Keadaan Negari Surakarta pada masa penggambaran Bdbk, agaknya memang banyak para pemimpin di Surakarta yang mengalami pertentangan-pertentangan dalam batinnya. Gejolak batin ingin mandiri sebagai bangsa, yang bakal menuai kerepotan sementara dengan hidup relatif sederhana meskipun seorang petinggi, dan menyembunyikan sikap menentang kompeni. Harus tahan godaan materiil dari kompeni yang barang-barangnya memang buatan luar negeri yang lebih tinggi nilainya, dibanding barang-barang buatan lokal. Lebih jauh sikap yang menolak kompeni, selain agak miskin juga harus mengangkat senjata, mengadakan hubungan rahasia, tersembunyi, baris pendem dsb.
Sikap yang sebaliknya, berkawan dengan kompeni, seperti sikap kebanyakan petinggi Negari Surakarta pada masa itu, berkawan dengan Kompeni, mereka mubra-mubru, berlimpah pemberian dari kompeni dan dapat bersikap terbuka sesongaran secara resmi deksura.
Pada kondisi itu agaknya cocok dengan apa yang ditulis oleh Mas Ng. Ronggo Warsito dalam Serat Kalatidha-nya. ….. pada pupuh Amenangi jaman edan, dan pada akhir pupuh itu diberi penyelesaian yang bersifat transcendental .. Ndilalah kersaning Allah, sak begja-bejane kang lali, isih begja kang eling lan waspada.
Heran dengan serat Kalatidha, mestinya serat tersebut dimaksudkan melukiskan jaman itu dan memberikan semacam nasehat untuk masa itu, tetapi rasa-rasanya cocok juga dengan jaman sekarang.
Selamat siang Ki … saya hadir untuk melihat apakah Buntal sudah pulang apa belum … karena ternyata saya belum melihatnya diregol padukuhan sukawati … maklum … liburan 3 hr berturut-turut … kalau tidak melihat Buntal yang masih berdarah panas rasanya kok yaaa .. menggelisahkan … siapa tahu nasib Buntal segera diwedar … he 3X aja. … nyara sadejena Ki … Mo Jum’atan. Salaam.
hikss…..
sugeng enjang ki Ismoyo,
sugeng enjang ki Seno Pdls,
sugeng enjang sedulur Gseta sedoyo,
masuk pertama njih, hiks…pantes rd seret.
Nomer Loro …? Hiks…
Sugeng dalu ADBMers
Sugeng dalu PDLSers
Sugeng dalu JDBKers
Sugeng dalu MADBBers
Sugeng dalu BDBKers
Lho koq sepi ???? , dho neng ngenmdi yooo..
Lho koq sepi ???? , dho neng ngendi yooo..
Keadaan Negari Surakarta pada masa penggambaran Bdbk, agaknya memang banyak para pemimpin di Surakarta yang mengalami pertentangan-pertentangan dalam batinnya. Gejolak batin ingin mandiri sebagai bangsa, yang bakal menuai kerepotan sementara dengan hidup relatif sederhana meskipun seorang petinggi, dan menyembunyikan sikap menentang kompeni. Harus tahan godaan materiil dari kompeni yang barang-barangnya memang buatan luar negeri yang lebih tinggi nilainya, dibanding barang-barang buatan lokal. Lebih jauh sikap yang menolak kompeni, selain agak miskin juga harus mengangkat senjata, mengadakan hubungan rahasia, tersembunyi, baris pendem dsb.
Sikap yang sebaliknya, berkawan dengan kompeni, seperti sikap kebanyakan petinggi Negari Surakarta pada masa itu, berkawan dengan Kompeni, mereka mubra-mubru, berlimpah pemberian dari kompeni dan dapat bersikap terbuka sesongaran secara resmi deksura.
Pada kondisi itu agaknya cocok dengan apa yang ditulis oleh Mas Ng. Ronggo Warsito dalam Serat Kalatidha-nya. ….. pada pupuh Amenangi jaman edan, dan pada akhir pupuh itu diberi penyelesaian yang bersifat transcendental .. Ndilalah kersaning Allah, sak begja-bejane kang lali, isih begja kang eling lan waspada.
Heran dengan serat Kalatidha, mestinya serat tersebut dimaksudkan melukiskan jaman itu dan memberikan semacam nasehat untuk masa itu, tetapi rasa-rasanya cocok juga dengan jaman sekarang.
Selamat siang Ki … saya hadir untuk melihat apakah Buntal sudah pulang apa belum … karena ternyata saya belum melihatnya diregol padukuhan sukawati … maklum … liburan 3 hr berturut-turut … kalau tidak melihat Buntal yang masih berdarah panas rasanya kok yaaa .. menggelisahkan … siapa tahu nasib Buntal segera diwedar … he 3X aja. … nyara sadejena Ki … Mo Jum’atan. Salaam.
Lho saya masuk rumah siapa?
hikss…
NONGGO
Sugeng dalu…..