mbah_man

Sudah menginjak bulan kelima Ki Ismoyo belum juga hadir di padepokan.
Adakah beliau “marah” karena satpam telah berani “mengacak-acak” padepokan?
Mudah-mudahan tidak, satpam hanya ingin agar padepokan ini masih dikunjungi sanak-kadang gagak seta dan ada bahan diskusi atau “bergojeg”
Oleh karena itu, satpam meberanikan lagi pasang buat pintu butulan untuk masuk ke gandok mbah_man (terusan adbm dan badai di bumi jipang)

1. TERUSAN ADBM

2. JATUHNYA BENTENG PAJARAKAN

Telah Terbit on 09/05/2012 at 11:07  Comments (100)  

The URI to TrackBack this entry is: http://cersilindonesia.wordpress.com/mbah_man/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

100 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur sembah nuwun Mas Risang.
    Mugi2 kemawon Sang Panembahan mboten duko yayah sinipi dengan inisiatif Mas Risang.
    Kalo Sang Panembahan marah, biar cucuna yang cantik dan genit Jeng Sriwed aja yang merayu
    hehehehe..

  2. panasnya bumi pajang

    ki PA “ “ injih ki, … waaah hebat sanget njih ilmunipun, … niku namine napa ta ? “

    ki gunken : “ namine aji gebyah uyah “

    ki PA : “ ilmune dahsyat, tapi kok jenenge waguuu bgtz ta ? “

    ki gunken : “ wagu piye ta ? :( :( .. iki ilmiyah looh, … ilmu ini memanfaatkan kekuatan garam, …. caranya, garam halus ini dimasukkan ke aliran darah musuh dengan cara dilontarkan dengan tenaga dalam ke tubuh musuh, …. bila darah musuh telah asin, mereka menjadi hipertensi dech, … trus jadinya stroke dech …. kelimpungan dech :) :) …. tuuu kaaan, prosesnya ilmiyah kaan ? “

    ki PA : “ oooo gitu ya? …. aah ntar klo saya dah bisa menguasai ilmu itu, namaku akan saya ganti menjadi ki PAD aja dech “

    ki gunken : “ PAD itu singkatan apa ? “

    ki PA : “ ki Pancen Angel Dikalahke :) :)

    ki gunken : “ hihihi :) :) :) …. tapi trus ditambahi KKG looh “

    ki PA : “ nopo niku ? “

    ki gunken : “Kecuali Karo Gurune :) :) :) …. eh tapi terusane sing lawas tetep dinggo ora ? terutama EB ne :) :) ? ”

    ki PA : “ waaah terusane njih terpaksa tetep dingge ngantos dalem sampun kromo :( …. ….. eh mbok kulo njih diewangi bab niku ? “

    ki gunken : “ ngewangine piye ? “

    ki PA : “ wau ngendikane ki gunken gadah tepangan wanito cantik nan sexy ingkang kataaah sanget ? …. lha mbok turahane ngge kulo ? “

    ki gunken : “ huuusy, kuwi wis masalalu, ….. :(

    ki PA : “ lha malah kebeneran, yen mpun mboten kangge, … kulo openane kemawon, … kulo nyuwun nomer hp ne kemawon, terusane mpun kulo urusane dewe :)

    mbak dalang : “ cuuut cuuut, piye ta, jaman sakmana yo rung ono hp noo :( :(

    ki PA : “ looh niki sanes HP handphone niku kok, ….. HP ne singkatan saking Hubungan via Pameling kok :)

    mbak dalang : “ hihihi … oooo ngono ta ? .. yo wis lanjuuut :) :)

    • waduuuch kok malah masuk gandoke mbah man :( , untuuuung mbah dah berangkat, … klo blum kan sy bisa dipentungi mbah putri noooo :) :) :)

      maap ya dik satpam, … ga sengaja loooh, … bukannya sengaja ngasih kerjaan bersih-bersih gandoknya mbah man looh :) :)

  3. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Salam Sejahtera untuk kita semua,
    Sugeng nDalu….Selamat Malem….sanak kadang semua.

    Katur mBah Man,
    Katur Pak Satpam,
    Katur Sanak kadang sedaya…..

    Ucapkan terima kasih yang tulus dari dari hati nurani yang paling dalam saya sampaikan kepada Pak Satpam, yang dengan segala ketulusannya, telah tetap menjadikan gandhok gs ini tetap eksis hingga kini tetap menjadi tempat gojegnya sanak kadang.
    Tidak ada yang salah pak Satpam, sumonggo dipun lajengaken kemawon anggenipun nguri-nguri gandhok puniko, malah saya sangat bersyukur karena Pak Satpam, gandhok masih terus berlanjut.

    Kemudian saya haturkan matur nuwun dumateng panjenenganipun mBah Man, yang dalam kesibukannya, dalam kondisi kesehatannya menurun, kami semua berdoa semoga cepat sembuh, tetap memberikan sumbangsihnya pada cerita Terusan ADBM untuk diwedar pada gandhok gs ini. Tentunya makin membuat gandhok tambah suminar. Terima kasih yang tulus saya haturkan kepada mBah Man.

    Tentunya tidak akan pernah terlupakan terhadap Nyi Dewi beserta Kang Suzi, yang dengan besar hati telah menamatkan dan menyumbangkan rontal-rontalnya untuk diwedar pada gandhok gs ini. Tiada ucapan lain yang dapat kami sampaikan kepada Nyi Dewi dan Kang Suzi selain ucapan Salut dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sumbangsihnya yang ikhlas pada gandhok gs ini, terima kasih.

    Kepada sanak kadang semua, yang tak dapat saya sebutkan satu persatu, matur nuwun sanget masih tetap setia menyambangi gandhok gs ini, walau saya sendiri sudah lamaaaaa sekaliii absen. Tanpa kehadiran panjenengan semua tentunya gandhok ini akan menjadi sepiii.

    Karenanya, kepada Pak Satpam, mBah Man, Nyi Dewi, Kang Suzi dan Sanak Kadang semua, tiada ungkapan kalimat yang dapat saya sampaikan kepada panjenengan semua, selain rasa terima kasih yang tulus…..nuwun.

    Matur Nuwun…Terima kasih.
    ismoyo

    • Wa ‘alaikum salaam,

      Matur sembah nuwun, panjenenganipun Panembahan Ismoyo sampun kersa badar saking semedi lan paring dawuh dumateng para cantrik.

      Semoga dengan berkenannya Sang Panembahan kembali kundur angedaton ke Padepokan GS ini, suasana tambah gayeng dan wejangan wejangan beliau seperti biasanya segera mbanyu mili untuk kita semua, amiin.

      Matur nuwun diperkenankan “nunut ngeyup” di padepokan GS

      Mbah Man

      • Kangen Pak Yusdi……

        • juga jangen Pak Martana ……
          sugeng Ki.

  4. Nuwunsewu mbah …dalem nderek mampir gandok ,maturnuwun nggih salam

  5. Lanjutan TADBM 403

    Dalam pada itu, di bilik Ki Argapati, tampak orang tua yang telah menjalani pahit getirnya kehidupan itu semakin sehat di bawah perawatan Kiai Sabda Dadi. Dari hari ke hari kesehatannya semakin membaik walaupun kadang masih tampak wajahnya yang murung. Namun ketika berita kedatangan perguruan perguruan yang diundang oleh Panembahan Cahya Warastra itu sampai ke telinganya, semangat perjuangannya pun bagaikan membara kembali, sak dumuk bathuk sak nyari bumi, tanah leluhur Menoeh akan diperjuangkan sampai titik darah yang penghabisan.

    Ki Jayaraga lah yang terpaksa menyampaikan berita itu dengan pertimbangan dari pada orang lain yang pada akhirnya menyampaikan berita itu kepada Ki Argapati. Bisa saja terjadi kesalahan pengertian dan akan semakin memperparah sakitnya. Untuk itulah Ki Jayaraga dengan sangat berhati hati telah menyampaikan keadaan keamanan Menoreh akhir akhir ini dan langkah langkah apa saja yang telah diambil oleh Ki Jayaraga bersama Kiai Sabda Dadi untuk mengatasi permasalahan itu.

    Ternyata yang terjadi kemudian adalah diluar perhitungan Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi. Ki Argapati pada dasarnya adalah seorang pejuang sejati yang selalu mengedepankan kepentingan Tanah Perdikan yang dipimpinnya. Begitu mendengar ancaman yang akan menjamah Tanah Perdikan Menoreh, hati orang tua itu bagaikan menggelegak. Semangat perjuangannya pun membara kembali. Keinginannya yang kuat untuk sembuh telah membantu Kiai Sabda Dadi dalam merawat sakitnya, sehingga berangsur angsur berkembangan kesehatan Ki Gede Menoreh pun sangat menggembirakan.

    Sore itu Ki Argapati tampak sedang mondar mandir di dalam biliknya. Sesekali diraihnya tombak pendek yang disandarkan di pojok bilik. Sambil menimang nimang tombak itu, perlahan Ki Argapati membuka selongsong tombak yang terbuat dari kain sutera berwarna hijau. Seakan akan dia ingin meyakinkan bahwa ujung tombaknya itu masih setajam dulu ketika menghujam ke dada musuh bebuyutannya, Ki Tambak Wedi.

    Tiba tiba pintu bilik berderit dan tampak Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi muncul dari balik pintu.

    “Silahkan, silahkan,” berkata Ki Argapati kemudian sambil kembali menyandarkan tombak pendeknya yang telah dibungkus kembali dengan selongsongnya ke pojok bilik.

    Hampir bersamaan kedua orang tua itu tersenyum. Kiai Sabda Dadi lah yang menyahut, “Agaknya Ki Gede sudah semakin sehat dan tidak sabar untuk bermain tombak lagi.”

    Ki Gede menarik nafas dalam dalam sambil duduk di amben. Katanya kemudian, “Rasa rasanya bilik ini semakin sempit. Aku harus melemaskan otot ototku untuk menghadapi pertempuran yang sebenarnya nanti.”

    Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi saling berpandangan. Mereka menyadari sepenuhnya dengan kesehatan Ki Gede yang semakin pulih, dia memerlukan ruang yang lebih luas untuk melatih tubuhnya mengungkapkan ilmu yang selama ini rasa rasanya telah membeku dalam tubuh yang sakit.

    Setelah menutup pintu bilik dan mengambil dingklik yanga ada di dekat dinding, kedua orang tua itu pun kemudian duduk di depan Ki Argapati.

    “Ki Gede,” akhirnya Ki Jayaraga memberikan saran, “Ki Gede dapat menggunakan sanggar namun selepas tengah malam, agar tidak ada kecurigaan dari para penghuni rumah ini. Kita harus tetap memberikan kesan bahwa Ki Gede masih terbaring sakit.”

    “Apakah itu masih diperlukan?” bertanya Ki Gede, “Kehadiranku di tengah tengah para penghuni Tanah Perdikan Menoreh ini akan sangat berarti dalam menggelorakan semangat perjuangan mereka.”

    “Benar, Ki Gede. Namun dengan demikian musuh akan membuat perhitungan perhitungan ulang terhadap kekuatan kita, dan itu sangat berbahaya.”

    Sejenak Ki Gede termenung, namun kemudian katanya, “Apakah sudah ada berita tentang Ki Rangga Agung Sedayu?”

    “Menurut seorang prajurit sandi dari Mataram yang telah menghubungi kami, Ki Rangga telah meninggalkan Sangkal Putung bersama Ki Swandaru dan Nyi Pandan Wangi.”

    • ngaturaken agunging panuwun dhumateng mbah Man.. :)

    • Wa…., mbah_man singidan di sini
      ngapunten mbah, tugas banyak sekali belum sempat nyapu di gandok 403

      • itulah Ki Risang. Mbah man mau wedaran kok halaman padepokan masih kotor. mbah man sampai bingung nyari tempat yang longgar untuk wedaran. Akhirnya mbah man putuskan wedaran di sini saja.
        matur suwun

        • ngapunten njih mbah, tidak ada yang bantu nyapu sih
          cantrik mentrik datang silih berganti meninggalkan jejaknya masing-masing, he he he ….

          nanti malam Risang usahakan untuk menyapu gandok.

  6. Lanjutan TADBM 403

    “He!” wajah tua itu tampak berbinar, “Jadi Ki Rangga sudah sampai di Sangkal Putung? Sokorlah..!,” Ki Gede berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Bukankah menantuku itu masih sakit? Mengapa dia ikut Ki Rangga meninggalkan Sangkal Putung bersama istrinya?”

    Ki Jayaraga menarik nafas dalam dalam kemudian jawabnya, “Ki Rangga mengajak Ki Swandaru pergi ke padepokan orang bercambuk di Jati Anom. Sedang Nyi Pandan Wangi kelihatannya tidak tega dan ingin mendampingi suaminya yang sedang sakit.”

    Ki Gede mengangguk anggukkan kepalanya sambil bergumam perlahan, “Agaknya Ki Rangga sedang ada urusan penting dengan menantuku yang menyangkut nama baik perguruan orang bercambuk. Semoga saja perkiraanku ini benar dan Ki Rangga sebagai saudara tua sekaligus pengganti Kiai Gringsing dapat memberikan tuntunan kepada adik seperguruannya.”

    “Demikianlah harapan kita semua, Ki Gede,” sahut kedua orang tua itu hampir bersamaan.

    Sejenak kemudian ruangan bilik Ki Aragapati itu menjadi sunyi. Masing masing tenggelam dalam angan angan mereka. Sementara di luar Matahari semakin rendah. Burung burung tampak bertebangan berarak arak kembali ke sarang mereka. Perlahan lahan gelap pun mulai menyelimuti bumi Menoreh.

    Ketika bilik Ki Gede pun mulai gelap, Ki Jayaraga segera berdiri dan melangkah menuju ke ajug ajug tempat dlupak diletakkan. Dengan batu titikan dan sejumput gelugut yang ada di dalam geledeg, Ki Jayaraga pun berusaha menyalakan dlupak itu.

    Sejenak ruangan bilik itu menjadi terang oleh sinar dlupak yang kemerah merahan. Setelah mengembalikan batu tuitikan dan sisa gelugut ke geledeg, Ki Jayaraga pun kembali ke tempat duduknya.

    Baru saja Ki Jayaraga menempati tempat duduknya, tiba tiba saja mereka yang sedang di dalam bilik itu dikejutkan oleh suara langkah yang tergesa gesa setengah berlari menuju ke arah bilik. Sejenak kemudian terdengar pintu bilik Ki Argapati di ketuk keras keras.

    Ketiga orang tua yang ada di dalam bilik itu terkejut. Tidak biasanya para pelayan di rumah Ki Gede mengetuk pintu bilik dengan keras. Pasti ada sesuatau yang tidak wajar sedang terjadi.

    “Siapa?” bertanya Ki Jayaraga masih dengan duduk di atas dingklik sambil berpaling ke arah pintu.

    “Saya Ki, Nyi Saminten,” terdengar suara itu bergetar.

    Nyi Saminten adalah pembantu di rumah Ki Gede. Dengan tergesa gesa Ki Jayaraga bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke pintu. Sementara Ki Gede yang sedang duduk di bibir amben segera merebahkan dirinya dan menarik kain panjangnya untuk menyelimuti tubuhnya dibantu Kiai Sabda Dadi.

    Ketika pintu bilik itu telah dibuka oleh Ki Jayaraga, tampak pembantu Ki Gede itu dengan wajah gelisah berdiri di muka pintu.

    “Ada apa, Nyi?” bertanya Ki Jayaraga dengan sareh.

    Sejenak Nyi Saminten menarik nafas dalam dalam untuk mengumpulkan kekuatannya kembali, kemudian katanya dengan nada yang masih bergetar, “Nyi Sekar Mirah, Ki. Nyi Sekar Mirah tanda tandanya akan melahirkan.”

    “He?” hampir bersamaan ketiga orang tua yang ada di bilik Ki Gede itu berseru. Bahkan Ki Gede hampir saja bangkit dari pembaringannya. Untunglah dia segera menyadari keadaannya dan segera merebahkan diri kembali.

    “Nyi Sekar Mirah katamu?” Ki Jayaraga bertanya untuk meyakinkan pendengarannya.

    “Ya, ya..Ki, tadi Damarpati telah membantu memapah Nyi Sekar Mirah dari sanggar menuju ke biliknya.”

    “Panggil dukun bayi yang terdekat sementara aku akan membantu Nyi Sekar Mirah untuk mempersiapkan persalinan ini,” sahut Kiai Sabda Dadi yang telah berdiri dan melangkah ke pintu.

    “Baik..baik Ki,” jawab Nyi Saminten sambil setengah berlari keluar untuk pergi ke rumah perempuan yang biasa menolong persalinan.

    Sementara itu Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi segera minta diri kepada Ki Gede untuk menengok keadaan Sekar Mirah.

    “Semoga Yang Maha Agung memberikan kelancaran dan keselamatan,” berkata Ki Gede.

    “Kita turut berdoa Ki Gede,” sahut kedua orang tua itu sambil menutup pintu bilik dan melangkah menuju bilik Sekar Mirah yang terletak di ruang belakang.

    • Hadir, matur nuwun Mbah_Man, 2 hari tdk sowan ternyata banyak kejadian, Ki Ismoyo rawuh, SM mau melahirkan ….. tetap semangat !

  7. @ Anakmas Risang..
    siap siap melekan, menyambut kelahiran anak SM
    yang melekan dilarang main judi dan minum tuak..
    hehehehehehe…

    • njih mbah, suguhanné rontal sak gêbok
      untuk dikidungkan saat mêlèkan, hé hé hé ….

      • Kalau jadi hari ini, berarti lahirnya Selasa Kliwon, 13 Muharam 1435 H.

    • gandok masih lega apa sudah sesak mbah..? Mau ikut melekaan ni…:D

      • monggo monggo Ki Aryo,
        suguhane nggowo dewe dewe..
        heehehehe..

    • main dakon aja Mbah_man he he he he

      • mbak cika ngajak main dakon ama embah?
        mau..mauuu..
        hehehehee.

        • Mbah ikutan melekan tapi ndak belekan yach…
          hehehe

  8. mATUR nuwun mbah

  9. Matur suwun mbah…nyari2 wedaran eh ketemu…ikut melekan sambil nulis raport…he.

    • Wah si mbah_man pindah ruma toh, mangga mbah rontalipun dipungelontoraken teng griya enggal mawon. Matur nuwun

  10. Habis nyapu, kecapekan, terus ketiduran eh.., tertidur ding.
    Ternyata SM belum melahirkan
    untung…..
    he he he …..

    • hehehe, Paklik nungguin lahiran ananknya SM ma AS yach
      itu ngorok cara halus namanya.. hehehe

      • lha kemarin dapat perintah lek-lekan kelahirahn anak AS dan SM je.
        lha kalau pada datang terus Risang tidur, nanti kan berabe
        he he he …..

  11. Hadir, gak sadar ternyata mbah_man kagungan wisma enggal ….. tetap semangat !

    • bukan rumah baru, ini rumah induk.
      simbah ngungsi, karena gandok 403 kotor belum risang sapu, he he he ….

  12. Lanjutan TADBM 403

    Ketika kemudian kedua orang tua itu telah sampai di ruang belakang yang bersebelahan dengan dapur, terdengar kesibukan beberapa perempuan pembantu di rumah Ki Gede yang sedang menjerang air dan mempersiapkan segala keperluan untuk persalinan Sekar Mirah. Seorang perempuan yang sudah lanjut tampak bergegas memasuki bilik Sekar Mirah sambil membawa sebuah buntalan kain dan segenggam dupa ratus yang sudah dibakar ujungnya sehingga menyebarkan bau wangi keseluruh ruangan, sedangkan seorang lagi membawa sebuah belanga yang berisi air hangat.

    Kiai Sabda Dadi segera melangkah memasuki bilik Sekar Mirah, sementara Ki Jayaraga menunggu di luar bilik, duduk di atas sebuah tikar pandan yang telah dibentangkan di depan bilik Sekar Mirah.

    Sejenak Kiai Sabda Dadi tertegun begitu melangkah memasuki bilik. Tampak Sekar Mirah yang tergolek berselimutkan kain panjang dengan wajah yang tegang. Kiai Sabda Dadi pun menyadari, ini adalah persalinan pertama bagi Sekar Mirah justru diusianya yang telah merambat semakin tua.

    “Nyi Sekar Mirah,” perlahan Kiai Sabda Dadi berbisik ketika sudah berdiri di samping pembaringan Sekar Mirah, “Usahakanlah untuk tetap tenang. Nanti akan ada yang menuntunmu untuk menjalani persalinan ini yang bagimu mungkin masih asing.”

    Sekar Mirah hanya mengangguk perlahan. Raut mukanya masih terlihat tegang.

    Tiba tiba pintu bilik terbuka dan seorang perempuan yang rambutnya sudah berwarna putih semua masuk diikuti oleh Nyi Saminten.

    “Aku minta Ki Sanak meninggalkan bilik ini,” kata perempuan tua itu sambil menatap tajam ke arah Kiai Sabda Dadi yang berdiri di sebelah pembaringan Sekar Mirah, “Percayakan semua ini padaku, aku sudah menolong persalinan sampai puluhan kali dan semuanya dapat aku selesaikan tanpa ada masalah yang berarti.”

    Kiai Sabda Dadi hanya mengangguk angguk sambil melangkah keluar bilik. Ketika dilihatnya Ki Jayaraga yang sedang duduk duduk di depan bilik Sekar Mirah, Kiai Sabda Dadi pun kemudian segera bergabung.

    Waktu terasa berjalan begitu lambatnya. Dari dalam bilik terdengar suara dukun tua itu yang memberi arahan kepada Sekar Mirah, sementara Sekar Mirah terdengar merintih sambil sesekali mengucapkan kalimat kalimat doa dan ampunan kepada Yang Maha Agung agar diberi kekuatan dan kelancaran dalam persalinannya.

    Ketika kegelisahan kedua orang tua yang menunggu di luar bilik itu hampir tak tertahankan lagi, tiba tiba mereka dikejutkan oleh suara tangis bayi yang keras melengking menggetarkan jantung semua orang yang ada di rumah Ki Gede Menoreh.

    • matur suwun mbah

    • Matur nuwun mbah_man, dengan rumah baru (eh gandok anyar) mudah-mudahan tambah berkah ….

    • syukurlah akhirnya si jabang bayi bisa lahir dengan selamat… sampe ikut keringetan nungguin sekar mirah….

    • Waduh aku malah telat dah 9 hari umur anaknya AS ma SM baru nengokin nech…

  13. matur nuwun mbah-Man
    nunggu putu

  14. SUwun Mbah Man, siap jagong bayi, apalagi ada suguhan rontal baru.

  15. akirnya lahir juga pui syukur ya rob,,

  16. jagong bayi tenan, kartunya mana…?

  17. Ternyata aku sama dengan SM,melahirkan tanpa ditunnguin suami karena ada di luar kota hikss….

    Makasih Mbah… Ditunggu kelanjutannya…

  18. Karena ruangnya terbatas, yang akan ikut lek-lekan nanti malan jagong bayi AS dan SM supaya ndaftar dulu, he he he ….

  19. Hadir, kirim salam buat yang jagong bayi …… tetap semangat !

  20. Lanjutan TADBM 403

    “Puji syukur wajib kita panjatkan kepada Yang Maha Agung,” hampir bersamaan kedua orang tua itu menengadahkan wajah mereka sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Berbagai puji dan doa mereka panjatkan sebagai tanda syukur atas karuniaNya.

    Sejenak kemudian tangis bayi itupun mulai agak mereda. Ketika kemudian pintu bilik itu berderit, dengan tergesa gesa Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi bangkit berdiri. Tampak di depan pintu Nyi Saminten menggendong bayi yang masih merah dan dibungkus dengan kain panjang yang masih baru.

    Ketika Nyi Saminten melihat kedua orang tua itu berdiri termangu mangu dihadapannya, Nyi Saminten pun tersenyum sambil berkata, “Alhamdulillah semuanya selamat dan lancar, Ki,” dia berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Bayinya laki laki. Kedua duanya, ibu dan anak dalam keadaan sehat.”

    “Sokorlah,” hampir bersamaan Kiai Sabda Dadi dan Ki Jayaraga menyahut.

    “Apakah sudah dipanjatkan doa bagi bayi ini?” bertanya Kiai Sabda Dadi selanjutnya.

    “Silahkan Kiai,” berkata Nyi Saminten sambil mengulurkan bayi dalam gendongannya itu kepada Kiai Sabda Dadi, “Panjatkanlah doa sebagaimana mestinya agar anak ini nanti setelah dewasa menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.”

    Dengan mantap diterimanya bayi yang masih merah dalam bungkusan kain panjang itu. Setelah terpekur sejenak untuk memusatkan segenap nalar budinya disertai niat hanya kepada Penguasa Tunggal Jagad Raya ini permohonan itu dipanjatkan, Kiai Sabda Dadi pun kemudian membisikkan sesuatu di telinga kanan dan kiri si jabang bayi.

    “Alhamdulillah wa Syukurillah,” hampir bersamaan mereka yang hadir disitu memuji keagungan Penguasa Tunggal Jagad Raya ini begitu Kiai Sabda Dadi selesai memanjatkan doa bagi sang bayi.

    “Baiklah, Nyi,” berkata Kiai Sabda Dadi selanjutnya, “Kami akan mohon diri sejenak untuk mengabarkan berita gembira ini kepada Ki Gede Menoreh. Barangkali berita gembira ini akan membuat Ki Gede merasa senang dan semakin membaik kesehatannya.”

    Selesai berkata demikian Kiai Sabda Dadi mengulurkan kembali bayi yang ada dalam gendongannya kepada Nyi Saminten.

    Dengan penuh kasih sayang Nyi Saminten menerima kembali bayi itu dan kemudian membawanya masuk ke dalam bilik.

    Sejenak kedua orang tua itu masih menunggu pintu bilik itu ditutup. Setelah yakin tidak ada suatu hal yang mengkawatirkan, Ki Jayaraga pun melangkah meninggalkan ruang belakang menuju ke bilik Ki Argapati diikuti oleh Kiai Sabda Dadi.

    • Matur nuwun mbah_man, ternyata para cantrik dan mentrik sedang sibuk sehingga belum sempat jagong bayi ….

    • risang siap2 dua ekor kambing untuk aqiqah

  21. Lanjutan TADBM 403

    Dalam pada itu, di Padepokan Jati Anom, Ki Widura ditemani oleh Ki Rangga Agung Sedayu sedang duduk duduk di pendapa. Malam baru saja turun melingkupi Jati Anom. Lampu lampu dlupak yang ada di regol maupun di pendapa sudah dinyalakan sejak Matahari terbenam tadi.

    “Di manakah Swandaru dan istrinya?” bertanya Ki Widura sambil mengambil sepotong jenang alot dan mengunyahnya perlahan lahan.

    “Mereka sedang berada di dalam bilik,” jawab Ki Rangga Agung Sedayu, “Agaknya Adi Swandaru kelelahan setelah menempuh perjalanan pagi tadi. Maklumlah, keadaan kesehatan Adi Swandaru memang masih belum pulih. Malam ini aku akan memberikan ramuan lagi untuk menghilangkan pengaruh sisa sisa racun yang masih mengeram di dalam tubuhnya.”

    Ki Widura mengangguk anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Berapa hari rencanamu untuk tinggal di padepokan ini?”

    Ketika Ki Widura melihat kerut merut di wajah Ki Rangga, cepat cepat Ki Widura menyambung, “Bukan maksudku untuk mengusirmu dari rumahmu sendiri, tapi tugasmu sebagai prajurit tentu tidak boleh diabaikan. Aku dengar Mataram telah mengirim pasukan segelar sepapan menuju Panaraga. Kedudukanmu di pasukan khusus sangat diperlukan, tapi mengapa engkau tidak ikut ke Panaraga?”

    Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam sebelum menjawab pertanyaan pamannya itu. Setelah meneguk wedang sereh yang hangat, Ki Rangga pun kemudian menceritakan tugas yang diembannya dari Ki Patih Mandaraka untuk membuat perimbangan kekuatan Panaraga dengan cara mencegah Guru Pangeran Ranapati itu untuk ikut campur dalam pertikaian antara Mataram dan Panaraga.

    Ki Widura mengangguk anggukkan kepalanya sambil menghela nafas panjang. Dari cerita Ki Rangga Agung Sedayu, dia dapat membayangkan kekuatan yang tersimpan di dalam diri guru Pangeran Ranapati sehingga Ki Patih Mandaraka merasa perlu menugaskan secara khusus Ki Rangga Agung Sedayu untuk mengimbangi kekuatannya.

    Sejenak kemudian kedua orang itu pun terlibat dalam pembicaraan yang tidak ada ujung pangkalnya, mulai dari musim kemarau yang sebentar lagi berganti dengan musim hujan, sawah sawah padepokan yang harus segera mendapat perhatian sebelum hujan turun dan peningkatan ilmu bagi cantrik cantrik perguruan orang bercambuk agar selalu siap dalam menghadapi keadaan yang semakin tidak menentu yang salah satunya adalah tanda tanda adanya gerakan dari Kadipaten Kadipaten bawahan Mataram yang cenderung ingin memisahkan diri.

    • Matur nuwun mbah_man, sudah dobel ….

    • wah…, ada tutuge
      suwun mbah

      • @ mas risang, masih brp lembar untuk membundel jilid 403?
        matur suwun

        • Wah…, buku besar di padepokan mbah

          terakhir kalau tidak salah sampai halaman 62, hari ini ada 4 halaman, jadi total 66 halaman.
          Masih kurang tujuh halaman (versi buku Risang 75 halaman), paling tidak 5-6 rontal seperti yang baru diwedar.

          nuwun

  22. Lanjutan TADBM 403

    Ketika kedua orang itu sedang asyik berbicara tentang segala macam urusan, tiba tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang memasuki regol padepokan.

    Tanpa ragu ragu orang tersebut segera menyeberangi halaman padepokan yang cukup luas dan kemudian naik ke pendapa.

    Ki Widura dan Ki Rangga segera tanggap. Dengan cepat mereka bangkit berdiri untuk menyambut tamu yang belum jelas asal asulnya dan keperluannya itu.

    “Selamat malam,” justru orang itulah yang mendahului menyapa begitu dia mulai menaiki tlundak pendapa.

    “Selamat malam Ki sanak,” jawab Ki Widura cepat, “Silahkan, silahkan. Kelihatannya aku belum begitu mengenal Ki Sanak atau mungkin pengenalanku yang mulai kabur sejalan dengan umurku yang mulai merambat senja.”

    Orang itu hanya tersenyum saja menanggapi kata kata Ki Widura. Sambil berdiri di hadapan Ki Widura dan Ki Rangga, orang itu berkata perlahan ke arah Ki Rangga Agung Sedayu, “Garuda yang terbang ke Timur agaknya sedang dalam perjalanannya kembali ke sarang. Semut semut merah telah meninggalkan sarang mereka juga dan menuju ke bukit harapan. Garuda ditunggu untuk menghimpun burung burung pipit sepanjang tepian sungai agar semut semut merah tidak sampai mencapai Banjar Padukuhan.”

    Sejenak Ki Rangga Agung Sedayu berdiri membeku mendengar kata kata orang asing itu. Sedangkan Ki Widura yang berdiri di sebelahnya mengerutkan keningnya dalam dalam, dia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan orang yang baru datang ke padepokan itu.

    “Apakah yang membawamu ke mari?” tiba tiba Ki Rangga mengajukan sebuah pertanyaan.

    “Angin barat,” jawab orang itu.

    “Siapakah yang menguasai angin barat?” kembali Ki Rangga bertanya yang semakin membuat Ki Widura kebingungan.

    “Lintang Panjer Rina,” jawab orang itu tegas.

    Ki Rangga Agung Sedayu mengangguk anggukkan kepalanya sedangkan pamannya yang masih berdiri di sebelahnya akhirnya menarik nafas dalam dalam. Ki Widura telah lama meninggalkan dunia keprajuritan sehingga dia lupa bahwa yang diucapkan oleh orang itu adalah kata kata sandi yang telah disepakati dan hanya dimengerti oleh orang orang khusus dalam lingkungan keprajuritan.

    “Baiklah,” berkata Ki Rangga kemudian, “Engkau dapat kembali. Makanan yang engkau bawa sudah membuat aku kenyang.”

    Orang itu mengangguk hormat kemudian melangkah surut dan membalikkan badan berjalan menuruni tangga pendapa serta menyeberangi halaman padepokan untuk kemudian menghilang dalam gelap.

    • Matur nuwun mbah_man, sudah tripel …..

  23. Lanjutan TADBM 403

    Ketika bayangan orang itu sudah tidak tampak lagi, Ki Rangga segera duduk kembali diikuti oleh ki Widura. Sejenak keduanya masih berdiam diri, namun agaknya Ki Rangga sedang memikirkan sesuatu yang penting sehingga raut wajahnya tampak sedikit gelisah, sehingga katanya kemudian, “Paman, keadaan Kota Mataram semakin gawat sepeninggal pasukan yang melawat ke Panaraga. Di ibu kota Mataram sekarang hanya tinggal pasukan keamanan kota saja sehingga jika sewaktu waktu terjadi serangan ke ibu kota Mataram akan sangat berbahaya.”

    Ki Widura mengerutkan keningnya, katanya kemudian, “Bagaimana dengan pasukan khusus yang berkedudukan di Menoreh? Apakah mereka juga diberangkatkan semua ke Panaraga?”

    “Tidak paman. Aku telah menempatkan sepasukan kecil prajurit di bawah pimpinan Ki Lurah Sanggabaya. Tapi pasukan itu hanya untuk menjaga lingkungan barak pasukan khusus itu sendiri, sehingga tidak mungkin untuk ditarik ke Mataram.”

    Ki Widura terpekur. Sebagai bekas Senopati prajurit Pajang yang berkedudukan di Sangkal Putung pada waktu itu dia juga menghadapi permasalahan yang hampir sama. Tohpati telah menghimpun laskar laskar Jipang yang tercerai berai dan disatukan di bawah pimpinannya untuk menggilas Sangkal Putung. Sedangkan pasukan yang berada di bawah pimpinannya tidak mungkin dapat mengimbangi jumlah pasukan Tohpati yang lebih besar. Akhirnya dengan bantuan Ki Demang Sangkal Putung dia bisa mengerahkan seluruh kekuatan yang ada di Sangkal Putung baik anak anak mudanya maupun orang orang tua atau siapapun yang pernah dan tahu bagaimana caranya menggenggam senjata untuk maju ke medan laga.

    “Besuk pagi pagi aku harus ke Mataram menghadap Ki Patih untuk mendapatkan petunjuknya,” berkata Ki Rangga Agung Sedayu sehingga membuyarkan lamunannya.

    Ki Widura menarik nafas panjang. Dipandanginya pintu regol padepokan yang pintunya terbuka sebelah. Dlupak yang dipasang sebelah menyebelah regol tampak bergoyang goyang tertiup angin malam. Suara suara binatang malam mulai terdengar bersahut sahutan ditingkah oleh suara teriakan burung kedasih yang hinggap di atap pendapa.
    .
    “Jadi,” akhirnya Ki Widura menanggapi kata kata Ki Rangga, “Bagaimana dengan Swandaru? Siapakah yang akan meneruskan perawatan atas lukanya sampai sembuh?” Ki Widura berhenti sejenak, kemudian, “Aku adalah murid termuda dalam perguruan orang bercambuk ini, oleh karena itu pengetahuanku tentang obat obatan masih sangat sedikit sehingga tumpuan harapan itu hanya kepadamu, Sedayu.”

    Ki Rangga Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Sejenak dia berpikir, kemudian katanya, “Paman, aku akan meninggalkan beberapa ramuan obat yang sudah aku pisah pisahkan terlebih dahulu, serta catatan tentang kapan dan bagaimana cara penggunaannya. Pada dasarnya Adi Swandaru hanya terkena racun yang sangat kuat dan menyebabkan tubuh bagian bawahnya lumpuh. Aku yakin dengan pengobatan yang rutin serta tambahan obat khusus yang dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuhnya, dalam waktu kurang dari sebulan Adi Swandaru sudah terbebas dari pengaruh racun itu.”

    Ki Widura mengangguk anggukkan kepalanya sambil tersenyum, katanya, “Jadi aku yang akan engkau pasrahi untuk merawat Swandaru? Baiklah, sebagai saudara seperguruan yang paling muda aku hanya dapat memerima tugas ini tanpa banyak alasan.”

    “Ah,” Ki Rangga berdesah tertahan, “Bukan begitu maksudku paman. Keadaan sangat mendesak dan aku tidak mungkin berada di dua tempat sekaligus.”

    Ki Widura tertawa pendek, “Jangan kawatir Sedayu, aku hanya bergurau. Berangkatlah besuk pagi pagi. Serahkan perawatan Swandaru kepadaku.”

  24. Lanjutan TADBM 403

    Ki Rangga Agung Sedayu mengangguk angguk. Tanpa disadarinya telepon genggam yang ada di sebelahnya berdering..

    “Hallo..?” terdengar suara jauh diseberang sana, “Cepat pulang, mbah. Aku sudah masak kesukaan mbah. Dan jangan kawatir, setelah makan malam masih ada lagi menu istimewa..”

    “Yeees..!!” teriak mbah man semangat sambil mematikan laptop.
    hehehehehehe…
    sampai jumpa besuk..

    • Selamat menikmati, mbah…
      (sambil ikut menelan air liur)…

    • Matur nuwun mbah_man, quattrick (ping papat) …. 4-pel

    • Hahaha, yang ini dia yang aku suka…..

  25. Ping papat rontale medun, nek bal balan wis Quattrick

  26. Ya Mbah Suwun, Insya-Alloh besok turun lagi rontalnya Mbah.

  27. Hadir, Jum’at Mubarak, mudah-mudahan amal kita hari ini lebih baik dari kemarin ….. tetap semangat !

  28. mau pulang solo dulu ya, pamit ya…. Mas Risang titip gandok saya ya jangan dipinjamkan ke orang

    • Njih Bu Lik.
      monggo…, selamat jalan.
      semoga lancar di jalan pergi dan pulang.
      tapi…, sampun kesupen, oleh-olehipun , he he he …..

      • eheem..eheemm..ehememe…
        uhuk..uhuuk..uhuukukukkk… (watuk tuwa)

        • he he he …
          saya kira beberapa saat setelah simbah rawuh, langsung ada rontal yang jatuh.
          kecele, he he he ….

  29. Lanjutan TADBM 403

    “Terima kasih paman,” berkata Ki Rangga, “Namun masih ada satu hal lagi yang belum dapat dilaksanakan,” Ki Rangga berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Adi Swandaru telah melanggar salah satu dari sembilan wewaler perguruan Windujati. Aku sebagai saudara tua dan sekaligus sebagai pengganti guru, harus bisa menegakkan peraturan perguruan agar tidak dicontoh oleh para murid yang lain.”

    Ki Widura mengangguk anggukkan kepalanya. Sambil memandangi dlupak yang tergantung di tengah tengah pendapa berayun ayun tertiup angin malam, katanya kemudian, “Hukuman itu wajib dilaksanakan, namun kita harus melihat keadaan Swandaru yang belum pulih dari luka lukanya. Namun setelah dia sehat kembali, kita harus menegakkan peraturan perguruan tanpa pandang bulu agar dijadikan sebagai contoh oleh cantrik cantrik padepokan ini.”

    Ki Rangga Agung Sedayu sejenak menarik nafas dalam sekali. Jauh di dalam hatinya sebenarnya ada sepercik keraguan untuk melaksanakan hukuman bagi Swandaru mengingat hukuman itu sangat berat, namun ada suatu tekat di dalam hati murid tertua orang bercambuk itu untuk tidak hanya menghukum adik seperguruannya, namun juga membantu Swandaru meningkatkan ilmunya.

    “Nah,” berkata Ki Widura kemudian, “Apakah engkau akan berangkat sendirian ataukah memerlukan teman seperjalanan yang dapat diajak untuk sekedar berbincang bincang sepanjang perjalanan?”

    Ki Rangga mengerutkan keningnya, kemudian jawabnya ragu ragu, “Apakah sudah ada seorang Putut atau Cantrik yang bisa diandalkan untuk tugas yang penting ini? Karena mau tidak mau dia harus siap untuk terlibat dalam sebuah pertempuran.”

    Ki Widura tertawa pendek, jawabnya kemudian, “Memang sudah ada beberapa Putut yang cukup mumpuni dalam olah kanuragan menurut penilaianku, namun secara kejiwaan mereka masih sangat rapuh. Masih diperlukan gemblengan batin untuk membuat mereka semakin mengendap sejalan dengan tingginya ilmu yang mereka kuasai.”

    Ki Rangga Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Dia segera teringat kepada adik seperguruannya, Swandaru. Bagaimana Guru mereka dahulu telah berusaha untuk mendekatkan sifat sifat keduanya melalui tuntunan batin yang tak henti hentinya, namun pada akhirnya sifat dasar dari masing masing yang muncul ke permukaan.

    “Tetapi jangan kawatir,” tiba tiba Ki Widura berkata mengejutkan Ki Rangga yang sedang terbuai oleh lamunannya, “Ada sepasang kakak beradik yang sudah dapat diandalkan untuk menghadapi tantangan yang keras di luar padepokan, Putut Darpa dan Putut Darpita. Secara ilmu olah kanuragan mereka tidak akan mengecewakan, sedangkan jiwa mereka sudah mulai terbentuk karena memang mereka berdua berasal dari keluarga baik baik dan sederhana. Mereka berdua dapat menemani perjalananmu dan sekaligus dapat sedikit membantu kalau memang tenaga mereka diperlukan.”

    Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Terbayang di rongga matanya sepasang anak muda yang berpetualang meninggalkan kampung halaman entah untuk berapa lama mengikuti guru mereka menyelusuri jalan setapak, merambah hutan dan menuruni lembah serta ngarai sampai jauh ke Tanah Perdikan Menoreh dan bertemu dengan seorang gadis cantik putri kepala Tanah Perdikan Menoreh yang selalu mengenakan sepasang pedang di lambung.

    “Ah,” tanpa disadarinya Ki Rangga berdesah.

    • Matur nuwun mbah_man, bonus hari Jum’at ….

  30. matur nuwun sanget mbah…

  31. Hadir, suasana dingin melingkupi seluruh padhepokan ….. tetap semangat !

  32. “Ah,” tanpa disadarinya Ki Rangga berdesah.
    apa artinya ya…?

  33. Hadir, ngisi daftar hadirnya di gandok yang mana Mas Putut Risang ….. tetap semangat !

  34. Hadir, Jum’at Mubarak …. tetap semangat !

  35. Lanjutan TADBM 403

    Ki Widura yang mendengar desah Ki Rangga Agung Sedayu itu mengerutkan keningnya, katanya kemudian, “Adakah sesuatu yang memberatkan hatimu jika kedua kakak beradik itu ikut denganmu ke Menoreh?”

    “O, tidak tidak, Paman,” dengan cepat Ki Rangga menyahut, namun tiba tiba sesuatu telah menggetarkan hatinya. Dalam tangkapan pendengarannya, seolah olah dia mendengar suara tangisan bayi lamat lamat di kejauhan.

    Sejenak Ki Rangga Agung Sedayu mengangkat kepalanya untuk mencoba mendengarkan suara itu lebih jelas. Adalah hal yang biasa di saat saat seperti itu terdengar tangisan seorang bayi dari Padukuhan sebelah. Namun rasa rasanya suara tangis bayi itu seperti memukul mukul dinding jantungnya.

    “Aneh,” desis Ki Rangga Agung Sedayu ketika menyadari suara tangis itu justru menghilang ketika dia mencoba untuk mendengarkan dengan seksama.

    “Apanya yang aneh Sedayu?” Pamannya yang duduk di depannya menjadi terheran heran melihat perubahan tingkah laku kemenakannya itu.

    Ki Rangga tidak menjawab, dicobanya untuk mengetrapkan aji Sapta Pangrungunya sampai ke puncak, namun justru suara tangisan bayi itu benar benar telah menghilang.

    “Mengapa?” tanpa sadar kata kata itu terlontar begitu saja dari bibir Ki Rangga.

    Ki Widura menjadi gelisah melihat tingkah laku keponakannya yang tidak sewajarnya. Akhirnya dengan nada yang dalam, dia kembali bertanya, “Sedayu, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Katakanlah! Mungkin Pamanmu yang tua ini dapat sedikit membantu.”

    Ki Rangga Agung Sedayu bagaikan tersadar dari mimpi buruk. Dengan menarik nafas dalam dalam, dilepaskannya pengetrapan aji Sapta Pangrungu itu sehingga kini dia benar benar mendengarkan alam sekitarnya dengan pendengaran wajar, walaupun ilmu yang sudah menyatu dengan jiwa raganya itu kadang kadang tanpa pengetrapanpun akan bekerja dengan sendirinya terutama pada saat bahaya mengancam jiwanya.

    Namun baru saja Ki Rangga Agung Sedayu bernafas lega, kembali suara tangis itu terdengar justru sangat dekat seperti di sekitar halaman Padepokan.

    “Paman?” tanpa sadar Ki Rangga bangkit dari tempat duduknya, “Apakah Paman mendengar suara tangis bayi?”

    Ki Widura yang masih diam di tempat duduknya itu mengerutkan keningnya dalam dalam. Sambil menggeleng dia menjawab, “Aku tidak mendengar suara apa apa, Sedayu, selain suara binatang binatang malam.”

    Sejenak Ki Rangga mengerutkan keningnya. Dicobanya sekali lagi untuk mengetrapkan aji sapta pangrurngu, sapta pandulu dan bahkan sapta panggraita, namun justru sekali lagi suara tangisan bayi itu malah menghilang.

    “Paman,” akhirnya Ki Rangga duduk kembali, “Aku merasa ada seseorang sedang mempermainkan aku. Dalam keadaan wajar aku mendengar seolah olah ada suara tangisan bayi di kejauhan, bahkan baru saja aku dengar suara itu seolah olah ada di halaman ini. Namun ketika aku mencoba untuk mengetahui lebih jauh, justru suara itu menghilang demikian saja.”

    “Apakah engkau mencoba mengetrapkan ilmumu untuk mencari arah suara tangisan itu?” bertanya Ki Widura kemudian.

    “Ya, Paman,” jawab Ki Rangga, “Bahkan aku telah mengetrapkan segala kemampuanku untuk menemukan sumber bunyi itu, akan tetapi aku telah gagal.”

    Untuk beberapa saat wajah yang sudah sangat tua itu merenung. Kemudian katanya perlahan lahan sambil menarik nafas dalam dalam, “Sedayu, dengan kemampuan ilmu apapun yang telah engkau miliki, engkau tidak akan menemukan sumber suara itu.”

    “Mengapa Paman?”

    “Karena suara itu berasal dari dalam dadamu, dari dalam hatimu sendiri.”

    Sejenak Ki Rangga termangu mangu. Dia benar benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Pamannya.

    “Sedayu,” akhirnya Ki Widura berkata dengan sareh, “Di alam jagad raya ini banyak hal yang tidak mampu diuraikan oleh ilmu yang dimiliki manusia. Banyak hal yang tetap menjadi rahasiaNya, walaupun manusia telah berupaya dengan segala akalnya untuk memecahkan rahasia itu. Demikian juga dengan suara tangis bayi yang engkau dengar itu. Itu adalah salah satu rahasia Sang Pencipta untuk memberi isyarat kepada para hambaNya, melalui suara hati mereka sendiri. Kebanyakan kegagalan manusia dalam menentukan jalan hidupnya adalah karena tidak mampu mendengarkan suara hatinya.”

    Ki Rangga Agung Sedayu termangu mangu mendengarkan nasehat Ki Widura. Sepeninggal Kiai Gringsing, memang tidak ada lagi yang memberikan tuntunan secara batiniah kepada dirinya dan adik seperguruannya itu.

    Ketika kemudian Ki Rangga Agung Sedayu berusaha memusatkan nalar dan budinya disertai dengan doa permohonan untuk menguraikan isyarat yang telah diberikan oleh Yang Maha Agung kepada dirinya, tiba tiba bagaikan di sambar seribu halilitar Ki Rangga Agung Sedayu pun terlonjak dari tempat duduknya sambil mulutnya mengucapkan sebuah nama, “Mirah..!”

    • Hadir, ternyata hari ahad kemarin ada wedaran rontal wektu sirep bocah, matur nuwun mbah_man ….. tetap semangat !

  36. Ki Widura yang duduk di hadapannya pun ikut terlonjak. Dengan ragu ragu dia bertanya, “Apakah benar demikian? Semoga Sekar Mirah diberi kelancaran dan kesehatan.”

    Ki Rangga Agung Sedayu benar benar sudah yakin dengan isyarat yang diterimanya. Dengan menyebut Asma Yang Maha Agung dia pun segera bersujud disertai ucapan puji syukur atas segala karunia yang telah diterimanya dalam lingkup Kebesaran dan KeagunganNya.

    Dalam pada itu, Swandaru dan Pandan Wangi yang memang masih belum tidur di bilik Kiai Gringsing lamat lamat mendengar kegaduhan yang sedang terjadi di pendapa.

    “Lihatlah,” berkata Swandaru kepada istrinya, “Mungkin ada sesuatu yang memerlukan bantuanmu walaupun aku percaya Kakang Agung Sedayu adalah orang yang pilih tanding, namun tidak ada jeleknya kalau kita mengetahui persoalan sebenarnya yang sedang terjadi.”

    Pandan Wangi hanya menganggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya dia memandang sepasang pedangnya yang terletak di geledek bambu di dekat ajug ajug. Namun niat untuk mengambil sepasang pedangnya itupun diurungkan ketika suaminya berkata, “Engkau tidak sedang memakai pakaian khususmu. Lebih baik engkau tinggalkan saja senjatamu itu di sini.”

    “Baiklah Kakang,” akhirnya Pandan Wangi menyahut sambil bangkit dari pembaringan. Setelah menutup pintu bilik terlebih dahulu, Pandan Wangi pun melangkah menuju ke pendapa.

    Suara derit pintu pringgitan ternyata telah membuat kedua orang yang sedang berada di pendapa itu berpaling.

    Ki Widura tersenyum begitu melihat Pandan Wangi yang berdiri termangu mangu di tengah tengah pintu pringgitan yang terbuka separo. Kemudian katanya, “Kemarilah, kami mempunyai berita untukmu.”

    Dengan langkah tertegun tegun, Pandan Wangi mendekati kedua orang yang sedang duduk duduk di pendapa itu. Setelah mengambil tempat duduk di sebelah Ki Widura, Pandan Wangi pun kemudian menunggu kedua orang itu berbicara sambil menundukkan wajahnya. Sejenak suasana pun menjadi hening.

    “Pandan Wangi,” akhirnya Ki Widura berkata memecah keheningan, “Besuk pagi pagi sekali Agung Sedayu akan berangkat ke Mataram ditemani oleh dua orang cantrik Padepokan. Menurut berita yang baru saja kita terima dari seorang prajurit sandi sore tadi, keamanan di ibu kota Mataram sangat mengkawatirkan sepeninggal pasukan yang telah dikirim ke Panaraga. Aku tidak tahu apa penyebabnya, mungkin Sedayu dapat menjelaskan semua itu kalau memang tidak melanggar kerahasiaan seorang prajurit.”

    Sejenak Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam. Dia sadar, ancaman terhadap Mataram juga berlaku bagi Tanah Perdikan Menoreh, justru karena perguruan perguruan yang diundang oleh Panembahan Cahya Warastra itu menjadikan Menoreh sebagai tempat berkumpul dan landasan pergerakan mereka memukul Mataram. Dan semua itu pasti akan berpengaruh terhadap Pandan Wangi sebagai putri Kepala Tanah Perdikan Menoreh.

    “Wangi,” perlahan Ki Rangga merangkai kata agar tidak mengguncangkan jantung istri adik seperguruannya itu, “Ibu kota Mataram sekarang ini sedang mendapat ancaman dari seorang yang menamakan dirinya Panembahan Cahya Warastra. Dibantu dengan perguruan perguruan yang ada di tanah ini yang sehaluan dengan Panembahan itu. Aku telah mendapat perintah dari Ki Patih Mandaraka lewat prajurit sandi untuk menghimpun pasukan Mataram yang tersisa serta pengawal pengawal dari Kademangan Kademangan di sekitar Mataram untuk menggempur kekuatan yang membayangi Mataram itu.”

    Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Raut wajahnya menunjukkan ketegangan hatinya, kemudian katanya, “Bukankah Panembahan Cahya Warastra itu sudah terbunuh oleh Ki Patih Mandaraka sendiri? Bagaimana mungkin ada orang yang menyebut dirinya dengan sebutan yang sama?”

    Ki Widura yang sedari tadi mendengarkan keterangan Ki Rangga dengan seksama ikut bertanya, “Ya, aku juga mendengar berita kematian Panembahan yang tamak itu. Apakah mungkin dia memiliki aji pancasona yang mampu membuat dirinya hidup kembali setiap kali jasadnya menyentuh bumi?”

    Ki Rangga Agung Sedayu menggeleng lemah, “Aji seperti itu hanya ada dalam cerita cerita babat dan dongeng dongeng. Namun selebihnya kita harus mewaspadai kekuatan perguruan perguruan yang telah dihimpun oleh Panembahan itu.”

    “Dimanakah Panembahan itu menghimpun kekuatannya?” tanpa sadar Pandan Wangi bertanya.

    Sejenak Ki Rangga Agung Sedayu termangu mangu. Keragu raguan tampak membayang di wajahnya. Tidak mungkin baginya untuk menyembunyikan kenyataan yang ada. Namun semua itu akan membawa akibat yang jelas, Pandan Wangi pasti akan berkeras untuk ikut dengan dirinya ke Mataram.

    • matur n

    • matur nuwun mbah man….

    • Hadir, 2 hari lagi tahun baru …. matur nuwun mbah_man rontalnya sudah disedot …..

    • matur suwun mbah.
      dijepret nanti malam, sekalian buka gandok baru untuk jagongan tutup tahun 2013 dan buka tahun 2014
      nuwun.

      • yay…. pas dan mantappp….. tahun baru, gandok baru…
        ngaji rontal ditemani bakaran jagung….. mantap….

  37. Matur nuwun Mbah_Man, wedaran jelang akhir tahun….

  38. Semakin menegangkan ….. wih…

  39. Matur nuwun Mbah_Man
    makin asyik

  40. Wah, Si mbah baru di sms-in dah wedar rontal,
    gimana kalau ditelp yach, bisa tambah banyak nech yg turun….
    Mentrikbelle, hayoo, do contact si mbah, ben akeh rontal yang diwedar… Hehehehe
    (Kata si Mbah, capek dech gue…xixixixi)

    • Ditelpon lagi aja Miss, biar tahun baru nanti Mbah_Man berkenan memberikan bonus rontal beberapa halaman…

      • Mendingan di video call aja … bisa-bisa bonus satu buku sekaligus ….

  41. Lanjutan TADBM 403

    Setelah menimbang nimbang beberapa saat, akhirnya Ki Rangga Agung Sedayu memutuskan untuk berterus terang, “Pandan Wangi, orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu telah menghimpun perguruan perguruan yang sehaluan dengannya untuk menghancurkan Mataram di tepian kali Praga sebelah barat dengan menduduki padukuhan padukuhan kecil yang telah ditinggalkan oleh penghuninya.”

    Seketika wajah Pandan Wangi menjadi merah padam begitu mendengar penjelasan Ki Rangga Agung Sedayu. Dengan lantang dia berteriak, “Kakang, apa maksud semua ini? Mengapa aku tidak diberitahu kalau Menoreh sedang dalam bahaya, sementara ayah Argapati sedang sakit? Malam ini juga aku akan ke Menoreh untuk bahu membahu dengan seluruh rakyat untuk mengusir orang orang yang telah menduduki padukuhan padukuhan di tepi barat kali Praga.”

    “Sabarlah Pandan Wangi,” berkata Ki Widura sareh, “Semua harus dihitung dengan cermat. Apabila kita salah dalam melangkah, akan jatuh korban sia sia.”

    “Paman Widura benar,” sahut Ki Rangga, “Besuk pagi aku akan berangkat menghadap Ki Patih Mandaraka untuk menerima perintahnya. Aku yakin sasaran orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu adalah Mataram bukan Menoreh. Menoreh hanya sebagai pancadan saja. Namun demikian kita tidak akan membiarkan bumi Menoreh diinjak injak oleh orang orang yang tidak berhak.”

    Dada Pandan Wangi masih bergemuruh. Dia benar benar mencemaskan nasib rakyat Menoreh, apalagi ayahnya, Ki Gede Menoreh selaku pemimpin tertinggi Tanah Perdikan itu sedang sakit dan Prastawa telah berangkat ke Panaraga memimpin sepasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang diperbantukan ke Mataram.

    “Di Menoreh masih ada Ki Jayaraga dan seorang yang bernama Kiai Sabda Dadi,” berkata Ki Rangga selanjutnya, “Aku telah mendengar berita itu sebelumnya dari prajurit sandi. Aku kira keduanya telah mengambil langkah langkah pengamanan yang diperlukan untuk menyelamatkan rakyat Menoreh.”

    Kata kata Ki Rangga Agung Sedayu itu bagaikan titik titik embun diteriknya sinar Matahari. Untuk sejenak gejolak hati Pandan Wangi agak mereda. Namun tiba tiba dia bertanya dengan nada penuh kekawatiran, “Kakang, bagaimana dengan Sekar Mirah? Bukankah dia sedang dalam keadaan mengandung tua?”

    Ki Rangga Agung Sedayu dan Ki Widura sejenak saling berpandangan. Namun akhirnya Ki Rangga lah yang menjawab, “Atas ijin Yang Maha Agung dan atas karuniaNya yang tiada taranya, insya Allah Sekar Mirah telah melahirkan dengan selamat.”

    “He?” Pandan Wangi terkejut, “Dari mana Kakang mendapat berita ini?”

    Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam sambil memandang ke arah Pamannya, namun kelihatannya Ki Widura menyerahkan jawaban itu sepenuhnya kepada dirinya.

    “Wangi,” akhirnya Ki Rangga menemukan jawaban atas pertanyaan Pandan Wangi itu, “Ada yang telah memberitahukan kepadaku atas kelahiran anakku dengan selamat, demikian pula aku berharap Sekar Mirah tak kurang suatu apa,” Ki Rangga berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Nah, yang lebih penting dari itu adalah bagaimana langkah langkah kita selanjutnya menghadapi situasi yang cukup gawat ini.”

    Pandan Wangi terdiam sejenak. Setelah beberapa saat kemudian dia baru berkata, “Kakang, aku akan ikut Kakang Sedayu besuk ke Mataram. Aku titipkan Kakang Swandaru kepada Paman Widura. Sebelumnya aku mohon ma’af telah merepotkan penghuni Padepokan ini, tapi aku tidak melihat jalan lain selain aku harus kembali ke Menoreh.”

    Hampir bersamaan Ki Widura dan Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam. Mereka menyadari suasana hati Pandan Wangi pada saat itu, dan memang Pandan Wangi telah memilih pada pilihan yang sulit antara suaminya dan Ayahnya serta rakyat Menoreh.

    “Baiklah Pandan Wangi,” akhirnya Ki Widura memberikan tanggapannya, “Bagaimanapun juga engkau jangan meninggalkan suamimu begitu saja, engkau harus meminta ijin terlebih dahulu kepadanya.”

    Sambil menundukkan wajahnya Pandan Wangi hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Namun Ki Widura dan Ki Rangga Agung Sedayu melihat perubahan yang terjadi pada wajah putri Kepala Perdikan Menoreh itu walaupun hanya sekilas.

    “Kelihatannya Pandan Wangi tidak membutuhkan ijin itu,” berkata Ki Rangga dalam hati.

    • Suwun Mbah Man yang masih menyempatkan menulis rontal di tengah keheningan malam dan awal munajat eorang hamba.

    • lho….
      TADBM-403 sudah dututup mbah, gandok 404 sudah dibuka.

      • gapapa ms risang… ga usah diingatkan biar tambah banyak rontalnya yg jatuh….. hwehehe…

  42. Hadir, matur nuwun mbah_man, ternyata menjelang tengah malam ada wedaran rontal, ….. tetap semangat !

  43. Matur nuwun mbah, kelihatan di akhir tahun ini mbah_man makin semangat, napa badhe tumut Jakarta Night Fest?

  44. Mbah-Man…….”tetap semangat”

    • Hi Ki YuPram, kemana aja…..???
      Kangen euy…..

      • aaaHH…….tenaneeeee,

        selamat tahun baru NOn, semoga lebih sukses dalam karier…..lebih bahagia bersama keluarga, lebih cantik
        dalam segala HAL.

        • Amin…..same wish to you too, tapi lebih ganteng kalee..
          hikss

          • mbok aku dikangenin Non..sekali2…..

          • sekali2…..mbok aku yo dikangenin Non,

            genk dalu mbah_man, ki PA, Nona, ki DoN, kadang sedaya
            ki GembLeh……cantrik nantikan keRAWUHan panjenengan
            ning padepokan GSeta (ra pareng ngambek)

            dik rikala semana aji pameling king panjenengan terlambat
            kawula tangkep, cuaca ning padusunan cantrik lagi lemot
            sinyal…….!!!???

  45. selamat sore…

  46. mbah jilid 404 sampun wonten tooo

    Ini masih kejar tayang, silahkan baca di balik cover di link ini http://cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-404


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 80 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: