanan, bahkan perkelahian yang telah terjadi sepanjang perjalanannya. Namun dalam keadaan yang demikian, Manggada telah berniat untuk melihat apa yang akan terjadi di padukuhan itu. Bahkan iapun merasa wajib untuk membantu jika anak-anak muda padukuhan itu yang ternyata telah berbaik hati kepadanya mengalami sesuatu. Demikianlah, ketika malam menjadi semakin larut, justru menjelang dini hari, Manggada telah menyentuh Laksana agar ia bangun dan menggantikannya. Manggada telah merasa mengantuk sekali, sehingga jika ia masih saja berbaring dalam keadaan seperti itu, maka ia tentu akan segera tertidur. Laksana memang segera terbangun. Ia mengerti akan tugasnya. Ia harus menggantikan Manggada berjaga-jaga, karena mereka tidak tahu apa yang bakal terjadi di gardu itu. Namun Laksana masih juga berbisik, “Jika kita bermalam di penginapan, kita tidak perlu bergantian berjaga-jaga dan kita mendapat tempat yang lebih baik dari alas gardu yang keras ini.” “Apakah kita akan pergi ke penginapan?” bertanya Manggada. “Untuk apa?” bertanya Laksana. “Sebentar lagi hari akan menjadi pagi.” Manggada tersenyum. Namun iapun kemudian memejamkan matanya sambil berkata perlahan, “Pokoknya kau harus berjaga-jaga sejak sekarang.” Laksana tidak menjawab. Namun ia telah mengusap matanya. Menggeliat dan bahkan bangkit duduk di sudut gardu itu. Dua orang anak muda yang berdiri di depan gardu berpaling. Seorang di antara merekapun berkata, “Masih belum pagi. Kau sudah bangun?” Laksana menjawab asal saja, “Udara terasa panas di gardu ini.” Anak muda itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Aku justru merasa sangat dingin.” Laksana menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab. Untuk beberapa saat Laksana masih duduk bersandar dinding gardu itu. Namun tiba-tiba saja Manggada bergerak dengan tiba-tiba memiringkan tubuhnya dan melekatkan kepalanya di lantai gardu yang bertiang agak tinggi. Laksana termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian telah bergeser menepi dan turun pula dari gardu itu, diikuti oleh Manggada. Berdua mereka bergeser ke samping gardu dan menempelkan telinga mereka. “Kau dengar?” bertanya Manggada. “Tetapi tidak begitu jelas,” jawab Laksana. Keduanya kemudian telah bergeser ke tengah jalan sambil berkata kepada anak-anak yang ada di sekitarnya, “Minggir. Jangan berdiri di jalan.” “Ada apa?” bertanya salah seorang di antara anak-anak muda itu. “Cepat,” teriak Manggada. Hampir di luar sadar, maka anak-anak muda itu sudah bergeser keluar dari jalur jalan padukuhan itu. “Kuda,” Manggada hampir berteriak. “Aku mendengar derap kaki kuda. Tidak hanya seekor, tetapi beberapa ekor kuda.” Anak muda yang bertanggung jawab di pintu gerbang itu dengan cepat meloncat mendekat. Dengan keras ia bertanya, “Dari mana kau tahu bahwa ada beberapa ekor kuda berderap di jalan ini? Menjauh atau mendekat?” “Tentu mendekat,” jawab Manggada. Anak muda itu mencoba menempatkan telinganya di jalan itu, sebagaimana dilakukan oleh Laksana dan Manggada. Tetapi mereka tidak dapat menangkap derap kaki kuda sebagaimana didengar oleh Laksana dan Manggada. Karena itu, maka anak muda itupun bertanya, “Kau yakin akan pendengaranmu?” “Ya,” jawab Manggada. “Jika demikian aku harus memberitahukan kepada Ki Bekel dan Ki Jagabaya,” berkata anak muda itu. Lalu iapun berteriak, “Pukul kentongan.” “Jangan bodoh,” potong Manggada. “Dengan demikian maka mereka tidak akan melanjutkan perjalanan ke padukuhan ini. Tetapi mungkin mereka memang orang-orang berkuda yang tidak mempunyai kepentingan apa-apa disini atau orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan kita. Sebaliknya, jika mereka berniat jahat dan tidak mengurungkan niatnya memasuki padukuhan ini, maka mereka tentu orang-orang yang berilmu tinggi.” “Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya anak muda yang memimpin kawan-kawannya di gardu itu. “Panggil Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Cepat, tanpa isyarat kentongan,” jawab Manggada. “Kuda-kuda itu masih agak jauh. Tetapi jika kuda-kuda itu datang lebih dahulu, kita akan menghentikannya dan bertanya tentang banyak hal kepada mereka, sehingga saatnya Ki Bekel dan Ki Jagabaya datang. Sementara itu, ada di antara kalian yang menghubungi orang yang merasa dirinya terancam oleh sekelompok orang. Biarlah mereka mengenali orang-orang berkuda itu. Apakah orang-orang berkuda itulah yang mereka maksud atau bukan.” Anak muda yang memimpin kawan-kawannya itu ternyata mampu bergerak cepat. Iapun segera memilih dua orang pelari cepat untuk menghubungi Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Sementara itu, merekapun telah mendapat pesan agar mereka pergi ke penginapan untuk memberitahukan kepada kedua orang yang merasa dirinya terancam. Sejenak kemudian kedua orang itupun telah berlari meninggalkan gardu dan menuju ke banjar, karena Ki Bekel dan Ki Jagabaya serta beberapa orang bebahu yang lain memang bersiaga di banjar. Sementara itu, anak-anak muda yang berada di pintu gerbangpun segera besiap. Manggada tidak jadi tidur di ujung malam. Tetapi bersama Laksana ia perada di antara anak-anak muda padukuhan itu. Beberapa saat lamanya anak-anak muda itu menunggu dalam ketegangan. Mereka berharap bahwa Ki Bekel dan Ki Jagabaya datang lebih dahulu dari orang-orang berkuda yang tentu menjadi semakin dekat. Sebenarnyalah sejenak kemudian anak-anak muda itu telah mendengar derap kaki kuda. Mereka tidak perlu melekatkan telinga mereka di atas tanah. Tanpa ilmu apapun juga, merekapun kemudian dapat menduga, bahwa yang datang tentu lebih dari seekor kuda. “Ki Bekel dan Ki Jagabaya belum datang,” berkata anak muda yang memimpin kawan-kawannya yang bertugas di gerbang itu. “Kau yang mengambil sikap sekarang. Bukankah kau pemimpin disini saat ini?” bertanya Manggada. “Tetapi aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan,” jawab anak muda itu. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Kau sajalah yang mengambil alih pimpinan.” “Aku bukan penghuni padukuhan ini,” jawab Manggada. “Hanya untuk menghadapi orang-orang itu saja. Nanti aku akan memberikan laporan kepada Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Yang lain-lain biarlah kami yang melakukannya,” berkata anak muda itu dengan gagap. Lalu katanya, “Bukan karena kami ketakutan. Jika kalian harus mempergunakan kekerasan, maka kami semua akan ikut pula membantu kalian. Itu tugas kami. Tetapi aku kebingungan menghadapi persoalannya.” Manggada termangu-mangu sejenak. Sementara itu Laksana berkata, “Ambil alih saja pimpinan. Jika kau tidak mau, aku akan melakukannya.” Manggada memang menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya ketika derap kaki kuda itu terdengar semakin jelas, iapun berkata, “Baik. Aku ambil alih pimpinan. Tetapi sebelum Ki Bekel dan Ki Jagabaya datang, semua tunduk kepadaku. Apakah kalian bersedia?” “Bersedia,” hampir di luar sadar anak-anak muda itu menjawab. Demikianlah, maka Manggadapun telah berdiri di tengah-tengah pintu gerbang bersama Laksana. Beberapa orang anak muda telah diminta untuk membawa obor dan berdiri di sebelah-menyebelah, sementara itu pintu gerbang padukuhan itu masih terbuka sepenuhnya. Sementara itu, beberapa ekor kuda memang berlari kencang menuju ke padukuhan itu. Ketika iring-iringan kecil itu menjadi semakin dekat, maka para penunggang kuda itupun melihat, beberapa orang anak muda berdiri di tengah-tengah pintu gerbang, sehingga karena itu, maka orang yang berkuda di paling depan harus memberikan isyarat agar iring-iringan itu berhenti. Beberapa orang penunggang kuda itu dengan tangkasnya telah menarik kendali kuda masing-masing, sehingga kuda-kuda itupun dengan serta-merta telah berhenti di depan pintu gerbang. Seekor di antaranya yang agak terkejut telah meringkik sambil berdiri pada kedua kaki belakangnya. Namun penunggangnya yang trampil telah berhasil menguasainya. “Maaf, Ki Sanak,” Manggadalah yang melangkah ke depan. “Kami adalah anak-anak muda padukuhan ini yang sedang meronda. Kami agak terkejut mendengar derap kedatangan beberapa ekor kuda di malam yang justru hampir sampai pada dini hari.” “Kami juga minta maaf, anak-anak muda,” berkata orang yang agaknya memimpin kawan-kawannya. “Kami mohon ijin untuk memasuki padukuhanmu dan bertemu dengan dua orang yang menurut penyelidikan kami bermalam di sebuah penginapan di padukuhan ini.” “Apakah demikian pentingnya sehingga Ki Sanak harus menemuinya sekarang?” bertanya Manggada. “Anak muda,” jawab pemimpin sekelompok orang berkuda itu, “mereka terlalu licik. Kami takut kalau kami akan kehilangan jejak. Karena itu, ijinkanlah kami datang ke penginapan itu. Kami tidak akan berurusan dengan orang lain, kecuali dengan kedua orang itu.” “Ki Sanak,” berkata Manggada, “di padukuhan ini terdapat tatanan dan paugeran. Karena itu, maka kami berharap Ki Sanak mempertimbangkannya. Ki Sanak tidak akan dapat berbuat sesuatu tanpa memperhatikan paugeran itu.” “Apakah yang harus aku lakukan?” bertanya orang itu. “Bertemu dan berbicara dengan Ki Bekel,” jawab Manggada. “Baiklah. Kami tidak berkeberatan. Tetapi beri kesempatan kami untuk meyakinkan diri, bahwa orang itu tidak akan lari. Kami akan berada di penginapan itu. Kemudian kami akan berbicara dengan Ki Bekel. Kami berjanji bahwa kami akan bertindak setelah kami berbicara dengan Ki Bekel atau orang yang ditugaskannya,” jawab pemimpin kelompok itu. Manggada mengerutkan keningnya. Menurut pertimbangan nalarnya orang itu tentu bukan sekelompok penjahat. Mereka nampaknya mengenal tertib dan unggah-ungguh. Wajah-wajah merekapun tidak nampak garang dan bengis, bahkan sikap mereka memang menjauhkan mereka dari dugaan bahwa mereka adalah perampok-perampok. Namun dalam pada itu, Manggada berkata, “Ki Sanak, kami telah mengundang Ki Bekel dan Ki Jagabaya demikian kami mendengar derap kaki kuda kalian. Karena itu, kami mohon kalian menunggu barang sebentar.” “Tetapi apakah anak muda berani menanggung bahwa kedua orang itu tidak akan lari?” bertanya orang itu. “Bukan kewajiban kami untuk menahan mereka agar tidak melarikan diri,” jawab Manggada. “Anak muda,” berkata pemimpin dari orang-orang berkuda itu, “kami mohon kesediaan anak-anak muda untuk menolong kami. Memberi kesempatan kepada kami untuk menemui kedua orang itu. Dengan syarat apapun juga yang harus kami penuhi.” “Kami mohon Ki Sanak menunggu Ki Bekel,” berkata Manggada. Pemimpin dari orang-orang berkuda itu menarik nafas dalam-dalam. Seorang yang lain mendekatinya sambil berdesis, “Jika mereka berkeberatan apaboleh buat.” Tetapi pemimpin mereka menggeleng. Katanya, “Mereka masih terlalu kanak-kanak. Kita tidak dapat berbenturan kekerasan melawan anak-anak.” “Jadi apa yang harus kita lakukan?” bertanya kawannya. “Menunggu Ki Bekel yang menurut keterangan mereka sudah dijemput,” jawab pemimpin kelompok itu. Pembicaraan itu yang meskipun tidak dapat didengar sepenuhnya oleh Manggada dan Laksana, namun mereka dapat mengambil kesimpulan bahwa orang-orang berkuda itu bukan orang-orang kasar, terutama pemimpinnya. Karena itu, maka telah timbul keinginan di hati Manggada untuk mengetahui persoalan apakah yang sebenarnya dihadapi oleh orang-orang berkuda itu. Karena itu, maka Manggadapun bertanya, “Ki Sanak, kepentingan apakah yang telah mendorong Ki Sanak untuk dengan segera menemui kedua orang itu?” “Itu adalah persoalan kami,” jawab orang itu. “Benar,” berkata Manggada. “Tetapi persoalan yang kalian hadapi akan dapat menjadi pertimbangan kami, apakah kami akan membiarkan kalian langsung bertemu dengan kedua orang itu atau tidak. Jika kalian akan merampok mereka berdua, apalagi hal itu kalian lakukan di padukuhan kami, maka kami tentu tidak akan membiarkannya. Bagaimanapun juga ketenangan dari padukuhan ini menjadi tanggung jawab kami. Tetapi jika kalian melakukan satu langkah yang benar, maka kami tentu akan mempertimbangkannya.” [=AkhirBuku01=]
  20. Matur nuwun Ki Ismoyo.
    Ono gandok anyar ora ngerti pisan.
    Mugi Ki Ismoyo enggal senggang.

  21. Selamat pagi

  22. Moco sik.
    alon-alon sing penting ……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: