TADBM-400

<< kembali ke TADBM-399 | lanjut ke TADBM-401 >>

cover-tadbm400

Halaman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 14/02/2013 at 18:50  Komentar (1.026)  

The URI to TrackBack this entry is: http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-400/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini.

1.026 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hadir, menunggu wedaran berikutnya ….. tetap semangat !

  2. Hadir, menunggu wedaran berikutnya yang makin mendebarkan ….. tetap semangat !

    • hadir di belakang Ki Jokowono ikut antre pembagian ransum

      • hadir dibelakang ki Joko ma mbak Cika…

      • JARAN GOYANG
        dak goyang neng tengah lapar
        upet2 ku cemetining lalanang
        kanggo jabang bayine kowe
        yen ra katut, dak gawakke BMW….
        yen ngono mesthi katute,

        • nek BMW gak katut diganti pakai landrover, hummer tp cacah selosin

  3. Assalamu”alaikum, selamat siang…
    Hadir, tumben mbah Man nyariin aku, kangen yach…???
    iya nich mbah, kayaknya ketularan batuknya mbah nech…
    dah seminggu ndak sembuh2…
    kudu pake oksigen and inhalasi euy…

    • Wa ‘alaikum salaam, mbak Nona
      Ma’af mbah man ga tau klo Nona lagi sakiiit…
      Obatnya apa yaa…?
      rontal ..?
      heheheheh

      • ya mbah Man..obatnya cuman rontal…pasti cespleng….

      • betul…betul…betul….
        sama dengn angan-angan saya, he he he ….
        obatnya rontal

        tapi…, kalau satpam sedang sakit flu-batuk, obatnya harus istirahat, tidak boleh baca rontal.
        hadu………, terserah embah deh.

        • Kalo Kanjeng Kyai P Satpam sakit obatnya total bedrest…. dijauhkan dr HP, tab, BB, Laptop, komputer, tv, buku, majalah, koran. cuma boleh dengerin musik klasik atau musik yg mellow aja he he he

          • betul … betul … betul … (gaya Ipin dan Upin)

            di rumah ada pulisi yang gualak sekali, hadu……

      • Mauuuuuuuu…….

        • tuh khan…obatnya rontal tho..ayoo mah Man, dibeber terus sampai tuntas tas…..tetap semangat..lanjutkan…

    • Miss Nona, kirain sibuk jd gak berani sms. semoga cepet sembuh ya dan bisa kembali beraktivitas…. tetep semangat ya cantik…

  4. kok sepiii…..?
    Pada kemana semua ya…
    …..oo…lha kae…lagi podho mojok ning gandok
    ngenteni berita kepada kawan….rontal…
    Lak nggih to dherek sedoyo?

  5. Nuwun sewu badhe nyuwun pirso, menawi episode 400 punopo sambun dipun upload nggih ?

    • BIAR GAK TAMPAK MENGGANTUNG DI AWAN :

      On 22/05/2013 at 14:24 Heru Pramono said:

      maaf mencari seri 400 dimana nggih?

      masih belum selesai (masih kejar tayang) dan belum dibendel, dibendel jika sudah cukup menjadi satu jilid.
      bisa dibaca di http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-400/ halaman 2, 3 dan 4.

      Nuwun sewu Ki Heru, . . . . . nuwun.

    • sampun Ki Heru, meh tamat malah he he he he

      • Hadir, kesorean tapi ….. tetap semangat !

        • tumben Ki Jokowono kesorean, habis panen jagung atau karet Ki ??

          • met sore CINTA..

          • hadir………………………

          • Met Sore Mbah Man…..is….
            hehehe

          • Met Sore Mis Nona…, kayaknya dah fit bener nah…

  6. Met sore juga Miss, hehehehe..
    dah sembuh kah..?
    jadi agak kurusan kah..?
    tapi tetap cantik kan..?
    tetap …anu…kan..?
    hehehehehe…kan.?

    • Mbah_Man, Miss Nona tetep cantik dong, tetep renyah sumringah

    • Hiksss, makasih…
      hehehe (narsis abis)

  7. Panen srenthul Mbak Cika ….

    • Ki Jokowono, srenthul itu apaan ya ???

      • Kacang tanah kuwi nek nggonku jenenge kacang srenthul …. aneh ya ?

        • kalo doimojogedang tlatah kaki gunung lawu bagian barat rodok ngalor namanya kacang Jabel, mungkin karena panennya mesti dijabel kali kali ya….

  8. Tetap menunggu wedaran rontal mbah Man…yg makin lama makin ocee….daripada baca berita korupsi yg dilakukan oleh mereka yang mengaku sangat agamis…..mbah Man, kutunggu rontalnya…….

    • menunggu rontal juga di belakang Ki Rangga

  9. We la….
    mbah_man malah ikut gojegan, he he he …..
    sugeng sonten

    • Kanjeng Kyai P Satpam, gak papa Mbah_Man ikut gojeg, jd wedaran rontal juga makin lancar…

      • betul… betul…betul…. (gaya Ipin dan Upin)

        • ooooo…macem tuuuu…..nak ikuuuuuttttttttttttttttt

      • Gojekan itu sehat Ki, semakin banyak ketawa, badan makin sehat. K
        esehatan Mbah Man perlu di jaga, agar tetap semangat nyerat rontal. Hehe.

  10. selamat Pagi, di Bumi Borneo diguyur hujan dr hari minggu ( tiap pagi hujan ) jadi agak malas berangkat matun di sawah. semoga hujan deres ini pertanda wedaran Rontal dari Mbah_Man akan deras juga he he he…

  11. Hadir, Jumm’at Mubarak,
    pagi yang cerah,
    secerah harapan Cantrik & Mentrik,
    akan derasnya wedaran rontal di akhir pekan,
    tetap semangat !

  12. Suepine rek……
    yang hadir pada gak mau tanda tangan.

    • sret..sret…. sarunge suwek… eh tanda tangan iki…

      • Ki ditunggu WA-nya….

    • Siap sdh ini p Satpam, duduk2 dulu sambil nunggu wedaran rontal mbah Man….tetap semangat…bgmn ya akhir cerita AS lawan manusia bermuka srigala…hm…

    • Kanjeng Kyai P Satpam, saya sduah tanda tangan berapa kali ya… tp rontal belum gogrok juga nih….

  13. Hadir nyadong jatah rontal.. buat lek-lekan..

  14. Lanjutan TADBM 400

    Demikianlah akhirnya yang terjadi adalah sebuah perkelahian yang tidak seimbang antara Ki Rangga Agung Sedayu dan ujud ujud semu Ki Brahmuka yang sudah tak terhitung jumlahnya mengerubuti lawannya yang hanya seorang diri. Semua yang menyaksikan perang tanding yang berubah menjadi pengeroyokan itu menjadi miris hatinya kecuali Ki Gohmuka yang tampak tersenyum puas melihat Ki Rangga Agung Sedayu harus jatuh bangun menghindari terkaman dari lawan lawannya.

    Sementara itu di bawah rindangnya pohon jambu air, Ki Ageng Sela Gilang yang sedang mengikuti jalannya perang tanding tampak sesekali mengangguk anggukkan kepalanya. Bahkan tak jarang orang tua ini menarik nafas dalam dalam. Katanya dalam hati, “Ki Rangga Agung Sedayu ternyata benar benar seorang Senapati yang linuwih. Jarang ada yang bisa bertahan menghadapi ilmu iblis dari Tal Pitu itu sampai sejauh ini. Agaknya Ki Rangga benar benar kebal dari segala macam senjata tajam, namun apakah dia juga kebal dari segala macam racun dan bisa? Itu yang masih harus dibuktikan.”

    Sedangkan Anjani yang semakin gelisah melihat kedudukan Ki Rangga yang semakin terdesak benar benar hampir tidak tahan lagi. Ingin rasanya dia meloncat ke lingkaran perkelahian dan membantu Ki Rangga Agung Sedayu melawan ujud ujud Gurunya yang sudah tak terbilang banyaknya itu, namun jika disadarinya bahwa ilmunya masih jauh dari sempurna dan yang akan dilawannya itu adalah Gurunya sendiri, tekadnya yang sudah membara itupun tiba tiba redup kembali.

    Ada semacam dendam yang terpendam kepada kedua Gurunya itu yang telah memperlakukannya dengan sangat buruk. Memang dia diajari ilmu ilmu kanuragan yang aneh aneh dan dahsyat, namun sebagi gantinya dia harus siap melayani nafsu binatang kedua gurunya itu kapanpun mereka menghendaki. Bahkan ketika mereka berdua menghendaki dirinya pada waktu yang bersamaan, dia harus melayani mereka berdua tanpa membantah. Benar benar sebuah ujud dari kelakuan binatang yang paling rendah.

    Semenjak dia beranjak remaja, di mana masa masa remaja adalah masa yang paling indah untuk memulai mengenal perkembangan tubuh dan jiwanya. Dia mulai mengenal apa yang namanya cinta walaupun masih dalam ujud yang kasar dan dangkal. Namun bunga yang masih kuncup dan baru akan mekar mewangi itu telah direnggut dengan paksa dan kasar. Sehingga bekas bekas kekasarannya itu masih terbawa sampai sekarang.

    Sejak saat itulah Anjani memendam dendam, tidak hanya kepada kedua Gurunya itu, namun kepada setiap laki laki yang dijumpainya. Selera membunuhnya benar benar liar, kapan saja dia ingin membunuh korbannya, saat itu juga akan dilakukannya. Semua itu sebenarnya adalah ungkapan kemarahan dan dendam yang tak tersalurkan kepada kedua Gurunya yang telah menjerumuskannya ke lembah hitam.

    Kini kesempatan itu sedang terbuka lebar. Ada seseorang yang dapat dijadikan lantaran untuk menuntaskan dendam itu, yaitu Ki Rangga Agung Sedayu. Ketika Ki Rangga mengajukan syarat bahwa dia dijadikan sebagai taruhan atas perang tanding itu, dirinya benar benar hampir lupa daratan dan dengan serta merta telah menyatakan diri bersedia sebagai taruhan.

    Dalam pada itu, malam yang semakin dalam terasa semakin dingin menggigit kulit. Namun di seputar arena perkelahian itu hawa panas terasa berputar putar dan membuat orang orang yang berdiri terlalu dekat dengan arena segera beringsut mundur sehingga arena perang tanding itupun semakin luas.

    Ketika perhatian orang orang yang ada di seputar arena itu sedang tercurah ke perang tanding yang sedang berlangsung, entah dari mana datangnya, perlahan lahan tapi pasti sehelai demi sehelai telah turun kabut di halaman samping itu. Pada awalnya mereka yang hadir tidak begitu banyak menaruh perhatian, namun ketika kabut itu semakin tebal dan menghalangi pandangan mata, barulah mereka sadar bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak wajar.

    Sejenak Ki Gohmuka yang berdiri di pinggir arena itu menengadahkan wajahnya. Kerut merut di dahinya semakin dalam ketika menyadari bahwa lantaran kabut yang tebal itu dirinya tidak dapat lagi menyaksikan apa yang sedang terjadi di tengah arena perang tanding itu.

    “Gila,” umpatnya sambil menggeretakkan giginya, “Permainan licik apalagi yang engkau tunjukkan, he..Ki Rangga.?”

    Ki Rangga Agung Sedayu yang mendengar umpatan itu hanya tersenyum. Dugaannya benar bahwa kedua murid Tal Pitu itu belum mampu menembus ilmu warisan dari perguruan Windujati. Mungkin mereka dapat mempertajam pandang mata mereka untuk mengenali lawan, namun ujud ujud yang di lihat tidak lebih dari bayang bayang yang bergerak berseliweran.

    Inilah kelemahan ilmu dari perguruan Tal Pitu yang telah menciptakan ujud ujud semu sebagai pancaran dari ilmu Kakang Pembarep dan Adi Wuragil yang telah dikembangkan oleh Ki Brahmuka dan Gohmuka. Dalam kabut yang semakin tebal, Ki Brahmuka yang asli akan sulit membedakan yang manakah Ki Rangga di antara ujud ujud semu ciptaannya, karena yang tampak dalam pandangannya hanya bayangan bayangan yang bergerak kian kemari tak tentu arah.

    Kesempatan ini telah digunakan oleh Ki Rangga Agung Sedayu untuk bersembunyi di antara tebalnya kabut sehingga terhindar dari serangan ujud ujud Ki Brahmuka yang tak terbilang jumlahnya.

    Waktu yang sekejab itu ternyata sangat berarti bagi Ki Rangga Agung Sedayu untuk mengenali ujud lawan yang sebenarnya.
    Dengan memusatkan nalar dan budi serta memohon pertolongan kepada Yang Maha Agung, Ki Rangga Agung Sedayu pun segera mengungkapkan ilmunya yang tiada duanya, ilmu yang dapat diungkapkan melalui sorot matanya dan dapat berakibat maut bagi lawannya.

    Sementara itu, Ki Brahmuka yang sedang memusatkan pandangan matanya untuk mencari bayangan Ki Rangga Agung Sedayu di antara bayangan bayangan semu yang telah diciptakannya dalam kepekatan kabut, tiba tiba terkejut ketika merasakan sebuah cengkraman yang dahsyat telah melanda dadanya.

    Sejenak nafasnya bagaikan tersumbat, sambil mengerahkan daya tahannya, dicobanya untuk mencari arah dari mana datangnya serangan itu, namun semuanya sudah terlambat. Ketika dia sudah mengenali sebuah bayangan yang berdiri hanya beberapa langkah saja di samping kirinya, dadanya benar benar bagaikan tertimba sebuah gunung anakan. Beberapa saat dia masih mencoba bertahan, dengan tertatih tatih dia berjalan mendekati bayangan yang berdiri tegak dengan tangan bersilang di dada itu.

    Dengan menghentakkan seluruh daya tahan tubuhnya, sekali lagi Ki Brahmuka mencoba mendekat ke arah bayangan itu. Daya tahan tubuh Ki Brahmuka memang luar biasa, selain lambaran tenaga cadangannya yang memang hampir mencapai sempurna, juga wadagnya telah mengalami tempaan dan pembajaan yang dahsyat selama bertahun tahun dalam menekuni olah kanuragan.

    Ki Rangga Agung Sedayu benar benar tidak mau melepaskan lawannya sekejabpun. Dihentakkannya seluruh kekuatan yang tersalur lewat sorot matanya. Lawannya kini benar benar sudah lumpuh, jatuh terduduk hanya dua langkah saja di depan Ki Rangga sambil memegangi dadanya dengan kedua belah tangannya, sedangkan ujud ujud semu yang diciptakan oleh Ki Brahmuka berlandaskan pada Aji Kakang Kawah Adi Ari Ari, perlahan lahan lenyap tertelan kepekatan kabut sejalan dengan melemahnya pertahanan Ki Brahmuka.

    Agaknya akhir dari perang tanding itu sudah dapat dipastikan kalau saja Ki Rangga Agung Sedayu tidak terganggu perhatiannya oleh sebuah teriakan yang mirip dengan lolongan serigala. Dan sekejab kemudian sebuah bayangan meluncur menerjang Ki Rangga Agung Sedayu.

    Sejenak perhatian Ki Rangga terpecah. Bayangan yang sedang terbang kearahnya itu telah menjulurkan kedua belah tangannya dengan kuku kuku baja yang beracun siap untuk melumatkan dadanya.

    Tidak ada pilihan lain bagi Ki Rangga Agung Sedayu. Dia tetap mengerahkan kekuatan ilmunya melalui sorot matanya untuk menghancurkan Ki Brahmuka, sedangkan untuk menghadapi serangan lawannya yang lain, dengan mengetrapkan ilmu kebal setinggi tingginya sambil tidak lupa selalu memohon kepada Yang Maha Agung agar selalu dalam perlindunganNya, diangkatnya kedua tangannya bersilang di depan dada siap untuk menghadapi gempuran lawan.

    • Wiew….., asik banget
      suwun mbah

      • matur nuwun Mbah_Man…

  15. Anakmas Riang, jilid 400 jangan di bendel dulu, masih ada satu postingan lagi, ..

    matur suwun

    • sendiko dhawuh mbah

      • wah mbah man nggih saget klentu ngeja naminipun satpam Risang geh….

  16. Matur nuwun Mbah_Man, wedaran akhir pekan yang mendebarkan …

  17. Ngabyantara…..di sepetak tanah gersang.

  18. Matur nuwun mbah Man sampun ngaturi rontal

  19. Malam ini risang dalam perjalanan napak tilas AS di Gunung Bayangkaki, hmmmm ketemu gak ya.?

  20. Suwun mbah MAN…

  21. matur suwun mbah…tambah penasaran nunggu gimana kelajutannya…

  22. matur suwun dukungan para kadang Cantrik Mentrik.
    Satu postingan lagi jilid 400 tamat.
    ditunggu, semoga sore ini sudah bisa diwedar

    mbah man

    • Haduuu, . . . . . kok gak sore-sore ya?

    • sampun sawetawis sore ki mBah Man…monggo dpun babar

  23. Kalau sore nanti jadi wedaran maka sejarah baru karena Mbah_Man wedaran di hari Sabtu …. tetap semangat !

  24. Lanjutan TADBM 400 (TAMAT)

    Bayangan yang melesat cepat menerjang Ki Rangga Agung Sedayu itu ternyata adalah Ki Gohmuka yang nekat menerjang memasuki gumpalan kabut untuk menolong saudara kembarnya. Ketika saudara kembarannya, Ki Brahmuka sedang dalam perjuangan antara hidup dan mati menghadapi ilmu sorot mata Ki Rangga, Ki Gohmuka yang berdiri di luar arena perang tanding itu terkejut ketika panggraitanya yang tajam sebagai saudara kembar serta lamat-lamat dalam pandangan matanya menembus gumpalan kabut itu melihat bayangan seseorang yang jatuh terduduk di hadapan seseorang yang berdiri tegak sambil menyilangkan tangannya di dada.

    Segera saja Ki Gohmuka menyadari bahwa saudara kembarnya sedang dalam kesulitan. Dengan sebuah teriakan keras yang mirip lolongan seekor serigala, dia pun segera meloncat menerjang ke dalam gumpalan kabut.

    Anjani yang berdiri tidak jauh dari Ki Gohmuka terkejut. Tak disangkanya, gurunya yang satunya ini akan berbuat curang mengeroyok Ki Rangga Agung Sedayu. Dengan membulatkan hatinya tanpa mempertimbangkan keselamatan dirinya, segera saja dia mengambil ancang-ancang untuk meloncat masuk ke gumpalan kabut menyusul gurunya.

    Namun baru saja dia mengerahkan tenaganya untuk meloncat, sebuah tangan yang kokoh telah mencengkeram pergelangan tangannya. Dengan tergesa gesa Anjani pun segera menoleh untuk melihat siapakah yang menahannya untuk menyusul gurunya itu. Ternyata Ki Ageng Sela Gilang telah berdiri di sampingnya dengan tersenyum tanpa melepaskan cengkramannya.

    “Kakek,” sergah Anjani, “Mengapa Kakek mencegahku? Aku harus membantu Ki Rangga Agung Sedayu.”

    “Aneh,” berkata Ki Ageng sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Mengapa engkau tidak membantu Gurumu? Malah sebaliknya ingin membantu musuh Gurumu?”

    “Karena aku sudah muak menjadi muridnya!” teriak Anjani sambil mengibaskan tangannya yang masih saja dicengkeram oleh Ki Ageng.

    Sejenak Ki Ageng terhenyak dengan pengakuan Anjani itu sehingga cengkeramannya pun lepas. Dengan terheran-heran, orang tua itu balik bertanya, “Engkau sudah muak? Bagaimana mungkin? Bukankah mereka berdua itu Gurumu?”

    Baru saja Anjani membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Ki Ageng, mereka berdua telah dikejutkan oleh bunyi ledakan cambuk yang mengelegar menggetarkan udara malam yang semakin dingin.

    Ternyata Ki Rangga Agung Sedayu telah mengurai senjata andalannya lagi, setelah untuk beberapa saat dia melilitkannya di pinggang pada saat menghancurkan Ki Brahmuka dengan ilmu sorot matanya.

    Sejenak kemudian perkelahian di dalam kabut itupun telah berkobar kembali antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan Ki Gohmuka. Sedangkan Ki Brahmuka telah tertelungkup tak bernyawa.

    Pada saat benturan yang pertama tadi, keduanya ternyata memiliki kekuatan yang hampir seimbang. Ki Rangga yang kekuatannya terpecah, ternyata masih mampu menahan gempuran Ki Gohmuka walaupun dia harus terpental ke belakang dan jatuh berguling-guling. Ketika dengan cepat dia bangkit berdiri, Ki Rangga bAgung Sedayu merasakan sesuatu yang tidak wajar terjadi pada siku tangan kirinya.

    Ketika kemudian Ki Rangga mencoba mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi dengan siku tangan kirinya dengan merabanya, terasa pada bagian siku itu agak bengkak dan ngilu. Ternyata kuku-kuku baja Ki Gohmuka telah mampu menembus perisai ilmu kebalnya dan melukai siku tangan kirinya.

    Sementara Ki Gohmuka yang telah mengerahkan segenap tenaga cadangannya untuk menggempur Ki Rangga telah terpental balik oleh kekuatannya sendiri. Dia bagaikan menabrak dinding baja setebal satu jengkal sehingga tubuhnya terlempar beberapa langkah kemudian jatuh terjerembab ke tanah.

    Namun kekuatan wadag Ki Gohmuka memang ngedab-edabi. Seolah-olah tanpa merasakan akibat dari benturan itu, dengan sebuah raungan keras, dia segera meloncat menerjang Ki Rangga yang baru saja bangkit berdiri. Ternyata Ki Rangga Agung Sedayu telah siap dengan cambuknya. Segera saja serangan Ki Gohmuka disambut oleh sebuah ledakan yang menggelegar memekakkan telinga.

    Kini Anjani yang berdiri di samping Ki Ageng Sela Gilang terlihat sudah agak tenang. Ledakan ledakan cambuk Ki Rangga Agung Sedayu yang beruntun telah mengisyaratkan kepadanya bahwa Ki Rangga mampu mengimbangi Ki Gohmuka walaupun sebelumnya telah berperang tanding melawan saudara kembarnya.

    Dalam pada itu, malam telah merambah menjelang dini hari. Titik titik embun mulai jatuh satu-satu membasahi pucuk-pucuk dedaunan dan kelopak-kelopak bunga yang sedang bermekaran. Beberapa ekor kelelawar yang terbang bersliweran mulai gelisah ketika melihat di langit sebelah timur telah membayang warna semburat merah. Burung-burung yang semula tertidur pulas diantara ranting-ranting pepohonan mulai menggeliat sambil mengepak-kepakkan sayap-sayapnya. Seekor ulat yang tidur menggelung tidak jauh dari seekor burung gelatik yang sedang bertengger di dahan yang rendah, dengan tergesa-gesa menyeret tubuhnya yang tambun untuk bersembunyi di balik daun dari pada menjadi sarapan pagi bagi burung gelatik itu.

    Ketika sinar Matahari yang pertama telah menyentuh halaman samping rumah itu. Tidak terdengar lagi suara ledakan cambuk maupun teriakan yang mirip dengan lolongan serigala. Suasana menjadi tenag tapi mencekam. Perlahan-lahan kabut yang melingkupi di sekitar halaman samping itu mulai menipis kemudian hilang tertiup angin pagi.

    “Ki Rangga..!” tiba tiba Anjani menjerit sambil menghambur ke arah Ki Rangga yang tampak sedang duduk bersila sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

    Ki Ageng Sela Gilang yang menyadari betapa gawatnya keadaan Ki Rangga yang sedang memulihkan tenaganya itu karena para pengikut kedua murid dari Tal Pitu itu masih mengepung tempat itu segera berlari menyusul Anjani.

    Sesampainya Anjani di depan Ki Rangga, tanpa mengenal unggah-ungguh dan rasa malu segera ditubruknya orang yang telah memikat hatinya itu. Namun baru saja Anjani mencondongkan tubuhnya ke depan, kembali sebuah tangan yang kekar telah menahannya.

    “Sudahlah Anjani,” berkata Ki Ageng menyadarkan Anjani yang sedang dikuasai oleh gejolak perasaannya, “Berilah kesempatan Ki Rangga untuk beristirahat. Itu sangat dibutuhkannya untuk segera memulihkan kesehatannya.”

    Ternyata Ki Rangga Agung Sedayu telah selesai memulihkan tenaganya, walaupun tetap terasa ada yang tidak wajar dengan siku lengan kirinya. Namun baru saja Ki Rangga membuka kedua matanya, sebuah tepukan di pundaknya telah mengejutkannya.

    Namun begitu kesadarannya telah pulih kembali, tampak di depannya Ki Ageng Sela Gilang sedang berjongkok sambil berdesis perlahan, “Kelihatannya Ki Rangga mendapat luka walaupun tidak seberapa, namun pengaruh racun itu yang mungkin dapat membahayakan.”

    Ki Rangga tersenyum sambil mencoba bangkit berdiri. Rasa rasanya tangan kirinya agak terganggu. Ketika dia mencoba mengamat amati siku tangan kirinya, tampak seleret luka yang tidak mengucurkan darah dan di sekitar luka itu kulitnya menghitam.

    Ki Rangga untuk sejenak terkejut. Bukankah selama ini dia kebal racun? Dan itu sudah dibuktikan oleh Gurunya sendiri dengan menggunakan racun yang paling keras sekalipun, dan ternyata pada waktu itu racun sekeras apapun tidak mempengaruhinya.

    Tapi kenyataannya kali ini ada noda hitam legam dan seleret luka yang menggores siku tangan kirinya. Agaknya Ki Rangga telah terkena kuku-kuku baja dari Ki Gohmuka ketika terjadi benturan yang pertama. Kekuatan dan ketajaman kuku-kuku baja dari Ki Gohmuka ternyata mampu menembus perisai ilmu kebalnya sehingga telah meninggalkan segores luka.

    Ki Ageng yang ikut berdiri itu pun terkejut ketika ikut mengamati luka Ki Rangga. Katanya kemudian, “Agaknya selain ilmu kebal, Ki Rangga juga mempunyai kemampuan untuk menahan racun. Tapi menilik sifat racun ini, kelihatannya racun ini akan bergerak walaupun sangat lambat menuju ke jantung. Kekuatan dalam diri Ki Rangga yang mampu membuat Ki Rangga kebal racun mungkin hanya mampu memperlambat kerja racun itu, tapi tidak memunahkan sekaligus.”

    “Karena racun yang digunakan oleh Guruku itu sangat kuat,” tiba tiba Anjani yang sedari tadi hanya diam itu mengutarakan pendapatnya, “Racun itu disebut racun Gundala Wereng, dan tidak ada obatnya selain juga sesama racun yang benama racun Gundala Seta.”

    “He,” hampir bersamaan Ki Rangga dan Ki Ageng terkejut.

    “Bukankah kedua jenis racun itu hanya ada dalam dongeng?” bertanya Ki Ageng.

    “Ya, memang,” jawab Anjani, “Namun kenyataannya Guruku berhasil menemukan racun Gundala Wereng dan menggunakannya untuk merendam kuku kuku bajanya.”

    “Gila,” geram Ki Ageng, “Kedua murid Tal Pitu itu memang terkutuk. Untunglah keduanya bertemu dengan Ki Rangga sehingga petualangan mereka yang dapat membawa bencana bagi sesama telah berakhir.

    Selesai berkata demikian Ki Ageng mengarahkan pandangan matanya ke dua sosok mayat yang tergeletak tak berjauhan, Ki Brahmuka yang tertelungkup dengan tubuh yang masih terlihat utuh namun isi dadanya hancur dan Ki Gohmuka yang tergeletak beberapa langkah dengan luka bekas cambuk yang arang kranjang.

    “Aku terpaksa melakukannya,” desis Ki Rangga sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Entah sampai kapan lingkaran dendam yang membelitku ini akan berakhir.”

    “Ah,” Ki Ageng tertawa pendek, “Bukankah Ki Rangga tidak menghendaki semua ini terjadi? Merekalah yang mencari mati sendiri.”

    “Ki Rangga, “ tiba tiba Anjani menyela, “Racun Gundala Wereng itu sangat keras dan bekerja dengan sangat cepat.” Dia berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Jarang ada orang yang mampu menahannya. Biasanya dengan sekali gores, orang itu akan mati hanya dalam hitungan kurang dari sepuluh. Kalau benar Ki Rangga kebal racun, aku tidak menjamin Ki Rangga akan selamat dalam waktu empat puluh hari”

    “Empat puluh hari?” hampir berbareng Ki Rangga dan Ki Ageng berseru.

    “Ya, empat puluh hari,” jawab Anjani mantap, “Aku pernah menyaksikan Guruku bertempur melawan seorang Pertapa yang sakti. Pertapa itu ternyata kebal racun. Akan tetapi ketika dia tergores racun Gundala wereng, saat itu dia memang tidak terpengaruh, namun ternyata dalam waktu empat puluh hari, Pertapa yang sakti itu menemui ajalnya.”

    Diam-diam Ki Rangga tergetar hatinya. Walaupun dia tidak pernah takut mati karena mati adalah bukan urusan manusia, akan tetapi urusan Yang Maha Agung yang menguasai seluruh alam semesta ini, namun dia masih mempunyai banyak kuwajiban di dunia ini. Seandainya boleh memilih, dia ingin menuntaskan segala urusan tetek bengek terlebih dahulu sebelum dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa.

    “Bagaimana Ki Rangga?” pertanyaan Ki Ageng telah membuyarkan lamunannya.

    Sejenak Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam. Dilemparkan pandangan matanya ke arah para pengikut murid Tal Pitu itu yang masih berdiri termangu mangu agak jauh dari bekas arena pertempuran. Mereka tidak lagi mengepung tempat itu, tapi berdiri bergerombol di beberapa tempat sambil berbisik-bisik. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat setelah kedua murid Tal Pitu itu mati.

    “Ki Ageng,” berkata Ki Rangga kemudian, “Apakah tidak sebaiknya para pengikut kedua murid Tal Pitu itu disuruh menyelenggarakan jenasah ke dua pemimpin mereka? Agar tempat ini segera lapang dan sebaiknya kita berbicara di pendapa saja.”

    “Baiklah Ki Rangga, “ jawab Ki Ageng, “Mereka mengenal aku sebagai Guru Pangeran Ranapati sebagaimana Pemimpin mereka mengenalku,” Ki Ageng berhenti sejenak, kemudian katanya sambil melambaikan tangannya ke arah salah satu kerumunan pengikut dari Tal Pitu, “Salah satu dari kalian, kemarilah!”

    Tampak orang orang yang bergerombol itu sejenak saling berpandangan, namun kemudian dengan tergesa gesa salah seorang yang berperawakan agak kurus dengan kumis tipis melangkah mendekat.

    “Kumpulkan kawan kawanmu. Ajak mereka menyelenggarakan jenasah ke dua murid Tal Pitu itu,” berkata Ki Ageng setelah orang yang berkumis tipis itu tiba di hadapannya, “Setelah selesai, aku harap kalian semua kembali ke Panaraga. Bukankah sebagian dari kalian adalah prajurit Kadipaten Panaraga?”

    “Benar Ki Singa Wana,” jawab orang berkumis tipis itu, “Namun bagaimana dengan sebagian dari kami yang berasal dari Tal Pitu?”

    Sejenak Ki Ageng tertegun. Tanpa disadarinya dia menoleh ke arah Ki Rangga Agung Sedayu.

    Ki Rangga yang merasa dimintai pertimbangan tersenyum sekilas, katanya kemudian, “Mereka dapat menentukan pilihan mereka sendiri, Ki Ageng. Namun yang perlu diwaspadai, jangan sampai dalam perjalanan mereka ke Tal Pitu atau ke Panaraga, mereka melakukan kegiatan yang bertentangan dengan hukum dan merugikan kawula alit.”

    “Engkau benar, Ki Rangga,” berkata Ki Ageng, kemudian katanya kepada orang yang berkumis tipis itu, “Itu terserah kepada kalian. Tapi ingat, aku dan Ki Rangga akan mengawasi polah tingkah kalian selama kalian dalam perjalanan.”

    Diam diam orang yang berkumis tipis itu mengumpat dalam hati. Dia tidak habis mengerti, mengapa Ki Ageng yang menurut pengenalannya bernama Ki Singa Wana Sepuh guru Pangeran Ranapati itu kelihatannya berpihak kepada Ki Rangga Agung Sedayu, yang jelas-jelas orang Mataram.

    Namun orang yang berkumis tipis itu tidak dapat berbuat apa-apa. Yang dihadapinya adalah orang-orang linuwih. Maka yang dilakukannya kemudian adalah menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Kami akan selalu mengingatnya. Sekarang ijinkan kami menyelenggarakan jenasah jenasah itu”

    “Silahkan,” berkata Ki Ageng. Kemudian katanya kepada Ki Rangga dan Anjani sambil mengayunkah langkah meninggalkan tempat itu, “Marilah kita ke pendapa. Di sana kita dapat berbincang-bincang sambil melepaskan lelah, terutama Ki Rangga.”

    “Ah,” Ki Rangga tertawa pendek, “Rasa rasanya aku ingin bermanja-manja, bermalas-malasan seharian penuh sambil makan dan minum yang enak-enak”

    “O,” sahut Ki Ageng, “Kalau memang Ki Rangga ingin makanan yang enak enak, bagaimana kalau kita kembali ke Kadipaten Panaraga saja? Aku jamin kita akan makan dan minum sepuasnya.”

    “Ya,” berkata Ki Rangga, “Aku setuju, namun setelah itu aku harus meninggalkan kepalaku untuk digantung di alun-alun kota Panaraga.”

    “Ah,” Ki Ageng pun tertawa berkepanjangan. Sedangkan Anjani yang berjalan mengikuti di belakang Ki Rangga hanya tersenyum masam.

    Setelah duduk di atas tikar yang dibentangkan di tengah tengah pendapa, ketiga orang itu pun duduk melingkar saling berhadapan.

    “Nah, Anjani,” berkata Ki Ageng kemudian membuka pembicaraan, “Engkau dapat menceritakan kepada kami, terutama kepada Ki Rangga, bagaimana kita mendapatkan penawar racun Gundala Wereng itu.”

    Sejenak wajah cantik itu termangu mangu. Sorot matanya yang kosong jatuh ke lantai pendapa. Dadanya yang mungil tapi padat berisi itu tampak naik turun menahan gejolak perasaannya.

    “Kakek,” akhirnya dari bibir yang kecil dan memerah delima itu meluncur kata katanya, “Yang aku ingat pada saat itu, aku diajak ke Gunung Kendalisada, gunung yang konon katanya tempat bertapanya Pertapa sakti berujud kera putih, Resi Mayangkara.”

    “Resi Mayangkara,” tanpa sadar Ki Ageng dan Ki Rangga mengulang nama itu.

    “Bukankah Resi Mayangkara itu hanya ada dalam cerita Pewayangan?” bertanya Ki Rangga kemudian.

    Sebelum menjawab, Anjani memandang tajam ke arah Ki Rangga seolah olah ingin menjenguk isi hatinya sambil membisikkan ungkapan hatinya, “Ki Rangga, apakah engkau mengerti jeritan hatiku selama ini? Ataukah engkau memang tidak peduli dengan penderitaanku dan hanya bermain-main saja pada saat engkau mengajukan syarat diriku sebagai taruhan perang tanding saat itu?”

    Ki Rangga yang merasa dipandang dengan tajam oleh Anjani menjadi salah tingkah. Dia sudah dapat menebak isi hati Anjani. Bukankah dia telah keluar sebagai pemenang dalam perang tanding itu? Dan dia harus mau menerima Anjani dan membawanya ke Menoreh sesuai janjinya?

    “Anjani,” akhirnya Ki Rangga tidak dapat menahan hatinya lagi, “Percayalah, aku tidak akan ingkar dengan janjiku.”

    Seleret warna merah menghiasai wajah Anjani. Segera saja ditundukkannya wajahnya sambil berdesis perlahan, “Ki Rangga, aku tidak mempunyai hak untuk memaksakan kehendak. Semua terserah Ki Rangga apa yang sebaiknya dilakukan.”

    Ki Ageng yang mendengarkan percakapan kedua orang itu hanya dapat menarik nafas dalam dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu bahwa Ki Rangga menyebut Anjani sebagi taruhan hanya untuk memancing kemarahan kedua murid Tal Pitu itu, namun akibatnya sekarang adalah Anjani yang merasa disepelekan. Seolah olah dirinya menjadi tidak berharga sama sekali.

    “Sudahlah,” akhirnya Ki Ageng menengahi, “Sekarang bagaimana Ki Rangga mendapatkan obat bagi lukanya?”

    Anjani sejenak menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan gejolak di dalam dadanya. Kemudian sambil menundukkan kepalanya dalam dalam dan menahan isak tangis, katanya lirih seolah olah hanya ditujukan kepada dirinya sendiri, “Aku bersedia mengantar Ki Rangga mencari obat ke Gunung Kendalisada, jika memang Ki Rangga masih membutuhkanku.”

    Sebuah desir setajam sembilu menggores hati Ki Rangga. Berbagai penyesalan telah melanda hatinya. Entah kesan apa yang akan didapatkannya dari orang-orang di Menoreh terutama istrinya Sekar Mirah yang tengah hamil tua, jika sekembalinya dari Panaraga dia telah membawa Anjani.

    T A M A T

    • Nuwun mbah_man… ini penutup kitab 400 malah bisa jadi kitab sendiri…

    • mangtur suwun mBah…..401 kapan njih…..

      Episode : Melawat ke Barat (Gunung Kendali Sedap)

    • Matur nuwun Mbah_Man, hari Sabtu bersejarah. Tamat TADBM 400, tapi harapan itu masih ada ….. tetap semangat !

    • Wah… tamat….
      Matur suwun mbah.
      Tapi Risang belum sempat mbendel, sehari tadi meyusuri perjalanan Agung Sedayu di Panaraga mulai dri Babadan ke Jtis trus ke Sambit. Tetapi sayang tidak menemukan Gunung Bayangkaki. Apakah memang ada ya?

  25. matur suwun mbah Man

  26. Bukit bayang kaki ada

  27. bukit bayang kaki di daerah Sawoo, jurusannya ke Trenggalek

    • Ooooo……….
      Berarti kurang ke timur dikit.
      Yg sebelah selatan ya ki.

  28. Suwun mbah Man… Moga2 cerita T-ADBM gak berkembang menjadi cersil jadul “Satria Walang Parang Kuning”. Tetaplah dalam jalur cerita moral Empu SH Mintarja… Salam

  29. matur nuwun, jadi ceritanya membuat “makan tak enak, tidurpun tak nyenyak”
    menunggu kelanjutan cerita “sepatak tanah gersang”
    duh anjani…anjani, pepujaning ati.
    duh anjani, wong manis, sing nduwe “Dada mungil Padat Berisi”, rene-o yo nduk tak kudang-kudang nganti remen atiku…

    • Beberapa hari ndak mampir ke padepokan eladalah wis tamat.
      Matur nuwun sanget mbah_man. Dadi mertanggung, mugi saged berlanjut.

  30. Akhirnya rampung juga kitab 400 ,matursuwuh mbah…ditunggu yg 401

    • matur nuwun mbah-Man
      ditunggu tutug-e

  31. Selamat Pagi kadang Mentrik dan cantrik. Episode 400 tamat, menunggu episode kembali ke Barat / episode sepetak tanah Gersang/ hati yang bimbang . sesuai anggapan kadang cantrik semua dech….. Mbah_Man, maturnuwun sanget nggih…

  32. Hadir,
    menunggu wedaran baru,
    jilid baru,
    harapan baru,
    semangat baru, ……
    tapi harapan itu masih ada.
    Tetap semangat !

  33. Assalamu’alaikum, selamat pagi….
    Wis ono bocoran mbah Man, katanya mau istirohat dulu,
    Jadi Episode 401 masih minggu depan dibuat yo…
    Sabar sabar…wong sabar pasti kuesel’e puwooollll….hehehe

    • asiik…., satpam risang juga bisa istirahat.
      baru semalam pulang nganglang ke tlatah Panaraga-Madiun-Ngawi.
      masih cuapeeeekk…………. buangettt…………….
      he he he …., rontal sudah dibundel tetapi belum sempat upload, mungkin nanti malam

    • hadew…

      “Wong Sabar okeh Nggrundelle”

      • nyebar godong koro, disambi panen Dele, ajar sabar sauntoro orang pareng suwe suwe nggrundele

    • asyik, kalau wedar minggu depan pas rampung derep neng sawah….

  34. TADBM jilid 401

    Matahari telah merambat semakin tinggi. Sinarnya yang hangat terasa mulai menggatalkan kulit. Mereka bertiga yang masih duduk duduk di pendapa rumah yang selama ini digunakan oleh kedua murid perguruan Tal Pitu itu masih diam membisu. Agaknya mereka bertiga sedang asyik dengan lamunan masing masing. Sesekali terdengar helaan nafas yang panjang, namun mereka lebih banyak termenung sambil menundukkan kepala dalam dalam.

    “Ki Rangga,” tiba tiba Ki Ageng Sela Gilang bergumam pelan, “Masih ingatkah Ki Rangga dengan suara jeritan seorang perempuan yang telah menyebabkan kita menelusurinya sampai ketempat ini?”

    Ki Rangga Agung Sedayu mengangkat kepalanya, namun sebelum dia menjawab, ternyata Anjani telah mendahuluinya, “Kakek, akulah yang menjerit itu atas perintah kedua Guruku. Sebenarnyalah kalian berdua telah dipancing untuk masuk ke perangkap Guruku. Para telik sandi Kadipaten Panaraga secara teratur memberikan laporan tentang keberadaan kalian berdua, sehingga kami telah menyiapkan jebakan ini.”

    Ki Rangga dan Ki Ageng hampir bersamaan telah mengangguk anggukkan kepala. Baru sekarang mereka menyadari bahwa setiap langkah mereka ternyata telah dipantau oleh para telik sandi Kadipaten Panaraga.

    “Bagaimana dengan para penghuni Padukuhan Panjer Bumi ini? Dimanakah mereka?” bertanya Ki Rangga setelah beberapa saat mereka terdiam.

    “Padukuhan Panjer Bumi?” Anjani justru balik bertanya dengan terheran heran, “Sepengetahuanku padukuhan ini bernama Padukuhan Merjan, bukan padukuhan Panjer Bumi.”

    Sekarang Ki Rangga dan Ki Ageng lah yang menjadi bingung. Sebelum memasuki padukuhan ini mereka telah membaca nama padukuhan ini yang terpahat pada tugu pembatas yang terletak di ujung padukuhan. Memang tulisan itu tampak baru saja dibuat dengan tergesa gesa. Kalau memang nama padukuhan ini adalah padukuhan Merjan, berarti ada orang yang dengan sengaja telah mengganti nama padukuhan ini dengan nama Padukuhan Panjer Bumi untuk suatu tujuan tertentu. Tetapi apakah maksud sebenarnya dari semua itu?

    Ingin tahu jawabannya…?
    Nantikan jilid TADBM jilid 401 (Gandhoknya aja belom dibuat ama Ki Risang..)

    • Jan Pak Lik ki ra tanggap…..jelas jilid 400 wes tamat, lha koq gandok 401 durung disiapno……

      Wes ndang digawe…..mBah Man sajak pakewuh nek badhe mbabar 401 neng kene…mangkane diicrit2

      • he he he …
        lha sik macul ndik kebon je
        sing digowo mung pacul
        lha yok opo nggawene gandok
        kudu nyiapno kayu, papan, paku, dll sik

        okelah….., barangkali sik ana sing dodol….

        • mampir gandoke tonggo wae pak Lik

          • Pesen gandhok sing “knock down” wae… tinggal pasang..

          • gandok-e nek suwe
            dadi gondok

          • ono kayune, tapi gak ono pakune
            hadu…, gak iso gawe pendopo
            mengko mbengi wae wis……

          • Siang Ki PA…..

        • Ki Risang, disini ada papan kaliyan kayu ulin… kulo kintun menopo njih ??

          • Siang mbak CINTA…!

    • Matur nuwun Mbah_Man, ternyata harapan terkabul, jilid 401 sudah mulai ….. tambah semangat !

  35. Lanjutan TADBM 401

    Orang yang di panggil Guru itu menoleh. Sejenak dipandangi wajah anak muda yang berdiri di bawah bayang bayang pohon keluwih. Sambil melangkah perlahan lahan ke arah anak muda itu, kemudian katanya, “Bagaimana engkau memanggilku Guru, sedangkan kita belum pernah saling mengenal?”

    Anak muda yang berdiri di bawah bayang bayang pohon keluwih itu tiba tiba menjatuhkan dirinya berlutut ketika orang yang berpakaian serba putih itu telah berdiri di depannya.

    “Ampun Kanjeng Sunan, hamba adalah anak muda yang pernah Kanjeng Sunan tolong sewaktu terjadi ontran ontran di Tanah Perdikan Menoreh setahun yang lalu.”

    Orang yang dipanggil Kanjeng Sunan oleh anak muda itu sejenak mengerutkan keningnya. Sambil mengamati wajah anak muda yang berlutut sambil menundukkan kepalanya dalam dalam, dia berkata, “Apakah engkau anak muda yang aku jumpai di pinggir sungai yang membelah Kademangan induk Perdikan Menoreh waktu itu?”

    “Hamba, Kanjeng Sunan.”

    “Mengapa engkau meninggalkan Gunung Muria? Bukankah engkau sudah berjanji ingin menjadi Santriku?”

    Bergetar sekujur tubuh anak muda itu, sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada dan menundukkan kepalanya dalam dalam, dia menjawab, “Ampun Kanjeng Sunan, hamba masih mempunyai janji dengan Ki Rangga Agung Sedayu untuk menuntaskan ilmu kanuragan yang telah dijanjikan kepada hamba.”

    “O..,” Kanjeng Sunan itu tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya, “Jadi engkau masih ragu ragu dengan ilmu kasampurnaning ngaurip yang akan aku ajarkan dibandingkan dengan segala macam ilmu kanuragan itu?”

    Untuk beberapa saat anak muda itu bagaikan membeku. Perasaan bersalah telah melanda hatinya.

    • kok gak nyambung?
      ini bocoran jilid brapa ya?

      • itu nanti akhir jilid 401, hehehehehe…
        critanya Sukra melarikan diri dari pesantren Gunung Muria ketemu Kanjeng Sunan di tengah jalan hehehe

        • Mbah Man, Ojo lali pesan sponsor aku yo untuk eps.401
          hehehehe

          • hehehehehe…
            jangan takut, mbah tahu apa yg mabk nona mau..
            hehehehehe

      • Aku yo mbating Pak Lik..

        • Mbatin ..

    • Matur nuwun Mbah_Man, malah tambah penasaran ini ….. terus gimana ?

  36. Hmm .. mbah man semakin membuat penasaran saja, semoga Allah tetap memberikan kesehatan kpd Mbah Man, agar tetap konsisten melanjutkan ‘warisan’ SHM ini. ADBM semakin panjang dan menarik dengan munculnya tokoh2 baru yg legendaris di tanah Jawa. .. Sampai bertemu lagi di Terusan Api di Bukit Menoreh jilid berikutnya. (mungkin sebaiknya dengan judul baru agar ‘originalitas’ Mbah Man sebagai penulis dapat terjaga, walaupun msh dengan tokoh2 cerita yg sama). .. Monggo Mbah, tetap semangat!

    • Monggo mbah (mbah_man), judulnya diganti apa?

  37. Wah2.. Kanjeng Mbah Man bikin penasaran nih… Ditunggu mbah, suwun..

  38. Monggo mBah Man dipercepat saja…. selak kemejer

  39. absen…hadir…monggo mbah enggal diwedar…

  40. Kawulo usul bilih episode 401 langkung sae dipun paringi “tetenger piyambak” (mboten mawi nami TADBM) senaoso cariosipun taksih “TADBM”, supados Kyai Mbah Man radi kagungan kebebasan kreasi, ugi supados enggal mboten wonten “bayang-bayang SHM” sabab seratanipun Kyai Mbah Man sampun sae sangat. Nuwun, mugi-mugi dipun tampi kaliyan engkang magepokan.

    • setujuuuuu…………

  41. Lho…? kok durung ono sing Absen…!! ,kulo absen rumiyin mbah..sugeng enjing

    • ya….., sudah pada absen dari gandok sini.
      sekarang hadir di gandok 401.

      • Maturnuwun…sederek Risang ,ngapunten nggih radi telat..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: