Terusan ADBM

Sementara menunggu Ki Ismoyo hadir lagi di padepokan, satpam memberanikan diri membuka gandok-gandok Terusan ADBM dan Badai di Bumi Jipang. Mudah-mudahan beliau berkenan.

Satpam berharap, agar tali silaturahmi sanak-kadang gagakseta masih tetap terjaga dengan wedaran kedua rontal tersebut yang dituturkan oleh mbah_man.

nuwun
satpampelangi

Terusan ADBM

(Lanjutan ADBM versi mbah_man)

Pintu masuk gandok:
397 398 399 400 401 402 403 404 405 406

Gedung Pusaka

TADBM-397 TADBM-398 TADBM-399 TADBM-400 TADBM-401 TADBM-402 TADBM-403 TADBM-404 TADBM-405

Telah Terbit on 05/03/2012 at 21:42  Comments (285)  

The URI to TrackBack this entry is: http://cersilindonesia.wordpress.com/terusan-adbm/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

285 KomentarTinggalkan komentar

  1. MOHON MAAF

    Satpam menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada ki Ismoyo atas kelancangan satpam membuka gandok Terusan ADBM (ADBM versi mbah_man) di padepokan gagakseta sebelum mendapat ijin beliau.

    Bila di kemudian hari Ki Ismoyo tidak berkenan, biarlah gandok ini ditutup lagi.

    nuwun
    satpampelangi

    catatan:
    dimohon dengan hormat, sanak kadang gagakseta tetap “bergojeg” di NSSW,
    “Box comment” di gandok ini sebisa mungkin hanya untuk menampung cerita mbah_man saja.

    • matur suwun anakmas Satpam, gandhok sudah dibuka walaupun tanpa ijin dari sang Panembahan. Semoga beliau berkenan dan tidak “duko yayah sinipi”
      Untuk anakmas Satpam: rontal saya muat di box comment ini atau kirim melalui email..?

      matur suwun
      mBah_man

      rontal dimasukkan di box comment ini saja mbah, nanti satpam pindah ke gandoknya.
      Biar sanak-kadang langsung bisa baca lanjutannya, tidak menunggu waktu senggang satpam untuk memasukkan ke gandok.

      matur suwun

  2. nyuwun sewu para kadang, agak terlambat lanjutan abdm, tekanan darah tiba2 naik, untung mbah putri sdh siap dgn obat.

    monggoooo..

    “Tenanglah wulan,” bisik Glagah putih mencoba menenangkan Rara Wulan yang mulai terisak isak, mencoba menahan keharuan hatinya yang membuncah di dalam dadanya.

    Dengan perlahan Rara Wulanpun kemudian mengambil tempat duduk kembali disamping Glagah Putih. Kedua tangannya sibuk mengusap air mata yang berderai derai membasahi kedua pipinya tanpa dapat dikuasainya oleh hentakan perasaan yang sangat mengejutkan sekaligus mengharukan hatinya.

    ………. dipindah ke http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-397/

    matur suwun

  3. Demikianlah yang sebenarnya telah terjadi pada waktu itu, Ki Rangga Agung Sedayu yang baru saja pulang dari barak pasukan khusus telah menjumpai Sukra sedang berdiri termangu mangu disamping kandang kuda.

    Tidak ada kecurigaan apapun terhadap Sukra ketika Ki Rangga Agung Sedayu yang telah selesai mengandangkan kudanya kemudian melangkah keluar menuju pakiwan. Ki Rangga Agung Sedayu hanya melempar senyum tipis sambil mengangguk anggukan kepalanya ketika dia lewat beberapa langkah didepan Sukra yang masih saja berdiri termangu mangu di samping kandang kuda.

    ………. dipindah ke http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-397/

  4. Sejenak kemudian, setelah meletakkan terlebih dahulu segala peralatan untuk memasang rumpon disamping kiri pintu dapur sebelah luar, Sukrapun melangkah masuk kedalam dapur. Sementara itu Ki Rangga Agung Sedayupun melanjutkan langkahnya menuju longkangan disamping kanan dapur yang mengarah ke pintu butulan di ruang tengah.

    Dalam pada itu, Glagah Putih yang memperhatikan dengan seksama cerita Ki Rangga Agung Sedayu itupun menjadi berdebar debar, katanya kemudian, “Apakah Sukra terlibat pertengkaran lagi dengan anak anak muda dari padukuhan sebelah?”

    ………. dipindah ke http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-397/

  5. Ki Rangga Agung Sedayu tersenyum mendengar desis dari Glagah Putih, kemudian masih dengan tersenyum diapun berkata, “Pertanyaan yang sama telah diajukan pula oleh mBokayumu Sekar Mirah, dan apakah kalian dapat menduga, apa jawaban dari Sukra?”

    Keduanya menggeleng lemah sambil menunggu jawaban dari Ki Rangga Agung Sedayu dengan hati yang berdebar debar.

    “Selama ini kita memang kurang memperhatikan Sukra. Kita mengganggap dia tidak lebih dari kanak kanak yang sedang menjelang remaja. Keberadaannya di rumah kita untuk membantu pekerjaan Mbokayumu seperti menyapu halaman, mengisi jambangan di pakiwan dan sesekali membelah kayu bakar adalah pekerjaan sehari hari yang wajar dikerjakan oleh anak seusianya. Selain itu dia juga mempunyai kegemaran menelusuri sungai hampir setiap malam yang kadang kadang melibatkan kehadiranmu, Glagah Putih.”

    ………. dipindah ke http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-397/

  6. Kalau seandainya ada halilintar yang menyambar disaat itu ditempat dimana mereka bertiga berada, guncangannya mungkin tidak akan sedahsyat dengan apa yang telah didengar oleh Glagah Putih dan Rara Wulan dari keterangan Ki Rangga Agung Sedayu.

    Serentak mereka berdua memandang kearah wajah Ki Rangga Agung Sedayu dengan wajah penuh ketegangan dan dada yang bergejolak, sambil mengepalkan tangannya Glagah Putihpun berseru keras, “Kakang, katakan siapa yang mencuri kitab peninggalan Kiai Gringsing, aku sanggup melumatkan tubuhnya!”

    ………. dipindah ke http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-397/

  7. Demikianlah malam itu, setelah Ki Rangga Agung Sedayu selesai dijamu makan malam bersama Ki Patih Mandaraka, merekapun kemudian duduk duduk diruang tengah istana kepatihan.

    Sejenak kemudian, setelah mereka berbicara tentang hal hal yang ringan, tentang jalur perjalanan antara Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh yang semakin ramai, tentang penyeberangan di kali Praga yang semakin sibuk akan tetapi bertambah aman dengan hadirnya para prajurit yang meronda disekitar daerah itu, barulah kemudian Ki Patih mengutarakan maksudnya untuk memanggil Ki Rangga Agung Sedayu menghadap ke istana kepatihan.

    ………. dipindah ke http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-397/

  8. Ki Patih memandang tajam ke arah Ki Rangga Agung Sedayu seakan akan ingin menjenguk apa yang terkandung di dalam hatinya, namun akhirnya Ki Patihpun berkata, “Ki Rangga Agung Sedayu, bagaimanakah menurut pendapatmu tentang cerita ngaya wara yang sekarang sedang berkembang ditengah tengah kehidupan kawula Mataram ini?”

    Ki Rangga Agung Sedayu mengerutkan keningnya, sejenak dia memandang wajah Ki Patih seolah olah ingin menjajaki apakah sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh Ki Patih.

    “Ampuh Ki Patih, aku tidak bisa menarik kesimpulan tentang kebenaran dari cerita yang sedang berkembang dan diperbincangkan oleh hampir setiap kawula Mataram. Namun satu hal yang dapat aku simpulkan, cerita ini pasti ada sumber yang menyebarkannya dan mempunyai tujuan tertentu.”

    ……….dipindah ke http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-397/

  9. Segera perwira separo baya itu memberi isyarat kepada perwira pendampingnya untuk berpencar. Dengan merayap perlahan lahan keduanyapun kemudian mengambil tempat dari arah yang berlawanan. Sesuai dengan isyarat yang telah disepakati, keduanya akan menyerang dari arah yang berlawanan namun justru dalam rentang waktu yang berselisih beberapa kejap antara serangan pertama dan serangan kedua dengan maksud memperdaya lawan pada saat pemusatan pikirannya terpaku pada serangan yang pertama.

    Demikianlah akhirnya, ketika terdengar bunyi cengkerik yang melengking tinggi tidak sebagaimana bunyi cengkerik yang sewajarnya, perwira separo baya itupun melenting dengan kaki kanan terjulur lurus mengarah bayangan yang sedang berjongkok dibawah pohon sawo kecik. Sementara perwira pendampingnya telah bersiap siap mengarahkan serangannya kearah mana bayangan itu akan bergerak menghindari serangan pertama dari perwira separo baya itu.

    Namun alangkah terkejutnya perwira pendamping itu ketika bayangan yang sedang berjongkok dibawah pohon sawo kecik itu justru telah melenting tinggi sebelum datangnya serangan dari perwira separo baya yang sedang meluncur deras kearahnya, bahkan dengan sekali berputar diudara, bayangan itu melontar dengan cepat menyambar kearah dimana perwira pendamping itu sedang bersembunyi.

    ………. dipindah ke http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-397/

  10. Tiba tiba saja orang yang berusaha menyusup ke istana kepatihan itu tertawa tergelak. Sambil mengurai kedua tangannya yang bersilang di dada, tanpa dapat diketahui dari mana datangnya, kedua tangan orang itu masing masing sudah menggenggam sebilah pisau belati. Hanya dalam sekejab sebelum Ki Rangga Agung Sedayu menyadari apa yang akan terjadi, dua larik sinar menyambar kearah dadanya.

    Terkejut Ki Rangga Agung Sedayu, tidak mungkin baginya menghindari sambaran kedua belati itu dengan menloncat ke atas mengingat dapat membahayakan para prajurit yang berdiri di belakangnya, maka satu satunya jalan hanyalah dengan memutar cambuknya membentuk pusaran angin yang menghisap kedua belati tersebut sehingga runtuh tepat di depan ujung kakinya.

    ……. sudah dipindah ke gandok (http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-397/)

  11. Bagaimana Mbah Man, semoga sudah sehat dan diberi kesembuahan oleh Alloh SWT, kesembuhan yang tidak memberi bekas.

    • Aamiin….

      • Amin…..Amin,

  12. matur nuwum kisanak…semoga mbah Man segera diberikan kesembuhan dan senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat.

  13. sugeng dalu,

    slarak pintu cantrik BUKA dulu, sapa tau Mbah_Man hadir
    wedar rontal “TERUSAN”

    • gandok telah disiapkan, tinggal nunggu ki PA, mas Risang
      dateng menghimpit si cucu kakek Karto.

      “menghimpit” dalem arti-an menjaga si Mita dari gangguan
      “gangguan” gerombolan vampir bang wetan…..HIKs, Hikss

  14. Lanjutan Terusan ADBM jilid 397
    oleh Mbah Man

    Ki Rangga Agung Sedayu tertegun sejenak. Panggraitanya yang tajam telah mengisyaratkan kepadanya bahwa sesuatu agaknya sedang mengancam keselamatan dirinya. Namun ki Rangga tidak mampu mengurai apakah sebenarnya yang sedang dan akan terjadi diseputar diri pribadinya itu.

    “Marilah Ki Rangga,” berkata Ki Patih Mandaraka sambil berjalan masuk ke pringgitan, “Biarlah tabib yang berwenang mengurus mereka yang terluka.”

    “Ki Patih,” tiba tiba Ki Rangga Agung Sedayu menyela sehingga langkah Ki Patih yang sudah hampir mencapai pintu pringgitan terhenti sejenak

    Sambil berpaling Ki Patih Mandaraka mengerutkan keningnya dalam dalam, kemudian katanya, “Adakah sesuatu yang memberati hatimu Ki Rangga?”

    Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam sebelum menjawab pertanyaan Ki Patih, “Sesungguhnya ini hanyalah kekawatiran dari seseorang yang berjiwa kerdil saja Ki Patih. Jika aku diijinkan, malam ini juga aku akan kembali ke Menoreh.”

    “Malam ini Juga?” terheran heran Ki Patih sambil berjalan kembali mendekati Ki Rangga Agung Sedayu.

    “Apakah Ki Rangga mencemaskan keluarga yang ada di Menoreh sehubungan dengan kedatangan orang yang berusaha menyusup ke istana kepatihan tadi?”

    “Ampun Ki Patih, justru pengenalan orang yang berusaha menyusup ke istana kepatihan tadi tentang diriku, membuat aku berpikir tentang keselamatan keluarga yang ada di Menoreh.”

    “Bukankah Ki Jayaraga masih tinggal di rumahmu?”

    “Benar Ki Patih.”

    “Seseorang yang ingin berbuat jahat terhadap keluarga Ki Rangga, aku kira harus berpikir seribu kali. Ki Jayaraga adalah seorang yang linuwih, apalagi masih ada istrimu yang tidak bisa dipandang sebelah mata kemampuannya.”

    Ki Rangga Agung Sedayu sejenak menjadi ragu ragu. Berbagai pertimbangan berkecamuk didalam hatinya.

    Akhirnya Ki Rangga Agung Sedayupun menyampaikan juga kepada Ki Patih tentang keadaan sebenarnya yang dialami oleh istrinya.

    “Ampun Ki Patih, akhir akhir ini Sekar Mirah harus banyak beristirahat, latihan olah kanuragan dan pemusatan ilmu yang diwarisi dari Ki Sumangkar, telah dua bulan ini tidak pernah diungkapkannya baik dalam bentuk kewadagan maupun hanya dalam bentuk pemusatan nalar dan budi.”

    Wajah Ki Patih menjadi bersungguh sungguh mendengarkan penjelasan dari Ki Rangga Agung Sedayu, lalu katanya sambil mengangguk anggukkan kepalanya, “Bersyukurlah kepada Yang Maha Agung atas karunia ini, Ki Rangga. Diusia yang mulai merambat senja, justru karunia itu telah datang. Betapa memang kekuasaan Yang Maha Agung itu sungguh tak terbatas. Bahkan di dalam kitab suci yang kita yakini, diceritakan tentang salah satu utusanNYA yang mendapat karunia momongan justru pada saat usia utusan itu sudah sangat tua, dan istrinyapun sudah dianggap mandul oleh para pengikutnya.”

    Dada Ki Rangga Agung Sedayu tergetar mendengar uraian dari Ki Patih. Hatinya benar benar diliputi rasa syukur yang tiada terkira atas segala karunia yang telah dilimpahkan kepada diri dan keluarganya.

    “Baiklah Ki Rangga, kalau memang itu menjadi landasan pertimbanganmu, sebaiknya pagi pagi sekali sebelum matahari terbit, engkau dapat kembali ke Menoreh. Aku kira malam ini tidak akan terjadi apa apa. Seandainya orang yang berusaha menyusup istana kepatihan itu ingin mengganggu keluarga yang ada di Menoreh, diperlukan perjalanan yang panjang untuk mencapai Menoreh. Mungkin setelah matahari terbit baru sampai di Menoreh, dan di siang hari adalah kemungkinan yang sangat kecil untuk berbuat onar di Tanah Perdikan Menoreh. Itu sama saja dengan mencari mati.”

    Ki Rangga Agung Sedayu mengangguk anggukkan kepalanya. Memang apa yang telah disampaikan oleh Ki Patih itu adalah hal yang sangat masuk akal menurut perhitungan nalar.

    Glagah Putih dan Rara Wulan yang sedari tadi mendengarkan cerita dari Ki Rangga Agung Sedayu hanya dapat terpekur diam. Mereka berdua tidak mampu untuk mengurai kejadian yang saling tumpang tindih antara hilangnya kitab perguruan Windujati dan tujuan seseorang yang berusaha menyusup ke istana Kepatihan.

    “Mengapa orang yang berusaha menyusup ke istana kepatihan itu justru melarikan diri setelah mengetahui bahwa yang dihadapinya adalah Ki Rangga Agung Sedayu?” bertanya Rara Wulan seolah olah kepada dirinya sendiri.

    “Tentu saja dia takut menghadapi Kakang Agung Sedayu, Wulan.” Glagah Putih yang duduk didepannya menyahut.

    “Tentu tidak,” Ki Rangga Agung Sedayulah yang menjawab sambil menggeleng gelengkan kepalanya, “kalau seandainya ada yang ditakuti oleh orang itu, Ki Patih Mandarakalah yang seharusnya lebih ditakuti. Tetapi kenapa justru dia berusaha menyusup ke istana Kepatihan?”

    “Kakang benar,” sahut Glagah Putih, “Seandainya orang itu mempunyai perhitungan yang waras, tidak mungkin dia akan berusaha menyusup ke istana Kepatihan jikalau dia tahu benar bahwa Ki Patih sedang berada di Kepatihan.”

    “Apakah mungkin orang tersebut hanya ingin menarik perhatian atas penghuni istana kepatihan untuk meyakinkan atas pengamatannya siapa sajakah yang sedang tinggal di istana Kepatihan malam itu?” desis Ki Rangga Agung Sedayu perlahan lahan.

    Tiba tiba saja Ki Rangga Agung Sedayu terlonjak dari tempat duduknya bagaikan disengat kalajengking ketika menyadari kemungkinan itu dapat saja terjadi.

    “Jadi kesimpulan apakah yang dapat kita tarik dari semua kejadian itu?” bertanya Glagah Putih dengan berdebar debar.

    KI Rangga Agung Sedayu termenung sejenak, perlahan lahan dia menengadahkan wajahnya, lalu dilemparkannya pandangan matanya ke titik titik di kejauhan. Sementara itu Glagah Putih dan Rara Wulan menunggu tanggapan Ki Rangga Agung Sedayu dengan jantung yang berdebar debar.

    “Seandainya orang itu hanya ingin meyakinkan keberadaanku malam itu di istana Kepatihan, dapat dipastikan bahwa dia tidak berdiri sendiri, ada sekelompok atau mungkin lebih dari dua orang yang berkepentingan dengan keterangan tentang keberadaanku malam itu, sehingga mereka punya landasan yang kuat untuk melaksanakan rencanya mereka selanjutnya.”

    “Dan langkah mereka selanjutnya adalah mencuri kitab peninggalan Kiai Grinsing.” Sahut Rara Wulan berapi api.

    “Mengapa engkau menarik kesimpulan seperti itu, Rara?” tanya Glagah putih dengan cepat.

    “Bukankah mereka yakin rencananya akan berjalan lancar karena mereka tahu bahwa Kakang Agung Sedayu tidak ada di rumah?”

    “Bagaimana dengan Ki Jayaraga?” giliran Ki Rangga Agung Sedayu yang bertanya.

    Tiba tiba Rara Wulan meluncur turun dari batu tempat duduknya. Kemudian dia berjalan dengan cepat mendekat ke Glagah Putih, sambil mengguncang guncangkan lengan Glagah Putih, Rara Wulanpun berseru, “Kakang, bukankah Kakang hapal sekali dengan kebiasaan Ki Jayaraga yang selalu berangkat ke sawah pagi pagi sekali?”

    “He,” Glagah Putih tersentak mendengar pertanyaan Rara Wulan.

    “Dan Nyi Sekar Mirah sudah terbiasa ke pasar setiap pagi. Jadi hanya Sukra yang biasanya menjaga rumah di pagi hari.” Tambah Rara Wulan.

    “Memang sekembalinya aku dari Mataram menjelang sore di hari itu. Aku tidak menjumpai Sukra sama sekali, bahkan beberapa lembar pakaiannyapun telah dibawanya pergi.” Berkata Ki Rangga Agung Sedayu.

    “Kejadian itu mungkin saja terjadi pada saat di rumah hanya ada Sukra, Kakang.” Kini giliran Glagah Putih yang memberikan pendapatnya.

    “Apalah artinya Sukra menghadapi orang orang yang bermaksud jahat itu jika seandainya memang benar kelompok dari orang yang berusaha menyusup di Istana Kepatihan itu yang melakukan pencurian kitab peninggalan Kiai Gringsing.” Potong Rara Wulan.

    “Tetapi mengapa Sukra harus pergi meninggalkan rumah seandainya benar dia tidak bersalah?” bantah Glagah Putih tidak mau kalah.

    “Kemungkinannya hanya satu,” sahut Rara Wulan cepat, “Sukra pergi dari rumah bukan atas kemauannya sendiri, tapi atas kehendak orang lain.”

    “Maksudmu diculik?” hampir berbareng Ki Rangga Agung Sedayu dan Glagah Putih bertanya.

    “Ya,” jawab Rara Wulan mantap, seolah olah dia sudah dapat merangkai semua kejadian itu menjadi suatu urutan cerita yang runtut.

  15. Mbah Man, i like it

  16. Lanjutan TADBM 397

    Ki Rangga Agung Sedayu dan Glagah Putih saling berpandangan. Hati mereka benar benar diliputi oleh ketegangan yang luar biasa membayangkan Sukra yang mungkin kini sedang dalam penguasaan sekelompok orang orang yang tak dikenal.

    Namun tanpa sadar tiba tiba Ki Rangga Agung Sedayu menggeleng gelengkan kepalanya sambil bergumam, “Seandainya benar Sukra diculik, dia tidak akan mempunyai kesempatan untuk mengemasi pakaiannya.”

    “Ah,” desah Rara Wulan merasa kecewa karena pendapatnya ternyata masih dapat dimentahkan dengan kenyataan yang ada, sementara Glagah Putihpun menarik nafas dalam dalam sambil mengangguk anggukkan kepalanya.

    “Sudahlah,” akhirnya Ki Rangga Agung Sedayu mencoba mengalihkan perhatian dari persoalan yang cukup memusingkan kepala itu, kemudian lanjutnya, “Dimanakah kalian tinggal selama ini?”

    Glagah Putih dan Rara Wulan termangu mangu sejenak, hati mereka masih diliputi oleh kegelisahan tentang keberadaan Sukra sehingga pertanyaan dari Ki Rangga Agung Sedayu itupun seolah olah tidak mereka dengar.

    Baru ketika untuk kedua kalinya Ki Rangga Agung Sedayu mengulangi pertanyaannya, merekapun bagaikan tersadar dari sebuah mimpi buruk.

    “Kakang,” berkata Glagah Putih kemudian, “Kami tinggal di sebuah rumah di pinggiran kota Panaraga, disana kami berkumpul bersama sama dengan para petugas sandi dari Mataram yang lainnya.”

    “Apakah keberadaan rumah tempat kalian berkumpul itu tidak tercium olah para petugas sandi dari Kadipaten Panaraga?”

    “Kemungkinan itu sudah ada Kakang, dengan terbongkarnya penyamaran Rara Wulan, kami sudah berpikir untuk segera menyingkir dari rumah itu sebelum para petugas sandi dari Kadipaten Panaraga mencium keberadaan kami.”

    “Lakukanlah, semakin cepat semakin baik. Aku tidak bisa bergabung dengan kalian untuk sementara waktu karena ada tugas khusus yang dibebankan oleh Ki Patih Mandaraka kepadaku.”

    “Baiklah Kakang, kami segera minta diri untuk kembali ke pondokan kami dan memberi tahu Ki Madyasta untuk segera menyingkir dari rumah itu.”

    Demikianlah, sebelum berpisah merekapun telah saling menyepakati kapan dan dimana mereka akan bertemu lagi, tentu saja dengan menggunakan tanda tanda sandi yang dapat mereka letakkan dimana saja, atau bahkan mereka goreskan di pohon pohon di pinggir jalan tanpa menarik perhatian sama sekali.

    Matahari telah semakin tinggi ketika kemudian mereka bertiga mengambil jalannya masing masing, Glagah Putih dan Rara Wulan kembali ke pondokan mereka sedangkan Ki Rangga Agung Sedayu sejenak masih menelusuri sungai beberapa saat untuk kemudian naik ketepian kembali ke pusat kota Panaraga.

    Sementara itu di tanah Perdikan Menoreh, Ki Jayaraga sedang beristirahat melepaskan lelah setelah menyiangi padi di sawah yang mulai tumbuh subur. Rumput rumput yang tumbuh disela sela batang padi itu harus disingkirkan agar batang batang padi bisa tumbuh semakin subur dan akhirnya diharapkan akan menghasilkan bulir bulir padi yang melimpah.

    Ketika Ki Jayaraga sedang duduk duduk di gubuk sambil melepaskan lelah, tanpa sengaja pandangan matanya tertumbuk pada dua orang laki laki yang berjalan dengan tergesa gesa meniti pematang dari arah seberang jalan.

    Dua orang laki laki yang bertubuh kekar dan berwajah keras, sekeras batu padas di gerojokan. Kumis dan jambang tumbuh sangat lebat hampir menutupi sebagian wajah mereka, sementara jenggot mereka dibiarkan saja tumbuh liar hampir sebatas dada.

    Dada Ki Jayaraga menjadi berdebar debar ketika tanpa ragu ragu langkah kedua orang itu justru menuju ke gubuk tempatnya melepas lelah.

    Debar di jantung Ki Jayaragpun semakin kencang ketika tanpa disengaja pandangan mata mereka bertemu pada saat kedua orang itu tinggal beberapa langkah saja di depan gubuk tempat Ki jayaraga melepas lelah.

    “Ki sanak, “ sapa orang yang berperawakan lebih tinggi dari kawannya, “Bukankah Ki sanak ini yang bernama Jayaraga?”

    KI Jayaraga terkejut, tampaknya orang ini sudah mengenal dirinya atau setidak tidaknya mendapat gambaran tentang dirinya sebelum datang menemuinya.

    Dengan cepat Ki Jayaragapun bangkit dari tempat duduknya. Segala sesuatunya mungkin saja terjadi sebelum dia menyadari dengan siapa dia berhadapan.

    “Benar Ki sanak, akulah yang disebut Jayaraga yang tinggal di rumah Ki Rangga Agung Sedayu, Pemimpin prajurit pasukan khusus dari Mataram yang bertempat di Tanah Perdikan Menoreh.” Jawab Ki Jayaraga tanpa tedeng aling aling karena dia sudah mempersiapkan dirinya lahir batin untuk mengahadapi segala kemungkinan yang terjadi.

    Orang berperawakan tinggi itu mengerutkan keningnya. Tampak dari sinar matanya ada rasa ketersinggungan dengan jawaban Ki Jayaraga.

    “Kakang Wirapati,” berkata orang yang berperawakan agak pendek kepada kawannya yang ternyata bernama Wirapati, “Mengapa Kakang masih menggunakan segala unggah ungguh menghadapi orang yang sudah akan mati ini? Jangan banyak membuang waktu, segera kita lumpuhkan saja orang tua ini dan kita seret ke rumah Ki Rangga Agung Sedayu untuk menunjukkan dimana Ki Rangga Agung Sedayu menyimpan kitab peninggalan gurunya, kitab perguruan Empu Windujati.”

    Bagaikan disambar halilintar di siang hari Ki Jayaraga mendengar perkataan orang yang berperawakan agak pendek itu, namun sebelum dia menanggapinya, tiba tiba orang yang bernama Wirapati itu menggeram keras bagaikan geraman seekor singa jantan.

    “He tua bangka Jayaraga, menyerahlah dan ikut kami ke rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Sejak pagi tadi kami sudah mengaduk isi rumah Ki Rangga Agung Sedayu namun tidak kami temukan tanda tanda adanya kitab Empu Windujati.”

    Berdesir dada Ki Jayaraga, namun orang tua itu berusaha untuk setenang mungkin menghadapi hal yang sangat tidak diduganya.

    “Sebentar Ki sanak berdua,” berkata Ki Jayaraga sareh, “Aku tidak begitu mengerti tentang apa yang kalian bicarakan. Kalian menyebut nyebut kitab peninggalan perguruan Empu Windujati. Sepengetahuanku perguruan itu telah lama hilang dari muka bumi sejak runtuhnya kerajaan Majapahit, bahkan siapa pewaris dari perguruan itupun tidak ada yang mengetahuinya.”

    “Bohong!” bentak Wirapati, “Semua orang tahu bahwa orang bercambuk yang bernama Kiai Gringsing itu adalah pewaris dari perguruan Empu Windujati dan Ki Rangga Agung Sedayu adalah salah satu murid dari Kiai Gringsing. Apakah engkau masih akan mengingkarinya?”

    “Dari mana Ki sanak mendengar dongeng ngaya wara ini?” bertanya Ki Jayaraga dengan hati yang berdebar debar. Agaknya sudah bukan rahasia lagi bahwa jalur perguruan Empu Windujati itu sudah diketahui oleh kebanyakan orang.

    Tiba tiba kedua orang itu tertawa tergelak. Sambil berpaling kearah kawannya, Wirapati berkata, “Adi Surengpati, tolong beritahu kakek tua ini sebelum ajalnya menjemput agar tidak penasaran menjelang kematiannya.”

    “Baiklah Kakang,” jawab Surengpati sambil tersenyum senyum kearah Ki Jayaraga, “Ketahuilah Ki Jayaraga, karena kesombongan murid dari orang bercambuk itu sendirilah yang telah menyingkap tabir yang selama ini menutupi keberadaan jalur perguruan Empu Windujati. Hampir semua orang percaya kalau perguruan Empu Windujati telah lenyap bersamaan waktunya dengan runtuhnya Majapahit. Namun kini semua orang membicarakan munculnya jalur perguruan itu dalam hubungannya dengan perguruan Kiai Gringsing yang menyebut dirinya sebagai orang bercambuk.”

    Ki Jayaraga berdiri termangu mangu. Berbagai pertimbangan bergejolak didalam hatinya. Bukankah selama ini murid murid orang bercambuk tidak pernah menyebut diri mereka sebagai pewaris dari jalur perguruan Empu Windujati? Bagaimanakah hal ini bisa terjadi?

    Agaknya Surengpati bisa menebak jalan pikiran Ki Jayaraga, maka katanya kemudian, “Murid muda dari orang bercambuk yang bernama Swandaru itulah yang telah dengan sombong menyebut dirinya pewaris perguruan Empu Windujati. Bahkan dia telah berani menantang guru kami Kiai Sarpa Kenaka dari perguruan Toya Upas ketika terjadi perselisihan di arena Langen Tayub antara Swandaru dengan salah seorang murid perguruan kami.”

    Ki Jayaraga mengerutkan keningnya dalam dalam. Swandaru memang berbeda dengan Agung Sedayu. Swandaru mempunyai sifat yang cenderung meledak ledak dan hampir tidak pernah banyak pertimbangan dalam bertindak. Namun rahasia perguruan seharusnya tetap dijaga, bagaimanapun keadaannya.

    “Sudahlah Ki Jayaraga,” sekarang giliran Wirapati yang berbicara, “Lebih baik engkau jangan banyak tingkah dan segera tunjukkan kepada kami dimana Ki Rangga Agung Sedayu menyimpan kitab peninggalan Empu Windujati.”

    “Aku benar benar tidak mengerti Ki sanak,” Ki Jayaraga mencoba untuk memancing keterangan lebih banyak lagi, “Kalau seandainya benar perguruan orang bercambuk itu adalah jalur perguruan Empu Windujati yang selama ini terpendam, apakah setiap perguruan pasti mempunyai sebuah kitab yang diwariskan turun temurun? Hal ini masih perlu untuk dibuktikan.”

    Kembali kedua orang itu tertawa tergelak gelak. Sambil menggeleng gelengkan kepalanya Wirapati menjawab, “He, orang pikun. Ketahuilah, pada saat itu Swandaru dalam keadaan mabuk berat karena tidak bisa menolak setiap kali Nyi Saimah tledek yang muda dan cantik itu menyodorkan tuak sebagai penghormatan atas kesediaannya menghadiri perhelatan pernikahan anak bungsu Ki Jinawi, paman dari saudara seperguruan kami, Adi Wanengpati yang tinggal di Kademangan Semangkak, tetangga dari Kademangan Sangkal Putung yang besar.”

    “Ya,” sahut Surengpati, “Dan ternyata anak Ki Demang Sangkal Putung yang gemuk itu tersinggung ketika Nyi Saimah melayani Kakang Wanengpati untuk menari sedangkan Swandaru sudah mendapatkan giliran sebelumnya, bahkan berkali kali tanpa ada seorangpun yang berani menghentikannya.”

    “Benar benar suatu kesombongan yang tiada taranya. Swandaru telah menghentikan Adi Wanengpati yang justru baru mulai menari diiringi oleh Nyi Saimah. Pertengkaranpun tidak bisa dihindarkan lagi. Saat itulah, Swandaru dengan licik telah menyerang Adi Wanengpati tanpa peringatan terlebih dahulu. Bahkan dengan sombongnya dia telah menantang guru kami seandainya Adi Wanengpati tidak terima dengan peristaiwa yang telah terjadi.” Berkata Wirapati sambil menggeretakkan giginya.

    Debar di dada Ki Jayaragapun semakin kencang ketika Wirapati meneruskan ceritanya.

    “Pada saat itu guru kami sedang menjalani laku dari puncak ilmu perguruan kami, tapa kungkum selama empat puluh hari empat puluh malam sehingga tidak bisa diganggu. Ketika hal itu disampaikan Adi Wanengpati kepada Swandaru, dengan sombongnya dia mengatakan sanggup menunggu sampai kapanpun laku itu akan berakhir, bahkan diapun tak mau kalah telah mengatakan dalam waktu dekat akan menjalani laku sebuah ilmu dari kitab peninggalan perguruan Empu Windujati yang sekarang sedang berada di tangan kakak seperguruannya, Ki Rangga Agung Sedayu yang bulan depan akan diserahkan kepadanya sesuai dengan giliran yang telah disepakati, karena masih menurut pengakuannya, mereka berdua adalah pewaris dari jalur perguruan Empu Windujati yang telah lama menghilang.”

    Kini Ki Jayaraga benar benar tidak bisa menghindar lagi karena ternyata rahasia itu telah diungkapkan oleh Swandaru sendiri, salah seorang murid Kiai Gringsing yang mempunyai jalur langsung dari perguruan Empu Windujati.

    “Sudahlah Ki Jayaraga,” berkata Wirapati selanjutnya, “Semua perguruan yang ada di tanah ini telah menyebarkan murid muridnya untuk memburu kitab peninggalan Empu Windujati. Pada saat kami memasuki Tanah Perdikan ini, menilik ciri ciri yang mereka kenakan, kami telah mengenali murid murid dari perguruan Liman Benawi dari Madiun, Sasadara dari Blitar, Brajamusti dari pegunungan kapur, bahkan dari perguruan yang ada di ujung timur pulau inipun telah mengirimkan muridnya, perguruan Harga Belah di tlatah Blambangan.”

    “Perguruan Harga Belah dari Blambangan?” tanya Ki jayaraga tanpa disadarinya.

    “Ya, perguruan Harga Belah yang dipimpin oleh Kiai Harga Jumena dengan Aji kebanggaannya Aji Harga Belah yang mampu membelah gunung sebesar apapun.”

    Ki Jayaraga benar benar tidak tahu apa yang seharusnya diperbuat menghadapi keadaan yang tidak terduga sama sekali itu. Tanah Perdikan Menoreh benar benar telah kedatangan berbagai perguruan dengan bermacam aliran justru pada saat Ki Rangga Agung Sedayu sedang melawat ke Timur, ke Kadipaten Panaraga.

    “Nah, Ki Jayaraga,” berkata Surengpati sambil melangkah maju, “Kami harap engkau tidak banyak tingkah, semua perguruan sekarang sedang berlomba mencari dimana kitab itu disimpan, dan sebagai orang yang tinggal serumah dengan Ki Rangga Agung Sedayu, setidaknya engkau pernah melihat atau bahkan mengetahui dimana kitab itu disimpan.”

    Ki Jayaraga menarik nafas dalam dalam. Tidak ada pilihan lain baginya selain harus menyingkirkan kedua orang itu sebelum menemui Ki Argapati dan Prastawa untuk membicarakan keselamatan dan keamanan Tanah Perdikan Menoreh sehubungan dengan kedatangan berbagai perguruan dengan bermacam aliran yang dapat mengganggu sendi sendi kehidupan di Tanah Perdikan Menoreh.

    • kamsia kamsia…talimo kasiah…xie xie

      • Tarimo kasi….hatur nuhun……sakalangkong !

    • Uwigggh, …………. hebat2,………… mbah Man sudah membuka kancah peristiwa baru yang memerlukan kupasan dan pergulatan yang seru dari perguruan2 di Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya. Ditengah serunya niat Ponorogo untuk memisahkan diri, ternyata diramaikan dengan perebutan Kitab Pusaka Windujati.
      Bravooo Mbah_Man!!! Dan itu lho katanya Swandaru sudah kembali ke jalan yang benar, lha kok ikut tayuban dan mabok lagi. Apa bojonya gak iso memikat hatinya???

      • Iya tuch, aya2 wae si Swandaru….
        tapi makin seru euy….
        Mbah Maaaaaan, ma acih ya…
        lanjut….

        • Embah lagi di bandung, Nona manis
          Mau mampir ta…?

          • mbah man ki looh, bolak balik neng mbandung terus ta ?
            menapa kagungan rencang ‘monolog’ teng mrika ta ? :) :) :)

          • mo-nol-og :)

      • matur suwun Ki Sumarmo (Eyang Trupod)
        Memang kasihan Pandan Wangi, selalu menyimpan deritanya jauh di lubuk hatinya.
        sejak kecil sudah menderita, sekarang punya suami nggak setia….
        Mungkin ada saran, sumbangan nama tokoh, perguruan, aji2 dll dari sanak kadang padepokan, akan diterima dengan senang hati.
        ternyata memberi nama tokoh dll itu suliiiit.
        matur nuwun
        Mbah Man

        • ajian gundUL seWU….gimana Mbah_Man,

          siji ae wes mbinggungi, ana sewu dadine
          kaya opo padepokan GS….uAmiT2,

          • luwih mbingungi maneh nek ajian gundul2….macul..eh..pacul ! :D

          • gundul2 macul ya gpp dunk … asal capingan sik :) :)

          • hiksss….mangsudna pake…helm yaa… :oops:

        • nderek urun rembag kemawon mbah Man, ajian-ajian ingkang wonten jaman kerajaan demak bintoro lan majapahit saged dipun pundhut saking nssi, hlhlp lan sak sanesipun.

          • asmane kok ‘sekopati’ ta ? …. nyuwun sewu, menapa menika ‘cendol’ ta ? :) :) :) …… nyuwun sewu, menika guyon lheeee :) :)

          • kulo saking Pati, sanes cendol. mbok menawi leresipun puniko gatot/cethot jajanan pasar. nderek tepang kaliyan mbak mita

        • Jaka Pandan (Pandan Alas Junior) dereng kasebut mBah

          • anak keturunan Mahesa Jenar…

            menguasai Sasra Birawa, Cundomanik, Lembu Sakethi …pokoke ajian2 jaman NSSI metu kabeh

        • Pandan Wangi menderita atau bahagia ada di tangan dalangnya je Mbah. Nyumanggak-aken.

          Nuwun,
          Ki Trupod

          • dalange : Parto

    • asik…..
      lanjut mbah……

      hmm…..
      jadi tambah penasaran

      eh….,
      hadu…..,
      jadi ikutan tidak konsisten, he he he

      biar tidak bingung, mana yang belum dimasukkan gandok, mohon komennya di gandok TADBM-397 saja, nggih…..

      suwun

      • Sip. mas Risang…..!!??

        lha gandOK yang di maksud….jalan-nya lewat
        mana mas….. :)

        lha itu, diatassudah ada papan nama gandok 397

        • berarti nenek..eh..menek ? :D

    • Alhamdulillah sip banget’s ……………… !!! Ngaturaken Gungin Panuwun mbah man…

    • Ruameee banget, onok kitab ceblok dikroyak wong sak padhepokan, kethoke rekor koment terbanyak dino iki..Suwuun Mbah MAN

  17. lanjutan TADBM jilid 397
    oleh: Mbah Man

    Perlahan lahan Ki Jayaraga mengambil jarak beberapa langkah dari kedua orang itu, kemudian katanya, “Ki sanak berdua, aku tahu kalian adalah murid murid perguruan Toya Upas yang sangat senang bermain main dengan racun, namun aku tidak perduli, yang jelas aku tidak akan menyerah begitu saja, terserah Ki sanak menanggapi sikapku ini.”

    Sejenak kemudian, Ki Jayaraga telah memusatkan nalar budinya untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, kemungkinan yang paling pahit sekalipun.

    Wirapati dan Surengpati saling berpandangan sejenak. Mereka sudah menduga bahwa Ki Jayaraga akan mengambil keputusan untuk melawan. Pengenalan mereka terhadap Ki Jayaraga memang kurang lengkap, namun mereka tidak menganggap Ki Jayaraga hanyalah petani biasa yang ikut tinggal di rumah Ki Rangga Agung Sedayu dan dipasrahi untuk mengurus sawah dan ladang. Menurut pengamatan mereka setidaknya Ki Jayaraga adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri.

    “Baiklah, “ akhirnya Wirapati yang menjawab, “Kami dari perguruan Toya Upas di lereng gunung Lawu tidak berkeberatan untuk mengantarkan selembar nyawamu ke alam kelanggengan dengan penuh kejantanan.”

    Selesai berkata demikian, kedua orang murid perguruan Toya Upas dari lereng Gunung Lawu itupun segera bergerak memisahkan diri. Wirapati yang lebih tua ternyata telah menempatkan diri disisi kanan Ki Jayaraga, sedangkan Surengpati yang lebih muda diarah sebaliknya.

    Ada yang menarik perhatian Ki Jayaraga pada kedua orang murid perguruan Toya Upas itu ketika keduanya mulai bergerak. Jari jari tangan yang mengembang itu ternyata berkuku panjang panjang dan berwarna kehitam hitaman, menandakan adanya kandungan racun yang sangat ganas dan keji.

    Wirapati yang berada di sebelah kanan Ki Jayaraga perlahan menjulurkan kedua tangannya kedepan, dengan jari jari yang mengembang layaknya cakar seekor rajawali, ditekuknya lutut kaki kanannya sedikit merendah. Kemudian dengan bentakan yang menggelegar dia meloncat menubruk kearah dada Ki Jayaraga.

    Dengan tenang Ki Jayaraga menarik kaki kirinya selangkah kebelakang. Dengan kedudukan badan yang setengah condong kekanan, tiba tiba Ki Jayaraga mengangkat lutut kaki kirinya menyambut datangnya serangan Wirapati yang meluncur bagaikan tatit. Dengan meluruskan kaki kiri yang diangkat, tumit kaki kiri Ki Jayaragapun menjulur berusaha menghantam perut Wirapati.

    Wirapati sama sekali tidak berusaha menghindar dari serangan Ki Jayaraga, justru arah serangan kedua tangannya kini berubah arah untuk dibenturkan dengan tumit kaki kiri Ki Jayaraga.

    Ki Jayaraga terkejut. Dengan cepat direbahkannya tubuhnya yang sudah dalam keadaan condong kekanan itu untuk menghindari tumit kaki kirinya berbenturan dengan jari jari Wirapati yang beracun. Sebagai gantinya, bersamaan dengan ditariknya kaki kirinya, dalam keadaan rebah disawah yang berlumpur, kaki kanannya menebas deras kearah kaki Wirapati yang baru saja menjejak di tanah.

    Wirapati mendengus marah mendapat serangan yang tak terduga dari Ki Jayaraga. Dengan sebelah kaki yang baru saja menjejak tanah, dilontarkan tubuhnya kedepan sambil berguling menghindari sambaran kaki Ki Jayaraga.

    Ketika keduanya telah berdiri kembali diatas kaki kaki mereka yang kokoh, pakaian kedua orang itu ternyata telah basah kuyup dan berlepotan lumpur. Bahkan wajah Wirapati hampir tidak dapat dikenali lagi karena lumpur yang melumuri hampir seluruh wajahnya.

    Surengpati hampir tidak dapat menahan tertawanya melihat ujud kedua orang itu. Namun segera saja ditahannya dengan susah payah ketika tanpa disengaja pandangan matanya terbentur pada sorot mata Wirapati yang menyala.

    Sejenak kemudian Surengpatipun segera melibatkan dirinya dalam kancah pertempuran yang sengit. Batang batang padi yang mulai tumbuh subur itu hancur terinjak injak oleh kaki kaki mereka yang sedang bertempur. Medan yang cukup sulit bagi orang kebanyakan, ternyata tidak menjadi halangan yang berarti bagi mereka yang sedang bertempur itu. Bahkan kadang kadang murid murid dari perguruan Toya Upas yang terbiasa bertempur dengan kasar dan sedikit liar itu telah memanfaatkan medan yang berlumpur untuk berbuat curang. Dengan sengaja mereka sesekali menendang seonggok lumpur atau dengan tangannya meraih segenggam lumpur untuk kemudian dilemparkan kewajah lawannya.

    Ki Jayaraga adalah orang yang sudah pernah menjalani hidup di dunia hitam hampir sepanjang umurnya sebelum bertemu dengan Kiai Gringsing. Menghadapi cara bertempur lawannya itu dia sama sekali tidak terkejut. Justru lawan lawannyalah yang terkejut melihat tandang Ki Jayaraga. Walaupun secara wadag Ki Jayaraga sudah tidak dapat dikatakan muda lagi, namun tenaganya benar benar ngedab edabi.

    Ada satu hal yang membuat Ki Jayaraga harus lebih berhati hati dan selalu waspada. Kedua lawannya itu ternyata selalu berusaha untuk membenturkan jari jari tangannya dengan bagian tubuh Ki Jayaraga yang manapun juga. Bahkan setiap kali Ki Jayaraga menyerang dengan tangan maupun kakinya, mereka tidak pernah berusaha mengelak. Dengan tatag semua serangan itu berusaha dibenturkannya dengan jari jari tangan mereka yang berkuku tajam dan berwarna hitam.

    Memang sudah menjadi kebiasaan murid murid perguruan Toya Upas yang senang bermain main dengan racun. Segores tipis saja dari kuku kuku jari mereka di kulit lawannya, sudah cukup untuk mengantarkan nyawa mereka ke alam baka.

    Menyadari betapa berbahayanya kuku kuku jari lawannya, Ki Jayaraga mulai mengetrapkan ilmunya atas penguasaan unsur unsur air, udara dan api. Beberapa saat kemudian terasa oleh lawan lawan Ki Jayaraga, betapa udara diseputar mereka bertempur perlahan lahan telah berubah menjadi panas.

    Matahari memang sedang bersinar dengan teriknya. Agaknya sebentar lagi matahari akan segera tergelincir dari puncaknya menuju ke langit sebelah barat. Namun panas yang dirasakan oleh lawan lawan Ki Jayaraga terasa tak tertahankan lagi. Seolah olah mereka sedang berjerang di depan tungku perapian seorang pande besi.

    Sementara itu di pendapa rumah Ki Gede Menoreh, Prastawa dan Ki Jagabaya sedang menghadap Ki Argapati.

    “Jadi kalian belum dapat mengambil suatu kesimpulan, siapakah orang orang asing yang mendatangi Tanah Perdikan Menoreh ini?” Ki Argapati bertanya sambil memandang kepada kedua orang yang duduk di depannya.

    “Belum, Paman,” jawab Prastawa, “Mereka yang hadir di Menoreh ini memiliki ujud yang berbeda beda, maksudku cara berpakaian maupun bertingkah laku. Ada yang kasar dan sedikit liar, ada yang tampak sangat rapi dan sopan, bahkan ada segolongan orang yang berpakaian aneh aneh dan membawa binatang piaraan yang tidak wajar, seperti seekor ular bandotan yang besar, biawak, landak dan sebagainya.”

    “Benar apa yang disampaikan Anakmas Prastawa itu,Ki Gede,” Ki Jagabaya menambahkan, “Namun sejauh ini mereka belum menampakkan ulah yang dapat meresahkan kehidupan Tanah Perdikan ini.”

    Ki Gede Menoreh sejenak termangu mangu. Sebagai orang yang sudah kenyang makan asam garamnya kehidupan ini, nalurinya mengatakan bahwa untuk kesekian kalinya kembali tanah ini akan diguncang oleh peristiwa yang dahsyat. Api akan kembali membakar bukit Menoreh, membakar kehidupan Tanah Perdikan yang tenang dan damai ini.

    Perlahan lahan matahari mulai tergelincir ke barat. Angin sore yang kering bertiup menggugurkan daun daun pohon mangga yang tumbuh di sebelah kanan pendapa rumah Ki Gede Menoreh. Seekor induk ayam dan anak anaknya tampak berkeliaran di bawah pohon mangga sambil mengais ngais tanah di bawahnya, mencari sesuatu yang mungkin dapat diberikan untuk anak anaknya.

    Selagi ketiga orang itu merenungi maksud dan tujuan dari orang orang yang berdatangan ke Tanah Perdikan Menoreh dengan segala macam ujud dan tingkah lakunya, tiba tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang berlari lari di sepanjang jalan yang menuju rumah Ki Gede Menoreh.

    Dua orang pengawal yang menjaga regol depan segera bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan. Pertama tama mereka mengira bahwa yang berlari lari di sepanjang jalan menuju rumah Ki Gede itu adalah orang gila menilik dari ujudnya yang aneh. Pakaiannya compang camping dan berlepotan lumpur. Rambutnya yang riap riapan dan bercampur lumpur itu menutupi sebagian wajahnya sehingga untuk sesaat agak menimbulkan kesulitan bagi seseorang untuk mengenalinya.

    Ketika langkah orang yang sekujur tubuhnya berlepotan lumpur itu tinggal beberapa langkah saja dari regol rumah Ki Gede, dua orang pengawal itupun segera merundukkan tombaknya.

    Sejenak orang itu menjadi ragu ragu, namun kemudian katanya sambil menyibakkan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya, “He, apakah kalian tidak mengenalku? Hampir setiap sore aku mengunjungi rumah ini, dan menjelang tengah malam baru aku kembali. Siapapun yang bertugas saat itu pasti mengenalku.”

    Dua orang pengawal itu mencoba melangkah mendekat untuk lebih mengenal lekuk lekuk wajahnya. Mereka berdua hampir saja berteriak sekeras kerasnya ketika orang yang berlepotan lumpur itu berusaha mengusap wajahnya dengan kedua tangannya yang kotor.

    “Ki Jayaraga..? He, engkaukah itu, Ki..?” teriak kedua pengawal itu hampir bersamaan.

    Ketiga orang yang sedang duduk duduk di pendapa itupun terlonjak kaget begitu mendengar teriakan dari kedua pengawal yang sedang bertugas menjaga regol depan rumah Ki Gede. Dengan segera ketiganyapun berdiri dan menghambur menuruni tangga pendapa menuju ke regol depan.

    “Ki Jayaraga, apakah yang sebenarnya terjadi?” bertanya Ki Gede sesampainya di depan regol.

    “Aku terjatuh di sawah sewaktu meniti pematang, Ki Gede,” jawab Ki Jayaraga sambil tersenyum, kemudian melangkah memasuki halaman rumah Ki Gede.

    Ki Gede dan orang orang yang ada disekitar regol itu mengerutkan keningnya. Adalah tidak masuk akal bagi Ki Jayaraga yang mereka ketahui memiliki kemampuan yang nggegirisi bisa terjatuh sewaktu meniti pematang.

    Namun merekapun kemudian menarik nafas dalam dalam ketika mendengar Ki Jayaraga berkata selanjutnya, “Ki Gede, ijinkan aku membersihkan diri dulu ke pakiwan. Barangkali ada pakaian sepengadeg yang sudah tidak dipakai lagi oleh Ki Gede dan dapat aku pinjam untuk sementara.”

    “Ah,” Ki Gede tertawa pendek mendengar permintaan Ki Jayaraga, “Engkau dapat memilih pakaian yang terbaru sekalipun, Ki Jayaraga, dan engkau tidak mempunyai kuwajiban untuk mengembalikannya.”

    Ki Jayaraga mengangguk anggukan kepalanya, “Memang aku tidak akan mengembalikan pakaian itu dalam ujud aslinya, namun sejumlah uang seharga sepengadeg pakaian baru itulah yang harus kukembalikan.”

    Segera saja terdengar suara tertawa berkepanjangan dari orang orang yang ada di dekat regol halaman Ki Gede itu. Sementara Ki Gede hanya tersenyum saja mendengar gurauan Ki Jayaraga. Bagaimanapun juga, pranggraitanya sebagai orang yang sudah mengalami pasang surutnya kehidupan di Tanah Perdikan Menoreh ini tidak dapat dikelabui.

    • asik….., kamsiiiaaa………………………… !!!

      • eh.., lali….., tak kira di gandok sebelah
        matur suwun…..

  18. matur nuwun sanget mbah man :) :) :)

    tp ada yg aneh dech, ini :

    “Baiklah, “ akhirnya Wirapati yang menjawab, “Kami dari perguruan Toya Upas di lereng gunung Lawu tidak berkeberatan untuk mengantarkan selembar nyawamu ke alam kelanggengan dengan penuh kejantanan.”

    kejantanan ? …… jantan kok ngroyok? …. jantan kok nganggo senjata kuku racun sementara mungsuhe tangan kosong ? :( :( :(

    • eh klo senjatanya kuku racun, klo mo ngemplok makanan piye yo ? :) :) :)

      • wah……, salah paham ni
        Yang dimaksud “penuh kejantanan” di situ untuk Ki Jayaraga. Sepertinya maksud mbah_man adalah mereka akan mengantarkan kematian Ki Jayaraga secara jantan dengan bertempur dulu, tidak duduk sendeku kemudian di”kuweg” dengan kukunya, he he he …

        biar gak kena racun ya makan pakai “suru”, sendok yang dibuat dari daun (biasanya daun pisang).

        kadingaren pagi-pagi sudah OL, bete ya

        • wah…, keduluan komennya mbah Man.
          padahal tadi belum ada lho
          hadu…..,
          untung jawabannya sama, he he he …

        • wah mita kliru ya? maap :)

        • dik risang suru? … suka saru? ? :) :)
          huss rung pareng diiiik :) :)

        • dosena keseeeeeeeeeeeeeeeeeeeet :( :(

    • yang jantan itu Ki Jayaraga, nggak mau nyerah gitu aja.
      orang yang seneng main ama racun ya pasti punya penawarnya, MIt. klo ga punya ya mati konyol lah…

      • maksudna, mungsuhe ngomong ndiri klo mereka jantan, tapi kok ngroyok jayaraga ?

  19. eh ilmuna jayaraga tu dah diturunkan ke glaput ya (bukan golput looh :) ) …. tp sayang ilmunya bukan ilmu utama, tp cuman ilmu pelengkap aja coz glaput dah punya ilmu2 lain yg lbh nggegirisi ……. so apa ga sebaiknya ki jayaraga punya murid lagi yg ilmu utamanya ya ilmu ‘tanudairap’ …( tanah, udara, air, api ) ? :)

    • ya ya ya …..
      ide bagus……
      pesen mbah, karena GlaPut ilmunya sudah ngedap-edapi, Ki Jayaraga mengangkat murid lagi, perempuan, namanya Sri Wedari.
      tapi…, terus anake sapa ya? embuh ah, mbah_man kan pinter ngarang.
      nanti terus pacaran sama Sukra, he he he …. asik…..

      • klo jadian ama sukra, ada enakna loooh, …… tiap hari bisa makan ikan :) :) :)

      • cuman masalahnya, sukra itu rodo ngeyelan ya ? :( :( :(

        • dikon jumatan, .. ngeyel, malah golek iwak :( :(

          • he’eh…..iwak peyek ! :D

  20. Mita aja jadi muridnya mbah man, nanti tak ajari ilmu…(sik tak pikire dhisik)

    • ilmu impor dari ostrali aja ? :)

      • ilmu nangkep kangguru :)

        • sinau aji pameling…..iso nangkep mail/no hp

        • …mmm…ntar kalo dah gak di ostrali, jadi ilmu nangkep…..buguru ? :D

          • mbah man pernah pernah punya temen bu guru yg cantiiiik di ostrali looh :) …… ga tau dech mbah man pernah nangkep dia apa blum ? :) :)

          • ..ojo2 kliru nangkep….betoro guru ? :D

          • opo malah betoro kolor…eh…kolo ! :D

        • nangkep KANGURU menopo KANG GURU ???!!! Hehehehehehe…………

  21. ilmu gulat sumo aja.
    kata mba dewi mita itu endut, mbah man juga endut
    jadi siiiplah klo berdua bergulat sumo
    heheheheheh

    • …dan bergoyang…..ndangndut ! :D

    • mita ga ndut kok mbah, …
      ga tau mba dewi tu tau dari mana?
      klo dari hasil trawangan suamina tu, meibi nrawangna pas lagi ujan, jadi bruwet :)

      • klo ndut, pas jadi sun bol kacian dunk, …. jadi ga bisa terbang coz keberatan :) :) :)

      • endut gembil….ternak lemak…

      • kalo nrawangna pas musim kmarau jadi kècèng dong

        • loh… kok pakai baju lama
          ganti ah

          • gonta ganti baju wae :(
            niku yen ganti baju, mandi dulu ga? :)

  22. embah percaya klo Mita itu, langsing, sexy, cantik, manis, manja, menggemaskan dll

    • pipinya ono dakik-e..eh…dekik-e loro( baca :o ).. :D

      • weeee pdhal papat, ….. yen pas ngilo :) :) :)

    • imut.. :) :) :)

      • i sih nge mut permen ? :) :)

        • berarti mecucu nooo ? :( :( :(

    • mita ga sexy kok mbah :(

      • sexy na klo pas 17an, …. sexy konsumsi bagian laden :) :)

        • eh ada wong sugiiiih bianget, tapi masih mau laden ….. siapa hayoooo ? :) :) :)

          • osama :)

  23. sik…..asik………. Mbah Man TOP MARKOTOP !!!!!

    • jaman dulu dari Batu ada Van Hallen
      he he he …., beliau rupanya

      • waaah van halen muncul lagi :)
        ejreeeeng ejreeeeng ejreeeeeeng :)

  24. Gara-gara mbah man…….. jd on lgi….sole trus terang abid 396….trus baca lanjutan dr ki Agus (mohon maaf sbelumnya) jd drop hilang smangat tut masuk blog (ADBM ato Gagak Seta) walopun tetep di bookmark……. hanya eksis di FB aja

    • nggih….., monggo……

    • gpp, selera orang beda beda itu biasaaaa dech :)
      cuman akan lebih baik lagi ga usah nyebut nama

      • soalnya beliau yg satunya tu juga dah berbaik hati berbagi karya loooh, …….

        • nggih……….. ngaturaken agengin pangaksami….

          • :) :) :) siip

  25. Top (1000) Recent Commenters
    sri wedari 369
    kartojudo 189
    kigundul 85
    Risang 70
    pandanalass 63
    mbah_man 42
    Sumarmo Hardjosoemarto 30

    • waduuuuch, …. mulutku bisa diplester lagi ama dik risang niy :( :( :(

      • klo lom marem, iso di lakban dech, haduuuuu :( :( :(

        • jangan2 malah di alteco, waduuuuuuuuu, mblayuuuuuuuuuuuu :( :( :( :(

          • eh tp klo yang ‘ngalteco’ suami ndiri yo malah penak no yooo ?
            iki mung jarene looh …. lom pernah jeee :) :) :)

          • HikSss,……. :( :( :( :(

          • kadang terasa manis, kadang asem-asin,
            kadang terasa anGET tok…..!!??

            mung jarene looooh, belom pernah nyoba
            kayak Mita…. :) :)

          • hayooo ngapusi :) :)
            mosok ama istri lom pernah ngecun bibir ?

          • apa istrina tinggiiii sekali ta? sehingga ora geduk :) :) :)

          • ajar yudo sik mawon ki, …. klo dah pinter yudo bisa tuk njegal istri yg tinggi …. trusnya tau ndiri dech :) :)

          • eh ki gun kan dah pinter ‘yudo’ kan? …. yudo pramana :) :)

          • hush, aja dirasani….nanti ki yp ngliler…kojuR Mit,

            ngecuN sembarangan….sembarangan dicun-cun

          • Mit, mumpung sepi ganDOK-e mumpung slurup2 srengenge-ne,

            jan2 ne email/fb mu opo toh nDUK cah **y*… Hikss, :) :)

  26. hayooooo
    konangaaan…
    embah singidan nang kene lho…
    hehehehehe
    kawit biyen durung ana sing berhasil
    heheheheheh

    • udah ada yg tau kok mbah :)

      • udah ada yg pernah imel2an ama mita kok :)

        • siapa hayo…… :P

  27. malam ini kusendiri..
    tiada yang menemani
    semoga engkau mengerti
    kehendak hati ini (mencoba menyelesaikan jilid 397)

    biar besok pagi bisa dinikmati
    sambil sarapan pagi
    setelah mandi
    dan gosok gigi..

    rencana mlm ini melekan OL sampai pagi,
    adakah yang mau menemani
    sambil jari jari menari
    menyelesaikan cerita ini…

    • lha monggo…
      tak cepakke wedang ronde karo jagung bakar, he he he ….

      • kalau menurut perkiraan risang kira-kira masih kurang 2 kali rontal (tambah sedikit) seperti sebelumnya, sudah cukup untuk mengakhiri TADBM 397.

  28. Assalamualaikum …
    Lama g nongol
    Semoga poro sedulur … para sesepuh padepokan..
    para cantrik / mentrik selalu bahagia …

    Mbah man ..
    numpang moco
    hahahah

    • sugeng rawuh Ki Aji
      monggo dipun sekecakaken lenggahipun
      wedang ronde kaliyan jagung bakar camilane

      • hadu…..
        tibane kulo pun nguantuk mbah
        ngapunten, mboten saged ngrencangi ronda

        • walah…., mau tidur belum ganti baju
          ngapunten

    • waalaikumsalam ki adji ….. masak sih ga da yg njawab salamna ? :(

      • lha itu….

  29. padepokan benar2 sepi,
    yang jaga pada kemana..?

    • nguantuk sanget mbah, kados dipun sirep
      bleg…., ngantos adzan Subuh, he he he …..

      • nembe menikmati kekecewaan akibat kawon ing palagan (perebutan thomas-uber)…….lha wong nglawan Jipang mawon koq awrat..padahal Toh Pati mpun sedo…Sumangkar mpun sumeleh…..

        • hix hix hix………….
          mulai ono rontal maneh
          siap-siap sakaouu……………………

        • Nanging dateng Jipang taksih wonten Kyai Setan Kober, amargi punika Tim Thomas langsung klenger.

  30. Lanjutan TADBM jilid 397
    oleh: Mbah Man

    Sejenak kemudian Ki Gede Menoreh telah mengajak Ki Jagabaya dan Prastawa untuk kembali ke pendapa, sementara Ki Jayaraga dengan tergesa gesa berjalan melewati depan gandhok sebelah kanan dari rumah Ki Gede menuju ke pakiwan yang ada di belakang dapur.

    Setelah Ki Jayaraga selesai membersihkan diri dan berganti pakaian sepengadeg yang benar benar masih baru yang disediakan oleh salah seorang pembantu rumah Ki Gede, maka diapun segera bergabung dengan mereka yang telah duduk duduk terlebih dahulu di pendapa.

    “Marilah Ki Jayaraga,” Ki Gede memepersilahkan Ki Jayaraga yang muncul dari balik pintu serambi yang memisahkan serambi dalam dan pendapa yang luas dari rumah Ki Gede Menoreh.

    Ki Jayaraga tersenyum sambil melangkah mendekati mereka yang telah terlebih dahulu duduk di tengah tengah pendapa beralaskan tikar pandan yang putih bersih. Beberapa mangkuk minuman hangat dan penganan ternyata telah tersedia pula.

    Sambil membetulkan letak duduknya dan membenahi kain panjangnya, Ki jayaraga menatap satu persatu wajah wajah dari orang orang yang hadir di pendapa itu. Ketika tatapan matanya tertumbuk pada seraut wajah tua Ki Gede Menoreh, betapa garis garis kehidupan telah banyak menghiasi wajah tua itu. Gejolak yang bagaikan silih berganti yang terjadi di tanah ini telah membuat Ki Gede terlihat lebih tua dari umur yang sebenarnya.

    “Silahkan Ki Jayaraga, mumpung masih hangat,” desis Ki Gede mempersilahkan Ki Jayaraga untuk sekedar meneguk minuman wedang sere yang masih hangat dan mencicipi makanan sekedarnya.

    “Aku memang menjadi seperti orang yang kelaparan,” kata Ki jayaraga sambil meraih mangkuk yang ada di depannya. Setelah mereguk beberapa teguk, diletakkannya kembali mangku itu ditempat semula. Terasa betapa segarnya minuman itu setelah Ki Jayaraga memeras tenaga menghadapi para murid dari padepokan Toya Upas.

    Semua gerak gerik Ki Jayaraga itu tidak terlepas dari perhatian orang orang di sekelilingnya. Sebenarnyalah mereka sudah tidak sabar lagi untuk mendengar peristiwa apakah yang sebenarnya telah menimpa Ki Jayaraga? Tentu saja mereka tidak mengharapkan cerita tergelincirnya dia dari pematang atau cerita sejenisnya, namun sedikit banyak mereka sudah mulai menduga duga keadaan Ki Jayaraga dengan kehadiran orang orang asing di Perdikan Menoreh ini.

    Agaknya Ki Jayaraga menyadari bahwa dirinya telah ditunggu, maka katanya kemudian, “Maaf Ki Gede, bukan maksudku untuk mengulur waktu, namun aku benar benar lelah dan kelaparan setelah tubuh yang tua ini masih dipaksa untuk berkelahi menghadapi orang orang dari lereng gunung Lawu.”

    “Orang orang dari lereng gunung Lawu?” serentak mereka yang ada di pendapa itu terkejut.

    “Ya,” sahut Ki Jayaraga, “Murid murid dari padepokan Toya Upas yang sangat senang bermain main dengan racun.”

    Ki Gede mengerutkan keningnya sambil berdesis perlahan, “Apapun ujud padepokan Toya Upas itu, namun menilik dari kegemarannya bermain dengan racun, perguruan itu tentu bukan suatu perguruan yang bersih, yang menjunjung tinggi nilai nilai dan harkat hubungan antar sesama dan hubungan dengan Penciptanya.”

    “Ki Gede benar. Dalam pertempuran yang baru saja aku alami, mereka sama sekali tidak memperdulikan segala macam unggah ungguh dan tatanan. Mereka berkelahi dengan cara yang kasar dan liar. Bahkan tidak jarang mereka berlaku curang dan licik.”

    Ketiga orang yang mendengarkan cerita Ki Jayaraga itu saling pandang sejenak. Prastawa yang tidak dapat menahan diri diantara mereka itupun akhirnya bertanya, “Apakah maksud Ki Jayaraga dengan mereka? Apakah itu berarti Ki Jayaraga harus bertempur dengan lawan yang lebih dari satu?”

    “Engkau benar, Prastawa. Mereka adalah kakak beradik dari perguruan Toya Upas yang bernama Wirapati dan Surengpati. Bahkan menurut cerita mereka, masih ada lagi adik seperguruan mereka yang bernama Wanengpati. Tetapi tidak dapat ikut datang ke Tanah Perdikan ini karena sedang terluka ketika terjadi perselisihan dengan Swandaru dari Sangkal Putung.”

    “Swandaru,” tanpa sesadarnya mereka bertiga mengulang nama itu, dan sebuah desir yang tajam telah menusuk hati Ki Gede Menoreh, hati yang seharusnya lebih banyak merasakan tentram dan damai di hari hari tuanya.

    Ki Jagabaya yang sedari tadi hanya berdiam diri ternyata tidak kuat menahan hatinya begitu Ki Jayaraga menyebut nama Swandaru. Bagi para bebahu Tanah Perdikan Menoreh nama Swandaru adalah suatu kebanggaan dan harapan yang dapat meneruskan kejayaan Keluarga Menoreh walaupun sampai saat ini Swandaru masih terikat dengan Kademangannya dan justru Agung Sedayulah yang ternyata telah banyak berbuat bagi tanah ini walaupun secara trah Menoneh, Agung Sedayu bukan sanak dan bukan kadang.

    “Maaf Ki Jayaraga,” bertanya Ki Jagabaya, “Hubungan apakah yang menyebabkan terjadinya perselisihan antara Anakmas Swandaru dengan murid dari perguruan Toya Upas itu?”

    Ki Jayaraga termangu mangu sejenak. Tanpa disadarinya dia berpaling kearah Ki Gede Menoreh. Betapapun juga Swandaru adalah suami dari anak perempuan satu satunya Ki Gede. Cerita tentang perilaku Swandaru yang buram akan dapat mempengaruhi kewibawaan Ki Gede dan citra Swandaru itu sendiri di kalangan para bebahu dan seluruh kawula di Tanah Perdikan Menoreh.

    Betapapun berbagai pertimbangan tumpang tindih di dalam dada Ki Jayaraga, namun dia harus menjawab pertanyaan Ki Jagabaya agak tidak menimbulkan tanggapan yang kurang pada tempatnya.

    “Persoalan yang sebenarnya akupun tidak begitu jelas,” berkata Ki Jayaraga mencoba merangkai kata sebaik mungkin agar tidak ada pihak yang tersinggung, “Namun kenyataannya adalah Swandaru telah berselisih dengan Wanengpati. Ternyata Swandaru terlalu perkasa untuk ukuran murid padepokan Toya Upas itu.”

    Ada semacam kebanggaan yang mengembang dihati Prastawa dan Ki Jagabaya mendengar cerita Ki Jayaraga tentang kehebatan Swandaru itu, namun sebaliknya berita itu justru membuat Ki Gede semakin prihatin dengan tingkah laku Swandaru yang semakin tidak terkendali. Sudah seharusnya semakin bertambahnya umur seseorang dan kematangan ilmu yang dikuasainya akan semakin menambah kesabaran dan kebijaksanaan dalam setiap mengambil sebuah keputusan.

    “Bagaimana dengan kedua murid perguruan Toya Upas yang bertempur dengan Ki Jayaraga?” kembali Prastawa bertanya.

    Untuk sejenak Ki Jayaraga termangu mangu. Sebelum dia menjawab pertanyaan Prastawa, Ki Gede ternyata telah mengajukan pertanyaan yang membuat hati Ki Jayaraga semakin berdebar debar.

    “Ki Jayaraga, permasalahan apakah sebenarnya yang telah menyebabkan murid perguruan Toya Upas berbenturan dengan Ki Jayaraga?”

    Belum sempat Ki Jayaraga menjawab semua pertanyaan itu, Ki Jagabayapun telah menambahkan, “Bahkan sekarang di Tanah Perdikan Menoreh ini telah banyak berkeliaran orang orang yang tidak dikenal, menilik cara mereka berpakaian dan bersikap, mereka tidak mungkin berasal dari satu golongan tertentu, dan kemungkinan salah satunya adalah dari perguruan Toya Upas yang telah berselisih dengan Ki Jayaraga itu.”

    Ki Jayaraga terpekur diam. Berbagai persoalan bercampur aduk di dalam hatinya. Tidak mungkin dia membeberkan tujuan dari perguruan perguruan yang datang berbondong bondong ke Tanah Perdikan Menoreh untuk mencoba keberuntungan mereka, memburu kitab peninggalan Empu Windujati. Demikian juga sumber berita yang menyebabkan tersebarnya keberadaan kitab peninggalan Empu Windujati itu tidak mungkin akan disampaikannya dihadapan mereka semua yang hadir di pendapa itu.

    Sikap diam dan keragu raguan yang tercermin di wajah Ki Jayaraga telah membuat hati Ki Gede semakin berdebar debar. Hubungan antara perselisihan Swandaru dengan salah satu murid perguruan Toya Upas dan benturan Ki Jayaraga dengan murid murid perguruan Toya Upas yang lainnya yang terjadi justru di tanah Perdikan ini, telah menimbulkan dugaan dugaan yang mendebarkan.

    “Ki Gede,” akhirnya Ki Jayaraga memutuskan untuk memberitahukan permasalahan yang harus segera ditangani, “Aku meninggalkan dua sosok mayat di bawah gubuk yang terletak di pesawahan Ki Rangga Agung Sedayu. Ki Gede mungkin dapat memerintahkan para pengawal untuk menyelenggarakan mereka sebagaimana mestinya. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Untuk menawan mereka hidup hidup adalah suatu pekerjaan yang mustahil sebab mereka selalu berusaha untuk menggoreskan kuku kuku beracun mereka kapan saja mereka mempunyai kesempatan.”

    Ketiga orang yang mendengar nasib dari murid murid perguruan Toya Upas itu terkejut bukan kepalang. Ternyata Ki Jayaraga telah menyelesaikan lawan lawannya dengan tuntas, walaupun dengan sangat terpaksa.

    Debar di jantung Ki Gede Menorehpun semakin kencang. Darah pertama dari permasalahan yang membelit Tanah Perdikan ini telah tertumpah dan mungkin akan segera disusul dengan peristiwa peristiwa lainnya yang tidak menutup kemungkin akan menyebabkan pertumpahan darah yang semakin dahsyat.

    “Paman, “ berkata Prastawa setelah menimbang nimbang beberapa saat, “Sebaiknya Paman memerintahkan beberapa pengawal untuk menyelenggarakan jenazah dari kedua murid perguruan Toya Upas itu sesegera mungkin agar keberadaannya tidak diketahui masyarakat luas dan dapat menimbulkan kegelisahan.”

    Ki Gede Menoreh mengangguk anggukan kepalanya. Ketika tanpa sengaja pandangan matanya bertemu dengan pandang mata Ki Jagabaya, Ki Gedepun segera memberikan perintahnya, “Ki Jagabaya, pergilah dengan beberapa pengawal. Usahakan jangan sampai menimbulkan kegelisahan rakyat Tanah Perdikan Menoreh.”

    “Ijinkan aku ikut Ki Jagabaya, Paman,” tiba tiba Prastawa menyela.

    “Pergilah kalian berdua. Jangan terlalu banyak membawa pengawal agar tidak menarik perhatian. Jangan lupa membawa peralatan sekedarnya agar pekerjaan kalian dapat berjalan dengan lancar.”

    Demikianlah, Prastawa dan Ki Jagabayapun segera minta diri. Dengan bergegas mereka berdua menuruni tlundak pendapa, kemudian menyeberangi halaman rumah Ki Gede yang luas. Setelah melewati regol, merekapun segera menyusuri jalan yang menuju ke banjar padukuhan induk untuk menghubungi beberapa pengawal yang mereka perlukan.

    Sepeninggal Prastawa dan Ki Jagabaya, berkali kali Ki Jayaraga menarik nafas dalam dalam untuk menenangkan debar jantungnya. Apakah kira kira yang akan dikatakan kepada Ki Gede seandainya dia mempertanyakan permasalahan yang sebenarnya, baik menyangkut masalah Swandaru maupun pertempuran yang baru saja terjadi pada dirinya dan ternyata telah memakan korban?

    Angin sore bertiup perlahan menggoyangkan dedaunan dari pohon pohon yang tumbuh di halaman rumah Ki Gede. Seekor induk ayam dan anak anaknya melintas halaman menuju gandok sebelah kiri. Sambil sesekali mengais ngais tanah yang dilewatinya, akhirnya induk ayam dan anak anaknya itu menyelusuri dinding sisi sebelah kiri regol untuk kemudian menghilang di belakang Gandok.

    “Ki Jayaraga,” perlahan Ki Gede bertanya, “Apakah Ki Jayaraga dapat menjelaskan dengan gamblang apakah yang sebenarnya telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh ini? Adakah hubungan antara yang terjadi pada Ki Jayaraga dengan Swandaru?”

    Ki Jayaraga menggeser duduknya setapak mendekati Ki Gede. Seolah olah ada suatu rahasia yang hanya mereka berdua yang berhak mendengarnya.

    “Ki Gede, perguruan perguruan yang datang berbondong bondong ke Tanah Perdikan ini sesungguhnya ada yang mereka cari.” Desis Ki Jayaraga pelan.

    “Apakah yang mereka cari di tanah ini?”

    “Mereka mencari sebuah kitab yang diwariskan turun temurun dari sebuah perguruan yang besar sejak jaman Majapahit.”

    Ki Gede mengerutkan keningnya dalam dalam begitu mendengar Majapahit disebut sebut. Segera saja ingatan Ki Gede tertuju pada Kiai Gringsing. Keturunan Majapahit sekaligus pewaris ilmu sebuah perguruan besar Windujati yang memilih hidup diantara orang kebanyakan.

    “Apakah yang dimaksud Ki Jayaraga itu perguruan Empu Windujati,” dengan ragu ragu Ki Gede mencoba menebak.

    “Ya Ki Gede, mereka berbondong bondong datang kesini untuk memperebutkan kitab pusaka warisan perguruan Empu Windujati yang kini berada di tangan Ki Rangga Agung Sedayu.”

    Wajah Ki Gede menunjukan keheranan yang sangat, lalu katanya, “Dari manakah orang orang itu mengetahui keberadaan kitab Empu Windujati?”

    Ki Jayaraga tertunduk dalam dalam. Dicobanya untuk tetap tenang dalam menuturkan kejadian yang sebenarnya agar tidak menyinggung perasaan Ki Gede. Selain itu, lebih baik Ki Gede mendengar langsung cerita itu dari dirinya walaupun kebenarannya masih perlu diuji karena tidak menutup kemungkinan cerita dari murid murid perguruan Toya Upas itu ada yang ditambah atau bahkan dikurangi, disesuaikan dengan keperluan mereka.

    Ketika Ki Jayaraga telah selesai menuturkan kejadian antara Swandaru dengan Wanengpati sesuai dengan penuturan murid murid perguruan Toya Upas tanpa dikurangi dan ditambah, dada Ki Gede Menorehpun bagaikan tersayat sembilu menembus jantung. Hati orang tua itu hancur berkeping keping mendengar tingkah polah Swandaru, suami dari anak perempuan satu satunya. Akankah hati Pandan Wangi kuat menahan goncangan sekali lagi setelah peristiwa yang lalu? Peristiwa yang melibatkan Swandaru dengan seorang perempuan pengikut Ki Saba Lintang?

    Sejenak Ki Gede Menoreh merenung. Masa kecil Pandan Wangi dilalui dengan penuh keprihatinan. Dibawah asuhan seorang ibu yang selalu merasa bersalah dan cacat dihadapan suaminya. Satu satunya teman bermain yang selalu setia menemaninya adalah kakaknya, Sidanti. Namun Kakaknya yang selalu berwajah murung itu ternyata lebih sering tinggal dirumah bibinya dari pada dirumahnya sendiri.

    Kadang terucap pertanyaan dari Pandan Wangi kecil waktu itu, mengapa Kakaknya lebih sering tinggal di rumah Bibinya? Sedangkan dia membutuhkan kawan bermain? Dan jawab Ibundanya selalu itu itu saja, bahwa Sidanti harus mengawani Bibinya, karena Bibinya itu tidak mempunyai seorang keturunanpun.

    Ketika kemudian Sidanti harus pergi mengikuti Gurunya, Ki Tambak Wedi, hati gadis kecil itu bagaikan belanga yang terbanting di atas batu batu padas di gerojokan, hancur berkeping keping. Satu satunya saudara yang dia punya telah pergi meninggalkannya entah untuk berapa lama. Tidak ada lagi yang mencarikan buah jambu air yang tumbuh rimbun di samping dapur untuknya, atau mengumpulkan biji sawo kecik untuk bermain dakon.

    Terbayang kembali diingatan Ki Gede, betapa Pandan Wangi kecil itu telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang pemurung. Sepeninggal ibunya yang meninggal karena sakit, Pandan Wangi benar benar telah menjadi seorang gadis yang tertutup. Ketertarikannya pada dunia olah kanuragan serta kesenangannya berburu telah menjadikan Pandan Wangi seorang gadis yang aneh, pemurung dan penyendiri.

    Ketika kemudian Sidanti kembali ke Tanah Perdikan Menoreh bersama gurunya Ki Tambak Wedi dan Pamannya Ki Argajaya yang memang diberi tugas oleh Ayahnya untuk menengok keadaan Sidanti, ada sepercik kegembiraan yang menyentuh hatinya, namun kegembiraan itu hanya sesaat, berganti dengan kesedihan yang tiada taranya setelah mengetahui jati dirinya dan kakaknya. Ternyata kedatangan kakaknya ke Tanah Perdikan ini bukan untuk memetikkan buah jambu air atau mencarikan biji sawo kecik untuk bermain dakon, tetapi kedatangannya justru membawa api yang telah membakar seluruh Tanah Perdikan Menoreh.

    Kembali Ki Gede menarik nafas dalam dalam. Panggraitanya sebagai seorang ayah yang mempunyai anak gadis menjelang dewasa, tersentuh waktu itu ketika melihat keakraban pergaulan antara anak gadisnya dengan seorang gembala yang bernama Gupita. Sorot mata yang penuh keceriaan dan kegembiraan, solah tingkah yang malu malu dan canggung namun sangat perhatian bila bertemu dengan Gupita, telah mengisyaratkan kepada Ki Gede, bahwa anak gadisnya telah menjatuhkan pilihan hatinya kepada anak gembala yang bernama Gupita itu.

    Namun sekali lagi, hati Pandan Wangi hancur berkeping keping setelah mengetahui bahwa Gupita yang ternyata bernama Agung Sedayu itu telah mempunyai seorang gadis pilihan hatinya, gadis yang selalu berwajah ceria, yang dengan penuh semangat menyongsong masa depannya, gadis anak Demang Sangkal Putung yang bernama Sekar Mirah.

    Ketika api yang membakar Tanah Perdikan Menoreh itu kemudian dapat dipadamkan atas bantuan Kiai Gringsing dan murid muridnya, ada suatu kuwajiban yang dengan sadar telah dipikulkan dipundaknya sendiri, kuwajiban untuk membalas budi dan menyenangkan hati Ayahnya yang telah banyak menderita dalam mengarungi kehidupan ini.

    Tanpa disadarinya, perlahan lahan Ki Gede Menoreh berdesah dalam hati, “Sesungguhnya pilihanmu yang pertama itu tidak salah, Wangi. Keadaanlah yang salah, seandainya tidak ada gadis yang bernama Sekar Mirah itu, alangkah bahagianya engkau dalam meniti hari hari depanmu? Dan akupun tidak akan mengalami kesulitan dalam membina masa depan Tanah Perdikan Menoreh ini.”

    Kini Ki Gede menoreh menyadari sepenuhnya, bahwa apa yang telah dilakukan Pandan Wangi saat itu hanyalah memenuhi kuwajibannya sebagai ujud bakti seorang anak kepada orang tuanya, sebagai tanda bakti kepada tanah leluhurnya yang telah diselamatkan dari kehancuran, sebagai tanda balas budi atas kebaikan yang telah diberikan oleh sesamanya.

    • dikit lagi mbah…..
      TADBM-397 bisa dibundel
      he he he …..
      sugeng dalu

      • hehehehe
        wani pira..?

        • lha njenengan nyuwun pinten?
          he he he ….
          setia menanti… (tutuge adbm 397)

        • seBUNdel udud kretek pripun Mbah_Man…..he-heee, hiKss

          • ki gun ngenyeeeeek bgtz :( :( :(
            mosok karya sebagus ini mung diregani rokok :( :(
            pdhl rokok ki nilaine ‘very negative’ :( :(

          • tergantung sing ngududne…
            klo yang ngududne cucuna Mita..embah ikhlas..
            hehehehehe

          • hayoOO….Mita wani po ra !!!!

          • UDud…..nilainya emang cuiLIK MIT, anangging peSONA-nya ??

            he-heeee,……ngedap-edapi :) :)

          • cucuna mita ?
            mita lom punya cucu dunk :( :( :(

          • pinter nGELES……Mbah_Man nuwun sewu kulo
            wakili nJIwiT MIta,

          • aduuuch, njiwit kok nganggo siyung :( :(

    • “MBAH_MAN……SEMAKIN SEMANGAT”

    • matur sembah nuwun mBah….ular2 nggo Pandan Wangi :

      “begitulah cinta…deritanya tiada pernah berakhir”

      • pucuk dicinta…..ularpun datang tiba-tiba”

        MakJeglengEk

        • hehehe,….geng ndalu ki Dul….

          nitip frame kagem mBah Man……dlm hiruk pikuk perebutan kitab Windujati…….ada tokoh misterius soko Klurak Wonosobo….keturunan Rangga Toh Jaya……..bersahabat dgn Rangga Agung Sedayu………menguasai aliran perguruan Pandan Alas dan perguruan Pengging…………..SIAPAKAH DIA ?

          • sinten toh Ki…….???

            Aura kasih…..tentu bukan….he-heeeee,

          • rangga warsita

          • cantrik pikir “RANDA TAMARA”…. :) :) tibae kleru nebak,

    • maturnuwun sanget mbah man :)
      it’s very touchy …. uhuuuk uhuuuk uhuuk
      mbah man marahi nangis wae :(
      sakne bgt bude pandan wangi :( :(

      • eh sakne bgtz juga eyang argapati :(

  31. Wiew…..
    matur suwun

    • weiW…..
      matur suwun

      • matur suwon mbah man
        weiw ..

        • Dherek matur suwun Mbah.

          • Matus suwun Mbahe……..
            mugi-mugi mboten ngantos sakaooooouuuu………..

  32. quote abstraksi Pak Lik Satpam gandok iki :

    “Halaman ini digunakan untuk upload cerita yang dituliskan oleh mbah_man, agar tidak campur baur, mohon jangan menuliskan komen pada halaman ini. Gojegan mohon dituliskan pada setiap halaman jilid, atau di gandok NSSW-08.”

    ojo do gojeg…ojo do mbeling…ojo do komen

    • dik risang wis ngaku klo ga konsisten kok ki :)

      • ora konsisten koq yo mok enteni

      • hadu….. :( :( :(
        lha bagaimana lagi, mau “nyetip” ya capek sendiri.
        satu disetip, yang lain muncul, ada yang disetip tetapi tetap mbandel muncul lagi
        ya sudah…., biar ruwet, he he he ……..
        jadi enak to….., gak capek….. :P

        • klo capek nyetip yo disoki tipp ex ajah bereees :) :)

  33. esuk esuk kok wis pada komen?
    apa ora mbut gawe…?
    cucuna mesti males kul..
    turu nggluntung ….kemul jarit..
    tambah lemu lho..

    matur sembah nuwun dumateng sedaya kemawon ingkang sampun nyengkuyung dumateng dumadosipun carios punika.
    Kangge para cantrik ingkang nitip alur utawi tokoh, sabar rumiyin, embah badhe nyobi nglarasaken kaliyan alur ingkang sampun wonten catetanipun embah.

    matur nuwun

    • tansah nenggo2 tarian indah jemari dan untaian kemilau kata demi kata sangking panjenengan mBah……….

      • dimulai-lah jurus oGROk-oGROk gaya ki PA…..he-heee,

    • mita ga males kul dunk, ….
      nyatetna kan pake laptop, so pura2 nyatet pdhal browsing :) :)

      • karo mandeng potoku…eh…putuku ! :D

        • iya, walopun alisna doank :) :)

          • eh itu alisna kok bisa subur bgtz itu apa dikasih pupuk ta ? :) :)

          • he’eh..dikasih popok..eh…pupuk ! :D

  34. mboten ngogrok ogrok ki…..namung nyebar semangat….(+nitip tokoh lan alur)….mugo2 ditampi kanthi rinaning penggalihe mBah Man

    • kalo cantrik pasrah kemawon ki……kebagian peran siTIK
      ya matur nuwun,

      BERAT ki :
      ning terusan ADBM teramat sulit menyelundupkan soSOK
      gundUL (cantrik pendiam, ra tegoan, ra tegelan)….!!????

      • klo sulit masuk ke tadbm, gmn klo masuk ke panasnya bumi pajang? :) :) :)

        • cah baguse niku kan cilikane mbah man,
          klo ki gun sebaya dgn mbah man, ntar dibikinin tokoh yang sebaya dengan cah baguse juga :) :)

          • boleh2 MIT,
            jadikan tokoh yang baik hati, suka menolong, gak usah ganteng
            Mit……sing penting tokoh sing ngangeni,

          • bab UMur,

            bikin lebih muda dari Mbah_Man….. :) :) kalo UMur kakek Karto
            bikin sepantaran sama Mbah_Man.

          • ki PA sepantaran mas Risang……isih cuiLIK-cuiLIK,

          • ralat MIT :
            ganti tokoh……jadikan ki Gun, anggota gerombolan penyamun,

            penyamun baik hati, pokok-e mirip2 tokoh RobinHOOD-lah…. !!??

          • ki Gundul wis ono : Tumenggung Yudha Permana…..

            Tokoh eksekutif muda, cowok metropolis, sedikit playboy…

          • saestu sanes kulo ki,

            yen tak pikir2, tokoh-ne kok memper ki PA kaliyan ki Karto

            nuwun sewu sakderenge….mangke penyamun Gun siAP
            menghadang perjalanan njenengan berDUA,

            nyuwun uDUD tok, sanes nyuwun sing neko2…..!!??

          • walaaah uangel men jalukane :(
            wis terserah sing ngarang wae :) :) :)

          • mbok ki gun yo ngarang crito :)

          • crito pengalamane dados vampire :)

          • pripun awal2 kejadiannya ?

          • trus pas ketemu sun bol, mo jadi saingan apa partner nich ?

          • trus berkolaborasi ama sun bol menyerang markas wewe gombel :)

          • pas penyerangan itu, kebetulan kakek karto lagi keblasuk kesitu, … jadinya sekalian diadakan misi penyelamatan kakek oleh cucuna yg kendal sekali :) :)

          • misi yg cucaaah bgtz, coz kakek lagi dikekepi wewe :) :) :) jadi uangeeel narikeee :) :)

          • trus vampire mbantuin sun bol dengan cara merubah wujud jadi cowo yg ngguanteng buangetz dech, sampe wewena terpesona trus mengejarnya tuk dikekepi juga …… naaaa otomatis kakek lepas dari kekepan wewe trus ditarik ama cucuna trus lari terbirit birit :)

          • kejar mengejar terjadi, akhirna cowo cakep td ketangkep juga ama wewe ….. pas mau dikekep, cowona berubah lagi jadi vampire mringis yg siyunge kinclong, …. trus langsung aja wewena digigit …. waaaa mo’ing dech wewena :) :)

          • ..asal dudu wewe gembol..eh..gombel ! :D

          • klo awewe mbandung mau ? :) :)

          • klo mau, pesen ama mbah man yg lagi di bandung :) :)

          • kakek, ntar klo dodolan batubara ya dilihat dulu konsumena, … jangan asal ya, ….. mosok wewe yo ditawani batubara? :) :)

  35. siiippppp…………

    sugeng rawuh ki, pundi oleh-olehe king Junrejo

  36. untuk sementara BdBJ di tunda jadwal tayangnya,
    nunggu selesainya TADBM 397
    untuk Badai di Bumi Pajang oleh Mita Mitul Menul Menul, silahkan dilanjut
    hehheheheh

    • menul niku napa ta mbah ?
      menul ..ar ? …. waaah padakke virus waeee :( :(

      • ..menul kuwi koyone…..nyempluk Mit ! :D

        • maem klenyem karu cipluk ? :)

    • waah crito panasnya bumi pajang niki mung crito guyon kok mbah …. dados ‘bukan apa2’nya klo dibanding crito badai di bumi jipang

      ini idep2 latihan nulis kok, … ra ketang awur2an yo beenz :) :) …. dados putune mbah man kok ra iso nulis? … waguuuu no yoooo ? :) :) :)

  37. mugi-mugi wonten tokoh pembantu saking tlatah Pati, Bumi Mina Tani wonten tadbm, bdbj lan sakpanungalane. mbok menawi wonten renaning mbah Man, kulo nitip character kados mekaten : tegas, jujur tanpa tedeng-aling (bloko sutho), agamis, keturunanipun Ki Ageng Ngerang Juwono.

    • motorna kereeeen :)

      • nitip istilah juga :

        – Sepeminum teh
        – Sepemakan nasi

        • - Sepenggalah

          • penak sepenghulu :)

          • ..yo wis…ayo..! :)

    • matur suwun Ki Sekopati
      sementara ditampung dulu.

  38. ngaturaken gunging panuwun Mbah Man

  39. @ Ki Sekopati
    saya coba berpetualang di dunia maya mencari info Ki Ageng Ngerang
    salah satu keturunannya Ki Penjawi.
    putra Ki Penjawi yg cewek Ratu Waskito Jawi dikawin Panembahan Senopati, yg cowok Pragola Pati menggantikan ayahnya dan pernah memberontak kpd Panembahan Senopati,
    Nah, mau dari keturunan yang mana yag harus embah masukan di TADBM, kelihatannya masuk sejaman dgn Agung Sedayu.
    matur nuwun

    • nek perguruan Pengging – Rangga Toh Jaya … mesthi sampun kathah referensi njih mBah

    • Ki ageng ngerang I, punika murid ipun syech siti jenar, setunggal angkatan kaliyan ki ageng pengging sepuh utawi pangeran handayaningrat/bhree pengging (gurunipun mahesa jenar),& ki lontang semarang.

    • punika kulo tambahan silsilah ki ageng ngerang. mugi-mugi saged nambah wawasan kabudayan jawi pesisir.

      A.Letak makam Nyai Ageng Ngerang

      Nyai Ageng Ngerang adalah seorang ulama wanita dan waliyullah yang menyebarkan agama islam di daerah juwana,dan daerah lereng Pegunungan Kendeng,yang hidup sezaman dengan para Sunan dan WaliSongo.Nama ulamanya yakni Nyai Siti Rohmah.Nyai Ageng Ngerang keturunan bangsawan kerajaan Majapahit,dan mempunyai nasab dengan Nabi Muhammad Saw generasi ke 25,dari jalur keluarga Bani alawi Hadramaut.

      Makam Nyai Ageng Ngerang terletak di Sekitar Pedukuhan Ngerang Desa Tambakromo kecamatan Tambakromo kabupaten Pati Jawa Tengah.Tepatnya terletak di kawasan Pati Selatan di bawah lereng Pegunungan Kendeng.Sekitar 18 km sebelah selatan kota Pati.

      Makam Beliau dipelihara dan dikeramatkan serta dijaga dengan baik oleh masyarakat pedukuhan Ngerang.Dan terakhir kali makam beliau dipugar sekitar tahun 1996/1997 dan resmi selesai 21 mei 1998.

      Disekitar makam beliau terdapat petilasan-petilasan bersejarah Nyai Ageng Ngerang dalam menyebarkan agama islam.

      Nama Pedukuhan Ngerang sendiri berasal dari kata nama sebutan beliau,karena Suami Beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Ngerang Juwana yakni Ki Ageng ngerang atau Syeh Muhammad Nurul Yaqin,yang disebut dengan nama Sunan Ngerang.

      B.Silsilah Nyai Ageng Ngerang

      Menurut beberapa catatan Babad Tanah Jawi,Serat Centhini dan berbagai sumber termasuk dari Keraton Surakarta hadiningrat nama asli beliau adalah Raden Roro Kasihan.Nama lainnya yakni Nyai Siti Rohmah.Dan karena beliau menikah dengan Ki Ageng Ngerang maka beliau lebih dikenal dengan sebutan Nyai ageng Ngerang.

      Beliau mempunyai tali lahirbathin dengan para sultan,para sunan dan guru besar agama yang bersambung pada Raja Brawijaya V,raja Majapahit Prabu Kertabumi yang memerintah pada tahun 1468-1478 dan pula bersambung dengan keturunan Baalawi Hadramaut yang mempunyai garis keturunan langsung dengan Nabi Muhammad Saw.

      Menurut Babad Tanah Jawi Prabu Kertabumi mempunyai banyak istri namun dalam catatan sejarah hanya beberapa istri yang mendapat perhatian sejarahwan.Diantaranya dengan putri champa(negeri cermai)daerah kamboja dan mempunyai putra yang bernama Raden Patah,nama kecilnya jien Boen dan menjadi Raja pertama kerajaan Demak Bintoro.Dan Prabu Kertabumi yang terakhir menikah dengan Putri Wandan Kuning yang menurut sejarawan berkulit kehitaman yang berasal dari negeri Phandhan ,India.Dan dari pernikahan dengan Putri Wandan kuning inilah yang menurunkan Raja-raja di Tanah jawa.

      Prabu Kertabumi menikahi Putri Wandan Kuning dan mempunyai satu putra yang bernama Raden Bondan Kejawan,nama lainnya Aryo Lembu Peteng dan Ki Ageng Tarub II.

      Raden Bondan Kejawan dititipkan ayahnya sejak kecil di Ki Buyut Pati atau Ki Mashar.Dan setelah beranjak dewasa kemudian dititipkan dan berguru ke Ki Ageng Tarub.penitipan beliau ke Ki Ageng Tarub oleh ayahnya dengan harapan kelak keturunan Prabu Kertabumi dapat menjadi Raja yang mumpuni dan dapat beristri dengan keturunan kahyangan yang suci.

      Menurut Babad Tanah Jawa Ki Ageng Tarub mempunyai istri seorang Bidadari kahyangan yang bernama Dewi Nawang Wulan.Dan kemudian mempunyai satu putri yang bernama Dewi Retno Nawang Sih.Dewi Nawang Sih kemudian dinikahkan dengan Raden Bondan Kejawan/Aryo Lembu Peteng dan mempunyai 3 putra yakni:Ki Ageng Wonosobo,Ki Getas Pendowo dan Nyai Ageng Ngerang.

      Berikut Silsilah Nyai Ageng Ngerang:

      *Nama asli Beliau:Raden Roro Kasihan
      *Nama lain Beliau:Nyai Siti Rohmah
      *Nama Populer di masyarakat:Nyai Ageng Ngerang.
      *Suami Beliau: Ki Ageng Ngerang/Syeh Muhammad Nurul Yaqin.
      *Ayah beliau:Raden Bondan Kejawan atau aryo Lembu Peteng.
      *Ibu beliau:Dewi Retno Nawang Sih.
      *Kakek nenek :Prabu Kertabumi Brawijaya V +Putri Wandan Kuning
      *Kakek nenek :Ki Ageng Tarub + Dewi nawang Wulan,seorang bidadari kahyangan.
      *Saudara kandung:Ki Ageng Wonosobo dan Ki Ageng Getas Pendowo.

      *Keturunan Nyai Ageng Ngerang sbb:
      #1.Nyi Ageng Ngerang II atau Nyi Ageng Selo II

      Putri Nyai ageng Ngerang ini menikah dengan sepupunya sendiri yakni Ki Ageng Selo (seorang legendaris si penangkap petir),kemudian bernama Nyi Ageng Selo.Ki Ageng Selo adalah keponakan dan sekaligus menantu Nyai Ageng Ngerang.Nyi Ageng Selo mempunyai 6 putri dan Ki Ageng Henis.
      Ki Ageng Henis berputra Ki Ageng Pemanahan.dan Ki ageng Pamanahan berputra Raden Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati Mataram.

      #2.Ki Ageng Ngerang II

      Putra Nyai Ageng Ngerang ini mempunyai putra yakni:Ki Ageng Ngerang III,Ki Ageng Ngerang IV,Ki Ageng Ngerang V dan Pangeran Kalijenar.

      Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah salahsatu putri Sunan kalijaga mempunyai Putra yang bernama Ki Ageng Penjawi,yang juga disebut Ki Ageng Pati karena beliau mendapat hadiah dari Raja Pajang yakni tanah perdikan Pati yang sudah berbentuk wilayah .
      sedang Ki Penjawi mempunyai 2 putra yakni Waskita Jawi yang menjadi permaisuri Panembahan Senopati Sutawijaya dan bergelar Ratu Mas.Dan yang satu lagi bernama Wasis Joyokusumo dan bergelar adipati Pragola Pati.

      Sunan Pakubuwono XII adalah keturunan Nyai Ageng Ngerang generasi yang ke 18 dan Sunan Pakubuwono yang sekarang dan Sultan Hamengkubuwono X adalah keturunan Nyai Ageng Ngerang generasi ke 19.

      Nyai Ageng Ngerang merupakan Pepunden atau Leluhur Pati,Kesunanan Surakarta Hadiningrat dan Kesultanan Yogyakarta.Nyai Ageng Ngerang diperkirakan hidup di abad XV,masa hidup beliau sangat panjang.Masa hidup beliau sezaman dengan para sunan dan para Wali Songo.Bahkan Padepokannya sering disinggahi para sunan dan para Wali Songo.Beliau menetap dan mendirikan padepokan (pesantren) di lereng pegunungan kendeng.

      Setiap tanggal 1 suro atau 1 muharram Haul wafat beliau selalu dilaksanakan dengan meriah dan khidmat.Banyak yang menghadiri Haul Beliau dari masyarakat setempat dan luar daerah pelosok tanah air bahkan Para Punggawa Keraton Surakarta Hadiningrat setiap tahun turut menghadiri kirab haul beliau.Dan situs makam beliau dijadikan salahsatu cagarbudaya dan dimasukkan didalam kalender wisata tahunan pemerintah kabupaten Pati.

    • usul saya, karakter tersebut adalah anak dari salah satu murid Pangeran Kalijenar. Jadi bisa satu angkatan dengan agung sedayu. Bpk si anak tersebut akan seangkatan dengan kiai grinsing (trah majapahit).

      • matur nuwun Ki Sekopati.
        saya mencoba mencari referensi Pangeran Kalijenar kok belum dapat. Padepokannya dimana, punya anak siapa dlsb.
        kalo tidak keberatan gimana kalo disebut Ki Ageng Kalijenar saja?
        dulu memang P. kalijenar seangkatan dengan P. Windujati, bahkan pernah berguru pada satu guru yaitu Bhre Tunjung atau Raden Pandanalas.
        P. Kalijenar yg selanjutnya bernama Ki Ageng Kalijenar mempunyai murid anaknya sendiri Ki Ageng Druwasa yang menurunkan anak sekaligus muridnya yaitu Bagus Swarnatama dan adiknya Niken Larasati.
        setujukah…? mohon tanggapan

        • setuju mbah Man. Mathuk kemawon. dulu pernah dapat cerita dari kakek yang berguru di daerah sukolilo (pegunungan kendeng) di daerah itu ilmu yang diserap oleh murid utama antara lain : aji braja musti, sepi angin dan lembu sekilan. braja musti sejenis sasra birawa, sepi angin sejenis ilmu meringankan tubuh dan lembu sekilan sudah banyak dikupas ki shm

  40. panasnya bumi pajang

    cah baguse trus njrantal ke gandok kiwo tuk menjemput ni sokanona. Tak lama kemudian terlihat mereka berdua berjalan berdampingan …. cuman anehnya, ni sokanona terlihat ketakutan sambil memegang erat2 tangan cah baguse

    ayahanda : “ loooh nduk, kenopo kowe kok sajak wedi ? “

    ni sokanona : “lha jarene cah baguse niki, ki ajar saweg duko, padahal dalem mboten mangertos dalem gadah salah menapa ? ….. trus jarene, ki ajar klo duko bisa kedawa-dawa sampe ke orang yg ga sangkut pautna, makanya klo nanti ki ajar bertanya tentang ibumu, bilang aja klo dah lama meninggal, biar slamet ga kena cipratan marahnya ki ajar“

    cah baguse : “ waduuuch ni, kuwi ra sah dikandak-kandakke nooo :(

    ayahanda : “wooooooooo ngono yo? ra fair play blass :( :( …. karepmu opo heee ? … padahal pitnah koyo ngono kuwi mudah dibongkar saat ketemu aq ? “

    cah baguse : “sakjane dalem nggih ngertos, pitnah ini hanya akan seumur jagung, …. tp tujuan utamaku memang bukan untuk mempitnah koq :)

    ayahanda : “lha opo kuwi? “

    cah baguse : “tujuan utama dalem, njih cuman memanfaatkan ‘opportunity’ yg timbul karena timing yang seumur jagung niku “

    ayahanda : “piye to aku kok rung mudeng “

    cah baguse : “waah pakne ki wis lali ilmu swot :( , …. pada saat ketakutan, biasane kenya niku kan trus pados gondelan ta? :) :) ….. lumayan digondeli kenya walopun mung seumur jagung :) :)

    ni sokanona : “oooooo dados mase ngapusi aku yo ….. iiiiich tak juuuiiiwiiiit sisaaaaaaan hiiih”

    cah baguse : “waduuu … aduuuu …. tobaaat niii, ….. loruuuu tenan ni, ….. mpun mpun sik, …… sesuk melih njih … waduuuu “

    ni sokanona : “iiiiiiiiiiiiiich mase nuakaaaal bgtz hiiiiih tambahi cetoooot sisan wae … ben “

    ayahanda : “ weeeeh break breaaak breaaak ….. iki neng ngarepe ki ajar kok malah do gojeg bedigasan ngono kuwi ta ? …. hayooo mandeeeg :( :( :(

    ni sokanona : “ ooooh maap, nyuwun pangapunten sanget ki ajar, dalem terbawa emosi “

    ayahanda : “ ora popo nduk, sing tak seneni dudu kowe kok, …. tp cah mbeling kuwi :(

    ni sokanona : “oooh mekaten njih “

    ayahanda : “ni, dek mau cah baguse wis crito marang sliramu, opo sebabe kowe tak timbale mrene? “

    ni sokanona : “ sampun ki ajar ( niki jawabane dikengken dalange, ben mboten sah mbaleni crito :) ), ….. ananging dereng sempat menjawab sampun dipun tarik mase dijak mriki “

    ayahanda : “ mmmmm ngono yo, …. lha trus piye tanggepanmu ni ? “

    ni sokanona : “dalem sekeluarga merasa tersanjung sekali ki ajar,…… panggraitanipun ki ajar tajam sekali, …… memang benar ibu saya sekarang sudah menjadi janda ….. sejak bapak meninggal, kehidupan kami sangat pas pasan …. prihatin sekali …. sebenernya sdh ada beberapa bapak2 yg ingin mengajak ibu mengarungi kehidupan baru, tapi ibu belum menemukan yang ‘sreg’ …. terutama faktor kecocokannya dengan aku, putri kesayangannya … “

    ayahanda : “ mmmmm ….. klo menurut ni sokanona, … aku ki piye? “

    ni sokanona : “ampuun ki ajar, … sejatinipun ki ajar menika terlalu tinggi dibanding keluarga dalem ingkang naming tiyang ndesa klutuk tuk, ….. “

    ayahanda : “ssst ojo mung mandang dari sisi ekonomi tok, … klo sisi yg lain piye? “

    ni sokanona : “ ki ajar sampun terkenal sebagai orang yang berilmu tinggi, baik ilmu agami, kanuragan, maupun pertanian dan pengobatan …. eh peternakan ugi ( lha nduwe pitik :) ) ….. ki ajar juga terlihat bijaksana dan menyayangi keluarga ….. kondisi2 tersebut sudah lebih dari cukup bagi saya untuk menerima ki ajar sebagai bapak saya “

    ayahanda : “mmmmm ooo jadi ni sokanona setuju ya klo bapak nglamar ibumu ? “

    ni sokanona : “ setu … “

    cah baguse : “ cuuut cuuut cuuuut …. siiik ronde pertama selesai … dung duuung duuung , saiki gentian aku sing nari ni nona nooooo :( :(

    • saiki gentian aku sing nari……..nari jaran kepang ! :D

  41. hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii hi hihi hi hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii hihihi hiiiiiiiiiiiiiiiiiiii hihihi
    ( sun bol mode on )

    • haaaaaaa ha haha ha haaaaaai ha haha haaaaaa hahaha
      ( vam pir mode on )

      • “Panasnya Bumi Pajang”

        tokoh ki Gun (sang penyamun budiman) belom dapat
        peran…..cepetan MIT, selak nggiler ngenteni :) :)

        • MITA,
          njagong ning kene wae, prei sik medeNI-ne….kasian
          mas Risang lunggah dewe-an ning pendopo.

          • MITa,
            ayOO duet nyanyi sama ki Gun, lagune terserah Mita
            sing penting bisa ngundang kakek Karto ato ki Pandan
            singgah padepokan…..!!??

          • Hiiikss, tiwas ngomong kalem2….tiba’e Mita wes Gojegan
            karo mas Risang ning tengah pendopo, :) :)

            yo wes cantrik tak maBUR dhisik ning padepokan sebelah
            mangga…..sugenk DALU kadang GSeta, mat berliBUR !!??

  42. Mas risang, menurut catetan embah, posting sudah sebanyak 63 hal.
    kurang 7 hal lagi TADBM jilid 397 selesai.
    sebenarnya malam ini mo embah posting 7 hal lagi, tapi baru ngetik 3 hal sudah cuapek, besuk pulang ke sidoarjo. mo mampir solo…. nanti gak ada yang jemput,
    trus mo kerumah sapa?
    trus mo tanya sapa?
    trus klo tanya, alamatnya mana?
    trus apa mo nrima?
    trus…?
    trus…?
    pulang aja lasung naik burung dara
    bandung surabaya..

    • selamat jalan Mbah_Man…sugeng rawuh teng Sidoarjo kembali,
      “LANCAR dalem PERJALANAN, TEPAT WAKTU sampe TUJUAN”

      bab 3 rontal yang selesai….dibeber malem ini njih monggo,hee3x
      digelar sesuk wektu Mbah_Man sampe tujuan njih mboten punapa
      saestu….hee5x,

      cantrik MANUT kemawon…. :) :)

    • Tidak apa-apa mbah
      selamat jalan
      semoga lancar di jalan, sapa tahu burungnya mogok, he he he …..

      • waduh, jangan sampailah burungnya mogok. insya Alloh terbang selamat sampai Juanda Surabaya.
        mbah putri sudah menunggu,
        jangan asem sambel trasi..
        lawuhe iwak peyek teri
        ma’em disuapi..
        bengine dipijeti…
        esuke..nglemesi…

        • nggih mbah, lancar di jalan, bertemu dengan mbah putri

          hadu…., jadi laper nih

          ma’em disuapi.., halah… mbah jadi manja
          bengine dipijeti…, sepertinya asik juga juga
          tapi…., kenapa esuke..nglemesi…?

          kalau dipijeti kan enak, terus bobonya enak, terus bangun badan kadi segar, terus pikiran jadi jernih sehingga 4 halaman yang kurang bisa diselesaikan.

          he he he …, slamat jalan mbah

  43. Tambahan sejarah ki ageng wonosobo dan ki ageng getas pendowo :

    Pernikahan Raden Bondan Kejawan dan Dewi Nawangsih mempunyai tiga orang Putra yaitu :
    1.Ki Ageng Wanasaba
    2.Ki Ageng Getas Pendawa
    3.Nyai Ageng Ngerang / Roro Kasihan

    1. Ki Ageng Wanasaba
    Yang nama aslinya adalah Kyai Ageng Ngabdullah merupakan kakak kandung Nyai Ageng Ngerang yang pertama / sulung, yang sekarang makamnya ada di daerah yang bernama kabupaten Wonosobo, tepatnya di desa Plobangan Selo merto. Dalam masa hidupnya, Ki Ageng Wanasaba juga sebagai seorang Pemimpin yang yang hebat dan karismatik. Ki Ageng Wanasaba dikenal juga dengan julukan Ki Ageng Dukuh, akan tetapi desa Plobangan lebih dikenal dengan Ki wanu / Ki wanusebo. Perbedaan nama tersebut disebabkan dialek daerah Wanasaba tersebut terpengaruh oleh dialek Banyumas.

    Ki Ageng Wanasaba dipercaya dan diyakini sebagai waliyullah, yang telah melanglang buana keberbagai tempat dalam rangka mencari ilmu sekaligus menyiarkan agama Islam. Ki Ageng Wanasaba merupakan cucu dari Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit dan merupakan putra Raden Bondan Kejawan, Lembu Peten , putra Brawijaya V yang menikah dengan Nawangsih, dan Nawangsih sendiri putri dari Ki jaka Tarub yang menikah dengan Dewi Nawang wulan ( epos Jaka Tarub ).

    Ki Ageng Wanasaba mempunyai Putra yaitu Pangeran Made Pandan, nama lain dari Ki Ageng Pandanaran. Pangeran Made Pandan mempunyai putra Ki Ageng Pakiringan yang mempunyai istri bernama Rara Janten. Dari pasangan ini mempunyai empat Putra yaitu Nyai Ageng Laweh, Nyai Ageng Manggar, Putri dan Ki juru Mertani.

    Situs makam Ki Ageng Wanasaba saat ini dipugar, dikeramatkan dan dijaga dengan baik oleh warga sekitar. Lokasi situs ini sangat dihormati oleh masyarakat, karena KI Ageng Wanasaba merupakan tokoh penyebar agama islam dan sekaligus cikal bakal dari desa Plobangan Selomerto kabupaten wonosobo. Di sekitar makam Ki Ageng Wanasaba terdapat tiga makam kuno. Konon tiga makam itu juga merupakan pendahulu, seorang ulama yang sejaman dengan Ki Ageng Wanasaba.

    2. Ki Ageng Getas Pendawa,
    Yang nama aslinya adalah Kyai Ageng Abdullah atau yang disebut Raden Depok adalah saudara kandung beliau, Ki Ageng Getas Pendawa merupakan kakak kandung Nyai Ageng Ngerang yang kedua. Ki Ageng Getas Pendawa juga seorang yang hebat, berwibawa dan karismatik serta sangat sederhana dalam hidup dan kehidupan manusia.

    Beliau juga seorang pemimpin yang tegas dan berwibawa, oleh karena itu beliau disebut Ki Ageng Getas Pendawa. Beliau sangat tangguh dan konon sangat kuat dalam riyadhoh / tirakat, mengolah batin untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan harapan bisa menenangkan diri dan dapat menyebarkan agama islam dengan ikhlas, tulus dan berhasil. Makam beliau juga dikeramatkan oleh warga sekitar. Makam Ki Ageng Getas Pandawa ada di desa Kuripan Purwodadi, Grobogan.

    Ki Ageng Getas Pendawa mempunyai putra yang bernama Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Ki Ageng Purna. Ki Ageng Kare, Ki Ageng wanglu, Ki Ageng Bokong dan Ki Ageng Adibaya. Sedangkan Ki Ageng Sela mempunyai Putra KI Ageng Enis dan Ki Ageng Enis menurunkan putra yang bernama Ki Ageng Pemanahan.

  44. Ini baru rekor komen

    gagakseta sehari tanpa komen

    hmm……………….

    • menapa mbah_man taksih lemes?
      minta dipijitin lagi sama simbah njih

      • Mbah_Man lagi menunaiKAN kewajiban….AJA diganggu sik

        • aja kayak kuwek

          • iya, mengko dikuwek pakai kuku, he he he ….

  45. kemana… dimana ….. dimana …
    mbah man berada…
    he he he …..

    sugeng dalu….
    sepertinya sepi lagi hari ini

  46. aneh ya….
    kalau libur atau malam hari, padepokan ini kok sepi
    knapa ya?

    • lha njih mboten kaget tho Pak Lik…..
      wong wayahe sawang-sinawang … golek vitamin A … mosok kudu selonjoran neng pendopo….enake yo dolan neng pantai….nengok putri duyung (iki asli….iwak sirahe menungso, sikile yo menungso..sakabehane menungso)

      • ha ha ha ……
        nggih Pak Lik

        • …berarti iwak duyung sing wis kamanungsan, suwe2 iso dadi iwak…..peyek ! :D

          • iwak jenis iki enak dimaem mentehan…
            nek digoreng/dibakar malah ra kolu

          • He..?! Ki Pa klangenane iwak mentah !….blaik ! :D

          • jangan-jangan tiru-tiru Sumanto, he he he …

          • ..O..ora koq paklik….aku sing katrok, mangsud-e Ki Pa kuwi maem susi..opo sasi….ngono ! :|

  47. Pagi-pagi baca koran, mak deg!!!……., “Lazuardi tewas dikeroyok Jackmania.”
    setelah saya baca, eh ternyata Lazuardi si tukang ojek.
    Dengan tidak mengurangi simpati dan rasa prihatin saya atas kejadian tersebut, saya mengucapkan syukur karena bukan Ki Laz (Lazuardi) yang kita kenal selama ini yang mendapat musibah.
    Panjang umur Ki Laz.
    Semoga kejadian semacam ini tidak terulang lagi, kapanpun dan dimanapun.

    • kulo njih kaget…..lah wong ki Laz meniko fans ADBM koq dikeroyok jackmania…….opo meh mancing Macan Liwung

  48. Mbah Man, menopo perlu jamu ? Kulo gadhah jamu kathah lho

    • Jamu….gandring gadhah ?! :D

  49. mbah man ………. ?????!!!!

  50. Assalamu’alaikum,selamat sore semuanya…
    Mbah Maaaan…..
    Dilanjut donk ceritanya…

    • waalaikumsalam mba :)

      • nduSEL diantara dUo srikandi padepokan GSeta….. :)

        • di CAKOt kagak ya……!!??

          “cakot-kagak-cakot-kagak-cakOOOooooooT”


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 82 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: