TADBM-401

<< kembali ke TADBM-400 | lanjut ke TADBM-402 >>

TADBM-401

Halaman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 27/05/2013 at 19:28  Comments (1.407)  

The URI to TrackBack this entry is: http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-401/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

1.407 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ehemmmm….nunggu rong lembar mawon
    wis kari oleh gebokan bundel 401….
    nyebar goro-goro…ehhh godong koro…
    ..

    • sugeng dalu
      hadir….
      nunggu goro goro
      ehhh godong koro

  2. weh….
    wus manyak halaman 11 eh apa 12 ya?
    sayang malam ini belum sempat bundel rontal dan buat gandok baru.
    satpam harus selesaikan tugas utk besok padi.

  3. Hadiiir isi absen
    nunggu jatuhnya rontal dari mbah_man

    • Betul Ki, setelah satpam coba bundel, ternyata kurang satu halaman lagi.
      Nanggung sekali
      tapi memang harus bersabar, semoga mbah_man besok pagi sempat lihat padepokan, sehingga menyempatkan wedar rontal pendek, cukup satu halaman.

      • Mantappp pak de Satpam
        hehehehheeh

        • he he he …. si ToPan (Topi Panci) sudah sebesar apa sekarang.

          • yang jelas sudah tidak mimik ASI maneh heheheheheh
            tetapi mimik ASIS (Air Susu Ibu Sapi) heheheheh

  4. ops…, mbah_man rung rawuh…, he he he …..

  5. hadiiiii..rrrr

    • huwakakaka…
      tiwas wis seneng aku ono asmane mBah Man neng kolom Komentar….jebul mung absen….

      iso nuntut ganti rugi iki…aku rugi secara moral dan harapan

      • hehehehe…
        mbah juga nuntut ganti rugi, tiap hari keduten dirasani wong akeh..

        • Hahahaha….
          kasihan kasihan kasihan….

  6. Hadir, weit kalah dhisik karo Mbah_Man, pertanda bagus nih …… tetap semangat !

  7. Lanjutan TADBM 401

    Serentak para prajurit penjaga regol itupun segera berdiri berjajar dan mengambil sikap sempurna ketika Perwira itu telah berdiri di hadapan mereka.

    “Apakah sebenarnya yang telah terjadi?” bertanya Perwira itu sambil mengedarkan pandangan matanya ke arah orang orang yang berkerumun di depan regol.

    Prajurit yang mewakili kawan kawannya untuk berbicara dengan Ki Jayaraga itu segera mengangguk hormat sebelum menjawab. Jawabnya kemudian, “Kami para penjaga regol barak pasukan khusus ini telah kedatangan tamu yang tidak dikenal. Kami memutuskan untuk tidak menerima mereka.”

    Perwira itu mengangguk anggukkan kepalanya sambil berjalan menghampiri Ki Jayaraga yang berdiri paling depan. Setelah berhenti tepat di depan Ki Jayaraga, sambil tersenyum seramah mungkin Perwira itu berkata, “Ki Sanak harus memahami paugeran yang berlaku di barak pasukan khusus ini. Kami tidak menerima tamu yang tidak jelas asal usulnya maupun tujuannya datang ke barak ini. Jadi kami mohon, Ki Sanak segera membawa rombongan ini meninggalkan barak kami.”

    Ki Jayaraga pada dasarnya adalah orang tua yang sudah jauh mengendap, betapapun masa mudanya adalah masa masa yang penuh gejolak dan petualangan. Namun di masa tuanya ini, setelah perkenalannya dengan Kiai Gringsing, lambat laun jiwanya yang penuh dengan gejolak itu pun mereda dan mengendap.

    Maka ketika dia dihadapkan pada permasalahan yang cukup menjengkelkan ini, Ki Jayaraga masih berusaha tetap tenang dan sareh. Katanya kemudian, “Ma’afkan kami Ki Sanak. Kami dari keluarga Ki Rangga Agung Sedayu datang kesini untuk memohon bantuan keamanan sehubungan dengan gangguan keamanan yang terjadi akhir akhir ini di Menoreh.”

    Ki Jayaraga sengaja menyebut kembali nama Ki Rangga Agung Sedayu di hadapan Perwira ini agar kali ini mendapatkan perhatian dan ternyata usaha Ki Jayaraga tidak sia sia.

    Perwira itu sejenak memandang Ki Jayaraga tanpa berkedip. Kemudian dengan ragu ragu dia mengajukan sebuah pertanyaan, “Siapakah sebenarnya Ki Sanak ini?”

    Mendapat pertanyaan seperti itu, segera saja Ki Jayaraga menjawab dengan jelas, “Namaku adalah Jayaraga yang selama ini tinggal menumpang di rumah Ki Rangga Agung Sedayu, sedangkan orang ini adalah sahabatku, Kiai Sabda Dadi dari padepokan Glagah Tinutu di Pegunungan Kendeng. Kemudian selebihnya mereka adalah para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh.”

    Namun alangkah terkejutnya Ki Jayaraga dan kawan kawanya ketika melihat Perwira itu ternyata telah terkejut bagaikan disambar petir di siang hari ketika Ki Jayaraga menunjuk Kiai Sabda Dadi dan sekaligus memperkenalkannya pada Perwira itu. Untuk sejenak Perwira itu berdiri mematung dengan wajah keheranan memandang ke arah Kiai Sabda Dadi.

    “Jadi Ki Sanak ini yang bernama Sabda Dadi?” tanpa disadarinya kalimat itu terloncat begitu saja dari mulutnya.

    Kiai Sabda Dadi yang tidak menyangka bahwa Perwira itu menaruh perhatian kepadanya sejenak bagaikan terbungkam. Namun setelah menarik nafas dalam sekali untuk melonggarkan dadanya, Kiai Sabda Dadi pun akhirnya menjawab, “Benar Ki Sanak. Orang tuaku memberiku nama Sabda Dadi, dan aku berasal dari perguruan Glagah Tinutu di pegunungan Kendeng.”

    Perwira itu untuk beberapa saat masih memandangi Kiai Sabda Dadi seolah olah masih belum percaya bahwa orang yang berdiri di hadapannya itulah yang bernama Sabda Dadi.

    Setelah sejenak memandang ke arah para prajurit penjaga regol yang berdiri berjajar jajar dengan sikap sempurna, akhirnya Perwira itu menjatuhkan perintah, “Aku ijinkan Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi menghadap Ki Lurah Sanggabaya, sedangkan yang lainnya dapat menunggu di gardu penjagaan.”

    Selesai berkata demikian, Perwira itu pun melangkah meninggalkan regol sambil berkata kepada kedua orang tua itu, “Marilah, Ki Sanak berdua aku antarkan menghadap Ki Lurah. Kebetulan Ki Lurah memang tidak ikut dalam pasukan yang melawat ke Panaraga.”

    Sambil menarik nafas dalam dalam, kedua orang tua itu masih sempat saling beradu pandang sebelum akhirnya melangkah mengikuti Perwira yang bertugas jaga hari itu untuk menghadap Ki Lurah Sanggabaya.

    (Bersambung ke jilid 402)

    • Matur nuwun Mbah_Man, dipun tenggo jilid 402 nipun ….

      • matur suwun mbah.
        Gandok 402 sudah siap launching jam 12 nanti, siapa mau jadi pengomen pertama?
        tentang bundelan, risang menunggu waktu bisa gunakan laptop, pakai tab agak ribet (blum bisa caranya, ha ha ha ….)
        Insya Allah waktu istirahat nanti.

    • akhirnya Jilid 401 selesai juga… makasih ya Mbah _Man… . besok besok telepon lagi ya buat diskusi… biar cantrik lain ngiri he he he he

      • gantian dong..mbak Cin.. eh Cika..
        telp mbah man…
        hehhehhehehe..

        • Mbah_man, nanti sore saya telepon dech….
          kalo dengan Ki PA pakai aji pameling aja

          • Wuidih.. mbak Cinta ma mbah Cinta janjian…
            hehehehe

          • Wuidih..Nona cemberut…

            minggu wingi aku neng mBogor lho Non…3 hari

  8. siap2 ngantongin bundelan rontal 401…
    maturnuwun mbah man.. maturnuwun putut risang.. matur nuwun jg buat mb cika… hehehe..

  9. mb man bikin penasaran…. mengapa nama kiai sabda dadi menarik perhatian perwira pengawal khusus itu ya…..????

    • betuuuul Nyi PW,mbah_man ini suka bikin penasaran, lagi mertanggung kok ya diputus.
      Btw, maturnuwun sanget Mbah.

      • ya itulah ki salah satu daya tarik mbah man… klo sehari ga nginguk gandok kok rasanya adanya kurang… :-D

    • salam kenal mbak wangi…
      hehehehe..

      • wah lupa matur suwun juga sama Eyang djojosm,
        bisa kualat nanti..
        hehehehehe…

      • salam balik deh buat mbah man… :-)

        • salam kenal + salam sungkem buat mbah man..

          • ikut daftar jadi anggota mbah!

  10. SELESAI…….

    TADBM-401 sudah dibendel dan dimasukkan ke gandoknya.
    Gandok 401 akan segera “ditutup” dan buka gandok 402.
    Risang sudah memasang alarm, untuk buka gerbang TADBM 402 pada jam 10.15. (maju dari rencana jam 12)

    monggo, siapa yang antri lebih dulu untuk masuk ke gandok tersebut.
    hadiahnya minta mbah_man, untuk wedar satu rontal lagi, ha ha ha ……

    bendelan masih belum bisa dimasukkan ke bangsal pusaka karena piranti untuk konversi ke pdf di PC yang sedang risang pakai tidak tersedia.

    nyebar godong koro
    sabar sakuntoro, he he he …, betula gak ya?

    • he he he …..

      tiwas buru-buru tutup gandok dan buka gandok baru, hampir satu jam baru ada yang masuk satu dari area Asia Pasifik (itu mana ya?) dan masih malu-malu ngisi buku tamu.

      hm…..
      kecewa kujadinya……..

      ya sudah…..
      balik lagi untuk datang lagi nanti malam

      • godong koro keno angin nyebar
        wesss poko’e sabarrrrrr
        hheheheheheh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 77 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: